Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Bertemu Ibu Mertua
"Tuan, kenapa anda membeli begitu banyak cokelat dan boneka beruang? Apa orang tua anda sangat suka makanan manis? Kalau saja Tuan bilang tadi, aku juga akan membelikan mereka es krim rasa stroberi," ucap Keyla dengan bibir mengerucut ke depan.
Keyla menatap tumpukan kotak cokelat premium dan dua boneka beruang besar yang memenuhi kursi mobil mewah itu.
Di pikirannya, mertuanya mungkin adalah pasangan lansia yang unik, tipe kakek-nenek yang hobi ngemil dan mengoleksi mainan lucu.
Mendengar celetukan polos itu, Marco yang sedang menyetir mati-matian menahan tawa hingga bahunya berguncang.
"Nona, anda ini ada-ada saja. Mana ada orang tua yang hobi makan cokelat sebanyak itu? Bisa-bisa gigi mereka ompong semua sebelum sempat menimang cucu dari tuan Dom," sahutnya.
Dominic langsung melirik tajam asistennya melalui kaca spion tengah. Tatapan itu begitu dingin hingga suhu di dalam mobil terasa turun beberapa derajat.
"Tutup mulutmu, Marco! Fokus saja pada jalanan!"
"Maafkan saya, Tuan. Mulut saya memang perlu diservis," sahut Marco cepat, langsung mengunci bibirnya rapat-rapat meski matanya masih mencuri pandang.
Dominic kembali menoleh pada Keyla. Ia mengusap bulu halus boneka beruang di sampingnya dengan lembut.
"Cokelat dan boneka ini bukan untuk orang tuaku."
"Bukan?" Keyla mengerjap bingung. "Lalu untuk siapa? Apakah seseorang yang spesial? Kekasih anda mungkin?"
"Kekasih?" Dominic menyipitkan mata, seolah kata itu asing di telinganya. "Oh, aku lupa memberitahumu satu hal penting. Kau adalah istri keduaku. Jadi, jangan terkejut saat kau bertemu dengan istri pertamaku nanti di mansion."
Keyla terdiam. Ia menunduk dalam, jemarinya saling bertaut di pangkuan.
Sebenarnya, Keyla sudah menduga hal ini. Pria seberkuasa dan setampan Dominic tidak mungkin masih melajang.
Statusnya sebagai istri simpanan atau istri kedua sudah Keyla terima sejak ia menandatangani berkas di catatan sipil tadi.
"Kenapa? Kau kecewa karena menjadi yang kedua?" tanya Dominic. Ia mengulurkan tangan, menarik dagu Keyla agar gadis itu menatap langsung ke matanya yang kelam.
Keyla menggeleng cepat, rambutnya yang harum sedikit berantakan karena gerakan itu. "Mana mungkin aku kecewa, Tuan. Kita baru saling kenal, dan aku tidak mencintaimu. Aku hanya ingin hutang keluargaku lunas."
Meskipun dalam hati kecilnya, Keyla tidak bisa memungkiri ada rasa sesak yang aneh.
Bagaimanapun, Dominic adalah pria pertama yang menyentuhnya, pria pertama yang kini sah memiliki raganya.
"Kalau begitu, tersenyumlah. Aku tidak suka melihat wanitaku cemberut seperti anak kecil yang kehilangan permen," ucap Dominic, ibu jarinya mengusap bibir bawah Keyla.
Uhuk! Uhuk!
Marco tiba-tiba terbatuk hebat hingga mobil sedikit oleng. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Sejak kapan bosnya yang bertangan besi itu belajar merayu?
Dulu, jika Clara cemberut, Dominic hanya akan melempar kartu kredit atau membelikan tas merek luar negeri tanpa bicara sepatah kata pun.
Tapi kepada gadis polos ini? Dominic bersikap seolah ia punya hati.
"Kau butuh air minum, Marco? Atau perlu aku carikan bengkel untuk paru-paru mu?" sindir Dominic dingin.
"Ah tidak, Tuan. Saya hanya tersedak udara yang tiba-tiba menjadi terlalu manis," jawab Marco asal, membuat Keyla merona merah karena malu.
*
*
Sementara itu, di sebuah mansion megah yang berdiri angkuh di pinggiran kota...
"Nyonya, menantu anda sudah datang. Dia sedang menunggu di ruang keluarga dengan wajah yang sepertinya kurang bersahabat," ucap seorang pelayan tua saat memasuki kamar mewah milik sang nyonya besar, ibu Dominic.
Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan elegan itu meletakkan buku yang sedang dibacanya.
"Menantu yang mana? Aku punya tiga menantu, dan biasanya mereka menelepon seminggu sebelumnya jika ingin berkunjung. Kecuali satu orang. Menantu bungsuku yang selalu merasa memiliki seluruh dunia."
"Tentu saja menantu paling muda anda, Nyonya," jawab pelayan itu hati-hati.
"Clara?" tanyanya memastikan.
Pelayan itu mengangguk singkat.
Nyonya besar itu menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia sudah sering memperingatkan Clara, jika dia datang hanya untuk mengeluh soal karier atau menolak hamil lagi, lebih baik jangan menginjakkan kaki di mansion ini.
Kehadiran Clara biasanya hanya berarti satu hal, keributan.
"Apa anda ingin menemuinya? Jika tidak, saya bisa mengatakan kalau anda sedang tidak enak badan dan tidak bisa—"
"Tidak perlu. Aku akan turun sekarang!" potong sang nyonya besar sembari berdiri.
"Apa dia datang bersama putraku, Dominic?"
"Tidak, Nyonya. Nona Clara datang seorang diri dengan mobil sportnya."
"Baiklah. Kau boleh pergi."
Pelayan itu membungkuk sekilas lalu keluar.
Sang nyonya besar menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia tahu betul watak menantunya. Jika Clara datang sendirian, artinya ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Perasaanku tidak enak," gumamnya pelan. "Dominic, apa lagi yang kau perbuat kali ini?" Ia merapikan gaun rumahnya yang mahal, lalu melangkah keluar kamar.
Begitu Elise menginjakkan kaki di ruang keluarga, Clara langsung berlari ke pelukannya dengan isak tangis yang dibuat-buat, persis seperti adegan drama yang sering ia bintangi.
"Mama! Dominic keterlaluan! Dia sudah gila!" teriak Clara sembari memeluk erat ibu mertuanya. "Dom membuat masalah besar! Dia brengsek, Ma! Dia menikah lagi tanpa izin dariku! Dia mengkhianatiku!"
Elise mengernyit bingung, mencoba melepaskan pelukan menantunya yang terlalu sesak. Ia tahu putra bungsunya keras kepala, tapi Dominic bukan tipe pria yang akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang.
"Menikah? Apa yang kau bicarakan, Clara? Dominic tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan."
"Iya, Ma! Aku ingin Mama bersikap tegas kali ini! Aku mau Mama menyuruh Dom menceraikan gadis miskin itu sekarang juga!" Clara menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala kekesalan yang sedari tadi membakar dadanya. "Dia sudah menghancurkan harga diri keluarga Frederick dan aku sebagai istri sahnya!"
Elise menghela napas, ia mengurai pelukan Clara dan menghapus air mata menantunya.
"Kau yakin dengan ucapanmu? Menikah lagi itu urusan serius di keluarga ini."
Clara mengangguk cepat. "Iya, Ma! Aku sangat yakin. Dan yang paling mengejutkan, gadis itu adalah pekerja di klub malam! Dia wanita kotor yang menggoda suamiku demi uang, dia—"
"Dia adalah adik tirimu sendiri, bukan? Dan kau sendiri yang memberiku izin untuk mencari wanita lain," potong Dominic.
Elise dan Clara serentak menoleh ke arah suara.
Di sana, Dominic berdiri dengan gagah, tangannya menggenggam erat jemari Keyla yang gemetar hebat di sampingnya.
"Dom..." gumam Elise, matanya beralih pada gadis kecil yang tampak ketakutan di sebelah putranya.
"Apa kau lupa, kau sendiri yang bilang kemarin? Kau tidak peduli aku tidur dengan siapa pun, asal tidak mengganggu karier modelmu?" ucap Dominic sembari melangkah maju.
Clara menelan ludah dengan susah payah. Ia menyesal karena sudah mengatakan itu kemarin. Tapi, Clara juga tak menyangka jika Dominic benar-benar akan melakukannya.