NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: DENTANG KELIMA

#

Pukul sebelas malam, ruang belakang klinik gigi penuh orang yang tidak ada yang berani duduk.

Video sepuluh detik itu diputar tiga kali di dinding. Raden duduk terikat, tangan bersarung putih menggeser pion, suara Alexander tertawa dari luar gambar.

"Alexander pintar," kata Tony. "Tukar di Menara Jam, tempat terbuka, satu jalan masuk. Dia bisa melihat siapa pun yang datang."

"Tapi Pak Raden bilang bukan dia yang menyuruh," sambung Dante. "Jadi siapa yang memegang tali Alexander?"

"Menara Sunyi," kata Aceng pelan. Ia memeluk laptopnya. "Orang yang terima tiga puluh persen keuntungan tiap bulan."

Kenzo duduk di ujung meja dengan rusuk terbalut. Setiap kali menarik napas, ia menahan wajahnya tetap datar.

"Aku datang," katanya.

"Kamu nggak boleh lari, nggak boleh lompat, nggak boleh berkelahi," ulang Dokter Wening dari pintu.

"Makanya aku bakal jalan. Pelan."

Jack mengangkat tangan dari ambang ruang pemulihan. "Bos, kalau kamu mati, siapa yang bayar sate Jeky?"

"Kamu."

"Itu bukan alasan buat nggak mati."

"Dengarkan rencananya," potong Silva. Suaranya datar, tapi matanya masih merah di pinggir. Mantel abu arang sudah ia ganti dengan yang baru. Di saku dalam, kancing emas hitam milik Bram. "Kenzo masuk sendirian, tanpa topeng, sesuai permintaan mereka. Rocco di atap gedung seberang. Vito dan mobilnya di gang belakang. Tim Mata Senja mengepung dari tiga arah. Dante membawa jarum bius."

"Dan kalengnya?" tanya Tony.

Semua menoleh ke meja. Kaleng pipih berinisial *A.W.* tergeletak di sana, tertutup rapat.

"Yang asli tetap di sini," kata Kenzo. "Marco."

Marco el Ghabel keluar dari pojok. Di tangannya kaleng lain, sama persis sampai goresan terkecil di tutupnya. "Dua jam kerja, Bos. Isinya kertas bekas negatif, aku cat ulang biar bau film lama."

"Kalau mereka cek?"

"Mereka bukan ahli film, Bos. Mereka ahli menembak."

Kenzo mengangguk. "Axel, kamu pegang kamera dan sinyal. Satu telinga aku dengerin kamu."

Axel tidak menjawab. Ia mengetik di tablet, dan suara mesin itu berkata datar, "Siap." Tidak ada candaan, tidak ada tatapan. Ia memasang earpiece mungil di telapak tangan Kenzo tanpa menyentuh kulitnya, lalu kembali ke layar.

Kenzo memandangi punggung itu sebentar. Ia tahu ada sesuatu yang berubah sejak pabrik ikan, tapi ia terlalu lelah untuk bertanya.

---

Menjelang tengah malam, Silva menemukannya di lorong belakang, sedang berusaha mengikat tali sepatu dengan satu tangan.

"Biar aku."

"Aku bisa."

"Kamu dua kali jatuh waktu membungkuk tadi."

Kenzo diam. Silva berjongkok, mengikat simpul itu cepat dan rapi, lalu tetap berjongkok beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.

"Besok pagi," katanya pelan, masih menunduk. "Kalau keadaan memburuk, kamu tidak harus bertahan sampai akhir. Cukup kasih tanda, aku tarik kamu keluar. Tanpa tanya."

"Kamu nggak bisa janji itu."

"Aku selalu menepati janji."

Ia berdiri. Jarak mereka hanya satu langkah. Dari dekat Kenzo melihat bulu mata Silva basah, satu-satunya tanda bahwa tiga jam lalu ia memeluk jenazah orang yang membesarkannya.

"Bram," kata Kenzo. "Aku turut..."

"Jangan." Silva menggeleng. "Kalau kamu ucapkan, aku akan berhenti berdiri."

Kenzo mengangguk. Setelah jeda, ia melakukan hal yang tidak ia rencanakan: tangannya naik, menepuk bahu perempuan itu dua kali, canggung, seperti menepuk Jack setelah salah ledakan.

"Kamu berdiri di sebelahku besok. Aku nggak akan sendirian."

Silva memegang tali mantelnya erat-erat, jari-jarinya putih di balik sarung kulit.

"Ya," katanya. "Di sebelahmu."

Kenzo pergi menuju mobil. Silva menatap bahunya yang menjauh. Ia tidak berkata apa-apa, dan tidak ada yang melihat betapa lama tangannya tertahan di udara, di tempat bahu itu tadi.

Dari celah pintu lorong yang setengah terbuka, Axel berdiri diam. Tablet di dadanya gelap. Ia sudah mendengar semuanya, termasuk satu kalimat sederhana yang tidak pernah diucapkan padanya dengan nada seperti itu.

Ia menutup pintu pelan-pelan.

---

Pukul empat lewat lima puluh, Kota Tua masih diselimuti kabut. Jalan batu di sekitar Menara Jam kosong. Tak ada pedagang, tak ada becak, hanya satu lampu gas tiruan yang berkedip di depan gedung dagang tua.

Kenzo berjalan tanpa topeng. Kacamata tebalnya ia tinggal di saku, dan wajahnya telanjang di bawah cahaya yang pucat. Kaleng palsu terselip di bawah lengannya. Rusuk kanannya berdenyut di setiap langkah.

"Rocco di atap," bisik suara Silva di telinganya, tenang dan sedekat napas. "Lima orangku di gang timur. Jangan lihat ke atas."

"Aku nggak lihat."

"Napasmu cepat."

"Itu rusuk."

"Itu bohong." Jeda tipis. "Hitung sampai empat."

Kenzo menghitung. Di dalam kepalanya, suara lain dulu yang mengucapkan kalimat itu. Ia mendorongnya jauh-jauh dan melangkah masuk ke pintu menara.

Ruang bawahnya lebar, berlantai tegel pecah, dengan tangga spiral naik ke mesin jam yang sudah mati sepuluh tahun. Sebelas orang berjaket kulit berdiri melingkar. Di tengahnya, Raden duduk di kursi kayu dengan tangan terikat dan kacamata bundar retak. Ia tampak lebih tua dari dua hari lalu, tapi matanya masih tajam.

Di samping kursi itu berdiri seorang lelaki berjas putih gading.

Kenzo mengenalinya dari baliho di sepanjang jalan Sarvenna, tapi wajah itu ternyata berbeda dari aslinya. Rambut perak disisir rapi, garis rahang lembut, mata teduh seperti orang yang sering memberi sumbangan. Hanya matanya yang salah. Dari jarak lima meter, Kenzo melihat bahwa mata itu tidak pernah benar-benar berkedip saat menatapnya.

"Kenzo Adriel," kata Alexander Gunawan hangat. "Akhirnya."

Dada Kenzo seperti dipukul dari dalam. Di telinganya, suara Silva berbisik cepat: *"Napas. Jangan sekarang."*

"Kamu lebih kurus dari fotomu," lanjut Alexander.

"Kamu lebih tua dari baliho."

Senyum Alexander melebar sedikit. "Aku suka anak yang tidak membuang waktu. Kaleng itu."

"Lepasin Raden dulu."

"Tukar bersamaan. Jarak lima langkah. Anakmu yang bisu di ujung sana bisa ikut mengawasi, kalau mau." Alexander menunjuk ke langit-langit, ke kamera kecil di balok kayu, dan senyumnya tidak berubah. "Aku tahu kalian punya telinga di mana-mana."

Kenzo menelan ludah. Ia sudah menyiapkan sepuluh kalimat untuk saat ini, tetapi yang keluar hanya satu.

"Rumahku, Jalan Melati Dua."

"Ya." Suara Alexander lembut, nyaris menyesal. "Aku ingat baunya. Solar, karet panas, dan sesuatu yang manis. Aku tidak menyukainya."

"Kamu berdiri di sana malam itu."

"Aku berdiri di mobil, dua puluh meter dari gerbang. Dengan cincin yang dipakai orang lain." Alexander menggeleng pelan. "Aku tidak menyuruh orang bertopeng. Itu keputusan ceroboh. Tapi aku membiarkannya terjadi."

Kenzo tidak bergerak. Rahangnya mengeras sampai giginya sakit.

*"Kenzo,"* bisik Silva, hampir tak terdengar. *"Jangan."*

"Berikan kalengnya," kata Alexander.

Kenzo melangkah lima langkah, tepat sejauh yang diminta. Gandara muncul dari bayangan di belakang Alexander, jas abu-abu, lengan kirinya masih dibalut. Ia menatap Kenzo dengan wajah tanpa ekspresi, lalu menerima kaleng palsu itu dengan dua tangan.

Ia membukanya. Menimbang isinya. Mendekatkannya ke hidung.

Gandara menoleh pada Alexander dan menggeleng satu kali.

"Palsu."

Ruangan itu membeku. Sebelas senjata terangkat sekaligus. Kenzo merasakan darahnya turun ke tumit.

"Aku sudah bilang." Alexander tertawa kecil, nyaris sayang. "Marco el Ghabel. Bagus sekali, tapi tintanya terlalu baru. Film negatif tahun itu bau cuka, bukan cat akrilik."

"Kamu tahu soal Marco?"

"Aku tahu soal semua orangmu, Nak." Ia menjentikkan jari, dan salah satu anak buah menekan moncong pistol ke pelipis Raden. "Kaleng yang asli, sekarang."

Raden mengangkat kepala. Bibirnya bergerak sangat pelan, tanpa suara, dan Kenzo membacanya sekali lagi.

*Jangan. Bukan dia.*

"Aceng," bisik Kenzo, nyaris tanpa menggerakkan bibir. "Sekarang."

Tidak ada jawaban.

"Aceng. Xel."

Earpiece itu hanya mendesis. Lalu, dari dalam desis itu, muncul sebuah suara. Bukan suara Silva, bukan suara Aceng.

Suara mesin yang datar, terputus-putus, seperti diketik dengan jari yang gemetar.

"Kenzo... dengar... aku... buka kalengnya."

Kenzo tidak bernapas.

"Yang asli... tadi, di klinik... aku nggak bisa tunggu... Di dalamnya bukan..." Suara itu berderak, putus-putus. "...bukan bukti Alexander. Isinya... Kenzo, jangan serahkan apa pun... isinya..."

Sinyal itu mati.

Dari ponsel hitam tua di tangan Alexander, yang tidak pernah berdering di siang hari, terdengar bunyi dering panjang.

Alexander menatap layarnya. Senyumnya lenyap seketika. Keringat meluncur di pelipisnya, seperti tadi di ruang kerja saat ia memanggil seseorang *Tuanku*.

"Pasang pengeras suara," katanya pada Gandara. Suaranya tidak lagi hangat.

Klik. Sebuah suara memenuhi ruangan, rendah, tenang, dan sengaja diubah sampai tidak mirip siapa pun.

"Selamat pagi, Kenzo."

Kenzo menegang sampai ujung jari.

"Jangan tembak dia, Alexander. Aku sudah bilang, anak itu tidak boleh tergores." Jeda sebentar. "Telinga kecilmu itu sudah kuputus, Nak. Teman bisumu pintar, tapi dia membuka kaleng itu enam menit lebih cepat dari yang aku perkirakan."

"Siapa kamu?"

"Orang yang tidak membutuhkan tukar-menukar." Tawa kecil, pendek. "Kalengnya sudah ada di tanganku sejak pukul empat. Aku hanya ingin melihat apakah kamu cukup bodoh untuk datang."

Dada Kenzo menyempit. *Sejak pukul empat.* Itu artinya...

"Kamu bohong."

"Tanyakan pada Axel. Kalau dia masih bisa menjawab."

Di luar menara, jauh di Kota Tua yang berkabut, sebuah dentang berat memecah sunyi. Jam yang rusak sepuluh tahun, yang jarumnya patah, berdentang satu kali.

Lalu dua.

Alexander mundur selangkah. Gandara menatap ke atas, ke mesin jam yang mestinya mati.

Tiga. Empat.

"Raden," kata suara itu hampir lembut, seperti guru memanggil murid. "Kamu sudah main lama sekali. Waktunya habis."

Di bawah kursi kayu tempat Raden terikat, sebuah titik cahaya kecil menyala.

Merah. Berkedip pelan.

Raden menunduk, menatap kakinya, dan untuk pertama kalinya Kenzo melihat ketakutan di wajah lelaki enam puluh tahun yang tidak pernah goyah itu.

Dentang kelima menggema di seluruh menara.

Lampu merah itu berhenti berkedip, dan menyala tetap.

---

*Bersambung ke Bab 28*

1
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahhh ternyata Bram cuman sandiwara aja gitu... aaahh maaf Bram aku sudah berpikiran jelek sama kamu kemarin... 😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila si Gandara udah tinggal 1 tangan aja masih kuat.. bener² pengalaman juga latihan tidak akan pernah bohong..
EVandri Beloved❤❤: Bram gituloh
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah loh Breum,kamu sendiri malah kena jebakan orang lain pula.. rasain lu...🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aku agak salfok sama nama geng Silva.. senja nya itu yang bikin kayak nusuk ke hati ih... bikin gak nyaman ah.. 🤔🤔🤔 maaf kak..
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun hanya karena uang 50 rb tokonya sampai mau diambil.. kurang asem sekali mereka ya... 😠😠😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!