NovelToon NovelToon
Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Ke 365.000

Angin di Jurang Iblis tidak pernah membawa bau tanah. Yang dibawanya adalah bau besi berkarat, bau daging yang membusuk selama seribu tahun, dan bau putus asa yang sudah mengering menjadi debu.

Di tepi jurang yang lebarnya seperti mulut dunia yang menganga, seorang pria duduk bersila di atas batu yang sudah licin oleh pantatnya sendiri. Batu itu adalah singgasananya, tempat tidurnya, dan satu-satunya saksi hidupnya selama seribu tahun.

Namanya Xiao Chen.

Jika ada murid Klan Xiao yang lewat, mereka akan tertawa. "Lihat, sampah itu masih di sana. Pemurnian Qi tingkat tiga. Seribu tahun masih tingkat tiga. Bahkan babi hutan di gunung belakang bisa naik ke tingkat empat kalau diberi waktu seribu tahun."

Mereka tidak salah. Jika kau memeriksa dantiannya dengan teknik penglihatan spiritual, kau hanya akan melihat cahaya sebesar kunang-kunang yang sekarat. Tipis, redup, hampir padam. Di dunia kultivasi di mana usia 100 tahun dengan ranah Golden Core sudah dianggap jenius, seorang pria yang stuck di level paling bawah selama 1000 tahun adalah lelucon terbesar di Benua Azure.

Karena itu dia dibuang ke sini. Jurang Iblis. Tempat pembuangan sampah klan, tempat hukuman bagi murid yang gagal. Tidak ada yang mau menjaganya karena tidak ada apa-apa di sana. Begitulah yang dikatakan catatan klan.

Mereka tidak pernah tinggal sampai matahari tenggelam.

Tepat saat matahari terakhir tenggelam di balik Pegunungan Tujuh Pedang, dan cahaya bulan tertutup awan hitam tebal yang tidak pernah pergi dari atas jurang, suhu turun drastis. Embun tidak membeku, darah yang membeku.

Suara itu datang.

_KRETEK... KRETEK... KRETEK..._

Itu bukan suara jangkrik. Itu adalah suara kuku-kuku yang menggaruk segel batu kuno di dinding jurang. Segel yang sudah retak-retak, yang setiap retakannya ditambal oleh darah.

Xiao Chen membuka matanya. Mata yang lelah. Mata seorang pria yang sudah tidak berusia 20 tahun lagi secara jiwa, meskipun wajahnya masih terlihat 25 tahun karena energi iblis yang anehnya mengawetkannya.

"Malam ke-365.000," gumamnya pelan. Suaranya serak karena sudah seribu tahun tidak banyak bicara. "Kalian tepat waktu, seperti biasa."

Dari kegelapan jurang yang tak berdasar, dua mata merah menyala. Lalu sepuluh. Lalu seratus. Lalu ribuan. Seperti bintang-bintang neraka yang terbangun dari tidur siangnya. Auman pertama memecah keheningan, auman yang mengandung kebencian murni.

Seekor Iblis Cakar Bayangan melompat. Tubuhnya sebesar kerbau, kulitnya seperti batu bara yang dipadatkan, kukunya bisa memotong baja tingkat bumi. Untuk kultivator Pemurnian Qi tingkat tiga, satu cakaran saja berarti kematian yang pasti, jiwa pun akan terkoyak.

Xiao Chen tidak menghindar. Dia bahkan tidak berdiri dari batunya. Dia hanya mengangkat tangan kirinya yang kapalan, tangan yang sudah menambal segel 365 ribu kali.

_TRANG!_

Suara logam beradu dengan daging. Kuku iblis yang bisa membelah pedang itu patah menjadi dua. Iblis itu meraung kesakitan, bingung. Otak kecilnya tidak bisa memproses bagaimana mungkin kulit manusia lebih keras dari baja iblis.

Xiao Chen tidak memberinya waktu untuk berpikir. Dia mengepalkan tangan kanannya. Tidak ada cahaya teknik yang indah, tidak ada mantra naga atau harimau, tidak ada teriakan nama jurus. Hanya tinju. Tinju yang sudah dipukul 365 ribu malam.

Satu pukulan.

Kepala Iblis Cakar Bayangan meledak seperti semangka yang diinjak raksasa. Darah hitam, kental dan panas seperti lava, memercik ke jubah Xiao Chen yang sudah hitam pekat karena darah seribu tahun yang mengering. Jubah itu dulunya putih, warna murid luar Klan Xiao.

Itu adalah sinyal perang.

RIBUAN iblis naik seperti air bah yang jebol dari bendungan neraka. Ada Iblis Lendir yang melelehkan tulang, Iblis Bayangan yang tidak punya wujud, Iblis Tulang yang tubuhnya adalah pedang. Jika Tetua Agung Klan Xiao yang berada di ranah Nascent Soul ada di sini, jantungnya akan berhenti seketika. Gelombang iblis sebesar ini bisa menghapus Klan Xiao dari peta dalam satu malam.

Xiao Chen akhirnya berdiri. Untuk pertama kalinya dalam seribu tahun, dia tidak lagi duduk bertahan di tepi jurang. Dia melangkah MAJU, ke bibir jurang yang paling rapuh, dan melompat TURUN. Dia terjun bebas ke dalam lautan iblis.

"Karena kalian di atas bilang tidak ada iblis di sini..." katanya sambil jatuh, suaranya kalah oleh angin tapi didengar oleh setiap iblis di bawah, "maka malam ini, biar aku saja yang menjadi iblisnya."

Pertarungan di udara dimulai. Xiao Chen berputar, sikutnya menghantam rahang Iblis Kelelawar Raksasa hingga rahangnya lepas. Kakinya menendang dada Iblis Batu, menghancurkan inti batu di dadanya. Dia menggunakan bangkai iblis sebagai pijakan untuk melompat lebih dalam lagi.

Semakin dalam dia turun, semakin pekat energi iblisnya. Untuk kultivator normal, menghirup energi ini satu kali saja akan membuat meridian mereka meledak, darah keluar dari tujuh lubang, dan menjadi gila. Bagi Xiao Chen, ini adalah udara pegunungan yang segar. Selama seribu tahun, paru-parunya sudah tidak lagi memproses energi spiritual langit dan bumi. Paru-parunya memproses keputusasaan dan kebencian.

Di kedalaman 100 meter, Iblis Lidah Panjang menyambar. Lidahnya yang panjangnya tujuh meter, penuh dengan duri beracun yang bisa melarutkan Golden Core, melilit leher Xiao Chen. Racunnya menyusup ke kulit.

Xiao Chen membiarkan lidah itu melilit. Dia bahkan memejamkan mata sejenak, menikmati rasa perih yang membakar itu. Rasa sakit adalah satu-satunya hal yang mengingatkannya bahwa dia masih hidup, bahwa sarafnya belum mati rasa.

Lalu dia menarik. Dia menarik lidah itu dengan kedua tangannya yang berlumuran darah hitam, menarik iblis pemiliknya yang beratnya setengah ton itu seperti menarik ikan lele dari kolam lumpur. Iblis itu terbang ke arahnya dengan mata terbelalak ketakutan.

_BUK!_ Adu kepala. Dahi bertemu dahi. Dahi Xiao Chen yang terlihat biasa saja itu ternyata lebih keras dari tengkorak iblis yang ditempa di api neraka selama seribu tahun. Tengkorak Iblis Lidah Panjang retak dari dahi sampai rahang, otaknya muncrat.

Di lapisan 300 meter, dia berhenti. Di sinilah jantung dari segalanya berada.

Sebuah batu prasasti raksasa, setinggi sepuluh meter, lebar lima meter, penuh dengan tulisan kuno yang sudah pudar dimakan waktu dan cakaran iblis. Ini adalah Segel Asal yang ditinggalkan Pendiri Klan Xiao, Xiao Tianzun, 5000 tahun yang lalu. Dulu, segel ini bersinar keemasan terang, terlihat dari puncak gunung klan. Sekarang, cahayanya sudah seperti lilin yang mau padam tertiup angin, kedip-kedip.

Dan di tengah prasasti itu, ada cekungan telapak tangan yang pas dengan ukuran tangan Xiao Chen. Cekungan itu sudah hitam karena darah kering yang menumpuk selama seribu tahun.

Setiap malam, setelah membunuh gelombang pertama yang mencoba naik ke dunia manusia, Xiao Chen harus meletakkan tangannya di sana dan mengalirkan darah dan qi-nya untuk memperkuat segel. Jika tidak, segel akan pecah, dan apa yang ada di bawahnya akan naik.

Dia sudah melakukannya selama 365.000 malam tanpa absen.

Dia meletakkan tangannya. Darah dari luka-luka kecil di tubuhnya yang baru saja bertarung - goresan kuku, gigitan - mengalir, terserap dengan rakus oleh batu. Wajahnya memucat sedikit. Teknik ini menghabiskan umur dan potensi. Jika bukan karena tubuhnya yang sudah setengah iblis karena ditempa energi jurang, dia sudah mati 900 tahun yang lalu menjadi mumi kering.

Saat dia menyalurkan energinya, suara-suara dari kegelapan di bawah prasasti mulai terdengar. Suara yang lebih cerdas, lebih tua, lebih putus asa.

"Xiao Chen... kenapa kau masih melindungi mereka?"

Suara itu berasal dari Raja Iblis Mata Seribu yang terpenjara tepat di bawah segel. Makhluk setinggi gunung kecil, dengan seribu mata yang masing-masing bisa melihat dosa dan kebohongan manusia. Dia adalah salah satu dari Tujuh Raja Neraka yang disegel pendiri klan.

Xiao Chen tidak menjawab. Dia terus menyalurkan, napasnya memburu.

"Mereka memanggilmu sampah. Mereka mengambil tunanganmu Liu Yue. Anak tetua itu, Xiao Feng, meludahi mangkuk nasimu kemarin yang isinya hanya nasi basi. Tunanganmu tertawa melihatnya. Kenapa? Kenapa kau masih menjaga pintu penjara kami untuk mereka? Biarkan kami keluar. Biarkan kami membunuh mereka semua untukmu. Kami akan memberimu tahta!"

Kali ini Xiao Chen membuka mata. Matanya yang tadi lelah, coklat tua, kini menyala samar merah keemasan. Cahaya yang membuat seribu mata Raja Iblis itu berkedut ketakutan secara refleks. Karena cahaya itu adalah cahaya predator puncak.

"Siapa bilang aku menjaga mereka?" Suara Xiao Chen pelan, hampir berbisik, tapi membuat seluruh jurang yang berisi ribuan iblis terdiam. "Aku menjaga kalian tetap di dalam. Karena jika kalian keluar sekarang dan membunuh mereka terlalu cepat... lalu dengan siapa aku akan membalas dendam nanti? Aku ingin mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Aku ingin mereka berlutut dan menyadari, sampah yang mereka buang selama 1000 tahun, adalah satu-satunya dewa yang bisa menyelamatkan mereka. Dan aku akan menolaknya."

Raja Iblis itu terdiam. Lalu tertawa, tawa yang menggetarkan seluruh jurang, membuat batu-batu berjatuhan.

"KAU! Kau lebih iblis dari kami! Kau adalah kami! HAHAHA! Bagus! Bagus! Manusia seperti itu yang pantas menjadi Raja Iblis!"

Segel kembali bersinar sedikit lebih terang, cukup untuk bertahan satu malam lagi. Gelombang iblis malam ini selesai. Mereka mundur, menyeret mayat teman-teman mereka yang hancur, kembali ke kedalaman kegelapan, sambil terus melirik ketakutan ke arah pria kurus yang bersandar di prasasti.

Xiao Chen menarik tangannya. Cekungan itu kini terisi darah segar yang masih hangat. Dia terhuyung sedikit, lalu duduk bersandar pada prasasti itu, memandang ke atas. Dari kedalaman 300 meter, dia bisa melihat sepotong kecil langit malam yang berbentuk lingkaran, seperti melihat langit dari dasar sumur. Dan dia bisa melihat cahaya lentera warna-warni dari Klan Xiao yang sedang berpesta pora untuk Festival Bunga Roh.

Besok adalah Upacara Kebangkitan 100 tahunan. Upacara di mana semua murid diuji. Dan dia tahu, tahun ini, mereka tidak akan membiarkannya hanya diejek. Dia mendengar dua murid yang mengantar nasi kemarin berbisik sambil tertawa: "Tetua Agung bilang jurang ini tidak berguna, hanya lubang pembuangan, mau ditutup sekalian untuk dijadikan tambang batu spiritual. Butuh tumbal darah keturunan langsung. Si sampah itu paling cocok."

Dia memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam 1000 tahun, dia tidak bermeditasi untuk memulihkan luka. Dia tidur. Tidur yang nyenyak, dengan darah iblis sebagai selimut dan batu segel sebagai bantal, karena dia tahu, besok adalah hari terakhir dia menjadi penjaga yang bodoh.

Dan hari pertama dia menjadi bencana yang mereka ciptakan sendiri.

1
Abil Amar
alur ceritanya kmn ko g jlas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!