NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 010 - Jejak Palsu di Lorong Abu

Derap langkah sepatu bot kulit di undakan tangga batu kapur terdengar semakin dekat dan tergesa-gesa. Suara benturan logam pelindung lutut dengan dinding batu yang lembap bergema berulang-ulang di lorong sempit, menandakan orang yang menuruni tangga adalah seorang pengawas yang dilanda panik dan amarah besar.

Gu Yuan segera menarik tangkai kunci kuningan dari gembok bilik Xiao Wu. Waktu yang tersisa di dalam kepalanya tidak lebih dari dua puluh tarikan napas.

Membuka gembok satu per satu untuk membebaskan seluruh sepuluh tahanan saat ini adalah tindakan bunuh diri taktis. Suara derit rantai besi dan erangan para murid luar yang sedang sekarat akan langsung memicu gemerincing jimat peringatan yang tertanam di sepanjang dinding lorong. Jika sepuluh orang yang lumpuh itu berhamburan panik tanpa arah, mereka hanya akan menjadi sasaran empuk bagi regu panah gerbang atas yang siap membantai siapa pun yang keluar tanpa izin resmi.

“Keluar sekarang, jangan bersuara sedikit pun,” bisik Gu Yuan sambil menarik daun pintu jeruji bilik Xiao Wu yang sudah tidak terkunci.

Xiao Wu merangkak keluar dengan tubuh gemetar hebat, kedua lututnya yang lebam membentur lantai batu yang basah oleh genangan lumpur. Pemuda itu nyaris tidak sanggup menegakkan punggungnya sendiri; racun pelemah otot yang dicampurkan ke dalam air minum mereka selama tiga hari terakhir telah membuat persendian dan meridiannya terasa seperti dililit timah panas yang berat.

Gu Yuan meraba saku jubah bagian dalam. Di balik lipatan kain celemek dapur yang sempat ia kenakan tadi, terdapat sebuah botol tembikar kecil berisi sisa darah ayam kental yang biasa dipakai para juru masak barak untuk mewarnai kuah rebusan daging.

Tanpa ragu satu detik pun, Gu Yuan mencabut sumbat kayu botol tersebut dengan giginya. Ia menumpahkan sebagian cairan merah pekat itu ke ambang pintu bilik kosong nomor sepuluh di ujung lorong sebelah barat, lalu menyapukan sisa darah ke jeruji kayu besi hingga meninggalkan bercak-bercak goresan yang tampak seperti bekas cakaran tangan manusia yang sedang meronta melarikan diri.

Cairan darah ayam yang kental itu mengalir lambat menuruni celah-celah lantai batu kapur, membentuk genangan merah segar yang berceceran ke arah lorong pembuangan air limbah utama. Dari sudut pandang siapa pun yang baru tiba di dasar tangga dalam kondisi panik, jejak tersebut tampak sangat meyakinkan: seolah-olah ada seorang tahanan yang berhasil menjebol jeruji kayu dan merangkak kabur ke arah parit luar sekte.

Setelah menyamarkan jejak pelarian palsu itu, Gu Yuan mencengkeram erat kerah baju Xiao Wu, lalu menarik tubuh kurus pemuda itu bersembunyi ke dalam sebuah ceruk saluran pembuangan air limbah di dinding batu sebelah selatan.

Ceruk itu sangat sempit dan menjijikkan, dipenuhi oleh lapisan lumpur hitam berbau belerang busuk, lumut hijau berlendir, dan genangan air cucian kotor yang menetes lambat dari langit-langit tanah. Kedua pemuda itu menekan punggung mereka sedalam mungkin ke dalam ceruk berlumpur tersebut.

Gu Yuan menyambar segenggam lumpur hitam dingin dari lantai ceruk, melumurkannya ke seluruh permukaan wajah, leher, dan bahunya sendiri, lalu mengoleskan sisanya ke rambut serta kening Xiao Wu. Lumpur dingin yang berbau tanah basah ini berfungsi mematikan aroma keringat dan menyamarkan pancaran panas tubuh mereka agar tidak terdeteksi oleh indra pengawas yang mendekat.

Xiao Wu hampir saja tersedak oleh bau anyir lumpur parit, namun tangan kiri Gu Yuan mencengkeram bahunya dengan kekuatan mencengkeram yang kokoh, memberi peringatan tanpa kata agar pemuda itu tidak bergerak sedikit pun.

Tap! Tap! Tap!

Sosok seorang pria bertubuh jangkung menerobos kabut temaram di dasar tangga batu dengan napas memburu kasar. Jubah abu-abunya tampak kusut dan kotor, dengan pelipis yang basah kuyup oleh keringat dingin. Di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang baja berkarat yang sudah terhunus, memancarkan kilatan bilah yang tajam di bawah sinar lentera minyak.

Itu adalah Luo Biao.

Pengawas barak luar itu rupanya baru saja menyadari bahwa seikat kunci master kuningan yang biasa tergantung di sabuknya telah lenyap setelah ia memeriksa gudang obat luar tadi. Kepanikan yang luar biasa terpancar jelas di wajahnya yang tirus dan bermata cekung. Kehilangan kunci ruang tahanan bawah tanah tepat di hari pelaksanaan ritual darah Tetua Mo adalah kesalahan fatal yang hukumannya tidak lain adalah dikuliti hidup-hidup atau dilempar ke kawah belerang oleh para pengawal balai dalam.

Luo Biao melangkah cepat menyusuri lorong sembari mengacungkan obor minyak ke arah deretan bilik tahanan. Matanya memeriksa rantai-rantai pengunci dengan tergesa-gesa sambil mengumpat kasar dengan suara bergetar.

“Sialan… sialan! Di mana kunci itu jatuh?!” gumamnya panik, matanya menyapu lantai lorong yang basah.

Namun, begitu tiba di depan bilik nomor sepuluh di ujung lorong sebelah barat, langkah Luo Biao mendadak terhenti kaku seperti dihantam batu godam.

Cahaya obor di tangannya menerangi genangan darah merah segar yang berceceran di lantai batu kapur dan ambang pintu bilik kosong yang sedikit menganga. Bau anyir darah segar dari botol tembikar tadi membumbung pekat di udara yang lembap, memenuhi hidung sang pengawas seketika.

“Keparat! Ada bejana yang menjebol jeruji dan kabur!” raung Luo Biao dengan nada panik yang nyaris histeris. Matanya menatap jejak tetesan darah yang mengarah lurus ke saluran pembuangan air limbah utama di ujung lorong.

Dalam kondisi mental yang tertekan oleh ancaman kemurkaan Tetua Mo, Luo Biao tidak sempat berpikir panjang untuk memeriksa apakah bilik itu benar-benar berisi tahanan sebelumnya. Di dalam kepalanya hanya ada satu kenyataan yang mengerikan: jika satu saja bejana darah berhasil lolos ke luar kompleks lembah dan membocorkan rahasia ritual pengurasan darah, hidupnya akan berakhir malam ini juga di tangan algojo sekte.

Luo Biao buru-buru merogoh saku jubah bagian depan, mengeluarkan sebuah peluit tembaga berbentuk paruh burung elang—peluit darurat bertiup keras yang biasa dipakai untuk memanggil regu pemanah gerbang luar jika terjadi pelarian massal dari kompleks tahanan.

Pria itu bergegas membalikkan badannya membelakangi ceruk saluran air, melangkah dua tindak menuju mulut lorong pembuangan air limbah sambil mengangkat peluit tembaga tersebut ke bibirnya. Dadanya mengembang saat ia menarik napas panjang untuk meniup peluit tanda bahaya sekuat tenaga.

Gerakan itu membuat seluruh punggung Luo Biao terbuka lebar tanpa perlindungan senjata. Terpaan angin dingin lorong mengangkat sedikit bagian belakang jubah abu-abunya, memperlihatkan sabuk kulit tebal di pinggang belakangnya yang bergesekan dengan sarung belati.

Di sabuk belakang pria itu, tergantung seikat kunci besi bertatahkan pelat perunggu kecil—kunci master pembuka gerbang besi keluar lorong bawah tanah yang langsung terhubung ke pelataran belakang balai dalam sekte.

Jarak antara punggung Luo Biao yang terbuka dengan ceruk lumpur tempat Gu Yuan berjongkok menahan napas saat ini hanya terpisah sejauh dua langkah kaki manusia.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!