NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Predator Puncak Zona Transisi

Keheningan setelah pembantaian itu terasa jauh lebih menekan daripada suara dentingan pedang.

Max bersandar pada lereng tanah basah di belakangnya, napasnya berderu kasar. Tangannya yang memegang pedang masih gemetar, bukan karena takut, melainkan karena otot-ototnya menjerit kelelahan. Di dekatnya, Erson dan Josh saling menopang, memandangi tiga mayat pria dewasa yang tergeletak mengenaskan di atas lumpur berdarah.

Arya mengusap bilah pedang abu-abunya pada pakaian mayat pria bertelinga buntung itu, membersihkan sisa darah yang mengental.

"Jangan diam saja," ucap Arya memecah kesunyian, suaranya tetap sedingin es. "Ambil kepingan koin, kantong air, atau belati yang masih utuh dari mayat mereka. Tinggalkan zirah beratnya. Bau darah ini menyebar terlalu cepat."

Meski perut mereka masih bergejolak melihat isi dalam tubuh manusia yang terkoyak, Max dan kawan-kawannya memaksa diri bergerak. Mereka tahu Arya benar. Di Hutan Kuno, diam di dekat genangan darah sama dengan bunuh diri.

Namun, sebelum jari Josh sempat menyentuh kantong kulit di pinggang salah satu mayat, suara lolongan panjang membelah hutan.

Bukan lolongan serigala. Itu adalah jeritan manusia. Jeritan yang dipenuhi teror absolut, berasal dari arah semak belukar tempat ketujuh pemburu tadi melarikan diri.

KRAK! BUUGHH!

Suara batang pohon yang patah dan hantaman benda masif ke tanah membuat tanah berlumpur di bawah kaki mereka bergetar. Burung-burung gagak liar terbang panik menembus kanopi daun di atas. Hutan yang semula hanya dipenuhi suara serangga, mendadak mati. Sunyi, menyisakan hanya suara langkah berat yang mendekat.

Bum... Bum...

Setiap langkahnya terasa seperti godam yang menghantam bumi.

Dari balik rimbunan pohon berkayu gelap, salah satu pemburu yang kabur tadi kembali muncul. Pria itu berlari terhuyung-huyung ke arah celah sempit tempat Arya dan kelompoknya berada. Wajah pria itu pucat pasi, matanya membelalak lebar, dan lengan kirinya... hilang. Darah menyembur deras dari potongan kasar di bahunya.

"Tolong! Dewa, tolong aku!" jerit pria itu, tersandung akar pohon dan jatuh tersungkur ke lumpur, tepat berjarak lima langkah di depan barikade kulit babi hutan milik Max.

Pria itu mencoba merangkak maju, tangannya menggapai-gapai ke arah Arya dengan putus asa.

Namun, sebuah rahang raksasa muncul dari balik bayangan pepohonan, mencengkeram kaki pria itu, dan menariknya mundur ke dalam kegelapan. Jeritan pria itu terputus oleh suara tulang yang remuk dihancurkan dalam satu gigitan kasar. Darah segar terciprat hingga mengenai ujung sepatu bot Arya.

Dari balik bayangan, sang penguasa area transisi melangkah keluar.

Ironscale Basilisk—Kadal Raksasa Bersisik Besi.

Makhluk itu merangkak dengan empat kakinya yang berotot tebal, panjang tubuhnya dari ujung moncong hingga ekor mencapai enam meter. Seluruh punggung dan sisi tubuhnya dilapisi sisik berwarna hitam kelabu yang tumpang tindih, terlihat setebal dan sekeras pelat baja tempaan. Sepasang mata reptilnya yang berwarna kuning bergaris vertikal menatap dingin ke arah lima pemuda di depannya.

Dari sela-sela gigi tajamnya yang berjejal tak beraturan, menetes cairan hijau kental yang langsung mendesis dan membakar rumput basah saat menyentuh tanah. Liur asam.

Makhluk ini tidak memburu karena lapar; ia datang karena wilayahnya diganggu oleh bau darah.

Max menelan ludah, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. "T-Tuan Muda... pedang kita... tidak akan bisa menembus sisik itu..." suaranya nyaris berupa bisikan parau.

Kengerian yang dipancarkan Basilisk ini jauh berbeda dari Babi Hutan Jarum. Jika babi hutan itu adalah brutalitas buta, maka Basilisk ini adalah perwujudan kematian murni. Zirah kulit yang mereka pakai terasa tak lebih dari sekadar kertas di hadapan monster tersebut.

"Mundur selangkah. Dekatkan punggung kalian ke tebing tanah," perintah Arya pelan. Ia tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari mata kuning monster itu.

Basilisk itu mendesis, suaranya terdengar seperti gesekan dua lempeng besi berkarat. Ia menundukkan kepalanya, mengendus sisa darah di tanah, lalu otot-otot kaki belakangnya mulai menegang. Ekor besarnya menyapu pelan dari kiri ke kanan, menghancurkan semak-semak seolah itu hanya ranting kering.

"Josh, Willi, Kin," panggil Arya, tangannya mencengkeram erat gagang pedang panjangnya. "Tugas kalian bukan melukai. Lemparkan batu, gunakan panah, lumpur, apa pun untuk mengganggu matanya. Max, Erson, perhatikan ekornya. Satu hantaman dari ekor itu, tulang rusuk kalian hancur."

"Lalu... bagaimana kita membunuhnya?" tanya Erson dengan suara bergetar.

Arya menyesuaikan kuda-kudanya, menurunkan pusat gravitasinya, dan memutar ujung bilah pedangnya ke arah bawah. Paru-parunya mulai menarik oksigen Hutan Kuno dalam-dalam, mempersiapkan sirkulasi Lion Breathing yang jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.

"Sisik lehernya tumpang tindih saat ia mengangkat kepala. Ada celah selebar dua jari di persendian rahang bawahnya," ucap Arya dingin, matanya mengunci titik lemah monster raksasa itu. "Kalian hanya perlu membuat makhluk ini marah dan mendongak. Aku yang akan mengurus sisanya."

Basilisk itu membuka rahangnya lebar-lebar, mengeluarkan raungan memekakkan telinga yang menyemburkan uap asam ke udara, sebelum melontarkan tubuh masifnya lurus ke arah mereka. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!