Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Tuan Garra Tahu
Bab 9 Istri Polos Tuan Anggara
Pulang dari klinik, hati Elisa tambah dilanda gelisah. Sudah pasti hamil. Dokter bahkan sudah memperdengarkan detak jantung itu untuk pertama kalinya. Suara kecil yang seharusnya membawa bahagia, tapi bagi Elisa suara itu terdengar seperti vonis hukuman mati.
Ini seperti mimpi. Ia masih berharap saat bangun tidur nanti, ini semua cuma mimpi buruk. Ia akan terbangun, ibunya masih ada di rumah sakit, dan ia masih gadis polos yang belum ternoda.
Tapi perutnya yang masih terasa dingin bekas gel USG itu menyadarkannya. Ini nyata.
Elisa melamun di atas tikar kosnya yang tipis, menatap langit-langit yang berjamur. Tidak tahu harus berbuat apa. Kalau bukan karena dering telepon genggam miliknya yang bergetar, ia pasti masih larut dalam lamunannya sampai pagi.
"Hallo," suaranya serak.
"Eh, Lis! Kamu kemana sih? Tadi kok gak keliatan di kampus? Kamu sakit? Kamu gak ke kampus hari ini?" suara Susan di seberang terdengar cemas dan sedikit ngomel.
Sebagai teman baik dan satu-satunya yang ia punya di kota ini, Susan memang sangat perhatian. Apalagi sekarang Lisa benar-benar sebatang kara setelah Ibu Utami tiada. Susan sangat berempati.
"Iya, tadi ada urusan," Lisa berbohong. Cepat. Suaranya ia buat senormal mungkin. Tak mau mengaku dia dari mana. Untuk saat ini, dia tidak berani cerita pada siapa-siapa. Apalagi tentang kehamilan ini. Jika Susan tahu, ia takut Susan akan menjauhinya.
"Oh, kirain kamu sakit. Suara kamu kok aneh? Kamu sehat kan, Lis?"
"Hem, sehat kok, San."
"Ya sudah, kalau kamu butuh apa-apa, jangan ragu bilang sama aku ya. Jangan dipendam sendiri."
"Makasih, San," suara Elisa pecah di akhir kalimat.
"Oke. Aku tutup dulu ya. Ini aku mau keluar sama Abang aku. Kita mau ke mall, sekalian nonton. Kalau kamu ada waktu, kita bisa pergi bareng. Lama kan kita gak ke bioskop bareng?"
Biasanya, ajakan seperti itu akan membuat Elisa melompat senang. Tapi sekarang...
"Maaf, ya Susan. Lain kali saja," tolak Elisa halus. Dia ingin sendiri dulu. Ia butuh sendiri.
"Hemm... padahal seru kalau jalan rame-rame. Tapi yasudah. Janji ya lain kali ikut! Aku tutup telpon nya ya."
"Hem."
Tutt!
Lisa meletakkan telponnya perlahan. Kemudian kembali rebahan. Ia memeluk bantal boneka beruang kecil yang sudah agak buluk, hadiah dari Susan pas Elisa ulang tahun. Satu-satunya benda yang masih memberinya rasa hangat.
Elisa mencoba memejamkan matanya, menutup wajahnya dengan sebelah lengan. Bukannya tertidur, bulir bening malah jatuh menetes tanpa bisa ditahan, membasahi boneka beruang itu.
"Bu... Bagaimana aku harus menjalaninya? Aku harus gimana, Bu?"
Ribuan tanya, ribuan ketakutan memenuhi benak gadis yang kini hidup hanya sebatang kara tersebut. Apa ia harus mempertahankan bayi ini? Atau...
Elisa menggeleng keras. Tidak. Ia tidak sejahat itu.
Apartemen Luxury The Regent, lantai 42.
Anggara sedang duduk di meja kerjanya yang menghadap ke jendela kaca raksasa. Sore itu dia baru balik dari kantor. Bukannya langsung istirahat seperti saran dokter, dia justru langsung menyibukkan diri. Seolah ingin menghukum tubuhnya sendiri.
Laptop menyala, puluhan email belum dibaca. Tapi tangannya sesekali berhenti untuk memijit keningnya yang berdenyut. Aktifitas yang melelahkan, tapi kekosongan lebih melelahkan lagi.
Di sela-sela tumpukan angka dan laporan keuangan yang padat itu, entah kenapa, wajah polos Elisa melintas lagi. Wajahnya yang pucat saat ia bentak suruh mandi. Wajahnya yang bergetar menahan malu.
Tak biasanya dia memikirkan satu gadis secara berkali-kali. Biasanya, setelah selesai, ia lupa. Perempuan hanyalah hiburan sesaat.
Ia meraih ponselnya, jarinya sudah mengetik cepat. Alex, bagaimana gadis itu?
Hampir selesai mengetik, tapi langsung dia hapus. Kasar. Ia membanting ponselnya ke meja.
"Untuk apa aku pedulikan dia? Hanya wanita biasa. Perempuan bayaran," desisnya pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan diri.
Tapi hatinya berkata lain. Matanya kembali fokus ke laptop, tapi pikirannya sudah tidak di sana.
Beberapa hari berlalu.
Kondisi kos Elisa terasa sepi. Bukan tanpa penghuni, tapi karena penghuni kamar nomor 3 itu sedang meringkuk di balik selimutnya selama tiga hari.
Sejak kemarin, setiap pagi Elisa bangun tidur muntah dan mual parah. Bahkan mencium bau nasi dari warung sebelah saja ia langsung lari ke kamar mandi. Tubuhnya lemas, tidak bisa ke kampus. Tidak bisa makan.
Saat Susan menelpon tanya keberadaannya, Elisa berbohong lagi. Ia bilang sedang pulang ke kampung halamannya.
Susan percaya begitu saja. Sampai hari ketiga, barulah dia curiga. Status WA Elisa tidak aktif. Teleponnya susah diangkat.
Sengaja waktu pulang kuliah, dia lewat kos Elisa. Ia dijemput Abang nya. Abang Dimas. Pria 27 tahun, single, mapan, punya pekerjaan tetap di perusahaan tambang. Hari ini dia kebetulan cuti dan diminta Susan menjemput.
"Kamu yakin ini tempatnya? Sepi gitu! Lampu depan mati. Artinya memang tidak ada di kos!" ucap Dimas dari dalam mobil, malas turun. Ia ikut keluar karena melihat Susan tak balik-balik dan malah ribut dengan ibu kos.
Susan masih mondar-mandir cemas, ia bertanya pada penghuni kos yang lain. Kebetulan ada satu mbak-mbak yang bilang tidak melihat Elisa keluar 2 hari ini.
Sampai akhirnya, Susan memutuskan pulang saja. Sepertinya Elisa memang ada di kampung.
Baru saja beberapa langkah menuju mobil, tiba-tiba terdengar suara...
Prang! Suara gelas berdenting jatuh dari dalam kamar kos nomor 3.
"Tunggu, Mas dengar gak?!" Susan langsung berhenti.
"Denger apa? Ayo balik, panas tau!" jawab Dimas kesal.
"Tunggu, aku denger sesuatu tadi dari dalam! Kayak ada yang jatuh!" Susan semakin yakin, ada orang di kamar kost itu.
"Tikus! Pasti cuma tikus!" ucap Dimas meremehkan.
Susan masih bersikukuh, jantungnya berdegup kencang. Ia menelpon nomor Elisa lagi. Dan reaksinya langsung merapatkan telinga ke pintu triplek yang tipis itu. Terdengar suara dering telepon yang lirih... di dalam kamar itu.
"Aku bilang juga apa!!! Dia di dalam, Mas!!!" ujar Susan panik. Wajahnya langsung pucat pasi.
"Di dalam?" Dimas mengerutkan keningnya, kini ia ikut waspada.
Susan langsung berlari mencari ibu kos, rumahnya masih sekitar sana.
Tak menunggu lama, ibu kos datang tergopoh-gopoh membawa kunci cadangan dengan napas terengah-engah.
Pintu dibuka.
Dan betapa terkejutnya mereka, melihat kondisi tubuh Elisa yang lemah tergeletak di lantai dekat kamar mandi. Wajahnya tirus, matanya sembab, bibirnya pucat kering, dan bau minyak angin menyengat di seluruh kamar. Di sampingnya ada baskom berisi muntahan.
"ELISA!!!" jerit Susan.
Dimas tidak berpikir panjang. Ia langsung mengangkat tubuh kecil yang ringan itu ke dalam gendongannya. Wajah tirus, mata terpejam, napasnya lemah.
Elisa dilarikan ke RS saat itu juga dengan mobil Dimas. Ditemani Susan yang menangis sepanjang jalan dan salah satu putri Bu kos.
Esok harinya. Kantor Pusat Anggara Group.
Alex menatap ragu dari ambang pintu. Dilihatnya Anggara sedang sibuk memimpin meeting pagi yang tegang. Semua direktur diam.
Selesai rapat, Anggara masih sibuk dengan berkas-berkas penting miliknya, tidak memberi celah untuk diganggu.
"Pak," panggil Alex pelan.
"Ada apa? Cepat katakan! Sejak tadi kau menatapku seperti mau minta naik gaji!" celetuk Anggara tanpa mengangkat kepala. Matanya tetap fokus ke berkas.
"Ini tentang gadis itu, Pak."
Hening.
Pena Anggara sempat berhenti sedetik di atas kertas. Tapi hanya sedetik.
"Katakan!" perintahnya, masih dengan nada dingin.
"Menurut informasi yang saya dapat dari tim, gadis itu sekarang di rumah sakit, Pak. Dirawat sejak semalam. Dehidrasi berat dan kelelahan."
Anggara diam lagi untuk sesaat. Wajahnya ia buat se-pura-pura acuh mungkin. Normal, dingin seperti biasa. Topengnya yang paling sempurna.
"Sakit apa? Demam biasa?" tanyanya enteng. Meskipun sikapnya seperti tak peduli, tapi rahangnya mengeras.
Alex menelan ludah. Ia tahu berita selanjutnya akan meledak.
"Maaf, Pak Garra... gadis itu sepertinya... tengah mengandung. Perawat di sana yang bilang."
Seketika suasana ruangan yang ber-AC dingin itu menjadi sepi dan sunyi.
Bersambung.
🍁 Tinggalin Komentar 😁
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,