NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:855
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 11] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Sentuhan jemari Oscar di pundaknya terasa begitu hangat, seolah menjadi satu-satunya jangkar yang menahan Anisa agar tidak hanyut dalam gelombang kecemasan. Di dalam mobil yang melaju membelah keheningan malam, wanita itu terus menggenggam erat gaun panjangnya.

"Kamu tenang saja, Anisa. Keluargaku tidak seperti mereka yang kamu anggap keluarga itu," bisik Oscar. Suaranya lembut namun tegas, menyentil secara halus kenangan pahit tentang bagaimana dinginnya perlakuan keluarga kandung Anisa selama ini.

Anisa menoleh perlahan, menatap wajah suaminya dari samping. Cadar yang menutupi separuh wajahnya menyembunyikan bibirnya yang gemetar, namun matanya yang jernih memancarkan rasa tidak percaya. Di samping pria ini, ia kembali diingatkan bahwa keluarga besar Carlous tak akan macam-macam terhadapnya.

"Hanya makan malam biasa, setelah itu kita bisa langsung pulang~Malam ini aku rasa perlu lembur di kantor." Oscar mengulas senyum tipis

menyapu keraguan yang masih bersarang di benak istrinya. Pernikahan mereka yang digelar secara sederhana dan sembunyi-sembunyi memang meninggalkan celah kekhawatiran

Apakah ia, seorang wanita berbusana muslimah tertutup, benar-benar bisa diterima?

"Baik. Kita sampai," ujar Oscar seraya mematikan mesin kendaraan.

Kendaraan berhenti tepat di depan sebuah kediaman yang megah. Luas dan berdiri kokoh, sama megahnya dengan hunian pribadi milik Oscar.

Pintu mobil terbuka. Anisa melangkah turun, mengekor di belakang langkah lebar suaminya. Pria jangkung itu sesekali menoleh ke belakang, memastikan wanita dengan balutan busana muslim santun dan cadar anggun itu tidak tertinggal. Langkah Anisa yang mungil berpadu kontras dengan sosok Oscar yang tegap, menciptakan pemandangan yang hangat di bawah pendar lampu taman.Saat jemari Oscar mendorong pintu jati berukir di hadapan mereka, suasana mendadak ramai.

"SELAMAT DATANG KEMBALI, TUAN MUDA KEDUA!"

Seruan kompak bergema dari dua barisan pelayan yang membungkuk hormat. Mereka menyambut kedatangan Oscar bagaikan seorang raja yang baru saja membawa pulang sang ratu.

"Terima kasih sambutannya, semua~" balas Oscar santai seraya mengibaskan tangannya pelan.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam rapi melangkah maju dari ujung barisan.

"Tuan, anggota keluarga yang lain sudah lebih dulu tiba, dan mereka masih menunggu kedatangan Tuan," ujar Vincent, sang kepala pelayan utama, dengan nada penuh kepatuhan.

"Ohh, tentu saja. Aku akan menjelaskan kepada mereka tentang keterlambatanku tadi—" jawab Oscar terkekeh pelan.

"Baik, mari Tuan, Nyonya. Saya antar," Vincent membungkuk kecil lalu memandu jalan.

Anisa kembali menyusuri lorong-lorong tinggi berlantai marmer. Detak jantungnya berpacu lebih cepat saat suara denting alat makan mulai terdengar dari kejauhan. Begitu mereka melangkah masuk ke ruang makan utama, matanya membelalak kecil di balik cadar. Meja panjang di tengah ruangan sudah hampir terisi penuh.

"Selamat malam, semuanya," sapa Oscar memecah keheningan.

Seorang wanita cantik bergaun glamor dengan rona bibir merah mencolok langsung memutar tubuhnya. Rambut ikalnya yang khas mengayun indah saat ia menegakkan duduknya.

"Wah, Kakak Oscar! Lama sekali kita tidak bertemu. Dan... siapa yang mengikuti Kakak di belakang itu~?" serunya penuh rasa ingin tahu.

Oscar merangkul pinggang Anisa dengan lembut, memajukan posisi istrinya sedikit ke depan. "Kenalkan semuanya, ini Anisa. Istriku."

Ting!

Suara hening yang mendadak jatuh membuat ruangan berkapasitas belasan orang itu serasa membeku. Pernikahan Oscar memang hanya diketahui oleh segelintir inti keluarga, dan pengumuman mendadak ini jelas memantik keterkejutan massal.

"Wah, Oscar! Apa ini sungguhan?!,Kapan kamu menikah?"

Dua wanita terlonjak kaget dari kursi mereka secara bersamaan. Langkah kaki mereka yang berbalut high heels terdengar berirama mendekati Anisa. Paras keduanya begitu identik, bagai pinang dibelah dua, hanya dibedakan oleh potongan rambut. Tampilan mereka yang menawan dan elegan tak ubahnya jajaran aktris papan atas.

"Anisa, kenalkan ini kedua istri adik Bungsu ku. Yang ini Morgana Obela," puji Oscar seraya menunjuk wanita berambut pendek yang tersenyum jahat penuh godaan. "Dan yang ini Dereta Obela," lanjutnya menunjuk kembarannya yang berambut lebih panjang.

Anisa menundukkan kepalanya santun, memberanikan diri membuka suara. "Halo Kakak-kakak! Kenalkan, saya Anisa."

Di tengah ruangan itu, kontras visual terlihat begitu nyata. Balutan pakaian muslimah Anisa yang tertutup rapat berdiri sejajar dengan gaya kasual glamor milik si kembar Obela. Namun, tidak ada tatapan menghina di sana—hanya ada binar binar ketertarikan yang jujur.

"Aku tidak ditanyakan?" sebuah suara sensual menyela dari arah samping. Wanita berbibir merona yang tadi menyapa pertama kali kini melangkah mendekat dengan senyum menawan.

"Halo, Anisa. Kenalkan juga dong... aku ini masih istri dari adiknya Kak Oscar. Namaku Azy Ronova," sahutnya seraya menyodorkan lengan bersambung cincin permata.

Sebelum Anisa sempat membalas uluran tangan itu, dua anak kecil berlari kecil dari balik gaun Azy.

"Mamih, siapa aunti ini?" tanya salah satu anak bermata bulat.

Azy berlutut kecil, merapikan pakaian anaknya. "Dia ini istrinya Om Oscar."

"Kenapa dia terlihat seperti ninja?"

"kenapa pakaian nya warna coklat?"celoteh si anak dengan polosnya, membuat beberapa pelayan di belakang tertahan memekik. Mereka belum memahami batasan pakaian wanita muslimah.

Anisa justru tertawa kecil di balik cadarnya. Matanya menyipit ramah. "Wah... Kalian lucu banget."

"Mereka berdua anak-anakku. Ini Alexix Carlous, dan ini adiknya, Arlota Carlous," potong Azy memperkenalkan kedua buah hatinya yang berusia sekitar lima atau enam tahun.

Di antara para wanita yang berkumpul malam itu, memang hanya Azy yang sudah memiliki momongan, sementara Morgana dan Dereta belum. Dan kini, Anisa pun menjadi anggota baru di barisan para istri Carlous.

"Sudah, sudah, ayo duduk... Sebentar lagi Mas Hans akan segera pulang, begitupun dengan Kak Ed dan Kak Barbara," sela Azy menyebarkan tangannya mengarahkan mereka ke kursi yang kosong.

Oscar mengerutkan alisnya. "Kemana suamimu? Dan Kak Ed?"

"Kebetulan suamiku harus melakukan operasi menyeluruh pada pasien-pasiennya. Kabarnya pagi tadi, hasil pemeriksaan menyatakan gejala yang diakibatkan obat penenang justru menciptakan kontras baru," jelas Azy pelan namun tetap terdengar oleh Anisa yang mendengarnya dengan dahi berkerut bingung.

"Ohh begitu ya... Yah, semoga saja dia cepat selesai. Aku tahu adikku itu pastinya bisa menyelesaikan masalah seperti ini," balas Oscar optimis.

Klek. Ssstt...

Belum sempat percakapan berlanjut, roda gigi bercampur deru langkah kaki terdengar dari pintu samping. Seorang pemuda remaja berusia sekitar 16 tahun mendorong kursi roda seorang wanita anggun berambut kepang panjang yang menyamping rapi. Di sisi lain kursi roda itu, berjalan seorang pria tegap berjas dokter lengkap dengan kacamata berbingkai tipis.

Wanita di atas kursi roda itu memancarkan visual yang amat tenang dan berwibawa. Sekali pandang saja, Anisa tahu wanita itu adalah sosok yang sangat dihormati.

"Halo, Anisa Lezman kan?,suami saya sudah cerita banyak soal kamu. Saya Barbara Husein, istri dari kakaknya suamimu. Dan ini anakku, Zaidani Carlous," sapa Barbara dengan nada suara yang begitu sejuk.

Pria berjas dokter di sampingnya mengulas senyum ramah. "Dan saya adiknya Kak Oscar... Nama saya Hans Carlous. Kebetulan profesi saya adalah seorang dokter bedah saraf. Jujur saja, tadi pasien yang saya tangani cukup berisiko jadi memakan banyak waktu."

"Salam kenal semuanya," balas Anisa santun, masih tak mengira bahwa adik suaminya adalah seorang dokter spesialis yang begitu hebat.

"Mari duduk dulu, sebentar lagi—"

"Wah... semuanya sudah berkumpul? Sepertinya aku benar-benar terlambat!"

Suara berat menyela dari arah pintu masuk. Pria berpostur jangkung dengan jaket kulit hitam masuk seraya menentang helm motor. Gaya kasualnya yang tangguh menandakan ia seorang rider sejati. Dereta dan Morgana langsung berhambur mendekatinya.

"Sayang-sayangku~ Barang yang kalian mau sudah ada di bagasi, nanti diambil ya~" bisik pria itu mengacak pelan rambut kedua istrinya sebelum mengalihkan pandangan pada Oscar.

"Wah, Kakak datang juga? Ternyata pria gila kerja seperti Kakak akhirnya tahu jalan pulang juga ya," terkekeh pria itu. Pandangannya kemudian jatuh pada sosok Anisa. "Yah, aku bisa menduga mungkin karena istri Kakak."

"Oh, tidak juga. Kebetulan aku memang sedang tenggang waktu," sanggah Oscar terkekeh.

"Kenalkan, ini Anisa. Dia istriku. Dan Anisa, kenalkan ini adik bungsu ku, Wilgard Carlous."

Anisa mengangguk hormat. Namun di dalam hatinya, ia tersadar masih ada satu sosok yang belum hadir sang putra tertua, Edwardo Carlous. Suaminya pernah menceritakan bahwa empat bersaudara Carlous memiliki perbedaan karakter dan paras yang sangat mencolok.Tak lama kemudian, langkah kaki berayun mantap mendekati area ruang makan. Suasana meja makan yang tadinya bising mendadak hening seketika.

"Maaf aku terlambat, di jalan tadi macet sekali," tutur pria yang baru masuk itu.

Suaranya berat dan berwibawa. Aura kepemimpinan yang menguar kuat membuat Anisa refleks menundukkan kepala, merasa tak sanggup menatapnya langsung. Namun, langkah kaki itu berhenti tepat di depan tempat duduknya.

"Anisa, ya?"

Anisa pelan-pelan mendongak. Dan seketika, matanya melebar halus. Pria tertua Carlous itu sama sekali tidak menyeramkan. Meskipun memiliki garis wajah yang tegas, postur tubuh Edwardo justru tergolong pendek dan proporsional—berbeda jauh dengan tiga adiknya yang tinggi jangkung bagai model papan atas.

"Hallo, Kak."

"Selamat datang di keluarga ini, Anisa. Nyamankan dirimu di sini. Anggap seperti rumahmu sendiri, ya," ujar Edwardo dengan senyum hangat yang terukir tulus di wajahnya.

Kini, seluruh anggota keluarga Carlous telah berkumpul penuh. Para wanita mengambil posisi di sebelah kiri meja makan, sementara para pria menduduki sebelah kanan. Edwardo, sebagai kepala keluarga, mengambil tempat di ujung meja utama.

Ia mendongak, lalu merentangkan kedua tangannya. Tangan kanannya meraih jemari Oscar, sementara tangan kirinya meraih jemari Barbara. Tindakan itu memicu gelombang gerakan di sepanjang meja; setiap anggota keluarga saling menyautkan jemari mereka, membentuk sebuah lingkaran kebersamaan yang utuh.

Anisa sempat ragu, namun genggaman hangat Oscar di satu sisi dan uluran tangan ramah Azy di sisi lain membuatnya ikut menyatukan jemarinya.

"Atas rasa syukur yang kita dapatkan pada malam hari ini, atas rasa nikmat yang Tuhan Maha Esa berikan, kita semua patut merasa bangga dan bahagia malam ini dan untuk ribuan malam kedepannya," ucap Edwardo lantang. Pandangannya mengabarkan kehangatan ke setiap sudut meja.

"Atas semua itu, marilah kita memanjatkan doa sesuai kepercayaan masing-masing, dan mengucap terima kasih bisa dipertemukan kembali di rumah ini."

Di tengah keberagaman latar belakang, tradisi, hingga keyakinan di antara mereka, perbedaan itu tak lantas menjadi tembok pemisah. Lingkaran tangan yang saling menggenggam erat itu menjadi bukti nyata bahwa keluarga Carlous menerima siapa pun yang menjadi bagian dari mereka dengan hati terbuka.

Air mata haru menggenang tipis di sudut mata Anisa di balik cadarnya. Janji Oscar terbukti nyata di sini, ia diterima.

Saat doa usai dilafalkan, dentingan lembut sendok berpadu dengan piring kaca mulai mengudara, digantikan oleh tawa kecil dan obrolan hangat.

"Arlot,makan pakai tangan kanan sayang~"pinta nya Azy pada si bungsu di sela sela makan nya si bocah.

"nggak mau,susah!"

"sayang.kamu lupa anak kita yang satu ini kan kidal?dia juga belum memahami cara pakai tangan kanan yang benar"jelas nya Hans tak menghiraukan.

Edward yang perlahan menatap seluruh anggota keluarganya, berpaling langsung pada Oscar yang tampaknya tidak terlalu menyukai sup buatan Azy.

"Oscar, apa istri mu sudah kamu perkenalkan dengan yang lainnya?" tanya Edwardo seraya memotong daging di piringnya.

"Sudah, Kak. Santai saja, aku tidak melupakan itu kok," sahut Oscar santai.

"Yah... dia baru saja menceritakannya, Kak~ Seolah-olah dia ingin menyembunyikan istrinya dari kita," goda Azy terkekeh geli, menopang dagunya dengan sebelah tangan.

"Coba dong... ceritakan pada kami bagaimana awal mulanya? Apakah... teman masa kecil?" Dereta tersenyum penuh arti, memancing perbincangan.

"Ataukah Cinlok? Cinta lokasi~" Morgana menyambung dengan mata berbinar penasaran.

"cilok itu apa mamah?"tanya Alex kecil, lengkap nya terangkat berusaha ingin tahu.

"bukan cilok.ponakannku sayang~ tapi Cinlok(cinta lokasi)"

"Etss, bukan cinta lokasi, tapi cinta pada pandangan pertama!" sanggah Azy cepat.

Zaidan, remaja 16 tahun di samping Barbara, menyela pelan seraya menyisap minumannya. "Tante Azy... cinta lokasi itu singkatan dari Cinlok, dan Cinlok bisa saja berawal dari cinta pada pandangan pertama."

Azy menyilangkan kedua lengannya, menatap keponakannya itu dengan alis terangkat. "Aduh... adik manis, sepertinya kamu tahu banyak tentang cinta daripada Tante, ya?"

Wajah Zaidan langsung merona merah. Ia menyikap rambutnya yang agak berantakan dengan canggung. "Ya... intinya sama saja, Tante~"

"Kalau begitu bagaimana menurutmu, Anisa?" tanya Hans tiba-tiba, menatap Anisa dengan binar rasa ingin tahu yang tak kalah besar. "Jelas sekali kami penasaran dengan sosok yang sudah meluluhkan hati Kakakku ini. Setahuku, Oscar adalah tipe pria yang paling sulit didekati wanita."

Anisa sempat tahu membalasnya sekiranya sampai sang suami mengedipkan satu matanya Pelan.

"itu- sebenarnya kami memang sudah lama saling mengenal,dan Kaka Oscar sering datang berkunjung di tempat ku bekerja.jadi kami rasa cocok begitu Kaka menyatakan perasaannya"Anisa berkata dengan lihai meksipun itu adalah kebohongan besar yang jelas ia paksakan.

"ahh~ benarkah?!,Soo sweet!.benar kan Darling!"

"Iyah... Sangat Sangat sweet"

Anisa menatap lingkaran keluarga besar itu—si kembar yang ceria, Azy yang masih menggoda dengan tatapan nya, Hans yang penuh perhatian, Edwardo yang bijaksana, hingga anak-anak yang tertawa polos.

terlepas dari semua riuh rasa bahagia seluruh keluarga...di sana ada pula tatapan Barbara yang menenangkan.

Kehangatan yang tak pernah ia dapatkan di rumahnya sendiri kini mengalir deras di ruangan ini. Dengus napas lega berhembus pelan dari balik cadarnya.

"hei kapan Kaka bulan madu?"celetuk wilgard tiba tiba,dia sela sela tak terduga itu ia malah semakin menjadi-jadi dengan kedua alis tebal nya yang ia naik turun kan itu.

"perlu kah kau menanyakan hal seperti itu?!"tanya Oscar serius, rasanya aneh saja adiknya ini terlalu banyak tanya.

"yah...aku hanya ingin tahu, mungkin aku juga bisa-"

"bisa apa?"

"....."

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!