Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Sore itu, suasana rumah sakit terasa begitu mencekam.
Adam Lorenzo Maxnore berdiri di depan ruang perawatan intensif dengan wajah dingin. Baju yang diberikan pelayanan untuk dirinya pakai tadi, masih kusut, sementara kedua tangannya sesekali mengepal. Sejak Gia dibawa ke rumah sakit, dia belum beranjak dari tempat itu.
Bukan karena dia mencemaskan perempuan itu sebagai seorang istri. Adam tidak pernah memiliki kedekatan emosional dengan Gia. Baginya, perempuan itu hanyalah seseorang yang terpaksa masuk ke dalam kehidupannya akibat kematian Veronika, wanita yang seharusnya menjadi istrinya. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikirannya sejak Marco menyampaikan hasil penyelidikan.
Bagaimana jika Gia bukan orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang merenggut nyawa Veronika. Pikiran itu terus berputar di kepalanya, menimbulkan kegelisahan yang tidak biasa. Adam adalah seorang pria yang terbiasa menjatuhkan hukuman tanpa ampun. Dalam dunia yang dikuasainya, menghabisi orang yang berani mengkhianati atau mencampuri urusannya bukanlah sesuatu yang perlu dipertimbangkan terlalu lama.
Dia telah membunuh banyak orang. Dia tidak pernah menyesali kematian mereka karena setiap orang yang menjadi sasarannya dianggap telah melewati batas yang tidak seharusnya mereka lewati. Akan tetapi, Adam tidak pernah membunuh seseorang yang tidak bersalah. Sekarang, dia harus menghadapi kemungkinan bahwa dirinya telah menghukum orang yang salah.
Pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter keluar setelah memeriksa kondisi Gia.
Adam segera menghampirinya, "Bagaimana keadaannya?"
"Kondisinya sudah lebih stabil dibandingkan saat pertama kali tiba. Namun, kami masih harus melakukan pemantauan ketat. Dia belum sadar, jadi kami belum bisa memastikan kapan kondisinya akan benar-benar pulih. Luka di punggungnya baru diobati dan itu telah infeksi,"
Adam mengangguk singkat, tetapi tangannya terkepal erat.
"Pastikan dia mendapatkan penanganan terbaik."
"Tentu, Tuan."
Dokter itu pergi, meninggalkan Adam kembali dalam keheningan.
Dia melirik ke balik pintu yang terbuka sesaat sebelum seorang perawat menutupnya kembali. Gia masih terbaring di ranjang, tidak sadarkan diri. Adam tidak merasakan kesedihan melihat keadaan perempuan itu. Tidak ada pula dorongan untuk menggenggam tangannya atau membisikkan kata-kata lembut seperti yang mungkin dilakukan seorang suami kepada istrinya, yang dia rasakan hanyalah kegelisahan.
"Brengsek!" desisnya sambil memukul dinding dengan telapak tangan.
Bukan kematian Gia yang paling ditakutinya. Dia takut menjadi seorang pembunuh yang telah menghukum orang tidak bersalah.
Adam Lorenzo Maxnore masih berdiri di depan ruang perawatan intensif dengan wajah dingin. Sejak tadi, pikirannya terus terganggu oleh hasil penyelidikan yang disampaikan Marco sebelumnya.
Tak lama kemudian, Marco datang membawa sebuah berkas. Pria itu berhenti beberapa langkah di hadapan atasannya, lalu membuka berkas tersebut.
"Tuan, saya sudah mendapatkan kepastian mengenai anting yang ditemukan di lokasi kecelakaan."
Adam langsung menoleh, "Katakan!"
Marco mengeluarkan foto sebuah anting berbatu rubi dengan desain pecah seribu, lalu meletakkannya di atas meja.
"Anting itu milik Nona Amerda Conti, putri angkat Tuan Sadam Conti."
Tatapan Adam seketika berubah tajam, "Amerda Conti?"
"Benar, Tuan." Marco melanjutkan penjelasannya dengan tenang. "Saya sudah menghubungi toko perhiasan yang membuatnya. Mereka mengonfirmasi bahwa anting tersebut memang dipesan secara khusus oleh Tuan Sadam beberapa bulan lalu sebagai hadiah untuk putri angkatnya. Jadi, bisa dipastikan bahwa anting yang ditemukan di lokasi kecelakaan itu memang berasal dari hadiah yang diberikan Tuan Sadam kepada Nona Amerda."
Adam diam, dia hanya menatap foto di atas meja. Kemudian, wajahnya memerah menahan amarah. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat.
"Jadi benar anting itu milik salah satu putri dari keluarga Conti? Yang ditemukan di lokasi kecelakaan yang menewaskan Veronika?"
"Benar, Tuan."
Adam menghantam meja dengan keras hingga beberapa dokumen di atasnya berhamburan ke lantai.
"Sialan!" Suaranya menggema di ruangan itu.
Selama ini, dia telah menganggap Giana Bianca Conti sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian Veronika. Dia bahkan tidak memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Baginya, Gia harus membayar atas kematian wanita yang dicintainya. Namun, sekarang, sebuah bukti justru mengarah kepada Amerda Conti. Perempuan yang merupakan saudara angkat Gia itu.
Adam mengangkat wajahnya. Sorot matanya berubah begitu mengerikan hingga siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikir dua kali sebelum berani membantah.
"Selama ini aku sudah menghukum orang yang salah, karena mengira dialah yang bertanggung jawab atas kematian Veronika," ucapnya dengan suara rendah, penuh amarah. "Sekarang kau datang kepadaku dan mengatakan bahwa anting milik Amerda ditemukan di lokasi kejadian?"
Marco tidak menjawab. Dia tahu betul bahwa dalam keadaan seperti ini, satu kalimat yang salah bisa membuat kemarahan Adam semakin meledak.
Adam berbalik, lalu menatapnya tajam.
"Seret Amerda Conti ke hadapanku, sekarang juga!"
Perintah itu keluar dengan penuh amarah.
"Aku ingin dia berada di hadapanku secepatnya!"
Marco langsung menundukkan kepala. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia berbalik dan segera meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah atasannya. Adam tetap berdiri di tempatnya. Napasnya terdengar berat, sementara tatapannya terpaku pada foto anting yang masih tergeletak di atas meja.
Adam tidak pernah takut menghadapi musuh. Dia juga tidak pernah ragu menjatuhkan hukuman kepada siapa pun yang berani mempermainkannya. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak bisa dia terima. Dia tidak akan membiarkan siapa pun membuatnya menghukum orang yang salah.
"Kau akan membayar semuanya, Amerda Conti!" tatapan Adam tajam menatap benda yang tergeletak di atas meja tersebut.
ayahmu saja menginginkan kematianmu,, tak usah lah jadi orang yang terlalu baik,, karna pada akhirnya hanya akan d injak2 saja .
lngsung ilang ingatan Dy kaki ny kebentur meja ,,
otak ny di kaki sih jdi bgtu sikap ny,, 😒😒😒😒😒😒
Apapun kalian berdua itu,, yg pastinya kalian berdua itu jahat sama Gia.