【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22- Mengejar Ayat dan Suara dari Masa Depan
Perjuangan menghafal Asmaul Husna dan Surat Yasin resmi dimulai. Sejak hari di mana Nara melontarkan syarat itu di tengah riuk kantin sekolah, ritme hidupku berubah drastis.
Kalau biasanya malam hariku cuma diisi dengan menggosok salep di otot kaki yang pegal usai dihajar porsi latihan silat dari jam tiga sore sampai magrib, kini ada satu ritual wajib baru: duduk bersila di atas sejadah, membuka kitab suci, dan mengeja ayat demi ayat sampai larut malam.
Menghafal sembilan puluh sembilan Asmaul Husna dan puluhan ayat Surat Yasin buat seorang atlet silat seperti aku jelas bukan hal yang mudah. Otakku lebih terbiasa mengingat pola serang-bela, langkah tanding, dan refleks benturan di atas matras. Tapi tiap kali rasa lelah dan kantuk mulai menyerang di pukul sebelas malam, bayangan wajah Nara saat menatap mataku di kantin langsung membuyarkan semuanya.
Nara... kalau saja saat itu kamu bisa mendengar suara hatiku dari masa depan, aku ingin membisikkan satu hal ke telingamu yang dulu:
“Terima kasih sudah ngasih syarat sejauh dan seberat ini, Ra. Buat cewek lain, mungkin syarat ini dianggap enggak masuk akal atau cuma alibi buat nolak. Tapi buat aku yang waktu itu cuma cowok pas-pasan di barisan belakang kelas, syaratmu adalah bukti kalau kamu melihat potensi kebaikan di dalam diriku.”
“Meskipun di mata orang lain mustahil bagi seorang anak silat yang terbiasa grasak-grusuk ini buat melafalkan ayat-ayat panjang dengan sempurna, aku enggak bakal pernah mundur. Seberapa sulit dan sangat susah pun jalannya, aku akan terus mencoba dan menerima tantanganmu. Karena buat mendapatkan hatimu, aku rela melampaui batas kemampuanku sendiri.”
Di sekolah, proses pemantauan hafalan ini berjalan secara tersembunyi lewat sinyal-sinyal kecil. Tidak ada istilah setoran hafalan langsung di depan kelas atau di lorong sekolah. Aku bukan tipe cowok yang suka memamerkan proses, dan Nara pun cukup paham soal itu.
Sebagai gantinya, interaksi kami diwarnai oleh lembaran kertas kecil yang diselipkan di antara buku tugas. Saat pelajaran kosong atau jam istirahat, Nara sering berpura-pura meminjamkan catatan Fisika atau buku tugas ke mejaku. Di selipan lembaran kertas catatan itu, selalu ada secarik kertas lipat kecil berwarna merah muda berisi tulisan tangannya yang rapi dan tegas:
"Udah sampai Asmaul Husna nomor berapa hari ini, Satria? Jangan bilang baru sampai Al-Malik ya! Awas kalau bohong :P"
Aku selalu tersenyum-senyum sendiri membaca pesan rahasia di atas kertas kecil itu. Dengan lincah, aku membalasnya di lembar bawah tulisan tangannya:
"Udah sampai Al-Mutakabbir, Maknar! Dikit lagi tembus dua puluh nama. Surat Yasin-nya juga udah tak cicil tiap malam usai Isya. Siap-siap aja kamu kaget pas hafalanku udah tuntas semua!"
Kertas lipat itu kembali kupulangkan lewat Diko yang enggak tahu apa-apa dan cuma bisa cengar-cengir bingung melihat aksi tukar-menukar catatan kami.
Di balik sifat galak dan seriusnya, aku bisa melihat betapa Nara menikmati momen-momen ini. Setiap kali membaca balasanku, dia bakal menoleh sebentar ke bangku belakang, memberikan tatapan menantang khas Maknar yang diiringi senyum tipis paling manis yang pernah ada.
Hari Sabtu sore, usai menuntaskan pemusatan latihan silat di aula bawah, aku berjalan menaiki tangga menuju selasar perpus lantai dua untuk mengambil tas ranselku yang tertinggal. Tubuhku yang basah kuyup oleh keringat usai digembleng Mas Teguh dari jam tiga sampai jam six sore terasa pegal di semua persendian.
Di selasar yang mulai sepi itu, aku melihat Nara sedang merapikan modul-modul latihan olimpiadenya bersama Pak Ridwan.
Begitu mendengar langkah kakiku, Nara menoleh. Dia memperhatikan raut wajahku yang lelah dan kaus latihankuu yang basah oleh keringat. Tangannya terulur ke dalam tas sekolahnya, mengeluarkan satu kotak tisu dan menyodorkannya padaku.
"Nih, usap dulu keringatmu. Nanti angin sore bikin kamu masuk angin," katanya halus, nada bicaranya penuh perhatian yang makin sulit disembunyikan.
Aku menerima tisu itu, menatap matanya dari jarak dekat. "Makasih ya, Ra."
Nara bersandar di pagar pembatas lantai dua, memandangi lapangan sekolah yang sepi.
"Gimana hafalannya, Sat? Beneran dihafal tiap malam?" tanya Nara pelan, memancingku tanpa menagih setoran secara langsung.
Aku menyunggingkan senyum percaya diri, menatap matanya dengan penuh keyakinan.
"Tiap malam usai Isya tak eja satu-satu di atas sejadah, Ra. Aku gak pernah main-main sama janjiku. Begitu semuanya tuntas, tak kabarin kamu langsung," balasku mantap.
Pipi Nara pelan-pelan merona merah padam. Dia membuang muka ke arah lapangan bawah untuk menyembunyikan rasa salah tingkah dan keharuan yang melingkupi dadanya.
"Bagus deh kalau beneran dijalani... Awas aja kalau berhenti di tengah jalan," gumam Nara pelan, berusaha mempertahankan gaya galaknya walau aku tahu pertahanannya sudah makin tipis.
Nara... seandainya waktu bisa diputar dan aku bisa berdiri di samping dirimu yang sedang salah tingkah di selasar sore itu, aku ingin membisikkan ini lagi:
“Lihat kan, Ra? Aku enggak pernah main-main sama ucapanku. Dulu kamu mungkin mikir kalau tantangan ini bakal bikin aku menyerah dalam hitungan hari. Tapi kamu enggak tahu seberapa besar rasa cintaku buat kamu waktu itu.”
“Aku rela begadang, menahan kantuk, dan mengulang ratusan kali ayat-ayat itu cuma demi membuktikan ketulusanku. Karena bagiku saat SMA dulu, dijadikan pacarmu lewat jalur perjuangan ini adalah pencapaian tertinggi yang ingin kubuktikan pada dunia.”
Nara menoleh kembali padaku, tatapannya menyiratkan rasa hangat dan penghargaan yang begitu dalam.
"Satria... makasih ya," bisik Nara sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara angin sore.
"Makasih buat apa, Ra?"
"Makasih karena kamu bener-bener mau berusaha buat hal yang tak minta," akui Nara jujur, memandangi mataku tanpa berkedip.
Aku tersenyum lembut, menyandarkan siku di pagar selasar dekat dengannya. "Kan udah tak bilang dari awal di kantin, Ra. Selama itu kamu, se-mustahil apa pun jalannya, aku bakal terus coba sampai berhasil."
Di sore yang tenang itu, di antara aroma tanah basah dan desir angin sekolah, aku merasa berada di puncak kebahagiaan. Aku merasa benteng di hati Nara sudah sepenuhnya terbuka buatku. Aku merasa kemenangan sudah di depan mata dan sebentar lagi Nara bakal resmi menjadi milikku.
Aku berjuang dengan segenap jiwa dan raga di atas sejadah tiap malam, meyakini bahwa takdir manis sedang menungguku di ujung hafalan. Tanpa pernah menduga sama sekali bahwa di saat hafalanku makin sempurna dan hatiku makin yakin... sebuah nama baru bernama Riski sedang bersiap melangkah masuk dan menghancurkan seluruh impian indahku.