Alicia Harold hanya ingin menikmati malam terakhirnya sebelum menjadi mahasiswa.
Namun karena terlalu bosan di acara keluarga, gadis barbar itu diam-diam mabuk dan berakhir jatuh ke dalam pelukan seorang pria dingin yang paling ingin ia hindari.
Bryan Bright, calon kakak iparnya dan dosen di Imperial College University.
Sejak malam itu, kehidupan Alicia berubah menjadi mimpi buruk. Dosen killer itu seperti bayangan yang tak pernah bisa lepas darinya. Alicia terus berontak, menghindar, dan menjaga batas.
Namun bagaimana jika tanpa sadar batas itu perlahan berubah menjadi perasaan?
"Amit amit, aku tidak mungkin suka si Bryan mulut harimau itu!" kesal Alicia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JDPDK Bab 4 - Ada Di Mobilku
Kehadiran Bryan seketika membuyarkan semua rencana Alicia yang sudah tersusun rapi. Keadaan hampir terkendali dan tiba-tiba mahkluk itu justru datang.
'Dasar menyebalkan!' kesal Alicia, andai ia punya ilmu sihir maka Bryan adalah orang pertama yang ingin dia lenyapkan dari dunia ini.
Tapi sekarang Alicia hanya bisa berdiri kaku di tempatnya, bahkan napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ia tidak tahu harus memandang ke arah mana, karena pria yang paling ingin ia hindari kini justru berdiri tepat di hadapannya.
Berbeda dengan Alicia yang sudah hampir kehilangan akal sehat, Bryan justru terlihat sangat tenang. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa beberapa jam sebelumnya pria itu tidur di sofa kamar hotel demi menunggu seorang gadis mabuk untuk sadarkan diri.
Tatapan Bryan akhirnya bertemu dengan kedua mata milik Alicia, dilihatnya gadis kecil itu mendelik.
'Apa! Jangan lihat ke arahku! Jangan katakan apapun! tutup mulutmu rapat-rapat!' bentak Alicia di dalam hati.
Sungguh, kali ini Alicia bahkan berharap dirinya bisa berubah menjadi tanaman hias dan berdiri diam di sudut ruangan sampai Bryan pergi. Sayangnya, harapan itu terlalu mustahil.
“Bryan.” Annie yang sejak tadi berdiri di samping sang adik akhirnya tersenyum ketika melihat pria itu datang. Mereka memang memiliki janji temu pagi ini. Apalagi masalahnya jika bukan menyangkut tentang sang adik. Andai Alicia belum pulang juga, Annie berencana mengajak Bryan untuk mencari sang adik secara langsung.
"Alicia sudah pulang," ucap Annie kemudian.
Alicia langsung menegang saat namanya disebut. 'MATI AKU.'
Alicia segera melirik ke arah Prilly yang berdiri di sebelahnya. Sahabatnya itu juga tampak bingung. Bahkan Prilly yang biasanya begitu banyak bicara kini hanya mampu diam.
“Masuklah, Bryan. Kami semua sedang membicarakan Alicia," ucap mom Aluna.
Mendengar namanya kembali disebut, Alicia hanya bisa pasrah.
"Alicia sudah pulang, jadi permasalahannya sudah selesai," ucap Evan pula.
Prilly langsung siaga saat mendengar kak Evan bicara. Sementara Alicia makin menundukkan wajah. 'Aku ingin kabur,' batin Alicia.
“Kalau begitu aku datang pada waktu yang tepat," ucap Bryan.
Alicia langsung menelan ludah. 'Tidak. Justru kamu datang di waktu yang paling salah!' Alicia mengangkat wajah dan tatapannya langsung bertemu dengan mahkluk itu.
Bryan berjalan mendekati Annie dan Alicia secara refleks mundur setengah langkah, tetapi segera menghentikan gerakannya ketika menyadari semua orang sedang memperhatikan.
Annie terlihat bingung. “Kamu kenapa, Al?” tanyanya pada sang adik.
“Tidak kenapa-kenapa, Kak."
“Wajahmu pucat.”
“Aku kurang tidur.”
Bryan meliriknya sekilas dan Alicia langsung mengalihkan pandangan. Untungnya Mom Aluna tidak terlalu memperhatikan kegelisahan putrinya. Mom Aluna sudah tenang karena akhirnya Alicia pulang.
“Alicia kamu sudah membuat Mommy khawatir semalaman,” ujar Aluna. “Tapi ternyata kamu menginap di rumah Prilly.”
Bryan terdiam, dia yang paling tahu bahwa alasan itu bohong.
Alicia bisa merasakan tengkuknya mulai dingin.
“Untung saja kamu menginap di rumah Prilly,” lanjut mom Aluna sambil menatap Alicia. “Kalau kamu berada di luar tanpa kabar, Mommy benar-benar tidak tahu harus bagaimana.”
Prilly langsung menghela napas lega. “Syukurlah mom Aluna percaya,” Suara kecil itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Aluna menoleh. “Kenapa, Pril?”
“Ti-tidak, Tante. Maksudku, maksudku syukurlah Alicia baik-baik saja.”
Alicia hampir saja menginjak kaki Prilly. 'Sstt! Jangan bicara lagi!'
'Iya Al, maaf,' batin Prilly, ia tahu persis arti tatapan sang sahabat, pasti memintanya untuk diam.
“Ya. Yang penting sekarang Alicia sudah pulang dengan selamat," balas mom Aluna.
Alicia menundukkan kepala. “Iya, Mom. Maafkan aku.”
“Lain kali jangan lakukan lagi.”
“Iya, Mom."
“Kalau begitu masalahnya sudah selesai. Alicia sudah pulang, dan hari ini mulai masuk kuliah. Jangan membuat masalah lagi.” tegur Daddy Davion.
Alicia langsung mengangguk cepat. “Iya, Dad.”
Daddy Davion kemudian menepuk bahu Evan. Mereka berdua lantas pergi ke ruang kerja.
"Kalau begitu aku pamit dulu, Tante," pamit Prilly yang diam-diam pun ingin segera kabur dari situasi ini.
"Iya Sayang, terima kasih sudah menjaga dan mengantar Alicia ya," balas mom Aluna.
"Iya, Tante. Daddy kak Annie," ucap Prilly, lalu segera berjalan cepat keluar.
Dan kini Alicia benar-benar merasa sendiri di sana, "Anu," ucap Alicia bingung dan nyaris gagap.
"Apa? Naik ke kamarmu dan istirahatlah, ingat ini hari pertama mu kuliah. Jam 2 jangan lupa," ucap mom Aluna.
"Tante, sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada Alicia," ucap Bryan tiba-tiba.
Dan Deg! Jantung Alicia rasanya ingin copot saat ini juga. Belum sempat Alicia berkata apapun, Bryan sudah lebih dulu melanjutkan kata-katanya.
"Alicia, sepatumu ada di mobilku."
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻