Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai Sang Kapten
Pagi itu, suasana SMA Tunas Bangsa terasa hangat oleh terik matahari yang mulai merambat naik, namun bagi Seruni, atmosfer koridor sekolah mendadak berubah sangat dingin. Kabar mengenai pesta kejutan ulang tahun kemarin, terutama pengakuan jujur Kapten Fikri di depan murid-murid, menyebar seperti api menyambar jerami kering. Salah satu teman sekelas yang ikut hadir kemarin menyebarkan rahasia tersebut ke seluruh pelosok sekolah.
Sepanjang jalan menyusuri koridor menuju kelas XI-3, bisik-bisik miring langsung menyambut langkah kaki Seruni.
"Lihat tuh, Seruni! Kecil-kecil kok sudah genit banget ya, sekolah belum lulus tapi sudah gatal minta dinikahi!" cetus seorang siswi dengan nada dengki yang cukup keras saat Seruni melintas di depannya.
"Iya, dasar kebelet nikah! Tapi aneh ya, kok bisa sih polisi tampan dan gagah begitu mau sama bocah sekolah yang belum ada apa-apanya?" timpal siswi lainnya seraya tertawa mencibir.
Seruni menundukkan kepala dalam-dalam. Jemari tangannya meremas erat tali ransel di dadanya. Rasa malu, sesak, dan sedih bercampur aduk membebani pikirannya yang seharusnya fokus menghadapi lembar soal ujian nasional hari kedua.
Tak lama setelah ia duduk di bangkunya, seorang guru piket berdiri di ambang pintu kelas. "Seruni Shafira, kamu dipanggil ke kantor Kepala Sekolah sekarang juga."
Seisi kelas seketika riuh rendah. Pandangan sinis dan cibiran makin gencar terarah padanya. Cindy yang duduk di samping Seruni menatap sahabatnya dengan cemas. Saat Seruni berjalan gontai keluar kelas, Cindy buru-buru merogoh ponsel di dalam sakunya.
Kemarin sore, Kapten Fikri secara diam-diam meminta nomor kontak Cindy dan memberikan nomor ponsel pribadinya. 'Jika ada sesuatu yang mengganggu atau membahayakan Seruni di sekolah, langsung hubungi saya,' begitu pesan Fikri kemarin sore. Tanpa membuang waktu, jemari Cindy bergerak cepat mengetik pesan darurat kepada sang Kapten.
Di dalam ruang kantor Kepala Sekolah yang berpendingin udara, Seruni berdiri kaku di depan meja kayu jati yang besar. Pak Raharjo, Kepala Sekolah SMA Tunas Bangsa yang terkenal tegas, menatap Seruni dengan kening berkerut dalam.
"Seruni, kamu ini murid berprestasi dan langganan beasiswa di sekolah ini," ujar Pak Rahardjo dengan suara berat. "Tapi kabar pernikahanmu ini sangat mengejutkan dan merusak kedisiplinan serta citra sekolah. Bagaimana bisa seorang siswi aktif sudah menikah tanpa ada pemberitahuan resmi dari pihak wali?"
"Saya... maaf, Pak..." cicit Seruni pelan, matanya mulai menampung genangan air mata. "Pernikahan ini..."
BRAK!
Pintu ruang Kepala Sekolah mendadak didorong dari luar!
Langkah kaki yang tegap, berwibawa, dan mantap menghentakkan lantai ubin. Sosok Kapten Fikri berdiri tegap di ambang pintu dengan seragam dinas harian kepolisian lengkap, didampingi oleh Briptu Dimas yang membawa stofmap dokumen. Pendar aura kepemimpinan yang sangat dingin dan mengintimidasi seketika memenuhi seluruh sudut ruangan tersebut.
Pak Rahardjo yang tadinya hendak marah seketika terperanjat dari kursinya. Melihat tanda pangkat perwira dan seragam dinas yang melekat pada tubuh tegap Fikri, dengan tangan agak gemetar sang Kepala Sekolah buru-buru menyambutnya.
"S-Selamat pagi, Komandan! Silakan duduk..." tutur Pak Rahardjo gagap.
Fikri tidak langsung duduk. Pandangan matanya yang tajam sempat menatap lembut ke arah Seruni yang berdiri menunduk di samping meja. Fikri kemudian menarik kursi di sebelah Seruni, melipat tangannya di atas meja kerja sang Kepala Sekolah.
"Selamat pagi, Pak Kepala Sekolah," suara Fikri rendah, tenang, namun memancarkan ketegasan yang mutlak. "Saya Kapten Fikri Rafisqy. Saya hadir di sini secara pribadi untuk menjelaskan situasi istri saya, Seruni Shafira."
Pak Rahardjo menelan ludahnya kasar. "I-Istri...?"
"Benar. Seruni adalah istri sah saya," tegas Fikri. Ia mengisyaratkan Dimas untuk menyerahkan dokumen dari stofmap. "Pernikahan kami didasari oleh amanah dan ikrar pengorbanan almarhum Kakek Seruni, seorang veteran yang gugur demi menyelamatkan nyawa saya dalam tugas negara. Sebagai seorang perwira, saya mengambil tanggung jawab penuh untuk melindungi cucu tunggal beliau secara hukum dan agama."
Pak Rahardjo memeriksa berkas di hadapannya dengan wajah pucat.
"Dan perlu Bapak catat," lanjut Fikri, matanya memicing menatap lurus sang Kepala Sekolah, "Pernikahan ini sama sekali tidak mengganggu proses belajarnya. Seruni tetap mempertahankan prestasinya sebagai juara umum dan menjaga kedisiplinannya di sekolah ini. Jadi tidak ada alasan bagi pihak mana pun untuk mempertanyakan integritas atau hak pendidikannya."
Pak Rahardjo mengusap keringat dingin di lehernya, buru-buru mengangguk paham. "M-Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Kapten Fikri! Saya tidak tahu latar belakang yang sebenarnya. Terima kasih atas penjelasannya, kami sangat mengerti."
"Satu hal lagi, Pak," potong Fikri sebelum Pak Rahardjo kembali bicara. "Saya minta pihak sekolah memberikan klarifikasi yang tegas kepada para murid agar tidak ada rumor tidak berdasar yang mengganggu fokus ujian istri saya. Jika ada tindakan bullying atau pelecehan verbal yang berlanjut, saya tidak akan segan membawa hal ini ke ranah hukum atas tuduhan perusakan nama baik."
"Siap, Kapten! Hari ini juga saya sendiri yang akan mengumumkan klarifikasi di hadapan seluruh siswa!" janji Pak Rahardjo mantap.
Fikri berdiri dari kursinya. Pria tegap itu melangkah mendekati Seruni. Di depan Kepala Sekolah yang terpana, Fikri mengulurkan tangannya yang besar, mengelus lembut puncak kepala Seruni yang tertutup syal dengan penuh kasih sayang.
"Belajarlah yang benar," bisik Fikri dengan nada suara yang sangat lembut, resangat berbeda dari suaranya saat mengintrogasi Kepala Sekolah tadi. "Jangan biarkan bisikan-bisikan tidak benar di luar sana mengganggu pikiranmu. Kamu itu anak yang pintar."
Seruni hanya bisa terdiam mematung. Dadanya bergetar hebat oleh rasa haru yang tak membendung. Perlindungan yang diberikan Fikri begitu kokoh dan tanpa ragu.
"Saya permisi dulu, Pak Kepala Sekolah. Ujian hari ini masih ada satu mata pelajaran lagi," pamit Fikri seraya memberi hormat singkat.
Sebelum melangkah keluar ruangan, Fikri menunduk sedikit ke telinga Seruni, berbisik pelan, "Kalau ada apa-apa lagi, aku menunggu di depan gerbang sampai kamu pulang sekolah."
Tanpa menunggu jawaban dari istri kecilnya yang masih tertegun, Fikri berbalik dan melangkah keluar bersama Briptu Dimas. Saat Fikri menyusuri koridor sekolah untuk kembali ke mobil jipnya, murid-murid yang tadi sibuk mencibir seketika menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tak berani menatap mata dingin sang Kapten yang memancarkan ketegasan aparat sejati.
Begitu Fikri menghilang di belokan koridor, Cindy langsung berlari menghampiri Seruni dari balik dinding. Cindy mengguncang-guncang lengan Seruni dengan mata berbinar-binar kagum.
"Gila, Runi! Suamimu keren banget!" seru Cindy histeris dengan suara berbisik. "Aduh, aku juga mau punya suami polisi yang pelindung dan kerennya kayak begitu! Kamu beneran dilindungi bagaikan putri raja tahu tidak?!"
Seruni tetap berdiri mematung di koridor sekolah. Pandangan matanya menatap lurus ke arah lorong tempat Fikri baru saja berlalu. Di dalam hati kecil sang gadis bunga, benteng penolakan yang selama ini ia bangun rapat-rapat perlahan mulai luluh oleh kehangatan dan ketegasan sikap suami kepolisiannya.