Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pura-pura tidak kenal
Ha ha ha....
Jingga tertawa lepas di kamar hotel VIP miliknya setelah mendengar cerita dari Asisten Rama yang datang mengunjunginya.
"Bagus sekali, mereka bertiga akhirnya mendapat balasan yang setimpal. Tiga minggu lagi adalah upacara kedewasaanku, sekarang aku akan pulang untuk mempersiapkan segalanya. Jangan sampai karena aku tidak terlihat selama satu minggu lebih dan mereka mengabaikan persiapan upacara kedewasaanku itu," ucap Jingga yang tidak ingin upacara besar yang sudah ia nantikan sejak lama akan hancur begitu saja kalau keadaan keluarga Amazon terus kacau begini.
Lagi pula sekarang mereka tidak memiliki akses keuangan keluarga Amazon, semuanya masih ditangani Arga dan Bryan.
"Nona benar, lagi pula kabar Nona yang hilang mungkin akan segera terdengar keluar, kalau sampai itu terjadi, maka notaris dan kuasa hukum keluarga akan datang untuk membacakan surat wasiatnya. Kita tidak boleh membuat orang terkejut," ucap asisten Rama.
"Aku mengerti, Paman. Kalau begitu besok pagi aku akan kembali ke rumah," ucap Jingga.
"Baiklah, Saya menunggu Nona Besar kembali ke rumah," kata sang asisten.
"Tapi sebelum kembali ke rumah aku ingin mempersiapkan sesuatu, tolong Paman bantu aku," kata Jingga.
"Tentu saja saya akan melakukan apapun yang Nona Muda perintahkan, saya sudah ditugaskan untuk membantu Nona muda, kalau sampai saya gagal membantu Nona muda, maka saya tidak punya muka untuk kembali dan menemui Tuan dan nyonya besar," ucap Sang asisten.
Jingga segera mengatakan rencananya pada asisten Rama lalu setelah itu membiarkan asisten Rama pergi.
Baru saja asisten Rama pergi, Jingga mendapat sebuah panggilan telepon yang berasal dari Farhan.
Senyum di wajah Jingga langsung terukir indah saat ia dengan semangat mengangkat panggilan telepon, "Kak Farhan," kata Jingga tidak bisa menyembunyikan semangatnya.
"Sepertinya kamu sedang senang, aku akan mengajakmu nonton film hari ini," kata pria dari seberang telepon.
"Tentu! Kalau begitu aku siap-siap sekarang, dijemput aku 2 jam lagi," ucap Jingga.
"Baiklah, sampai bertemu 2 jam lagi," jawab Farhan mengakhiri panggilan telepon itu.
Setelah telepon berakhir, Jingga dengan semangat berlari ke kamar mandi, untungnya sekarang kakinya sudah baik-baik saja sudah bisa dipakai untuk berlari kesana kemari.
Perempuan itu dengan semangat memilih gaun dan merias wajah dengan cantik, tak lupa menata rambutnya sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Farhan.
'Meski dia bukan berasal dari keluarga yang terpandang di kota ini, tetapi sikap dan pembawaannya sangat baik, aku tidak keberatan menghabiskan seumur hidup dengannya,' pikir Jingga dalam hati sebelum akhirnya dia tersentak kaget dan terdiam memandangi cermin.
"Gila! Apa sekarang aku jatuh cinta padanya? Bahkan sampai membayangkan akan menghabiskan seumur hidup dengannya?" Jingga menggigit bibir bawahnya, berpikir sejenak.
"Aku tidak boleh begini, belum tentu dia menyukaiku. Lagi pula, aku jangan sampai tertipu lagi oleh pria. Jangan sampai sikapnya sama seperti Bryan dan Arga, di awal-awal begitu manis, ternyata setelah mendapatkan apa yang mereka mau malah mencampakkanku begitu saja," kata Jingga pada dirinya sendiri memiliki tekad untuk lebih berhati-hati di kehidupan ini.
Ding dong!
Suara bel yang berbunyi membuat Jingga kembali bersemangat, dia langsung mengambil tas dindingnya dan berlari ke arah pintu.
Jingga dengan penuh semangat membuka pintunya, tetapi ketika pintunya terbuka, Jingga terpaku melihat pria di depannya ternyata adalah Arga.
"Sialan! Ternyata kau sembunyi di sini ya! Pantas saja asisten Rama bolak-balik setiap hari tanpa tujuan yang jelas, ternyata dia datang kemari menemuimu!" Teriakan penuh amarah dari Arga memenuhi lorong ruang VIP.
Jingga tersenyum, "padahal aku sudah berencana untuk pulang besok pagi, ternyata kau tidak sabaran juga ya," kata Jingga.
"Cepat ikut aku pulang sekarang! Kau harus diberi pelajaran!" Kata Arga mengulurkan tangannya untuk menarik pergelangan tangan Jingga, tetapi Jingga dengan cepat menghindar dari Arga.
"Jangan memaksaku! Aku akan kembali ke rumahku ketika aku mau kembali, kau tidak punya hak untuk memerintah ku!" Tegas Jingga.
"Tak punya hak? Kau lupa saat ini akulah pemimpin keluarga Amazon! Satu kata dariku saja bisa membuatmu terkurung di dalam kamar berhari-hari!" Tegas Arga.
"Sekarang kau memperlakukanku seperti ini? Kutanya padamu, selama ayah dan ibuku masih hidup bahkan setelah mereka mati, apakah pernah keluarga Amazon memperlakukanmu dengan buruk? Sekarang setelah ayah dan ibuku tiada, kau seenak hati memperlakukan aku seburuk ini? Kau sudah lupa bagaimana dulu keluarga Amazon begitu baik hati mau menampungmu yang hanya seorang buangan di panti asuhan? Sekarang kau malah melunjak dan tidak tahu diri sama sekali, pelajaran apa yang harus diberikan padamu supaya kau lebih tahu diri sedikit?!" Bentak Jingga penuh amarah.
"Jangan memancing emosiku! Aku belum memperhitungkan tentang bagaimana kau mendorong Tasya ke Sungai! Sekarang ikut aku!" Teriak Arga dengan paksa menyeret tubuh Jingga meninggalkan tempat itu.
Di depan lift mereka bertemu Farhan yang saat itu datang untuk menjemput Jingga, "Ada apa ini?" Tanya Farhan.
"Kau!" Arga semua terkejut melihat pemuda di depannya, dia kenal sekali rupa pria ini adalah orang yang sama dengan yang di pondok hari itu, tidak membiarkan mereka berteduh dan malah membiarkan mereka kedinginan dan kehujanan di luar.
"Ohh,,, ternyata kalian berdua saling kenal ya, jangan-jangan hari itu kau berada di dalam pondok namun tidak mengizinkan kami masuk?!" Arga menatap Jingga dengan dingin.
Tangan Jingga terkepal kuat, ia menatap Farhan, 'aku tidak bisa membuat Farhan terseret dalam masalah ini, dia memiliki bisnis kecil, kalau sampai diganggu oleh Arga dan Bryan, bisnisnya bisa hancur,' pikir Jingga dalam hati.
"Apa yang kau bicarakan? Aku saja Baru kali ini bertemu dengannya, kami sama sekali tidak saling kenal!" Tegas Jingga sambil memberi kode pada Farhan dengan jarinya agar mengikuti apa yang ia katakan.
Tangan Farhan terkepal melihat pergelangan tangan Jingga yang terluka akibat cengkraman keras dari Arga, tetapi dia tidak ingin membuat Jingga merasa bersalah padanya sehingga dia hanya berkata, "kalian berdua orang asing ini, kenapa menghalangi jalan? Cepat menyingkir!"
Setelah berkata demikian, Farhan langsung melangkah menerobos mereka berdua dan dengan cekatan menaruh sebuah obat salep ke telapak tangan Jingga.
"Si gila itu! Bagaimana bisa dia di sini? Lain kali aku akan memberimu pelajaran," ucap Arga sambil menggertakkan giginya, dia tidak bisa membuat masalah di tempat ini menjadi lebih besar karena tempat ini adalah tempat VIP, para pengelola pasti tidak akan tinggal diam jika ada lebih banyak keributan.
Arga terbalik menatap Jingga, "ikut aku sekarang!" Perintah Farhan kembali mengulurkan tangannya untuk memegang pergelangan tangan Jingga tetapi Jingga dengan cepat menghindar.
"Aku bisa jalan sendiri," kata Jingga dengan ketus sambil memasuki lift.
Di dalam lift, suasana begitu dingin, Arga menatap Jingga dengan tajam, "begitu tiba di rumah, kita akan memperhitungkan semuanya dengan jelas! Jangan harap kau bisa lolos dari hukumanmu!" Tegas Arga.
Jingga tidak menjawab, Dia hanya diam saja sambil memegang erat-erat salep yang diberikan Farhan padanya.
'Aku harus tahan sebentar lagi, hanya 3 minggu lagi dan aku akan bebas dari semua penderitaan ini. Aku juga tidak boleh bertingkah terlalu membantahnya, jangan sampai semua rencanaku gagal,' pikir Jingga dalam hati.