NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Arya Wijaya

Kriiinngggggg...!!

Suara alarm dari telepon genggam murah milik Arya berdering nyaring pada pukul 05.00 WIB. Suara bip bersahut-sahutan itu memecah sunyi kamar kontrakan berukuran tiga kali empat meter yang terletak di sudut gang sempit kawasan Kebon Jeruk.

Arya tidak langsung bangun. Ia berbaring telentang, dan menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas membentuk pola-pola tak beraturan.

Matanya sembap. Tidurnya semalam tidak nyenyak karena dipenuhi mimpi buram tentang gang gelap, derap langkah sepatu kulit, dan tatapan dingin pria berjas hitam dari dalam mobil SUV yang mengintipnya kemarin sore.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu bangkit duduk di tepi tempat tidur busa yang tipis. Di sudut meja kayu kecil tempatnya belajar, berdiri sebuah wadah kaca tembus pandang yang tertutup rapat.

Di dalamnya tergeletak tutup ampul kaca berukuran mungil, bukti fisik tunggal yang ia temukan di selokan Taman Kota.

"Satu langkah salah, kamu yang akan terbaring di meja pemulasaraan, Arya," bisiknya pada diri sendiri.

Arya menyalakan kompor gas portabel, merebus air untuk membuat kopi hitam tanpa gula. Sambil menunggu air mendidih, ia melangkah ke kamar mandi sederhana di sudut kontrakan.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin yang menampar kesadarannya. Di cermin retak yang menggantung di dinding, Arya menatap bayangannya sendiri: lingkaran hitam melingkari kedua matanya, rahangnya mengencang, dan tatapannya menyimpan ketegangan yang tak bisa sembuh hanya dengan tidur.

Setelah menyeduh kopi, Arya duduk di lantai bersandarkan tembok. Ia membuka laptop tuanya yang berbunyi nyaring saat kipas pendinginnya berputar. Ia mengetikkan nama "Bambang Gunawan" di mesin pencari berita.

Ratusan artikel bermunculan, tetapi sebagian besar hanyalah ucapan duka cita formal dari insan pers. Tidak ada satu pun berita yang menyebutkan dugaan kejanggalan. Judul-judul berita itu seragam: “Jurnalis Senior Bambang Gunawan Meninggal Dunia Akibat Serangan Jantung.”

Arya tersenyum sinis. "Serangan jantung yang disuntikkan," gumamnya pelan.

Ia lalu mencari nama perusahaan atau proyek yang belakangan ini gencar dikritik oleh Bambang.

Beberapa artikel lama menunjukkan bahwa sebelum meninggal, Bambang sedang menelusuri dugaan penyelewengan dana alokasi pembangunan RSUD baru dan pengadaan fasilitas kesehatan kota yang melibatkan konsorsium swasta Nusantara Utama Group.

Arya mencatat nama perusahaan itu di buku harian kecilnya. Ia menyeruput kopi hitamnya hingga tandas, dan membiarkan rasa pahitnya membakar kerongkongannya.

Hari baru sudah dimulai, dan ia harus kembali menjalani peran ganda, sebagai petugas pemulasara yang tenang di siang hari, dan penelusur jejak rahasia di malam hari.

Pukul 06.30 WIB, Arya sudah rapi dengan kaus oblong abu-abu dan jaket kain lusuh. Sebelum berangkat ke RSUD, ia mampir ke warung nasi uduk Bu Asih yang terletak seratus meter dari kontrakannya.

Warung kecil itu selalu ramai oleh warga sekitar, ada tukang ojek, pekerja pabrik, dan ibu-ibu rumah tangga yang mengantre sarapan.

"Nasi uduk satu, Bu. Pakai telur balado sama tempe orek," kata Arya sambil menarik bangku kayu panjang.

Bu Asih, wanita setengah baya yang ramah dan selalu cekatan, tersenyum lebar melihat Arya. "Eh, Mas Arya. Pucat banget mukanya, Mas? Lembur lagi di rumah sakit?"

"Iya, Bu Asih. Belakangan ini agak ramai," jawab Arya pendek sambil tersenyum tipis.

Seorang pengemudi ojek online yang duduk di sebelah Arya menoleh. "Mas kerja di RSUD yang bagian mana? Yang depan apa yang bawah?"

"Bagian Jenazah, Pak," jawab Arya jujur tanpa ragu.

Seketika, pengemudi ojek itu bergeser beberapa sentimeter ke samping, wajahnya meringis tipis bercampur sungkan. Ia pun mengangguk-angguk canggung. "Wah... kerjaan berat itu, Mas. Berani betul ya. Kalau saya mah ditawar uang berapa juga gak bakalan mau masuk ke ruangan dingin itu malam-malam."

Arya hanya terkekeh pelan. Reaksi seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya selama bertahun-tahun. Bagi masyarakat umum, pekerjaannya dipenuhi mitos, rasa takut, dan stigma mistis.

Padahal baginya, ruang jenazah adalah tempat paling jujur di muka bumi. Di sana, status sosial, kekayaan, dan jabatan runtuh seketika. Semua orang kembali menjadi tanah dalam keheningan yang sama.

Bu Asih menyerahkan piring berisi nasi uduk hangat. "Hush, Pak Ojek! Jangan gitu. Kalau gak ada Mas Arya sama petugas lainnya, siapa yang mau ngurusin kita kalau udah dipanggil Tuhan? Justru mulia banget kerjaannya Mas Arya ini."

"Terima kasih, Bu Asih," ucap Arya seraya menyuap nasi uduknya.

Sambil mengunyah, mata Arya menangkap siaran televisi gantung di sudut warung Bu Asih. Layar kaca menyiarkan berita pagi. Seorang pria berjas rapi dengan senyum penuh percaya diri tengah memberikan keterangan pers di depan gedung Balai Kota.

“Pemerintah Kota menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan fasilitas kesehatan berjalan transparan dan sesuai prosedur. Kami berduka atas berpulangnya rekan jurnalis kita, Saudara Bambang Gunawan, namun kami minta semua pihak tidak berspekulasi...”

Teks nama di bawah layar televisi itu tertulis: Drs. Hendra Wijaya - Anggota Dewan & Komisaris Utama Nusantara Utama Group.

Arya menghentikan kunyahannya. Pria berjas di layar televisi itu... meskipun pakaiannya berbeda, aura dingin dan cara bicaranya sangat mirip dengan gaya mengancam yang dirasakan Arya saat berhadapan dengan mobil SUV di gang sempit kemarin.

"Mas Arya? Kok malah melamun? Makanan ntar dingin," tegur Bu Asih.

Arya tersentak. "Ah, iya, Bu. Maaf."

Ia menghabiskan sarapannya dengan cepat, membayar makanan, lalu segera menaiki sepeda motor matic nya. Ada perasaan membakar di dadanya. Musuh yang dihadapi Bambang Gunawan bukanlah penjahat jalanan biasa, melainkan penguasa berpakaian rapi yang memegang kendali kota.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!