NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Dua Pilihan

Keesokan paginya, ketegangan terasa menggantung di udara. Orion mengantarku sampai ke gerbang kampus—bersembunyi di balik bayangan pohon besar, tak terlihat oleh siapa pun selain aku.

"Hati-hati," katanya saat aku melangkah masuk. "Jangan pergi ke mana pun sendirian. Dan jika ada yang terasa aneh, langsung panggil namaku. Aku akan mendengarnya, sejauh apa pun jaraknya."

"Kau juga hati-hati," jawabku, tak ingin berpisah. "Jangan terlalu lama sendirian di tempat yang terbuka."

Dia tersenyum samar, lalu perlahan menyatu dengan bayangan.

Seharian itu aku tidak tenang. Setiap kali ada orang lewat di belakangku, aku menoleh dengan jantung berdebar kencang. Dinda menyadari kegelisahanku dan tidak pernah meninggalkanku sendirian, bahkan ke kamar mandi pun menemaniku.

"Kau tampak seolah akan dihantui setiap detik," ucapnya pelan saat kami duduk di perpustakaan, mencoba mencari informasi lebih lanjut.

"Mungkin memang begitu," jawabku jujur, menunduk menatap halaman buku yang tak kubaca isinya. "Dinda... bagaimana jika aku harus memilih?"

"Memilih apa?"

"Antara tetap di sini dan terus membahayakan semua orang yang kucintai... atau pergi ke tempat yang tak diketahui, berharap bahaya ikut bersamaku."

Dinda menutup bukunya pelan, menatapku lekat. "Kau tidak boleh berpikir begitu, Aruna. Lari bukan jawabannya. Dan kau tidak membahayakan siapa pun. Bahaya itu sudah ada sejak lama sebelum kalian bertemu. Kalian cuma... menjadi sasaran yang lebih terang sekarang."

"Terima kasih," gumamku, tersenyum tipis. "Kau selalu tahu cara menenangkanku."

Sore itu, saat kami sampai di tempat pertemuan, Orion sudah menunggu. Tapi dia tidak sendirian—di sampingnya berdiri sosok lain, samar, berpakaian jubah kelabu.

"Ini Elara," kata Orion melihat tatapan bertanyaku. "Dia adalah penjaga catatan di perbatasan. Satu-satunya yang berani membantuku sejak aku dikutuk."

Elara melangkah maju, wajahnya lembut namun sedih, matanya berwarna perak pucat. "Aku sudah mendengar banyak tentangmu, Aruna. Orion tidak pernah berhenti menyebut namanya sejak pertama kali melihatmu."

Wajahku memanas. "Terima kasih sudah membantunya."

Elara tersenyum tipis. "Aku datang membawa kabar yang tidak menyenangkan. Valdris sudah memutuskan. Tiga malam lagi, saat bulan paling gelap, ia akan mengirim pasukan besar untuk menjemputmu. Entah dengan persetujuan atau tidak."

Napas tercekat di tenggorokanku. Orion mengepalkan tangannya erat, urat di lehernya menegang.

"Apakah tidak ada cara untuk membujuknya?" tanyaku pelan.

"Valdris tidak bisa dibujuk," jawab Elara lembut. "Hanya bisa dilawan. Tapi melawannya berarti perang. Dan Orion... kekuatannya belum pulih sepenuhnya. Apalagi ikatan kalian terus menguras tenaganya."

Aku menatap Orion. Dia menunduk, rahangnya mengeras, berusaha menyembunyikan kepedihan di matanya.

"Jadi aku... aku beban bagimu," ucapku pelan.

Orion langsung menatapku, matanya memancarkan kepanikan. "Jangan pernah berpikir begitu. Kau adalah anugerah, bukan beban."

"Tapi karenaku kau melemah. Karenaku kau diincar ayahmu."

"Dan tanpa kau aku sudah mati sejak lama," potongnya tegas. "Jangan kurangi makna keberadaanmu hanya karena harganya mahal."

Elara memandang kami dengan tatapan iba. "Ada dua pilihan. Dan tidak ada yang mudah." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pelan.

"Pertama: Aruna tetap di dunianya. Orion memutus ikatan dan kembali ke dunia bayangan untuk menyerah. Aruna aman, tapi Orion akan dikurung kembali selamanya, mungkin lebih dalam dari sebelumnya."

Terdengar napas tertahan dariku. "Dan pilihan kedua?"

"Kalian berdua pergi ke tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun—ke tengah perbatasan yang paling gelap, tempat yang bahkan Valdris enggan mendekat. Tidak ada cahaya matahari, tidak ada teman, tidak ada jalan pulang. Tapi di sana, ikatan kalian akan menjadi kekuatan yang tak bisa disentuh siapa pun. Kalian akan aman... sendirian."

Keheningan menyelimuti kami. Dinda yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. "Pilihan kedua berarti Aruna meninggalkan semuanya. Keluarga, rumah... semua orang."

"Ya," jawab Elara pelan. "Itu pengorbanan terbesarnya."

Aku menatap Orion. Dia menatapku balik, matanya penuh kerinduan sekaligus ketakutan. Dia takut kehilanganku, tapi juga takut merampas seluruh hidupku.

"Aku butuh waktu untuk berpikir," kataku pelan.

"Kau punya waktu sampai lusa," ucap Elara. "Sebelum bulan gelap muncul."

Elara pergi, menyisakan kami berdua. Dinda memberi kami ruang, berjalan menjauh beberapa langkah.

Orion mendekat, memegang kedua tanganku. "Aruna... dengarkan aku baik-baik. Jika kau memilih tetap di sini, aku mengerti. Aku akan memutus ikatan ini sendiri. Aku rela dikurung seribu tahun asal kau aman dan bahagia."

Air mata menetes di pipiku. "Bagaimana aku bisa bahagia mengetahui kau menderita sendirian?"

"Kau akan melupakanku seiring waktu," suaranya bergetar. "Hidupmu panjang, cerah, penuh hal indah. Kau akan menemukan kebahagiaan yang layak kau dapatkan."

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya, lalu memeluk wajahnya dengan kedua tangan. "Melupakanmu? Seperti melupakan cara bernapas, Orion? Itu tidak mungkin."

Dia menutup matanya, menahan tangis. "Kalau begitu... ikutlah bersamaku ke tempat yang sepi. Tapi ingatlah: tidak ada jalan pulang. Tidak ada matahari, tidak ada Dinda, tidak ada apa pun yang kau kenal sekarang. Hanya aku. Dan aku takkan pernah sanggup meminta itu darimu."

Aku mencium keningnya, pelan, penuh keyakinan. "Kau tidak memintanya. Aku yang memilihnya."

"Pikirkan baik-baik," bisiknya. "Jangan ambil keputusan terburuk dalam hidupmu hanya karena mencintaiku."

"Justru karena mencintaimu, ini keputusan termudah yang pernah kuambil," jawabku mantap. "Di mana kau berada, di sanalah rumahku. Baik di dunia terang maupun kegelapan paling pekat. Aku tidak butuh apa-apa selain kau."

Orion memelukku erat, mencium rambutku, menahan isak tangisnya agar tak terdengar. "Kalau begitu... mari kita hadapi semuanya berdua."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!