Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bau Darah yang Mengundang Serigala
Malam kedua di Hutan Kuno dilalui di balik celah tebing batu berlumut yang sempit.
Cekungan batu itu cukup dalam untuk menyembunyikan punggung mereka dari hutan terbuka. Sebelum duduk, mereka melumuri zirah bersimbah darah babi hutan itu dengan lumpur tebal dari genangan terdekat untuk menyamarkan bau anyir yang menempel. Sepanjang malam, Max dan kawan-kawannya duduk berdesakan, menggenggam pedang mereka dalam kegelapan pekat sambil menahan napas setiap kali terdengar lolongan dari kejauhan.
Anehnya, hingga matahari perlahan menyingsing menembus tajuk daun di atas sana, tidak ada satu pun monster yang mendekat. Hutan seolah membiarkan mereka hidup untuk malam itu. Meski tidur mereka hanya berupa sekian menit yang terputus-putus, otot mereka yang menjerit setidaknya mendapat waktu untuk mendingin.
Pagi harinya, perjalanan pulang dimulai.
Langkah mereka terasa luar biasa berat. Sepatu bot yang amblas ke dalam tanah basah, ditambah puluhan kilogram gulungan kulit babi hutan dan taring masif di punggung Max serta Josh, membuat napas mereka memburu. Hutan perlahan menjadi sedikit lebih terang, menandakan mereka mulai mendekati zona perbatasan luar.
Namun, di sebuah jalur sempit yang diapit oleh dua lereng tanah curam, langkah Arya tiba-tiba terhenti.
Krek… Srak!
Suara ranting yang diinjak dengan sengaja memecah keheningan.
Dari balik batang-batang pohon berkayu gelap di depan dan dari atas lereng tanah, sepuluh pria melangkah keluar. Mereka bergerak menyebar, menyumbat jalur satu-satunya menuju Rustwood.
Pakaian mereka berlapis zirah pelat berkarat dan kulit kotor. Senjata di tangan mereka—kapak bermata ganda, pedang bergerigi, dan tombak berlapis besi—memiliki noda darah kering yang menghitam. Wajah mereka adalah wajah para pembunuh.
“Wah, wah. Lihat apa yang kita temukan,” ucap seorang pria tinggi kurus dengan separuh telinga kirinya hilang terpotong. Ia memukul-mukulkan sisi pedangnya ke telapak tangan yang terbungkus sarung kulit kotor. “Kulit babi hutan yang utuh. Pasti harganya lumayan.”
Pria bertelinga buntung itu meludah ke tanah, menatap rombongan Arya dengan senyum meremehkan.
“Bocah-bocah bau kencur yang nyasar, ya? Hutan ini bukan tempat buat mencari keringat,” ejeknya, memancing tawa parau dari kesembilan rekannya.
Arya tidak membalas. Matanya yang sedingin es menyapu sepuluh pria itu. Ini adalah parasit perbatasan—kelompok pemburu ilegal yang sengaja menunggu petualang yang kelelahan di perjalanan pulang untuk merampas hasil buruan dan nyawa mereka sekaligus.
“Taruh barang-barang itu di tanah,” pria itu menodongkan ujung pedangnya ke arah Max. “Sama senjata kalian sekalian. Kalau kalian ngoceh, aku bakal potong kaki kalian dari lutut dan meninggalkan kalian di sini buat dimakan binatang buas.”
Max menggertakkan giginya. Ia menoleh sekilas ke arah Arya. Josh, Willi, Kin, dan Erson perlahan merapatkan punggung mereka. Jari-jari mereka memutih mencengkeram gagang senjata. Tenaga mereka belum pulih benar dari pertarungan kemarin, dan kini sepuluh pria dewasa siap membantai mereka.
“Jatuhkan beban buruan kalian. Bentuk barikade di depan. Jangan ada yang menahan serangan mereka sendirian,” desis Arya pelan. Tangan kanannya dengan tenang menggenggam gagang pedang bajanya.
Mendengar itu, pria bertelinga buntung itu mendengus kasar.
“Keras kepala. Cincang daging mereka!” teriaknya.
Trang!
Bentrokan pecah dalam sekejap. Tiga pria berbadan besar menerjang maju sekaligus. Seorang pria berjanggut mengayunkan kapaknya dengan tenaga penuh dari arah atas, mengincar kepala Max yang baru saja menjatuhkan gulungan kulit babi ke lumpur.
Max mengangkat pedangnya dengan kedua tangan, menumpukan kakinya pada tumpukan kulit babi di bawahnya untuk menangkis.
Klang!
“Argh!” Max mengerang saat getaran keras dari benturan baja itu menjalar dan nyaris meremukkan pergelangan tangannya. Tenaga pria dewasa ini terlalu masif untuk ditahan dalam posisinya yang kelelahan. Di sisi kiri, Erson terhuyung mundur menghindari tusukan tombak yang merobek bagian lengan zirahnya.
Rombongan Arya terdesak mundur hanya dalam lima detik pertama. Pria berjanggut itu tertawa kasar, mengangkat kapaknya lagi, bersiap membelah dada Max yang pertahanannya sudah terbuka.
Namun, sebelum kapak itu turun, Arya bergerak.
Ia tidak diam menunggu. Arya menarik napas panjang. Paru-parunya mengembang maksimal. Lion Breathing. Darahnya memompa dengan tekanan tinggi, menyalurkan letupan tenaga ke setiap serat ototnya. Udara di sekitarnya mendadak terasa berat.
Sring!
Bilah pedang abu-abu tercabut tanpa aba-aba. Pria berjanggut itu hanya melihat kilatan baja bergerak dari sudut matanya. Sebelum ia sempat memutar kapak untuk menangkis, pedang Arya sudah meluncur memotong pergelangan tangannya yang tidak terlindungi pelat.
Srat!
“Aaaarghh!”
Kapak berat beserta sebagian telapak tangan itu jatuh ke lumpur. Pria berjanggut itu menjerit histeris, memegangi tunggul tangannya yang menyemburkan darah segar.
Menggunakan tenaga dari tebasannya, Arya melangkah menyilang, menendang lutut pria itu hingga jatuh berlutut, lalu memutar pedangnya ke belakang—menangkis tusukan tombak dari pemburu lain yang mencoba menusuk punggungnya.
Trang!
Tombak itu terpental kasar. Tangan Arya tidak berhenti berputar. The Crimson Crest Edge Style. Pedangnya mengalir dalam satu garis miring yang brutal, merobek tenggorokan si pemegang tombak dalam satu tarikan bersih.
Terdengar bunyi gemiricik darah yang mencekik saat pria kedua ambruk. Dua orang cacat dan tewas dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Sisa pemburu yang sedari tadi menekan pasukan Max mendadak membeku. Mata mereka terbelalak menatap pemuda berambut hitam yang kini berdiri di atas genangan darah berlumpur, pedangnya meneteskan cairan merah pekat.
“A-Apa yang kalian tunggu?! Serang dia dari samping!” teriak pria bertelinga buntung itu panik. Insting pembunuhnya menyadari pemuda ini sangat berbahaya.
Tiga orang menerjang Arya sekaligus.
Jual beli tebasan pecah. Arya menunduk, membiarkan ujung pedang musuh memotong udara kosong di atas kepalanya. Ia melangkah maju, menghindar, dan menangkis silih berganti. Trang! Klang! Bunga api memercik saat baja beradu keras.
Pria bertelinga buntung itu melihat celah. Ia menebas dari atas dengan kekuatan penuh, berniat membelah bahu Arya saat pedang pemuda itu masih menahan serangan pemburu lain.
Arya tidak mundur menghindari tebasan itu. Ia melepaskan kuncian pedangnya, membiarkan senjata musuh pertama meleset menghantam tanah, lalu mengangkat senjatanya ke atas, menyambut hantaman pedang pria bertelinga buntung itu.
Klang!
Kedua pedang terkunci keras. Pria itu menekan pedangnya dari atas dengan urat leher menonjol, mendengus kasar layaknya binatang buas.
“Mati kau, Sialan!” raungnya.
Namun, wajah Arya tetap sedingin es. Ia memiringkan sudut pedangnya beberapa derajat. Pedang musuh seketika tergelincir ke bawah, membuat pria kurus itu kehilangan pijakannya dan terhuyung ke depan.
Tanpa membuang satu detik pun, Arya memutar bahunya, melangkah masuk, dan menusuk lurus ke depan.
Bleeding Crest Thrust.
Bilah pedang Arya menembus zirah kulit pria bertelinga buntung itu tepat di bawah tulang rusuk, merobek organ dalamnya, dan menembus punggungnya.
Pria itu tersedak seketika. Darah segar tumpah dari mulutnya, membasahi wajah Arya. Dengan satu sentakan kasar, Arya mencabut pedangnya, menendang dada pria itu untuk melepaskan bilahnya. Tubuh tak bernyawa sang pemimpin jatuh berdebum ke atas lumpur.
Kesunyian yang mengerikan mendadak menyelimuti jalur sempit itu.
Tujuh pemburu yang tersisa perlahan melangkah mundur. Tangan mereka bergetar hebat. Mereka menatap mayat pemimpin mereka, lalu menatap Arya yang sedang mengibaskan darah dari bilah pedangnya tanpa sedikit pun napas yang memburu.
Tatapan Arya menelanjangi mereka, menunggu siapa yang akan melangkah maju untuk ditebas selanjutnya.
“G-Gila... dia bukan anak-anak...” bisik salah satu pemburu dengan suara bergetar. Senjatanya terjatuh dari genggamannya.
Tanpa aba-aba, ketujuh pria dewasa itu berbalik, melarikan diri kocar-kacir menembus semak belukar Hutan Kuno.
Max dan kawan-kawannya terengah-engah, bersandar pada tebing tanah di belakang mereka. Dada mereka naik turun dengan cepat. Bau darah manusia berceceran kini tumpah ke tanah, menyebar pekat dan menetes meresap ke dalam lumpur basah Hutan Kuno, mengirimkan undangan mematikan ke dasar hutan yang jauh lebih gelap.
👍