Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Langkah Baru di Lantai Empat Puluh Lima
Pagi itu, sinar matahari menembus kaca-kaca jendela penthouse dengan begitu hangat. Aura terbangun bukan lagi karena dering jam waker yang bising, melainkan oleh aroma harum kopi yang menyeruak masuk ke dalam kamar utama.
Saat membuka mata, Aura mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Namun, sebuah catatan kecil berwarna merah muda tergeletak di atas bantal tempat Evan biasa tidur.
____________________________________________________________________________________________
'Aku ada rapat subuh dengan tim analisis Singapura. Kopi dan sarapan sudah disiapkan Bimo di meja. Aku menunggumu di kantor pukul sembilan.'
— Evan.
____________________________________________________________________________________________
Aura memeluk catatan kecil itu di dadanya, sebuah senyuman tipis tak sadar terukir di bibirnya. Pria yang dulu begitu dingin dan penuh jarak, kini secara perlahan menunjukkan perhatian-perhatian kecil yang melelehkan hatinya. Pernikahan yang berawal dari lembaran kertas kontrak dua miliar rupiah itu kini terasa kian nyata.
Tepat pukul setengah sembilan pagi, Aura melangkah keluar dari taksi di depan gedung Adijaya Tower. Kali ini ia datang sendiri tanpa didampingi Evan. Penampilannya sangat rapi: kemeja warna putih gading berpadu dengan rok pensil biru navy dan rambut hitamnya yang dikuncir kuda dengan rapi.
Saat Aura melangkah memasuki lobi utama, suasana terasa sangat berbeda dibanding hari pertamanya. Para staf dan resepsionis yang sebelumnya menatapnya dengan tatapan meremehkan, kini menunduk hormat dengan senyum ramah penuh keseganan. Berita tentang pengakuan cinta Evan di pesta ulang tahun Kakek Surya semalam telah menyebar cepat ke seluruh pelosok Adijaya Group.
"Selamat pagi, Nyonya Adijaya," sapa kepala sekuriti lobi dengan sangat sopan.
"Selamat pagi," jawab Aura ramah seraya menganggukkan kepala seraya berjalan menuju lift khusus eksekutif.
Begitu pintu lift terbuka di lantai empat puluh lima, Pak Bimo sudah menyambutnya dengan senyum lebar.
"Selamat pagi, Nyonya Aura. Tuan Presdir baru saja menyelesaikan rapat virtualnya," ujar Bimo seraya membimbing Aura menuju meja kerjanya yang baru dipasangi papan nama akrilik bertuliskan Aura Dania Adijaya - Asisten Sekretaris Utama.
"Terima kasih, Pak Bimo. Mulai sekarang panggil saya Aura saja kalau di area kerja," kata Aura canggung saat melihat papan nama mewahnya.
"Itu perintah langsung dari Tuan Evan, Nyonya. Saya tidak berani mengubahnya," kekeh Bimo pelan. "Oh ya, Tuan Evan meminta Nyonya segera masuk ke ruangannya membawa berkas audit divisi keuangan triwulan kedua."
Aura merapikan kemejanya, mengambil map berkas bercetak biru yang sudah disiapkan di mejanya, lalu mengetuk pintu kayu jati ruang kerja Presdir.
Tok! Tok!
"Masuk," suara berat Evan terdengar dari dalam.
Aura memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Ruang kerja Evan sangat luas dengan pemandangan lanskap kota Jakarta dari ketinggian lantai empat puluh lima. Evan sedang duduk di belakang meja kerja kayunya yang besar, melepaskan kacamata bertangkai peraknya saat melihat Aura masuk.
"Selamat pagi, Tuan Presdir," sapa Aura formal dengan binar mata jahil.
Evan terkekeh rendah, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mewahnya. Ia mengisyaratkan Aura untuk mendekat. "Kau terlambat dua menit, Asisten Sekretaris."
Aura melangkah mendekati meja kerja Evan, meletakkan map berkas di hadapan sang CEO. "Jalanan di seputar Semanggi cukup padat pagi ini. Ini berkas laporan keuangan yang kamu minta."
Bukannya memeriksa berkas di mejanya, Evan justru meraih pergelangan tangan Aura dengan lembut, menarik wanita itu sedikit mendekat hingga berdiri tepat di samping kursinya.
"Kau datang sendiri? Kenapa tidak minta Bimo menjemputmu?" tanya Evan, matanya menatap lekat wajah Aura yang segar tanpa riasan tebal.
"Aku bukan anak kecil, Evan," sahut Aura pelan, merasakan hangat jemari Evan di pergelangan tangannya. "Aku tidak ingin karyawan lain berpikir aku memanfaatkan posisiku sebagai istri Presdir untuk bersikap manja."
"Kau berhak memanjakan dirimu di perusahaan ini, Aura," bisik Evan seraya mengusap punggung tangan Aura dengan ibu jarinya. "Seluruh gedung ini ada di bawah namaku. Dan kau adalah pemilik tunggal hatiku, ingat?"
Pipi Aura seketika merona merah. Mengingat ucapan deklarasi cinta Evan di depan ratusan tamu semalam saja sudah membuat dadanya berdebar liar, apalagi kini mendengarnya langsung dalam jarak sedekat ini.
"E-Evan... kita sedang di kantor," cicit Aura malu-malu, berusaha menarik tangannya pelan, meski Evan tidak berniat melepaskannya.
Evan tersenyum tipis sebuah senyuman langka yang selalu sanggup membuat pertahanan Aura runtuh. "Baiklah. Kita bicara profesional sekarang. Duduklah."
Aura menarik kursi di hadapan meja kerja Evan. Evan membuka map berkas audit yang dibawa Aura, lalu membalikkan beberapa lembar halaman berisi tabel angka yang rumit.
"Aku ingin kau memeriksa ulang seluruh alokasi dana operasional untuk proyek anak perusahaan di kawasan Jawa Barat," kata Evan serius, kembali pada mode pimpinan perusahaan yang tegas. "Tim internal mencatat ada penyimpangan anggaran sebesar sepuluh miliar rupiah dalam tiga bulan terakhir. Aku mencurigai ada permainan dari oknum jajaran manajemen lama."
Aura mengerutkan kening. Jiwa akuntannya seketika terpanggil. Ia menarik berkas tersebut dan mengamati lembaran neraca keuangan dengan sangat teliti.
"Anggaran pengadaan material di lembar keempat ini terasa tidak masuk akal," tunjuk Aura dengan jarinya pada salah satu kolom angka. "Harga satuan bahan baku dinaikkan hampir tiga puluh persen dari harga pasar resmi. Dan vendor yang ditunjuk adalah Pratama Logistics."
Evan menajamkan pandangannya. "Pratama Logistics?"
"Ya," jawab Aura mantap. "Berdasarkan catatan riwayat perusahaan, vendor ini baru terdaftar dua bulan lalu tanpa rekam jejak proyek besar. Ini jelas perusahaan cangkang (shell company) yang sengaja dibuat untuk menampung dana aliran gelap."
Evan menatap Aura dengan pandangan penuh kekaguman. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, wanita itu berhasil menemukan celah krusial yang sempat lolos dari pemeriksaan tim auditor biasa.
"Pikiranmu sangat tajam, Aura," puji Evan tulus.
"Aku belajar akuntansi forensik saat kuliah dulu," sahut Aura bangga dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya. "Jika kamu mengizinkan, aku bisa menyusun laporan investigasi lengkapnya sore ini."
"Lakukan," kata Evan mantap. "Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri. Jika kau lelah, istirahatlah di ruang istirahat pribadi di dalam."
Namun, di tengah perbincangan hangat dan profesional mereka, suara ketukan pintu kembali terdengar. Bimo melangkah masuk dengan raut wajah sedikit tegang.
"Mohon maaf mengganggu, Tuan Presdir," ujar Bimo seraya membungkuk. "Ada tamu penting yang menunggu di ruang rapat eksekutif B."
Evan mengerutkan alisnya. "Siapa? Aku tidak punya jadwal pertemuan di luar jam ini."
Bimo melirik Aura sejenak sebelum menjawab, "Tuan Aris Pratama. CEO dari Pratama Group sekaligus pemilik baru dari Pratama Logistics. Beliau datang secara pribadi untuk membahas kontrak kerja sama anak perusahaan."
Aris Pratama.
Nama itu membeku di udara. Aura tersentak kecil saat mendengar nama tersebut. Kenangan masa lalu di bangku kuliah mendadak melintas di kepalanya. Aris Pratama adalah kakak tingkat sekaligus teman dekatnya saat di kampus—pria yang pernah menaruh rasa padanya sebelum Aura menghilang dari pergaulan karena harus fokus bekerja membiayai adiknya.
Evan yang sangat peka menangkap perubahan ekspresi di wajah Aura seketika menatap istrinya dengan pandangan menyelidik yang tajam.
"Kau kenal dengan pria bernama Aris Pratama ini, Aura?" tanya Evan dingin, nada suaranya berubah seketika, mengundang kembali aura intimidasi sang CEO.
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like, Komen & Vote...