NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sabtu pagi merekah dengan matahari malu-malu yang menyusup di sela awan, seolah langit ragu antara terang dan badai. Dari jendela besar penthouse, Leonardo memandang kota bagai orang yang menatap sesuatu yang lolos dari genggamannya. Cangkir kopi mengepul di antara jari-jarinya, tetapi rasanya tak berarti apa-apa. Hanya cairan gelap, sepahit kabar yang baru saja ia terima.

Pukul 09.03 pagi, ponselnya bergetar, menariknya keluar dari kabut pikiran. Marcelo.

"Ada perubahan rencana," katanya dengan suara kering. "Rapat mendesak di São Paulo. Kau harus terbang malam ini."

Leonardo memejamkan mata, menahan napas, lalu melepasnya perlahan, seolah dengan begitu ia bisa menghentikan waktu.

"Tidak bisa orang lain saja?"

"Tidak. Mereka mau kau yang datang."

Hening.

"Maaf," tambah Marcelo, meski terdengar lebih sebagai basa-basi ketimbang penyesalan.

Leonardo memutus sambungan tanpa berkata lagi. Ia meletakkan cangkir di meja marmer dan berjalan ke teras. Angin sejuk, membawa aroma samar bunga jakaranda yang bermekaran di halaman-halaman jauh. Ia menggenggam erat pagar besi tempa. Sialan. Hari ini harinya. Satu-satunya hari yang ia nantikan dengan tak sabar.

Dan ia tak berniat menyerahkannya begitu saja.

Jam menunjuk pukul 18.47 ketika Aston Martin hitam berkilau itu mengaum menyusuri jalanan lingkungan tempat Zaira tinggal. Kontrasnya jauh sekali. Trotoar retak-retak, tiang-tiang penuh coretan, atap seng, kabel-kabel semrawut yang menggantung bagai sulur di udara. Roda mobil berderit di atas aspal tambalan sementara ia melewati sekelompok anak yang bermain bola tanpa alas kaki, para perempuan yang duduk di trotoar mengupas kentang, dan sepasang remaja yang berjoget di depan pengeras suara yang memuntahkan reggaeton.

Sebagian tetangga menatapnya takjub. Sebagian lagi curiga. Mobil itu bukan milik tempat ini. Dan pria itu, mungkin juga bukan.

Leonardo berhenti di sebuah sudut yang remang. Sebuah lampu jalan berkedip bagai mata yang sekarat. Lampu mobil membasuh jalan dengan cahaya putih dingin. Kesunyian menguasai segalanya, hanya terpecah oleh radio di kejauhan, gonggongan anjing, dan getar samar jantungnya sendiri.

Ia menekan nomor itu. Sekali. Dua kali. Pada dering ketiga, suara Zaira meluncur di gagang telepon bagai embusan hangat.

"Halo?"

"Aku di sini. Di luar. Di sudut jalan."

Keheningan pekat jatuh di antara mereka.

"Di sini... di lingkungan ini?" tanya Zaira, tak percaya.

"Ya. Aku ingin menemuimu. Keluarlah... kumohon."

Zaira terdiam beberapa detik, merasakan detak di dadanya. Ibunya mengangkat wajah dari dapur, sendok besar masih di tangan.

"Dia?"

Zaira hanya mengangguk dan keluar tanpa penjelasan lebih. Jantungnya berdegup seakan ingin melompat keluar dari dadanya. Jalanan berbau khas lingkungan itu di jam segini: gorengan, tanah, lembap, sisa parfum murahan, dan dedaunan kering yang menumpuk di sudut-sudut.

Ia berjalan cepat. Membelok di tikungan, dan kemudian ia melihatnya.

Di sanalah pria itu. Duduk di dalam mobil, wajahnya nyaris hanya diterangi cahaya samar dari dasbor. Lengan kemejanya digulung, rambutnya lebih berantakan dari biasanya, dan bayangan janggut yang membuatnya tampak lebih nyata, lebih manusiawi. Lebih miliknya.

Zaira terpaku, tak percaya. Bayangannya bergetar di bawah lampu jalan.

"Kamu gila?" itu kalimat pertama yang keluar begitu ia masuk ke mobil.

Leonardo menoleh ke arahnya dengan senyum miring yang letih.

"Sedikit."

"Kamu bisa menunggu sampai malam," gumamnya, menyilangkan lengan, seakan ingin menahan getar yang menjalarinya.

Leonardo melajukan mobil tanpa menjawab. Mesin merespons dengan raungan anggun. Ia menyetir menyusuri jalan-jalan sempit, membelok di sudut-sudut yang kosong, hingga masuk ke sebuah gang beton lembap yang nyaris tak muat untuk mobil. Di sana, ia mematikan mesin. Kesunyian jatuh bagai tirai turun.

"Kamu sedang apa di sini?" tanya Zaira akhirnya, suaranya lebih lembut, nyaris rapuh.

Leonardo memutar tubuhnya ke arah gadis itu.

"Mereka memanggilku mendadak. Aku terbang malam ini juga. Aku akan pergi dua hari."

Zaira menunduk. Sebuah embusan napas bergetar di bibirnya. Pukulannya tak keras, tapi telak. Seperti saat sesuatu yang sangat kaunanti runtuh hanya dengan sekali dorongan.

"Jadi... kita tidak akan bertemu malam ini," gumamnya.

"Aku tidak bisa."

Zaira mengangguk pelan. Ia tak berkata apa-apa. Gang itu berbau lembap, besi berkarat, cat lama. Udaranya pekat, tak bergerak. Hanya terdengar derit jauh sebuah pagar besi, mungkin angin yang menyelinap di celah-celah.

Leonardo memandanginya dalam diam. Ia memperhatikan cara Zaira bernapas pelan, cara rahangnya menegang sesaat, cara tangannya mencengkeram roknya.

"Aku tidak bisa pergi tanpa menemuimu. Tanpa tahu apakah kamu baik-baik saja bersamaku... apakah kamu merindukanku. Apakah kamu memikirkanku. Apakah..." Ia terhenti. "Apakah semua ini sepadan."

Zaira menatapnya, matanya berkilau seakan menampung badai yang siap pecah.

"Jangan tanyakan hal-hal itu tepat sebelum kamu pergi," ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar, seolah berbicara itu menyakitkan.

Leonardo mendekat sedikit, cukup untuk mencium aroma parfumnya yang manis dan lembut.

"Kalau begitu katakan satu hal saja... Apa kamu ingin aku tetap jadi Suggar-mu?"

Zaira mengerjap, terkejut. Dalam konteks itu, kata tersebut terdengar berbeda. Lebih intim. Lebih rapuh.

"Itu terdengar seolah aku hanya tertarik pada uangmu," bisiknya.

Leonardo menyentuh dagunya dengan jari, begitu lembut hingga terasa seperti belaian tanpa izin.

"Dan kalau memang begitu? Aku tidak peduli. Aku akan jadi apa pun yang kamu mau. Apa pun yang kamu butuhkan."

Zaira memejamkan mata sesaat. Campuran antara kelembutan, amarah yang tertahan, dan hasrat yang bertentangan.

"Baiklah," bisiknya, tak punya tenaga untuk berdebat.

Leonardo tersenyum getir.

"Kalau aku pulang, kubawa kamu berlibur. Ke mana pun kamu mau. Belanja, makan malam, pesta... hal-hal yang dilakukan Suggar yang baik, kan?"

Zaira tertawa sebentar dan mengangkat bahu. Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan bagaimana ia menyimpan kontak pria itu: "Tuan Duit".

"Aku membuatnya waktu lagi kesal..." akunya.

Leonardo menunduk, malu.

"Aku bersikap seperti orang berengsek. Tapi bukan tanpa alasan."

"Sudahlah," potong Zaira. "Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa sekarang."

Kesunyian kembali menetap, tetapi kali ini berbeda. Hangat. Penuh kesepahaman. Seolah keduanya tahu bahwa saat itu, sesingkat apa pun, hanya milik mereka.

Leonardo menatapnya lekat. Pandangannya turun ke bibir Zaira. Ia berhenti.

Zaira menyadarinya. Dan ia menunduk, tersenyum tipis.

"Pergilah sekarang, atau kamu ketinggalan pesawat..."

Tapi Leonardo tak menurut.

Ia menangkup pipi Zaira dengan kelembutan yang ganas, seolah takut gadis itu meleleh di antara jari-jarinya. Lalu, ia menciumnya. Dengan lapar. Dengan lembut. Dengan amarah karena harus pergi dan cinta karena berada di sana. Ciuman yang tak meminta izin, tapi juga tak meminta maaf. Ciuman yang berasa perpisahan sekaligus janji.

Bibir Zaira lembut, hangat, manis. Aroma parfumnya berbaur dengan udara pekat di gang itu, dan sesaat, dunia berhenti berputar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!