Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANGAT
Aura menatap ke arah istana kerajaan yang menjulang tinggi di kejauhan bawah langit siang.
"Nikmati hari-hari terakhir kemenangan kalian, Luis, Elisabeth," gumam Aura dingin, mengelus pelan pembatas jendela.
"Karena dua hari lagi, aku sendiri yang akan menjemput kehancuran kalian di depan Kaisar Zane sendiri dan seluruh rakyat kerajaan Caliber," batin Aura tersenyum sinis.
Tiba-tiba pintu kamar Aura diketuk pelan dari luar.
Tok
Tok
Tok
"Aura, Sayang, boleh Ibu masuk?" suara Duchess Clara terdengar lembut memanggil.
Aura dengan cepat menyembunyikan senyum dinginnya, lalu memutarkan tubuh.
"Masuklah, Ibu, pintunya tidak dikunci," jawab Aura.
Ceklekk
Duchess Clara melangkah masuk membawa sebuah kotak kayu berukir yang tampak sangat cantik.
Wanita paruh baya itu memamerkan senyum hangatnya pada Aura, lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu sedang apa, Sayang? Bosan ya harus terus mengurung diri di kamar?" tanya Duchess Clara lembut sembari menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Sedikit bosan, tapi tidak apa-apa, Ibu. Demi rencana kita, aku harus sabar," jawab Aura mendekat dan duduk di sebelah ibunya.
Duchess Clara terkekeh pelan, lalu meletakkan kotak kayu itu di pangkuannya, lalu membuka kuncinya.
Di dalamnya, terlihat tumpukan perhiasan indah bernuansa emas dan permata biru laut.
"Ini perhiasan milik Ibu waktu muda dulu," ucap Duchess Clara dengan mata berbinar.
"Ibu sengaja mengeluarkannya, siapa tahu ada yang cocok untuk kamu pakai di acara ulang tahun Kaisar nanti," lanjut sang Duchess sembari mengambil sebuah kalung permata dan mengarahkannya ke leher Aura.
Aura tertegun menatap ibunya, di kehidupan pertamanya sebagai Ester, dia tumbuh di panti asuhan tanpa pernah tahu rasanya disayangi oleh seorang ibu, dia biasa hidup mandiri, bertarung sendirian untuk bertahan hidup, dan tidak pernah ada tempat untuk bersandar atau sekadar berbagi cerita.
Melihat raut wajah penuh kasih sayang dan perhatian yang begitu tulus dari Duchess Clara, dada Aura mendadak terasa sesak oleh rasa hangat yang asing.
"Ibu..." panggil Aura pelan, suaranya sedikit bergetar.
Duchess Clara menghentikan tangannya, lalu menatap putrinya heran.
"Kenapa, Sayang? Kamu tidak suka dengan model kalungnya?" tanya Duches Clara lembut.
Aura menggeleng cepat, tanpa sadar, dia memajukan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Duchess Clara, memeluk pinggang ibunya erat.
Duchess Clara kaget sejenak dengan manja putrinya yang mendadak ini, tapi beliau tersenyum makin lebar dan mengusap-usap punggung Aura penuh kehangatan.
"Ada apa, Nak? Kenapa tiba-tiba jadi manja begini, Hem?" tanya Duchess Clara terkekeh pelan.
"Tidak apa-apa, Ibu," jawab Aura dari balik bahu ibunya.
"Aku hanya... merasa sangat beruntung punya Ibu se baik dan se perhatian ini," lanjut Aura dengan tulus dari dasar hatinya.
Duchess Clara tertawa halus, mencium pucuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Aura, Aura... kamu ini bicara apa, sih? Ya tentu saja Ibu perhatian pada putri Ibu satu-satunya ini," ucap Duchess Clara, lembut.
Duchess Clara melepaskan pelukannya perlahan, lalu menangkup kedua pipi Aura dan menatap matanya dalam-dalam.
"Dulu Ibu sempat cemas sekali saat kamu sibuk mengejar-ngejar Pangeran Luis," bisik Duchess Clara jujur.
"Ibu merasa kehilangan sahabat ngobrol Ibu, karena pikiranmu cuma dipenuhi oleh pria bajingan itu," lanjut Duchess Clara dengan nada agak sengit saat menyebut nama Luis.
"Maafkan aku ya, Ibu, dulu aku benar-benar buta dan bodoh," ucap Aura tersenyum miring, lalu ikut tertawa pelan mendengarnya.
"Tapi sekarang, Ibu rasanya seperti mendapatkan putri sekaligus sahabat Ibu kembali, kamu jadi lebih dewasa, cerdas, dan pemberani," ucap Duchess Clara mengusap rambut Aura dengan lembut.
"Aku berjanji, Ibu. Setelah ini tidak ada lagi yang bisa memandangi keluarga kita dengan sebelah mata," ucap Aura menatap ibunya dengan binar mata yang hangat.
Duchess Clara menyunggingkan senyum bangganya.
"Ibu tahu itu, Sayang. Oh iya, coba beritahu Ibu, gaun seperti apa yang kamu pesan untuk pesta nanti? Ibu penasaran sekali!" tanya Duches Clara, bersemangat.
"Tentu nya, gaun ku nanti, sangat mewah dan elegan, Ibu. Pokoknya gaun itu akan membuat seluruh mata di aula istana tertuju padaku, terutama Pangeran Luis dan selingkuhannya," jawab Aura mengedipkan sebelah matanya jahat.
Duchess Clara menepuk paha Aura pelan sembari tertawa puas.
"Bagus! Biar wanita simpanan itu sadar diri, melihat kecantikan putri Ibu, dan dia tidak apa-apa nya dibandingkan dengan diri mu," seru Duchess Clara antusias, dan sangat mendukung aksi balas dendam putrinya.
Melihat ibunya begitu bersemangat dan mendukungnya sepenuh hati, Aura tersenyum bahagia.
Di dalam hatinya, Ester berjanji akan menjaga dan membahagiakan ibu baru nya ini seumur hidupnya sebagai Aura Luminar.
"Ehem! Bersenang-senang, tanpa mengajak ku Hem?"
Aura dan Duchess Clara langsung menoleh bersamaan ke arah pintu kamar.
Di sana, Duke Daren sedang berdiri bersedekap dada sembari menyandarkan bahunya di pintu, wajahnya yang biasanya garang dan ditakuti para prajurit kini tertekuk.
Duchess Clara terkekeh melihat tingkah suaminya itu, lalu menggelengkan kepala.
"Aduh, Ayahmu ini kenapa, sih? Tiba-tiba datang terus cemberut begitu," ejek Duchess Clara sembari melambaikan tangannya, menyuruh suaminya masuk.
Duke Daren melangkah masuk ke dalam kamar dengan raut wajah berlagak tersinggung, lalu duduk di dekat meja rias Aura.
"Ya bagaimana Ayah tidak cemberut?" omel Duke Daren sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Ibumu dan kamu asyik tertawa-tawa di dalam kamar, tapi Ayah yang di luar malah diabaikan. Padahal Ayah ini yang paling pusing menyembunyikan kabar dari para pengawal di luar," lanjut Duke Daren pura-pura merajuk.
Aura tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah hangat sang Duke.
Sebagai Ester yang dulunya hanya tahu hidup keras tanpa sosok ayah, melihat tingkah pria perkasa yang mendadak manja demi perhatian keluarganya ini terasa sangat menghangatkan hati.
Aura berdiri dari tempat tidurnya, lalu berjalan mendekati ayahnya dan merangkul leher Duke Daren dari belakang.
"Aduh, Ayahku yang paling gagah jangan merajuk dong," bujuk Aura dengan nada santai, memiringkan kepalanya menatap sang Ayah.
"Kami kan cuma lagi bahas gaun dan perhiasan untuk acara tiga hari lagi, Ayah," lanjut Aura terkekeh.
Duke Daren yang tadinya berniat memasang wajah galak langsung meleleh, dia menepuk-nepuk lembut tangan Aura yang ada di bahunya, lalu mendongak menatap putri kesayangannya itu.
"Hah... kamu ini pintar sekali bikin Ayah tidak bisa marah," gumam Duke Daren, akhirnya menyunggingkan senyum hangatnya.
Duchess Clara yang melihat interaksi itu ikut tersenyum.
"Makanya, Daren, jangan suka mengomel dulu. Aura ini baru saja mau istirahat," ucap Duches Clara, menetap sinis suaminya.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛