NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30. Tanpa Ucapan Perpisahan

Qing'er datang beberapa saat kemudian dengan wajah pucat dan mata yang sembap.

Ia membawa sebuah bungkusan kecil berisi makanan kering, kain tebal, dan sepasang kaus kaki wol yang telah ia jahit sendiri. Ketika melihat barang-barang sederhana yang disiapkan Wang Laoyin, air matanya langsung mengalir.

“Yang Mulia…”

Wang Laoyin menoleh.

Qing'er segera menutup mulutnya, mengingat bahwa gelar itu telah dicabut.

“Nyonya Wang,” koreksinya dengan suara bergetar. “Hamba mendengar bahwa Nyonya akan dibawa ke Kuil Qingyun pagi ini.” Suaranya serak seperti habis menangis lama.

“Benar.” Wang Laoyin menjawab sambil tersenyum, senyum kesedihan yang tak lagi disembunyikannya.

“Bukankah perjalanan ke sana sangat jauh? Hamba mendengar jalan menuju lembah penuh batu dan jurang. Udara di sana sangat dingin, dan tidak banyak orang yang tinggal di sekitarnya.”

Wang Laoyin menerima bungkusan dari tangannya.

“Kalau begitu, aku harus membawa pakaian yang cukup hangat.”

Qing'er menggeleng keras.

“Bukan itu maksud hamba!”

Air mata membasahi pipinya.

“Bagaimana mungkin mereka mengirim Nyonya ke tempat seperti itu? Nyonya belum terbukti bersalah. Bahkan jika mereka ingin mengasingkan Nyonya setidaknya mereka seharusnya mengizinkan Nyonya bertemu dengan orang-orang yang telah mengabdi selama bertahun-tahun.”

Wang Laoyin memandangnya dengan lembut.

“Qing'er, jangan membuat dirimu berada dalam bahaya.”

“Hamba tidak peduli.” Qing'er menyahut dengan Isak yang di tahan.

“Tetapi aku peduli.”

Kalimat itu membuat Qing'er terdiam.

Wang Laoyin mengambil kedua tangan pelayannya.

“Dengarkan aku baik-baik. Mulai hari ini, jangan melakukan sesuatu yang dapat membuat mereka menghukummu. Jangan berdebat dengan pengawal. Jangan mencoba mengikuti kereta. Dan jangan membiarkan siapa pun mengetahui bahwa kau masih menyimpan simpati kepadaku.”

Qing'er menggeleng sambil menangis.

“Bagaimana hamba dapat membiarkan Nona pergi seorang diri?”

“Karena jika kau ikut diasingkan, siapa yang akan mengingat apa yang terjadi di sini?”

Qing'er r menatapnya dengan mata membesar. Seperti tak terima, dia terus aja menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir menahan isaknya.

Wang Laoyin menggenggam tangannya lebih erat.

“Kau telah melihat bagaimana semuanya bermula. Kau mengetahui bahwa para pengawal datang terlalu cepat. Kau tahu bahwa aku membantah surat itu sejak awal. Kau juga mengetahui bahwa penyelidikan belum selesai ketika mahkotaku dicabut.”

Ia berhenti sejenak.

“Jika suatu hari kebenaran mulai terungkap, aku membutuhkan seseorang yang masih berada di dalam istana dan mampu mengingat apa yang telah terjadi.”

Qing'er menahan tangisnya.

“Apakah Nyonya berjanji bahwa suatu hari Nyonya akan kembali?”

Wang Laoyin tidak segera menjawab.

Ia ingin mengatakan ya, tapi di urungkannya.

Ia ingin memberikan harapan yang dapat dipegang oleh pelayan yang selama ini setia kepadanya. Namun, ia tidak mengetahui apa yang menunggunya di Kuil Qingyun. Ia tidak tahu apakah ia akan diizinkan menerima kabar dari ibu kota, apakah para biksuni akan memperlakukannya dengan baik, atau apakah ia akan menghabiskan sisa hidupnya jauh dari dunia yang dikenalnya.

Ia tidak dapat menjanjikan kepulangan.

Tetapi ia dapat menjanjikan bahwa dirinya tidak akan menyerah.

“Aku tidak tahu kapan aku akan kembali,” jawabnya jujur. “Namun, aku tahu bahwa aku tidak akan membiarkan kebohongan menjadi kebenaran hanya karena aku berada jauh dari istana.”

Qing'er menundukkan kepala.

Wang Laoyin mengusap air mata di pipinya.

“Jangan menangis terlalu lama. Air mata tidak dapat mengubah titah yang telah dijatuhkan.”

“Tetapi air mata dapat menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki hati,” jawab Qing'er lirih.

Wang Laoyin terdiam. Kemudian ia tersenyum sedih.

“Benar.” Ia memeluk Qing'er dengan erat.

Pelukan itu berlangsung cukup lama, jauh lebih lama daripada yang biasa mereka lakukan. Wang Laoyin merasakan tubuh pelayannya bergetar, sementara Qing'er mencengkeram punggung jubahnya seolah-olah takut bahwa jika ia melepaskan pelukan itu, majikannya akan lenyap selamanya.

Ketika akhirnya mereka berpisah, Wang Laoyin mengusap wajah Qing'er dengan ujung lengan bajunya.

“Jadilah kuat.”

Qing'er terus aja menggeleng setiap Wang Laoyin berbicara sementara air matanya belum berhenti.

“Nyonya harus kuat.” Dia menyahut dengan suara yang gemetaran sesenggukan.

Wang Laoyin tersenyum tipis.

“Aku akan berusaha.”

Mereka tidak mengetahui bahwa itulah satu-satunya perpisahan yang akan diperbolehkan kepada Wang Laoyin.

Ketika Qing'er keluar dari paviliun untuk mengambil air hangat, seorang pengawal segera menghalangi pintu dan memerintahkan agar tidak ada pelayan lain yang masuk. Wang Laoyin mencoba meminta izin untuk menemui kepala pelayan senior yang telah mengabdi kepadanya selama bertahun-tahun, tetapi permintaan itu ditolak.

Ia juga meminta agar sebuah surat singkat disampaikan kepada keluarganya.

Permintaan tersebut tidak diizinkan.

“Semua komunikasi harus menunggu persetujuan Raja,” kata pengawal itu.

Wang Laoyin menatapnya lama.

“Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal?”

Pengawal tersebut menundukkan kepala.

“Hamba hanya menjalankan perintah.”

Wang Laoyin mengangguk perlahan.

Kalimat itu.

Hamba hanya menjalankan perintah.

Ia telah mendengarnya berkali-kali sejak malam kematian Shen Rui. Setiap orang yang terlibat seolah-olah dapat membebaskan dirinya dari tanggung jawab dengan menyembunyikan kehendak di balik titah orang lain.

Namun, Wang Laoyin tidak lagi memiliki tenaga untuk memperdebatkannya.

Ia berbalik dan kembali ke dalam kamar.

Jika istana tidak mengizinkannya mengucapkan selamat tinggal kepada siapa pun, maka ia akan membawa semua kenangan itu di dalam hatinya.

Tidak ada seorang pun yang dapat menyita kenangan.

Tidak ada segel kerajaan yang dapat melarang seseorang mengingat.

Dan tidak ada titah yang dapat memaksa hati untuk melupakan.

...***...

Di Paviliun Zhaoyang, Lan Zifey berdiri di balik jendela berukir sambil memegang secangkir teh bunga.

Ia mengenakan jubah sutra berwarna merah muda pucat dengan sulaman peoni emas. Rambutnya dihiasi tusuk konde berbentuk kupu-kupu, sementara sepasang anting mutiara bergoyang lembut setiap kali ia menoleh.

Di luar, halaman paviliun telah dibersihkan. Dua orang dayang menyiram bunga, sedangkan seorang kasim membacakan laporan mengenai persiapan upacara berikutnya.

Namun, perhatian Lan Zifey tidak tertuju kepada taman.

Ia sedang menunggu kabar mengenai keberangkatan Wang Laoyin.

Ketika seorang pelayan masuk dan berlutut, ia segera meletakkan cangkirnya.

“Bagaimana?”

“Kereta pengasingan telah disiapkan, Yang Mulia. Wang Laoyin akan dibawa menuju Kuil Qingyun sebelum matahari mencapai puncak.”

Lan Zifey menatap keluar jendela.

“Apakah ia membawa perhiasan?”

“Tidak, Yang Mulia. Semua lambang kebesaran telah diserahkan. Ia hanya membawa pakaian sederhana dan beberapa barang pribadi.”

Senyum kecil muncul di bibir Lan Zifey.

“Bagus.”

Ia berjalan menuju meja, kemudian mengambil sehelai kain sutra yang terletak di atasnya.

“Apakah ia mengucapkan sesuatu?”

“Tidak banyak, Yang Mulia. Ia tidak melawan ketika titah dibacakan.”

Lan Zifey tertawa pelan.

“Wang Laoyin selalu pandai menjaga sikap. Bahkan ketika kehilangan segalanya, ia masih ingin terlihat agung.”

Pelayan itu menundukkan kepala.

Lan Zifey meletakkan kain sutra, lalu mengangkat cangkir tehnya kembali.

“Pastikan ia tidak menerima surat atau pesan dari siapa pun selama perjalanan. Aku tidak ingin ada orang yang mencoba menghidupkan kembali perkara lama.”

“Baik, Yang Mulia.”

Setelah pelayan itu pergi, Lan Zifey kembali memandang ke luar jendela.

Ia membayangkan Wang Laoyin melewati gerbang istana dengan pakaian sederhana, tanpa mahkota, tanpa pengawal pribadi yang setia, dan tanpa seorang pun yang berdiri di sampingnya untuk memberikan penghormatan.

Perempuan yang dahulu membuatnya harus berhitung dalam setiap langkah kini akan dibawa ke lembah terpencil, jauh dari pusat kekuasaan.

Lan Zifey telah menunggu hari itu selama bertahun-tahun.

Ia pernah berdiri di belakang tirai, menyaksikan Wang Laoyin menerima pujian dari para pejabat. Ia pernah menundukkan kepala ketika sang Permaisuri memasuki aula. Ia pernah menahan senyum ketika melihat Raja Han Quan memandang Wang Laoyin dengan kelembutan yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Kini, keadaan telah berubah.

Mahkota berada di kepalanya.

Para pejabat menyapanya dengan gelar Ratu.

Dan perempuan yang selama ini dianggap sebagai penghalang telah disingkirkan dari istana.

Namun, ketika ia mencoba menikmati kemenangan itu, sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam hatinya.

Wang Laoyin tidak pernah mengakui kesalahannya.

Perempuan itu tidak memohon.

Tidak mengemis belas kasihan.

Tidak pula memperlihatkan ketakutan yang diharapkan Lan Zifey.

Sebaliknya, tatapan Wang Laoyin justru terasa seperti sebuah janji yang belum selesai.

Lan Zifey meletakkan cangkir dengan sedikit lebih keras daripada yang dimaksudkannya.

“Tidak masalah,” gumamnya.

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.

“Di lembah terpencil, tidak ada singgasana. Tidak ada pejabat yang akan mendengarkan perkataannya. Tidak ada rakyat yang dapat membantunya.”

Ia membetulkan mahkota kecil di rambutnya.

“Dan tanpa kekuasaan, kebenaran hanyalah suara yang mudah diabaikan.”

Ia tidak mengetahui bahwa beberapa kebohongan justru mulai runtuh ketika orang-orang yang memeliharanya merasa telah menang.

Sebab setelah Wang Laoyin meninggalkan istana, tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengawasi setiap geraknya. Di luar tembok merah Weishan, perempuan itu akan bertemu orang-orang yang tidak mengenal intrik kediaman dalam, menyaksikan kehidupan yang tidak tunduk pada gelar, dan perlahan menemukan kekuatan yang selama ini terkubur di bawah kewajibannya sebagai Permaisuri.

Lan Zifey telah mengusirnya dari istana.

Namun, ia belum mengetahui bahwa pengasingan itu akan menjadi awal dari kelahiran musuh yang jauh lebih sulit dihancurkan.

( Bonus untuk episode ini di buat panjaaaang buat pembaca setia🥰)

1
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Eka Burjo
oke lanjut
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ˡᵃⁿᵃ✰͜͡𝐯𐝃
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!