Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Nadia Mulai Luluh
Sore setelah rapat besar itu, suasana ruang administrasi berubah.
Tidak ada lagi bisik-bisik yang keras. Tidak ada lagi tas yang sengaja ditaruh di kursi kosong.
Nadia masih duduk di mejanya, tapi kali ini ia tidak menunduk lagi. Ia berani angkat kepala.
Mbak Sari yang tadi pagi ketus, sore itu pelan-pelan datang, bawa map laporan.
"Nadia, ini laporan rendemen kemarin, tolong cek ya," kata Mbak Sari, suaranya lebih lembut dari kemarin.
Nadia mengangguk, terima map itu.
"Iya Mbak, nanti aku cek," jawab Nadia.
Itu obrolan pertama mereka setelah dua hari diam.
Jam empat sore, Pak Hendra panggil Nadia.
"Nadia, kamu tolong antar laporan ini ke ruang Arif di lapangan. Arif butuh data ini buat laporan ke pusat," kata Pak Hendra, kasih map coklat.
Nadia kaget, karena sejak foto itu bocor, ia dilarang dekat-dekat Arif.
"Siap Pak," jawab Nadia, ambil map itu.
Ia jalan ke lapangan, rambut nya diikat ekor kuda, tapi langkahnya pelan, masih takut.
Di ruang timbangan lapangan, Arif lagi cek laptop, keringat di dahinya karena AC lapangan memang tidak sedingin di kantor utama.
Pintu diketuk.
"Masuk," kata Arif.
Nadia masuk, bawa map.
"Pak Arif, ini laporan dari Pak Hendra," kata Nadia, taruh map di meja.
Arif menoleh ke Nadia, dia senyum.
"Terima kasih ya. Kamu gimana tadi siang? Makan siang gak sendirian lagi kan?" tanya Arif.
Nadia mengggeleng, senyum kecil, senyum pertama yang tulus setelah dua hari.
"Gak. Tadi Mbak Sari kasih kue lapis. Aku makan sama Bu Lastri," jawab Nadia.
"Syukurlah," kata Arif lega.
Mereka berdua diam sebentar. Tidak ada yang bicara, hanya suara kipas angin di ruang timbangan.
Nadia lihat Arif, untuk pertama kalinya berani tatap mata Arif langsung, tidak menunduk.
"Pak Arif, terima kasih ya tadi pagi. Di meeting Berani banget. Aku gak nyangka Pak Arif bela aku depan semua orang," kata Nadia, suaranya pelan.
Arif ketawa kecil.
"Gak usah panggil Pak Arif terus, panggil Arif aja. Kan umur kita gak beda jauh. Dan gak usah terima kasih terus, aku cuma bilang yang bener," jawab Arif.
Nadia mengangguk, pipinya agak merah.
"Iya, Arif. Makasih ya, Arif," kata Nadia, coba panggil nama tanpa Pak.
Arif senang dengar namanya dipanggil tanpa Pak.
"Nah gitu dong. Enak dengernya," kata Arif.
Jam lima, hujan turun lagi. Hujan deras, seperti malam di gudang arsip itu.
Nadia lihat hujan dari jendela ruang timbangan, agak panik, karena ia tidak bawa payung, mess putri agak jauh.
Arif lihat itu.
"Kamu gak bawa payung lagi?" tanya Arif.
Nadia geleng.
"Gak. Tadi pagi cerah, jadi gak bawa," jawab Nadia.
Arif buka laci, keluarkan jas hujan yang sama, jas hujan yang fotonya viral di grup WA karena dipakai berduaan dulu.
"Pakai ini lagi. Nanti balikin besok," kata Arif, kasih jas hujan itu.
Nadia lihat jas hujan itu, ingat foto mereka yang viral, ia jadi ragu.
"Nanti difoto lagi gimana?" tanya Nadia takut.
Arif tersenyum.
"Ya biarin difoto lagi. Sekarang kan semua sudah tahu yang sebenarnya. Pintu macet, hujan deras, bukan aneh-aneh. Pakai aja, nanti kamu sakit kalau kehujanan," jawab Arif.
Nadia akhirnya terima jas hujan itu, pakai.
"Wangi jas hujan ini masih sama," kata Nadia pelan, sambil pakai.
"Wangi apa?" tanya Arif.
"Wangi kayu, wangi gudang arsip," jawab Nadia, ketawa kecil.
Itu ketawa pertama Nadia setelah dua hari nangis terus.
Arif ikut ketawa.
"Ya sudah, sana pulang, hati-hati licin. Besok jangan lupa balikin jas hujannya," kata Arif.
Nadia mengangguk, jalan keluar dari ruang timbangan, pakai jas hujan Arif, terobos hujan deras ke mess putri.
Dari jendela, Arif lihat punggung Nadia yang pakai jas hujannya, rambut kuda nya keluar dari balik jas hujan, basah kena hujan.
Dulu foto jas hujan itu jadi bukti cinta terlarang yang bikin mereka dibenci satu pabrik.
Sore ini, jas hujan yang sama jadi bukti kalau Nadia sudah mulai luluh, sudah mulai berani terima kebaikan Arif, sudah mulai berani tatap mata Arif.
Di mess putri, Nadia sampai, lepas jas hujan, gantung di dekat pintu.
Ia lihat jas hujan itu lama, lalu senyum sendiri.
Di buku catatannya yang kecil, ia tulis: "Hari ini Arif bela aku. Hari ini aku pakai lagi jas hujannya. Tidak takut difoto lagi."
Di mess putra, Arif juga tulis di notes HP nya: "Hari ini Nadia panggil aku Arif, bukan Pak Arif lagi."
Dua orang yang kemarin jaga jarak karena perintah Pak Hendra, sore ini jaraknya berkurang satu langkah, karena hujan dan jas hujan yang sama.
Dan besok, Pak Hendra akan umumkan mutasi besar-besaran, yang akan bikin mereka harus kerja bareng lagi di lapangan, bukan lagi jaga jarak.
Bersambung
---