Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 kelahiran Sang Buah hati
Waktu berjalan sangat cepat. Tidak terasa, kandungan Una sudah masuk 9 bulan. Perutnya sudah sangat besar seperti buah semangka besar. Jalannya sudah mulai susah, sering sakit pinggang, sering kram kaki di malam hari, dan sering buang air kecil.
Tapi Pak Arya selalu siaga 24 jam. Setiap malam, ia memijat kaki Una yang bengkak dengan minyak hangat. Setiap pagi, ia membantu Una bangun dari tempat tidur. Ia bahkan belajar dari YouTube cara memandikan bayi dan cara mengganti popok.
"Mas, maaf ya aku jadi merepotkan terus. Perutku besar sekali jadi susah gerak," kata Una suatu malam sambil mengelus perutnya yang besar.
Pak Arya mencium perut besar Una dengan sayang. "Tidak merepotkan sama sekali sayang. Justru aku bahagia bisa melayani ratu dan putri kecilku. Sebentar lagi Aisyah akan lahir, aku sudah tidak sabar."
Semua persiapan kelahiran sudah disiapkan dengan sangat mewah. Kamar bayi sudah dihias dengan warna pink pastel yang sangat cantik. Ada box bayi impor dari Amerika seharga 50 juta, baju bayi bermerek, mainan berlimpah, dan stok popok untuk 1 tahun. Pak Arya bahkan menyewa suster bayi profesional yang akan tinggal di rumah selama 3 bulan.
Tanggal 15 Oktober, jam 2 dini hari, saat hujan turun deras seperti malam saat Una dilamar dulu, tiba-tiba Una terbangun dengan wajah pucat dan keringat dingin.
"Mas... Mas Arya... bangun Mas... perutku sakit sekali Mas... mules... sepertinya ketubanku pecah Mas," kata Una sambil menangis menahan sakit.
Pak Arya yang sedang tidur pulas langsung terbangun kaget dan panik setengah mati. Ia melihat seprai sudah basah.
"Ya Allah sayang! Tenang sayang! Tarik napas! Kita ke rumah sakit sekarang! Aisyah mau lahir!" teriak Pak Arya sambil menggendong Una yang kesakitan menuju mobil. Tangannya gemetar menyetir.
Di perjalanan ke rumah sakit bersalin paling mewah di Jakarta, Una terus menjerit kesakitan. "Aaa... sakit Mas... sakit sekali..."
Pak Arya terus menggenggam tangan Una erat sambil menyetir ngebut. "Sabar sayang, sebentar lagi sampai. Ingat napas, tarik napas panjang sayang. Aisyah kuat, ibunya juga kuat."
Sesampainya di rumah sakit jam 2.30 malam, dokter dan perawat sudah menunggu di depan IGD karena Pak Arya sudah telepon sebelumnya. Una langsung dibawa ke ruang bersalin VIP dengan ranjang empuk.
Dokter memeriksa dan berkata, "Selamat Pak Arya, pembukaan sudah 7. Sebentar lagi Ibu Una akan melahirkan normal. Bayinya sehat, posisinya bagus."
Pak Arya masuk ke ruang bersalin dan menemani Una. Ia memakai baju khusus. Ia terus memegang tangan Una, menyeka keringat di dahi Una, dan membisikkan doa-doa.
Proses persalinan berlangsung selama 4 jam yang sangat menegangkan. Una menjerit kesakitan, menangis, bahkan sampai menggigit tangan Pak Arya karena sakit yang luar biasa.
"Aaa... Mas... aku tidak kuat Mas... sakit sekali Mas..." teriak Una.
"Kamu kuat sayang! Kamu wanita paling kuat di dunia! Aku di sini sayang! Aku tidak akan pergi! Dorong sayang, dorong terus untuk Aisyah!" kata Pak Arya sambil menangis melihat istrinya kesakitan. Matanya berkaca-kaca.
Jam 6 pagi tepat saat adzan subuh berkumandang merdu dari masjid sebelah rumah sakit, tangisan bayi yang sangat keras terdengar memecah keheningan ruang bersalin.
"OEEEKK... OEEEKK... OEEEKK..."
Tangisan itu sangat keras dan lantang.
Dokter tersenyum bahagia dan mengangkat bayi merah mungil itu. "Selamat Pak Arya, Bu Una! Bayinya perempuan! Cantik sekali! Beratnya 3,2 kg, panjangnya 49 cm! Sehat sempurna!"
Una langsung menangis bahagia sejadi-jadinya meski tubuhnya lemas tak berdaya. "Anakku... anakku... Aisyah..."
Pak Arya juga menangis terharu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai pengacara yang tegas, ia menangis seperti anak kecil. Ia mencium kening Una dan mencium bayi kecil itu.
"Terima kasih sayang... terima kasih sudah berjuang melahirkan putri kita... kamu hebat sayang," bisik Pak Arya.
Bayi Aisyah diletakkan di dada Una untuk IMD. Una memeluk bayi mungilnya yang masih merah itu. Wajahnya mirip sekali dengan Una, cantik dan hidung mancung seperti Pak Arya.
"Aisyah... selamat datang di dunia ya nak... Ibu sayang kamu... Ayah sayang kamu..." bisik Una sambil menangis bahagia.
Di luar ruang bersalin, semua keluarga besar Pak Arya, pelayan rumah, bahkan Bu Ratna mantan pemilik kontrakan yang sudah bertobat datang membawa bunga dan kado.
Mereka semua bersorak bahagia saat mendengar tangisan bayi.
Setelah 3 hari di rumah sakit, Una dan Baby Aisyah diperbolehkan pulang. Kepulangan mereka disambut dengan sangat meriah di rumah mewah. Rumah dihias dengan balon pink dan tulisan "WELCOME BABY AISYAH".
Pak Arya menggendong Baby Aisyah yang tertidur pulas dengan sangat hati-hati seolah menggendong berlian paling berharga di dunia.
Una melihat suaminya menggendong anaknya dengan penuh cinta. Ia merasa semua penderitaan di masa lalu terbayar lunas.
Dulu ia diusir di tengah hujan saat hamil 2 bulan, dihina janda miskin, tidur di kontrakan bocor, kelaparan. Sekarang ia memiliki suami kaya raya yang sangat mencintainya dan bayi perempuan cantik yang sehat.
Malam itu, Una menyusui Baby Aisyah untuk pertama kalinya di kamar bayi yang pink. Pak Arya duduk di samping mereka sambil memeluk keduanya.
"Mas, lihat Aisyah mirip kamu hidungnya mancung," kata Una.
"Tidak sayang, dia mirip kamu, cantiknya sama seperti ibunya," jawab Pak Arya.
Mereka tertawa bahagia bersama di kamar bayi yang hangat. Baby Aisyah menyusu dengan lahap.
Keluarga kecil yang bahagia akhirnya lengkap. Dari kisah janda hamil yang diusir di tengah hujan, kini menjadi ratu di rumah mewah dengan suami pengacara kaya dan bayi cantik.
Namun, kebahagiaan itu kembali terusik. Di penjara, Rizal mendapat kabar dari temannya bahwa Una sudah melahirkan anak perempuan. Wajah Rizal yang di penjara menjadi semakin dendam dan ia berjanji akan keluar dari penjara dan merebut bayi itu sebagai anak kandungnya.