Gadis 19 tahun, yang dijual sang Ibu tiri kepada pria asing. Pria itu mengakui dirinya adalah suami dari, Alena Grazia, gadis 19 tahun yang menikah tanpa sepengetahuannya. Hubungan satu malam terjadi, panas. Dendam pada sang ibu tiri dan kakak tirinya yang telah membuatnya menjadi tidak suci, bahkan diusir oleh ayahnya, membara. Dendam itu membutakan matanya, Alena bertekad untuk merebut kembali aset perusahaan sang ibu, yang meninggal ketika dirinya masih sangat kecil, dan mencari tahu, apa penyebab kematian sang Ibu yang mendadak itu.
Alena harus membesarkan kedua anaknya tanpa seorang suami. Dia membesarkan buah hatinya di negeri orang. Alena kembali, dengan dendam. Dia berusaha mendekati orang terkaya se-Asia. Arga Wilson, pria beristri. Identitas nya sangat tertutup, bahkan sang istri lebih misterius dari dirinya. Alena bertekad, mendekati Arga Wilson, untuk membantunya mengambil alih perusahaan sang Ibu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Black Lotus Ice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11. -Helena Sakit-
Chapter 11. -Helena Sakit-
Malamnya, semua telah berada di rumah. Alena sedang mempersiapkan koper untuk di bawanya.
"Hanya ini jalan satu satunya!" Ucapnya Alena sembari mengemasi barang-barang nya.
Setelah mengemasi barang-barang nya, Alena turun kebawah dan mengambil satu kunci mobil yang tersedia di sana.
"Mau kemana kau?" Tanyanya Rara yang menghentikan langkah Alena, aku menoleh ke arahnya.
"Bukan urusanmu!" Datar ku lalu bergegas pergi dengan terburu-buru.
Alena mengendarai mobil dengan cepat. Dia pergi ke rumah Helena untuk memberitahu kabar kepergiannya ke kota C.
Saat Alena sudah sampai di sana. Alena menekan tombol bell rumah Helena, perlahan lahan pintu rumah itu terbuka.
"Alena, Ayuk masuk!" Ajaknya Helena menarik tangan Alena. Biasanya rumah Helena bersih dan rapi kenapa sekarang malah berantakan sekali?
"Apa yang terjadi dengan rumahmu?" Tanyanya Alena sembari melihat sekeliling, "Dan di mana anak anakku?" Sambungnya lagi Alena bertanya.
"Anak anakmu berada di kamarku. Lihatlah, apa yang telah mereka lakukan pada rumahku..!!! Nasihati lah mereka, pusing aku membersihkan rumah 5 kali dalam 2 jam!"
Gerutunya Helena, Alena langsung meninggalkan Helena dan menuju kamar utama Helena.
Terdengar suara teriakan dan tawa anak anak yang gembira. Alena membuka pintu kamar itu dan terlihat di dalam kamar itu sangat amat berantakan.
"Alvin..!!! Aluna..!!!" Panggil nya Alena dengan nada tinggi, kedua bocah kecil itu seketika berhenti beraktivitas. Mereka menundukkan kepalanya.
"Jangan merepotkan Tente Helena! Kalian mendengarkan atau tidak pesan dari Mama!?" Tanyanya Alena dengan tegas. Alvin dan Aluna hanya terdiam merasa bersalah telah membuat Helena kewalahan.
"Maaf Mam, Aluna yang membuat semua ini.., Aluna mau main sama Kak Alvin, tapi dia selalu menolak. Makanya Aluna ambil mainan kak Alvin dan menyembunyikan nya..."
Jelasnya Alena meminta maaf, sembari menundukkan kepalanya, Aluna terlihat sangat merasa bersalah. Alvin menoleh ke arah Aluna yang berdiri di sebelahnya.
"Nggak Mam! Itu salah Alvin, salah Alvin karena nggak mau main sama Aluna. Aluna nggak salah..." Ujarnya Alvin mencoba melindungi Aluna.
"Udah udah!! Sekarang kalian Mama hukum!! Cepat bersihkan kamar Tente Helena!" Tegasnya Alena lalu pergi meninggalkan Alvin dan Aluna yang sedang menundukkan kepalanya.
Sementara Helena sedang berbaring di sofa. Alena duduk di samping Helena. Dia menggenggam tangan Helena, tapi langsung melepaskan nya lagi.
"Badanmu panas sekali Hel..!!" Ucapnya Alena panik. Helena mulai tersadar, dia melirik Alena yang sedang panik.
"Aku nggak apa apa kok, cuma demam sedikit..., Istirahat sebentar juga pulih." Balasnya Helena tersenyum kecut.
Alvin dan Aluna keluar dari kamar Helena, "Mam, kami sudah membersihkan kamar Tante Helena." Ucapnya Alvin yang masih menunjukkan kepalanya sedari tadi.
"Uh...!! Udahlah. Kalian udah membersihkan kamar Tente Helena, dan Sekarang minta maaf sama Tente Helena..!! Dia sakit gara gara kalian! Mama mau beli obat dulu buat Tante Helena!"
Ucapnya Alena lalu pergi untuk membeli obat ke apotek terdekat. Alvin dan Aluna bertukar tatapan.
"Kak, Mama marah sama kita ya?" Tanyanya Aluna dengan sedih. Alvin melirik Aluna, "Nggak tahu juga." Balasnya Alvin.
"Alvin, Aluna..., Kemari sayang." Dengan nada lemas, Helena memanggil Alvin dan Aluna.
"Baik Tante." Alvin dan Aluna berjalan mendekati Helena yang sedang terbaring di sofa.
Saat sudah dekat. Alvin dan Aluna memegang tangan Helena yang sedang demam tinggi.
"Tante.., Tante sakit!?" Tanya Aluna hampir menangis.
"Tante, apa Tente sakit gara gara ngurusin kami seharian!?" Tanyanya Alvin sembari memegangi tangan Helena.
"Nggak kok, Tente cuma sakit biasa. Tante mungkin kelelahan karena kemarin lembur." Dalihnya Helena dengan nada lemas.
"Tante..., Tante jangan bohong..!! Tante pasti sakit karena sibuk ngurusin kami seharian..." Tepisnya Alvin dengan nada yang keras.
"Maafkan kami Tante..."
Ucapnya Alvin dan Aluna bersamaan. Tak terasa jika buliran air mata keluar dari kelopak mata, kedua bocah manis itu.
"Udahlah..., Tante juga nggak apa-apa." Balasnya Helena tersenyum ketir.
"Tante, apa Mama marah sama kami?" Tanyanya Aluna menundukkan kepalanya.
"Mama Alena cuma cemas dengan keadaan Tante, jadi dia terburu buru pergi."
Jawabnya Helena. Alvin dan Aluna mendongakkan kepalanya.
"Yang bener Tante!?"
Ucapnya mereka bersama.
"Bener kok..."
Balasnya Helena.
Tak lama dari itu, Alena datang dengan membawa beberapa obat yang di kantongi. Saat hendak memberikan nya pada Helena, dia melihat keadaan yang sangat mengharukan. Putra dan putrinya tertidur sembari memeluk Helena.
Alena tak tega membangunkan kedaua buah hatinya itu. Dia menggendong kedua buah hatinya satu persatu dan memindahkan nya ke kamar.
Setelah selesai memindahkan Alvin dan Aluna, Alena berjalan menuju Helena yang tadi berada di sofa.
Terlihat jika Helena sedang duduk di sofa dengan keadaan lemas. Alena ikut duduk di sebelah Helena.
Alena memenggenggam tangan Helena. "Maaf jadi merepotkan mu Hel..., Aku minta maaf."
Ucapnya Alena meminta maaf, Helena membalas genggaman tangan Alena.
"Tak apa Alena. Dengar, kita harus saling membantu. Oh iya, kamu kemari mau memberitahukan hal apa? Atau misi mu sudah selesai?"
Tanyanya Helena.
"Aku kesini karena ingin memberitahukan sesuatu padamu. Besok aku harus pergi ke kota C selama satu bulan. Aku sudah menyiapkan baby sitter untuk membantu mu mengurus Alvin dan Aluna. Jika kau harus lembur, maka jangan pikirkan Alvin dan Aluna. Jika ada waktu, aku akan main ke sini meski hanya sebentar saja."
Jawabnya Alena dengan panjang lebar. Helena mengangguk, dia mengerti apa yang sedang di rasakan oleh sahabatnya itu.
"Selesaikan lah tugasmu. Aku di sini akan membantumu menjaga Alvin dan Aluna. Jika kau butuh sesuatu, telepon lah aku. Aku siap membantu mu kapanpun. Hanya saja, jagalah dirimu baik baik. Kita pun bisa berkomunikasi lewat video call."
Ucapnya Helena. Alena tersenyum lalu memeluk Helena, begitupun Helena. Mereka berpelukan beberapa saat.
"Ini, aku belikan obat untukmu. Minum yang rajin dan teratur, sebaiknya kamu izinlah dulu dan beristirahat dengan cukup. Baby sitter nya akan datang besok."
Alena menyodorkan sekantong obat yang di belinya tadi. Helena menerima obat itu, Alena berdiri dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Ini airnya, minumlah obatnya, lalu tidur dengan nyenyak." Ucapnya Alena menyodorkan segelas air putih.
Helena meminum obatnya lalu pergi ke kamar untuk beristirahat. Alena pergi setelah Helena menerima segelas air putih yang di bawakan olehnya. Alena pergi ke luar dan berniat untuk pulang. Tapi, tiba tiba saja hujan datang melanda.
Alena kembali ke dalam rumah dengan keadaan kesal. "Aku akan menginap di sini." Ucapnya Alena tersenyum cengengesan.
"Kamar tamu kosong, kamu boleh tidur di sana." Balasnya Helena dari dalam kamar.
Dia langsung pergi ke kamar tamu dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Alena menghela nafas panjang nya.
"Lelahnya..." Gumamnya Alena lalu perlahan-lahan matanya menutup dan terlelap tidur.
...----------------...
akhirnya up
kemana arah ceritanya
ceritanya terlalu banyak rahasia...
next thor...
next....