NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Kedatangan Bu Indah serta pertanyaannya tentu membuat Dara kaget, begitu juga dengan Rafa. Dara yang hendak mencoba sepatu langsung mematung, wajahnya pun terlihat pucat. Berbeda dengan Rafa yang tetap terlihat tenang dengan wajah datarnya. Padahal di dalam hatinya sana jelas dia pun bingung mau menjelaskan seperti apa.

"Ini ... Beneran Dara, 'kan? Cantik banget kamu," puji Bu Indah yang tentunya pangling saat melihat penampilan Dara yang berbeda dari biasanya saat di sekolah.

Dara tersenyum kikuk. "Terima kasih, Bu."

"Eh, siapa ini? Teman kerjanya Rafa ya?" Oma Atira menyapa Bu Indah, berusaha mengurangi ketegangan yang dirasakan oleh cucu menantunya.

Bu Indah tersenyum dan mengangguk. "Iya, Nyonya. Perkenalkan, nama saya Indah. Saya wali kelasnya Dara."

Oma Atira membulatkan mulutnya dan mengangguk. "Oh begitu. Iya, Dara ini saudara sepupu jauhnya Rafa. Mumpung libur, saya ajak dia buat nemenin saya belanja," ucapnya.

Kini giliran Bu Indah yang nampak membulatkan mulutnya. "Oh, begitu. Ya ampun, kenapa pas di sekolah kalian kayak gak saling kenal kalau begitu?" Bu Indah tertawa pelan setelahnya.

"Ya sudah, kalau begitu silahkan dilanjut belanja nya. Saya sudah selesai, ini mau langsung pulang. Duluan ya Pak Rafa, Dara, Nyonya," pamit Bu Indah.

"Iya, Bu," balas Dara dengan senyum canggung. Sedangkan Rafa hanya mengangguk saja.

Beruntung Bu Indah bukan tipe ibu-ibu yang kepo banget pada urusan orang lain. Jadi dia percaya saja dan langsung pergi.

"Ya ampun, aku kira kalau di luar Pak Rafa berubah ramah. Ternyata sama aja, cuek, datar," gumam Bu Indah sambil terus berjalan menuju eskalator.

Ya. Rafa memang di sekolah tidak begitu dekat dan ramah dengan rekan guru yang lain. Dia hanya ramah kepada orang tertentu saja, dan tentunya sesuai mood dia saja.

"Huhhh." Dara menghembuskan napas lega saat Bu Indah sudah pergi dari sana.

Dia sangat takut kalau hubungannya dengan Rafa akan ketahuan oleh pihak sekolah. Karena kalau sampai statusnya dan Rafa ketahuan, sudah pasti Dara akan dikeluarkan dari sekolah. Begitu juga dengan Rafa yang akan terkena dampaknya.

"Sudah. Jangan tegang begitu," ucap Oma Atira. Wanita paruh baya itu kemudian menoleh ke arah Dara, "sudah dapat sepatunya?"

Dara menunjukkan sepatu yang sejak tadi dia pegang. "Ini aja, Oma."

Oma Atira mengangguk, dia melirik ke arah Rafa dan menggerakkan dagu nya. "Bayarin belanjaan istri kamu!" titahnya.

Kedua mata Dara membola. Tadi baju dibayar oleh Oma Atira, kenapa sekarang sepatu harus dibayar oleh Rafa?

"Eh, gak usah, Oma. Sepatunya biar aku aja yang bayar!" ucap Dara.

"Sudah. Suamimu ini belum pernah membelikanmu apa pun, 'kan?" tanya Oma Atira.

Dara diam dan mengatupkan bibirnya. Iya sih, memang. Tapi ...

"Ck. Dia gak butuh uang dari Rafa, Oma. Kartu ATM yang udah dikasih sama Rafa aja dibalikin lagi sama dia." Rafa berceletuk sambil berjalan menuju kasir.

Dara memanyunkan bibirnya. Rafa kok jadi terkesan tukang ngadu, pikir Dara.

Dia bingung, ingin membayar sendiri, tapi harga sepatu di toko ini sangat mahal. Sisa uang jajannya dari sang ayah pasti langsung habis kalau harus dipakai membayar sepatu yang dia pilih. Kalau gak jadi, dia malu juga.

" Cepetan!" seru Rafa karena Dara tidak kunjung menyusulnya ke tempat kasir.

"Sudah, sana pergi. Oma tunggu di sini," ucap Oma Atira.

Dara menghembuskan napas berat dan mengangguk. "Iya, Oma," ucapnya kemudian berbalik dan menyusul suaminya.

 

Selesai dari toko sepatu, Rafa mengajak sang oma untuk makan di resto yang ada di sana. Oma Atira memang kalau dilihat dari fisiknya sangat kuat, tapi tetap saja tidak boleh terlalu kecapean karena penyakit yang dideritanya.

Dara memegang buku menu sambil melihat interaksi antara Rafa dan Oma Atira. Rafa memang kelihatannya cuek, tapi kalau dilihat lagi, dia sangat perhatian pada neneknya itu.

"Pilihkan makanan yang sehat untuk oma, Sus. Jangan yang tinggi lemak, kolesterol, gula sama garam," ucap Rafa mengingatkan.

"Iya, Oma mau makan sayur rebus aja kalau begitu," sahut Oma Atira membuat sudut bibir Rafa terangkat sedikit.

"Rafa bener, Oma. Oma harus bisa menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh oma," kata Suster Tiara.

"Iya ... Iya. Kalian bawel sekali. Memangnya kapan aku makan makanan yang sesuai dengan lidahku sendiri? Kan semua makanan juga kamu yang nentuin, Tia."

Suster Tiara tertawa pelan. Yang dikatakan oleh Oma Atira memang seratus persen benar. Mau bagaimana lagi, itu kan memang sudah jadi tugasnya. Memastikan majikan sekaligus pasiennya tetap sehat dan asupan makanannya pun tetap harus terjaga.

"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Oma Atira pada Dara.

"Emm ...." Dara melihat buku menu sejenak lalu memilih apa yang dia mau berikut dengan minumannya.

Dara melirik ke arah Rafa yang nampak cuek, bahkan tidak mengajaknya bicara sama sekali. Beda sekali sama malam kemarin. Rafa terkesan lebih banyak bicara padanya. Rafa juga memberikan nasehat padanya.

"Bener-bener patut dicurigai. Jangan-jangan tebakan gue yang semalam bener," batin Dara.

"Saya tau kalau saya tampan. Kamu tidak harus segitunya memperhatikan saya," celetuk Rafa yang tengah fokus pada ponselnya.

Sebelah tangan Dara yang digunakan untuk menopang dagu sampai terpeleset dari meja saat mendengar ucapan narsis yang keluar dari mulut Rafa. Saat itu pula Rafa mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Dara.

"Pede banget. Siapa juga yang merhatiin Om!" balas Dara mengelak.

Rafa kembali tersenyum tipis. Senyum yang singkat dan Dara sempat melihatnya.

"Ya, dia emang ganteng. Dan pria ganteng itu suami gue," batin Dara.

*Saat makanan yang mereka pesan datang, keempatnya langsung fokus dengan makanan masing-masing.

Rafa diam-diam memperhatikan Dara yang nampak makan dengan tenang. Entah sudah berapa kali dia tersenyum hari ini. Ya meski senyumnya sangat tipis tapi tentu itu adalah sebuah kemajuan bagi Rafa yang rasanya tidak pernah tersenyum tulus selama lima tahun ini.

Selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang. Sudah waktunya Oma Atira untuk istirahat, karena kalau weekday, beliau sudah sibuk di perusahaan miliknya.

"Makasih ya, Oma buat semua belanjaannya," ucap Dara.

Oma Atira mengulas senyum hangat dan mengusap rambut Dara dengan penuh sayang.

"Sama-sama, Sayang. Oma yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah hadir di kehidupan Oma dan Rafa," balas Oma Atira.

Kening Dara mengkerut. Dara tidak paham dengan maksud ucapan Oma Atira. Selama ini, kenapa Oma Atira terkesan sangat menginginkan kehadirannya bukan untuk menebus hutang sang ayah saja. Melainkan ada maksud lain yang sampai sekarang Dara pun belum mengerti serta mengetahui apa itu.

Apalagi Oma Atira juga pernah mengatakan kalau dia bisa merubah pribadi Rafa yang sekarang menjadi Rafa yang dulu.

Memangnya apa yang terjadi dengan Rafa? Dulu Rafa seperti apa?

Rafa yang berjalan di belakang mereka pun merasakan perasaan yang berbeda saat melihat interaksi antara sang oma dan istri kecilnya.

Sejak Dara datang, dia melihat pancaran kebahagiaan yang lain di wajah sang oma. Rafa galau dengan statusnya dan Dara. Dia sudah ada rencana lain tapi takut sang oma akan bersedih dan tentunya marah padanya.

 

Sama seperti saat berangkat tadi, Rafa bagian mengemudi, Dara duduk di depan dan Oma Atira serta Suster Tiara duduk di bangku tengah.

Mungkin karena efek kurang tidur, lelah belanja dan perut yang sudah terisi sampai kenyang, Dara semakin tidak bisa menahan rasa kantuknya.

Dara merasa matanya seakan dibubuhi lem, rapat dan sulit untuk dibuka. Hingga beberapa saat kemudian, baru saja mobil itu melaju lima menit, dia sudah tertidur.

Rafa berusaha menahan tawa saat melihat kepala Dara yang terkantuk-kantuk karena wanita itu tidur. Ingin membenarkan posisi tidur istri kecilnya, tapi dia gengsi, apalagi di belakang ada sang oma dan suster yang akan memperhatikan.

Tapi, kalau tidak dibenarkan, dia merasa terganggu saat mengemudi.

"Sebentar ya, Oma," ucap Rafa saat sudah menepikan mobilnya ke bahu jalan.

"Ada apa, Raf?" tanya Oma Atira heran.

Rafa tidak menjawab, dia melepaskan sabuk pengaman yang dipakainya agar lebih luasa bergerak saat hendak sedikit menurunkan posisi kursi yang diduduki oleh Dara.

Rafa menjadikan tangan kirinya untuk menahan tubuhnya agar tidak menindih Dara. Aroma parfum yang dipakai oleh Dara langsung tercium oleh Rafa. Wanginya kalem dan Rafa suka.

Rafa meraih tuas pengatur kursi yang ada di samping kanan bawah kursi Dara. Dengan hati-hati, dia memundurkan kursi penumpang ke belakang sehingga posisinya lebih mendatar tapi tidak sampai yang datar banget karena di kursi belakang ada Suster Tiara.

Oma Atira dan Suster Tiara yang melihatnya pun sontak saling mengulum senyum. Mereka merasa sedang menonton adegan romance di sebuah film.

Rafa melihat sabuk pengaman yang dipakai Dara dan berniat untuk sedikit mengendurkannya. Namun, tepat saat dia baru memegang sabuk pengaman tersebut, saat itu pula kedua mata Dara perlahan terbuka.

Keduanya sama-sama diam, Rafa yang kaget dan takut Dara salah paham, dan Dara yang merasa kalau dia sedang bermimpi sekarang.

Dara memejamkan matanya sejenak dan membukanya kembali. "Tidak, ini bukan mimpi. Gue gak lagi mimpi," batinnya.

"O-Om mau apa?" tanya Dara.

"Saya ... Saya ...." Rafa malah gugup, bingung mau menjawab apa.

Dia kembali duduk tegak dan mengenakan sabuk pengaman. "Saya hanya ingin membenarkan posisi kursi kamu. Kamu tidur dengan kepala menunduk, takut nanti air liurmu menetes dan mengotori kursi mobil saya," ucapnya setelah merasa menemukan alasan yang masuk akal.

Oma Atira dan Suster Tiara terkekeh pelan di kursi belakang saat mendengar alasan Rafa. Mereka tahu bahwa alasan itu hanyalah kebohongan belaka.

Sementara itu, Dara, matanya terbelalak dan jangan tanya soal wajahnya. Kedua pipi Dara memerah seperti kepiting rebus karena malu.

Dia mengusap sudut bibirnya, takutnya memang air liurnya mau keluar tadi. "Ya ampun. Lo malu-maluin aja sih Dara!" rutuknya dalam hati.

Melihat tingkah Dara, Rafa pun tertawa dalam hati. "Lah, dia percaya!" batinnya.

 

Di tempat lain, Monica tampak membetulkan kancing pakaiannya yang semula terbuka akibat ulah Braden.

Monica sedang berkunjung ke rumah Braden, saat kekasihnya itu mengabari kalau Braden hanya sendiri di rumah karena kedua orang tuanya sedang pergi ke salah satu acara, sedangkan ART sedang pergi ke pasar.

Bagi Monica, dia akan melakukan serta memberikan apa saja yang Braden minta agar pria itu tetap bersamanya. Menjadi kekasihnya dan tidak berpaling ke gadis lain.

Apalagi semenjak Dara muncul, Monica sedikitnya merasa was-was, takut kalau Braden akan kembali pada Dara.

"Buat acara kemping nanti, jadinya mau di mana?" tanya Monica.

Braden menyugarkan rambutnya yang jadi berkeringat dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Di bukit yang biasa digunakan untuk kemping aja, gimana?" usul Braden.

"Yang lain kemarin banyak ngasih saran buat acara kemping diadakan di Gunung Puntung aja. Sekalian di sana banyak tempat sejarahnya yang bisa dikunjungi," ujar Monica.

Braden menganggukkan kepalanya. "Iya, kemarin banyak yang ngasih usul ke sana."

Sekolah mereka memang rutin mengadakan acara kemping setiap tahunnya. Tidak wajib diikuti oleh semua siswa, hanya saja tiap kelas harus ada perwakilan yang ikut.

Acara tersebut bertujuan sebagai bentuk kegiatan rekreasi dan kebersamaan antar siswa. Selain itu, kemping juga bisa menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara siswa, guru, dan komunitas sekolah secara keseluruhan.

Acara akan dilakukan sekitar dua bulan lagi, namun segala persiapannya harus dilakukan dari sekarang. Pihak sekolah bekerjasama dengan OSIS dalam menyusun rencana kegiatan tersebut.

"Besok kita rapat lagi aja, sekalian sama perwakilan guru kita undang juga," usul Braden.

Monica mengangguk, sebagai sekretaris, dia bertugas untuk berkoordinasi dengan anggota dan pihak yang terkait dalam acara yang akan dilaksanakan.

Saat sedang mengobrol, Luna, ibu kandung Braden tiba-tiba pulang dan menatap tak suka pada sosok Monica.

"Eh, Mama kok udah pulang lagi? Emang acaranya udah selesai? Papa mana?" tanya Braden yang kaget dengan kehadiran sang mama.

"Tante," sapa Monica dengan ramah.

Tanpa mengalihkan tatapan tak sukanya dari Monica, mama Luna menjawab, "Mama pulang lebih dulu. Perasaan Mama tiba-tiba gak enak. Ternyata emang bener, kamu bawa wanita ke rumah pas rumah dalam keadaan kosong"

Glek!

Baik Monica maupun Braden, sama-sama dibuat kesusahan menelan ludah mereka masing-masing.

"Kebetulan ada yang harus dibahas, Ma soal rencana kegiatan kemping sekolah," ucap Braden beralasan.

"Iya, bener, Tante." Monica ikut menimpali.

"Saya gak tanya sama kamu!" kata mama Luna dengan ketus pada Monica.

Monica mengalihkan pandangannya, sadar bahwa ibu Braden memang tidak pernah menyukainya sejak awal mereka bertemu saat Braden memperkenalkannya.

"Ma, jangan seperti itu," bujuk Braden yang merasa tidak enak hati pada Monica.

"Saya yakin kamu gadis baik-baik, tentunya tahu kalau seorang perempuan tidak baik mendatangi rumah seorang pria disaat pria itu sedang sendirian, orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Braden juga pasti bilang 'kan sama kamu kalau dia cuman sendirian?" tanya mama Luna.

Wajah Monica semakin memerah antara menahan malu dan marah. Dia mengambil tas selempang yang semula dia simpan di atas meja, lalu berdiri dan pamit untuk pergi.

"Saya permisi!" ucapnya dengan nada ketus, menghentakkan kakinya kesal dan pergi dari sana.

"Mon, tunggu!" Braden hendak menyusul namun lengannya dicekal oleh sang ibu.

"Mau ke mana kamu, hm?" tanya mama Luna.

"Apa sih yang kamu lihat dari dia? Sampai kamu selingkuhin Dara. Apa karena tampangnya saja?" lanjutnya.

"Dulu, Dara malah suka gak mau lho diajak ke rumah kalau mama gak ada. Tapi dia?"

"Kamu lihat sendiri sikap dia barusan saat pamit. Gak ada sopan santunnya sama sekali. Beda sekali sama Dara."

Braden menghembuskan napas berat. Dia melepaskan cekalan tangan sang ibu dari lengannya. "Maaf, Ma. Tapi aku harus nyusul Monica sekarang. Perasaan gak bisa dipaksain dan aku selama ini terpaksa menerima Dara jadi pacar aku juga karena Mama," ucapnya kemudian pergi.

"Braden! Braden!" seru mama Luna memanggil anaknya.

 

"Wanita tua si-alan! Apa coba kurangnya gue? Ini semua pasti gara-gara si Dara itu!"

Sambil terus berjalan, mulut Monica terus saja menggerutu. Dia kesal karena ibu kandung Braden selalu tidak menyukainya.

"Monica! Tunggu!"

Langkah Monica terhenti saat Braden menghentikan motor besarnya di depannya. Tempat tinggal Braden berada di perumahan elit dan tidak ada taksi atau angkutan umum yang lewat. Harus jalan kaki agak jauh kalau mau ke jalan raya.

"Babe, maafin Mama. Mama hanya belum tau bagaimana kamu. Baiknya kamu, mama belum tau semua itu. Kamu yang sabar ya." Braden memegang kedua tangan Monica, menatap penuh harap agar Monica tidak marah lagi.

Monica menyentak napas kasar. "Apa sih mau mama kamu itu? Perkara aku datang ke rumah kamu pas mama kamu gak ada aja jadi masalah. Mama kamu pemikirannya terlalu kolot tau gak?!"

"Iya, Babe, iya. Mama ku emang agak kolot pemikirannya. Kamu maklumin aja ya," bujuk Braden.

"Bukan karena itu, Braden. Aku tau mama kamu kayak gitu karena dia cuman suka sama Dara. Cuman dia yang kelihatan baik di mata mama kamu!" Monica berbicara sendiri di dalam hatinya.

"Mau pulang? Aku anterin ya," tawar Braden.

Monica menggeleng. "Enggak. Aku males pulang. Aku mau makan!"

Senyum Braden mengembang. "Ya udah yuk. Aku traktir kamu makan enak."

"Boleh pesen apa pun?" tanya Monica.

"Iya, kamu bebas pesen semua makanan yang kamu mau."

Monica mengangguk dan membiarkan Braden memakaikan helm di kepalanya lalu naik ke boncengan.

"Lo gak akan pernah bisa lepas dari gue, Braden. Gue pastiin itu!" batin Monica.

❤️

Dara melihat penampilannya sendiri di depan cermin kamarnya. Tidak ada lagi kacamata besar yang bertengger di hidung bangirnya, rambut yang biasa dia kepang kini dibiarkan terurai indah. Hanya ada jepit rambut bentuk kupu-kupu kecil yang dia pakai sebagai aksesoris di rambutnya.

Dara mengangguk mantap, dia sudah yakin dengan keputusannya. Tidak sabar untuk melihat raut wajah orang-orang yang selalu menghina nya.

"Braden, Monica, Renita dan kawan-kawannya. Kita lihat, masih bisa kalian ngehina gue?" gumam Dara.

Saat keluar kamar, tepat saat itu juga Rafa yang sudah siap dengan pakaian kerja nya keluar dari kamarnya.

Tatapan keduanya saling beradu dan Rafa sungguh terpaku melihat penampilan istri kecilnya itu. Dara mengenakan seragam sekolah yang tampak lebih rapi dan pas di tubuhnya, membuatnya terlihat anggun.

Dara yang ditatap seperti itu langsung melihat penampilannya sendiri. Takut kalau Rafa menganggapnya aneh.

Rafa berjalan mendekat ke arah Dara, mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Dara.

"Ini. Jangan so'jaim dan gengsi buat nerima kartu ini. Saya minta maaf mengenai kalimat yang mungkin pernah menyinggung perasaan kamu waktu itu. Peraturan yang keempat, juga saya hapus. Saya salah karena pernah berniat untuk tidak memberikan nafkah sama kamu," ucap Rafa.

Dara melihat kartu ATM yang Rafa sodorkan, ada perasaan ragu dalam hatinya. Bukan ragu untuk menerima kartu itu, tapi dia ragu mengenai statusnya dengan Rafa kedepannya seperti apa.

Malam itu, Rafa memberikan nasehat agar dia menjadi diri sendiri dan pria yang tulus mencintai akan datang padanya serta menerima dia apa adanya.

Siapa pria itu? Apa itu Rafa? Atau pria lain? Dan ... Kalau memang pria lain, apa pernikahannya dengan Rafa hanya akan berlangsung sesaat saja?

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!