NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Mekarnya Teratai Merah

Surga Pertama - Penjara Bawah Tanah Tingkat Ketiga, Puncak Darah.

Jauh di bawah tanah, di dasar gunung tulang kosmik, udara terasa seberat timah beracun. Tempat ini adalah dasar dari rantai makanan Alam Atas.

Tiga ratus kultivator fana mereka yang dulunya adalah patriark agung, kaisar jenius, dan pahlawan pedang di dunia masing-masing kini diikat pada pilar-pilar es hitam. Tubuh mereka kurus kering, mata mereka cekung, dan meridian mereka ditusuk oleh paku formasi yang terus menerus menyedot Qi mereka untuk menjaga agar mereka tetap lemah sebelum dilelang.

Di salah satu sudut gelap, Lin Xue duduk bersila dengan kedua tangan terbelenggu rantai es. Kepalanya tertunduk, seolah pasrah pada nasibnya sebagai "kayu bakar".

Di tengah ruangan, Kepala Sipir Kuang, seorang ahli kultivasi berwajah bopeng di tingkat Dewa Fana Tahap Menengah, sedang menyesap arak sambil memangku cambuk tulang kelabang. Belasan penjaga berpatroli dengan tawa merendahkan, sesekali menendang tawanan yang batuk darah.

"Malam ini lelang besar," kekeh Kepala Sipir Kuang. Matanya yang mesum menatap ke arah sudut tempat Lin Xue berada. "Sayang sekali wanita berjiwa murni itu harus diserahkan utuh pada utusan Surga Kedua. Jika tidak, aku akan mencicipi Dao Kehidupan-nya terlebih dahulu."

Tiba-tiba...

GRUUUMMM!

Seluruh penjara bawah tanah berguncang dengan sangat dahsyat. Dinding-dinding batu bergetar hebat hingga debu berjatuhan dari langit-langit. Ini adalah efek dari terobosan Shen Yu di sayap timur yang menghancurkan batasan ruang.

Guncangan itu membuat urat-urat merah menyala dari Formasi Penekan Jiwa di lantai penjara berkedip redup selama sepersekian detik.

Bagi tawanan biasa, kedipan itu tidak berarti apa-apa. Namun bagi Lin Xue, sedetik kelengahan hukum alam adalah lautan peluang.

Mata ungu Lin Xue terbuka. Tidak ada lagi kepasrahan. Yang ada hanyalah kedinginan yang ia pelajari dari sang Kaisar Malam.

KRAAAK!

Rantai es yang membelenggunya hancur berkeping-keping menjadi serbuk salju, dipatahkan oleh kekuatan Domain Teratai-nya yang meledak dari dalam.

Suara pecahan itu menarik perhatian seluruh penjaga. Kepala Sipir Kuang terlonjak dari kursinya, wajahnya berubah garang.

"Tikus betina itu melepaskan rantainya! Formasinya sedang tidak stabil! Bunuh dia, patahkan kakinya, tapi biarkan jiwanya utuh!" raung Kepala Sipir Kuang, mengayunkan cambuk kelabangnya yang memancarkan racun hijau korosif.

Belasan penjaga menghunus tombak mereka dan melesat ke arah Lin Xue.

Para tawanan fana lainnya membelalakkan mata. Mereka ingin berteriak menyuruh gadis itu lari, tapi tenggorokan mereka terlalu kering. Di mata mereka, Lin Xue hanya akan menjadi tumpukan daging cincang.

Namun, Lin Xue tidak mundur. Ia perlahan bangkit berdiri, mengusap debu dari jubah peraknya.

"Kalian mengira Dao Kehidupan hanya digunakan untuk menyembuhkan," suara Lin Xue jernih, mengalun mengalahkan gema langkah para penjaga. "Tapi kehidupan sejati... tumbuh dengan cara melahap apa pun yang ada di sekitarnya."

Lin Xue merentangkan tangan kanannya. Sebuah pedang panjang yang terbuat dari kristal es bermanifestasi, namun kali ini, bilahnya memancarkan cahaya ungu pekat.

Penjaga pertama menerjang, menusukkan tombaknya ke jantung Lin Xue.

Gadis itu hanya memiringkan bahunya sedikit, membiarkan tombak itu lewat sejengkal dari tubuhnya. Dengan gerakan yang sangat elegan namun mematikan, Lin Xue menggores leher penjaga itu dengan pedang teratainya.

Luka goresan itu sangat dangkal. Tidak ada darah yang menyembur.

Penjaga itu menyeringai. "Tebasan yang le—"

Ucapannya terputus. Matanya mendelik ngeri. Dari dalam luka dangkal di lehernya, akar-akar es berbentuk bunga teratai tiba-tiba tumbuh dengan kecepatan gila, menyedot darah dan Qi-nya sebagai nutrisi. Dalam dua tarikan napas, akar itu menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, membekukan dan mencabik-cabik organ dalamnya hingga hancur.

Tubuh penjaga itu meledak menjadi ribuan kelopak bunga es berlumuran darah yang tajam bagai pisau.

SWUUUSH!

Kelopak-kelopak es berdarah itu melesat seperti badai peluru, memotong tubuh empat penjaga lain di sekitarnya hingga menjadi potongan-potongan daging tanpa wujud.

Jeritan ngeri meledak di penjara bawah tanah.

Sisa penjaga mundur dengan kaki gemetar. Ini bukan pertarungan. Ini adalah pembantaian seni yang sangat menakutkan. Wanita yang mereka anggap rapuh ini menanamkan benih kematian dari dalam tubuh musuhnya.

"M-Monster! Jangan mundur, serang bersama!" Kepala Sipir Kuang meraung panik, melecutkan cambuk kelabangnya. Cambuk itu memanjang menjadi puluhan bayangan beracun, berusaha mengunci pergerakan Lin Xue dari segala arah.

Mata ungu Lin Xue menatap lurus ke arah cambuk itu. Ia tidak menangkisnya.

Ia memejamkan mata dan menginjak lantai penjara.

"Seni Raja Abadi: Teratai Musim Gugur."

Gelombang kejut berwarna putih ungu meledak dari bawah kakinya, menyapu seluruh ruang penjara dalam sekejap. Gelombang itu tidak melukai para tawanan yang terikat, namun saat menyentuh cambuk kelabang dan belasan penjaga yang tersisa... waktu bagi mereka seakan dipercepat jutaan kali lipat.

Daging para penjaga itu mengering. Zirah mereka berkarat. Rambut mereka rontok, dan tulang mereka mengeropos menjadi abu, persis seperti daun yang layu dan membusuk saat musim dingin tiba.

Hukum penuaan ekstrem dari pembusukan kehidupan.

Kepala Sipir Kuang menjatuhkan gagang cambuknya yang kini telah menjadi debu kayu. Ia jatuh berlutut, menatap kedua tangannya yang kini sekering ranting mati.

"T-Tidak... tolong... lepaskan aku..." rintih pria itu dengan suara parau bak orang tua berusia ribuan tahun.

Lin Xue berjalan mendekatinya tanpa ekspresi. Langkah kakinya halus, namun terdengar seperti lonceng kematian.

"Kau menertawakan penderitaan mereka yang lemah," bisik Lin Xue, berhenti tepat di depan sipir itu. "Sekarang, kembalilah pada kelemahan."

Lin Xue menempelkan ujung pedangnya ke dahi Kepala Sipir itu, dan dengan satu dorongan pelan, tubuh yang telah membusuk itu hancur menjadi tumpukan abu tulang di atas lantai dingin.

Keheningan mutlak menyelimuti penjara bawah tanah.

Tiga ratus tawanan fana menatap wanita berjubah perak itu dengan mulut ternganga. Mereka tidak melihat seorang penyelamat yang berhati lembut. Mereka melihat seorang Ratu Kematian yang berdiri di atas abu penindas mereka.

Lin Xue berbalik, menatap inti formasi penekan jiwa yang berdenyut di tengah ruangan. Ia memutar pedangnya dan menghunjamkannya tepat ke jantung formasi tersebut.

KRAAAANG!

Kaca pualam merah di lantai hancur. Jaring-jaring formasi yang mengikat para tawanan padam seketika.

Rasa sesak yang selama bertahun-tahun mencekik dada para tawanan tiba-tiba menghilang. Qi Alam Atas, betapapun liarnya, mulai mengalir perlahan kembali ke dalam Dantian mereka yang kosong. Mereka bebas.

Satu per satu, para tawanan itu jatuh bersujud. Isak tangis kelegaan dari para kultivator tangguh menggema di ruangan gelap tersebut.

"Terima kasih... Yang Mulia... Terima kasih..."

Lin Xue menyarungkan pedangnya, membiarkannya memudar menjadi energi. Ia menatap wajah-wajah yang penuh debu dan keputusasaan itu.

"Jangan berterima kasih padaku. Simpan napas kalian," kata Lin Xue tegas, suaranya mengandung otoritas yang memicu semangat juang mereka. "Ambil senjata dari abu para penjaga itu. Jika kalian ingin hidup, jika kalian ingin membalas dendam pada dewa-dewa yang menjadikan kalian ternak... ikuti aku. Kita keluar dari rumah jagal ini."

Kata-kata itu membakar sisa-sisa kebanggaan di dada para kultivator fana. Mereka bangkit, meski tertatih-tatih. Mereka memungut tombak, pedang, dan zirah yang tersisa, mata mereka kini menyala dengan dendam yang telah dipendam selama puluhan tahun.

Dipimpin oleh Lin Xue, pasukan buangan yang terdiri dari tiga ratus monster dari alam bawah itu berbaris menaiki tangga spiral pualam hitam, menuju ke aula utama Puncak Darah.

"Guru pasti sudah selesai di atas," batin Lin Xue.

Mereka tiba di depan pintu ganda perunggu raksasa yang memisahkan ruang bawah tanah dengan aula perjamuan.

"Bersiaplah!" teriak salah satu kultivator di barisan depan, menggenggam tombaknya erat-erat. "Di balik pintu ini ada Jenderal Serigala Besi dan ratusan elit Aliansi! Kita harus bertarung sampai mati untuk memberi jalan pada Sang Ratu!"

Lin Xue hanya tersenyum tipis. Ia mendorong pintu perunggu itu dengan kedua tangannya.

Pintu terbuka dengan bunyi decitan berat. Cahaya merah dari lava menyeruak masuk, membutakan mata para tawanan sesaat. Mereka bersiap untuk menerjang, melancarkan serangan bunuh diri.

Namun, saat mata mereka menyesuaikan diri... senjata-senjata di tangan mereka terturun perlahan. Kaki mereka membeku di ambang pintu.

Tidak ada ratusan elit yang menyambut mereka dengan badai sihir. Tidak ada raungan Jenderal Serigala Besi.

Yang ada hanyalah keheningan kuburan.

Potongan tubuh, zirah yang robek, dan lautan darah menutupi setiap inci lantai kaca es. Bangkai raksasa Serigala Besi Kosmik tergeletak tak bernyawa di ujung aula, dadanya berlubang tembus.

Di atas singgasana logam yang terletak di balik tumpukan mayat tersebut, duduk seorang pemuda berambut putih panjang. Ia menyandarkan lengannya dengan malas di sandaran takhta, jubah hitamnya tidak tersentuh noda darah setitik pun. Matanya yang hitam legam dan ungu menatap ke arah mereka dengan kebosanan seorang penguasa sejati.

"Kau lama sekali, Xue'er," suara Shen Yu menggema, santai namun menggetarkan jiwa setiap orang yang mendengarnya. "Anggurnya bahkan sudah membeku."

Para tawanan fana menahan napas. Pria ini... sendirian... membantai seluruh pasukan Puncak Darah? Monster macam apa dia?

Lin Xue berjalan melintasi lautan mayat itu dengan langkah ringan, tidak memedulikan tatapan ngeri dari para pengikut barunya. Ia menaiki anak tangga menuju singgasana, lalu berdiri di samping Shen Yu dengan senyuman anggun.

"Para penjaganya terlalu banyak bicara, Guru," jawab Lin Xue lembut. "Jadi aku harus mengajari mereka cara diam."

Shen Yu terkekeh pelan. Ia bangkit dari takhtanya, matanya yang tajam menyapu tiga ratus kultivator fana yang masih terpaku di ambang pintu.

"Kalian," panggil Shen Yu, suaranya membawa tekanan Dao Ketiadaan yang menundukkan kepala mereka secara instingtif. "Kalian punya dua pilihan hari ini. Lari ke luar sana dan mati membeku sebagai pelarian... atau berlutut, serahkan jiwa kalian padaku, dan aku akan memimpin kalian untuk meruntuhkan seluruh Tiga Puluh Tiga Surga."

Tiga ratus kultivator itu saling berpandangan. Mereka melihat mayat Serigala Besi. Mereka melihat kekuatan yang melawan hukum alam itu sendiri.

Tanpa dikomando, tiga ratus pahlawan dari dunia fana itu menjatuhkan lutut mereka secara serentak, menghantamkan dahi mereka ke lantai kaca es yang bersimbah darah musuh.

"KAMI BERSUMPAH SETIA PADA KAISAR MALAM!"

1
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka...
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Bambang Widono
👍👍🙏🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏
Bambang Widono
mantab lanjut Thor 👍👍💯💯💯💯👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
aleena
semua karyamu pasti bagus bagus
💪💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih 🙏
total 1 replies
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!