Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Arogansi di Balik Kabut Hutan
Setelah sesi latihan yang menghancurkan mental A-Lang di paviliun, Jian Yi memutuskan bahwa udara di lingkungan kediaman sudah terlalu manis.
Ia membutuhkan aroma tanah basah dan energi alam yang lebih liar untuk menstabilkan Qi di tubuh mungil mereka.
Dengan A-Lang yang berjalan sempoyongan namun tetap berusaha tegap di belakang mereka, Jian Yi dan Lu Feng melesat menuju Hutan Larangan Luar.
Bagi penduduk biasa, ini adalah tempat maut. Bagi dua jiwa tua ini, ini hanyalah taman bermain yang sedikit lebih berdebu.
Di sebuah ceruk hutan yang dipenuhi bunga-bunga beracun yang indah, mereka tiba-tiba mendengar suara tawa melengking yang penuh kesombongan.
Di sana, di tengah sebuah tanah lapang kecil, berdiri seorang bocah lelaki yang tampaknya setahun atau dua tahun lebih tua dari Jian Yi.
Ia mengenakan jubah sutra berwarna hijau zamrud dengan sulaman perak yang mencolok—ciri khas Keluarga Wei, salah satu faksi Bangsawan Tingkat 3 yang menjadi saingan bisnis keluarga Jian.
Di samping bocah itu, seekor Harimau Taring Kristal setinggi bahu pria dewasa berdiri dengan mata kuning yang berkilat.
Makhluk itu memancarkan aura ganas yang setara dengan Ranah ke-2. Bagi anak seusianya, memiliki hewan kontrak setingkat itu adalah pencapaian yang luar biasa—sebuah simbol kekuasaan dan bakat.
"Hahaha! Lihat ini, Shadow! Cakar kakimu lebih tajam dari pedang mana pun di kota ini!" seru bocah itu, Wei Yan, sambil menepuk kepala harimau tersebut.
Saat menyadari kehadiran Jian Yi, Lu Feng, dan A-Lang, Wei Yan langsung membusungkan dadanya. Ia mengenali Jian Yi dan Lu Feng sebagai duo ajaib dari keluarga saingannya.
"Oh, lihat siapa yang datang merangkak ke hutan ini," Wei Yan menyeringai, tangannya sengaja mengelus taring harimaunya yang tajam. "Jian Yi, Lu Feng. Aku dengar kalian jenius? Tapi sepertinya kalian hanya bisa membawa satu gelandangan kotor sebagai pengikut. Lihat hewan kontrakku! Dia bisa mengunyah kalian bertiga dalam satu gigitan tanpa perlu mengeluarkan keringat."
Harimau itu menggeram rendah, sebuah tekanan batin menyapu ke arah trio tersebut. A-Lang langsung pucat pasi, kakinya gemetar.
Tekanan Ranah ke-2 bagi manusia biasa tanpa latihan adalah seperti dihimpit batu besar.
Jian Yi hanya melirik harimau itu sekilas. Di matanya, harimau itu tak lebih dari seekor kucing kampung yang sedikit lebih besar.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah memenggal makhluk yang lebih kuat.
Tekanan harimau ini? Baginya, itu hanyalah angin sepoi-sepoi yang lewat.
"Lu Feng," suara Jian Yi terdengar datar dan dingin. "Kau mencium sesuatu?"
Lu Feng pura-pura mengendus udara dengan ekspresi jijik. "Ya. Bau kotoran kucing yang belum dibersihkan. Sangat mengganggu latihan pernapasan."
Wei Yan terbelalak. Wajahnya yang semula penuh kemenangan berubah menjadi merah padam. "Apa kau bilang?! Ini adalah Harimau Taring Kristal! Ayahku menghabiskan ratusan koin emas untuk mendapatkannya dari pelelangan pusat!"
Wei Yan memerintahkan harimaunya untuk bergerak maju, mencoba mengintimidasi mereka.
Harimau itu melompat ke depan mereka, mengeluarkan raungan yang menggetarkan pepohonan sekitar.
ROAARRRR!
Dedaunan berguguran. Burung-burung beterbangan ketakutan. Namun, Jian Yi tetap berjalan maju tanpa mengubah ekspresinya.
Saat ia berada tepat di depan hidung harimau itu, Jian Yi hanya memberikan satu tatapan mata—bukan tatapan bayi, melainkan tatapan Pemburu Jiwa yang telah membunuh banyak makhluk.
Seketika, harimau itu terdiam. Bulu kuduknya berdiri. Secara naluriah, makhluk itu merasakan aura kematian yang begitu pekat memancar dari bocah kecil di depannya.
Sang harimau, yang seharusnya liar, tiba-tiba merunduk dan perlahan mundur dengan ekor terselip di antara kaki belakangnya.
"Kucing yang pintar," bisik Jian Yi pelan, hampir tak terdengar.
Jian Yi melewati Wei Yan begitu saja, seolah-olah bocah bangsawan itu hanyalah sepotong batu di pinggir jalan.
Lu Feng mengikuti di belakang sambil tertawa kecil, sengaja menyenggol bahu Wei Yan dengan keras.
"Lain kali, bawa sesuatu yang lebih besar. Setidaknya yang ukurannya bisa dijadikan alas kaki," celetuk Lu Feng santai.
A-Lang, yang melihat tuannya begitu berani, tiba-tiba mendapatkan kepercayaan diri. Ia menatap Wei Yan dengan pandangan dingin sebelum akhirnya menyusul masuk ke dalam hutan yang lebih dalam.
Wei Yan mematung di tengah lapangan. Ia gemetar, bukan karena takut, melainkan karena penghinaan yang begitu dalam.
Di dunia bangsawan, diabaikan adalah penghinaan yang lebih buruk daripada dipukul. Ia berdiri di sana, diabaikan oleh dua bayi yang bahkan belum mencapai tinggi pinggangnya.
"Jian Yi ... Lu Feng ..." Wei Yan mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. "Kalian pikir kalian siapa?! Beraninya kalian memperlakukanku seperti sampah!"
Harimau Taring Kristal-nya masih gemetar di sampingnya, menolak untuk mengejar.
"Aku bersumpah. .." Wei Yan menatap arah hilangnya trio tersebut dengan mata penuh kebencian yang mendalam. "Saat turnamen tahunan Distrik Zamrud nanti, aku akan menghancurkan tulang-tulang kalian di depan semua orang. Aku akan memastikan keluarga Jian dan Lu malu karena memiliki anak seperti kalian!"
Dendam itu tertanam dalam. Wei Yan tidak menyadari bahwa ia baru saja memusuhi dua monster yang tak seharusnya ia usik.
Di kedalaman hutan, Lu Feng menoleh sedikit. "Bocah hijau itu sepertinya ingin mati muda."
Jian Yi hanya menatap lurus ke depan. "Biarkan saja. Di kehidupan ini, kita butuh beberapa 'batu asah' untuk menguji seberapa tajam pedang kita nanti. Jika dia ingin menjadi batu itu, aku dengan senang hati akan mengikisnya hingga habis."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁