Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 4
"Ada apa dengan dia? Kenapa dia malah nantangin mau di pecat? Memangnya kamu tidak bisa pecat dia sayang?" Tanya Vania.
"Hanya Mami atau papi yang bisa pecat dia. Kamu lihat sendiri kan kelakuan dia seperti apa? Bagaimana mungkin aku bisa suka kepada wanita modelan dia seperti itu? Menyebalkan dan kadang membuat aku sangat kesal. Makanya kamu nggak perlu mikir yang macam-macam antara aku dan dia. Dia berbeda jauh dengan kamu, Vania!" Jelas Gavin.
Vania memang terkadang sering cemburu dan mempermasalahkan dengan kehadiran Anya yang selalu ada bersama dengan dia kemanapun pergi. Semakin kesini Vania memang semakin tak suka kepada Ayana yang selalu menbatasi dia dan Gavin. Dengan alasan sesuai perintah Mami Tanisa.
"Iya sayang, aku percaya padamu, bukan maksud aku meragukan kamu. Hanya sajanaku merasa jika Ayana itu tak suka kepasaku. Kamu tahu itu kan sayang! Bahkan dia selalu bersikap tak sopan padaku, selai memang menyebalkan! Aku heran kenapa mami dan papimu malah lebih percaya dia menjadi asisten kamu. Kenapa tidak memilih asisten pribadi pria saja sih! Jangan-jangan wanita itu main dukun!" Kesal Vania panjang lebar dan malah terkesan menuduh Ayana yang tidak-tidak.
"Sudahlah jangan bicarakan wanita itu. Kamu ada apa datang kesini sayang? Bukankah uangnya sudah aku transfer? Seharusnya kamu istirahat dan jangan capek-capek, apalagi lusa kita menikah. Kamu jangan kelelahan dan harus merawat diri kamu agar semakin cantik saat pesta pernikahan kita!" Gavin menghentikan obrolan mereka tentang Ayana. Bisa besar kepala nanti gadis itu jika terus di bicarakan.
"Aku datang kesini justru untuk berterima kasih padamu sayang, karena kamu sudah menepati janjimu memberikan uang itu kepada ayahku! Kamu memang yang terbaik sayang, aku semakin cinta sama kamu," jawab Vania bergelayut manja di tangan Gavin.
"Apapun yang bisa aku berikan padamu akan aku usahakan sayang. Bagiku yang terpenting kamu bahagia!" Ujar Gavin mengusap lembut rambut Vania.
"Kamu menang pria yang benar-benar membuat aku bahagia sayang. Rasanya aku tak sabar lagi untuk menikah denganmu," Vania semakin memuji Gavin.
"Aku juga sayang, menikah denganmu adalah impianku. Membina rumah tangga kita bersama dengan anak-anak yang pastinya sangat lucu-lucu. Aku sudah membayangkan akan hidup bahagia dengan keluarga kecil kita nantinya," jawab Gavin.
Tok
Tok
"Maaf menganggu, tapi dengan berat hati harus saya katakan jika meeting akan di laksanakan sepuluh menit lagi. Tolong anda segera bersiap Pak Gavin, jangan sampai terlambat dan membuat klien kesal. Terima kasih," Ayana menyembulkan kepalanya di pintu membuat Gavin kesal bukan main karena wanita itu menganggu sekali.
"Ck, menyebalkan sekali wanita itu!" Kesal Vania.
"Maaf sayang. Aku harus bersiap untuk meeting. Kamu pulang dan istirahatlah, jangan kemana-mana lagi," Gavin menurunkan tangan Vania dan membereskan laptop miliknya.
"Sayang, sebenarnya ada satu lagi yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Vania membuat Gavin menghentikan gerakan tangannya.
"Apa sayang?" tanya Gavin.
"Wedding organizer meminta aku membawa mas kawinnya untuk di masukkan kedalam kotak perhiasan yang sudah aku siapkan sebelumnya," jawab Vania pelan.
"Loh kok sama mereka? Bukannya sudah akan dia siapkan sama mami nanti," tanya Gavin sedikit heran.
Karena sudah di sepakati dari awal jika semua seserahan termasuk mas kawin mereka nanti akan di persiapkan oleh maminya sendiri.
"Aku sudah membeli dan memilih kotak perhiasan dengan desain yang aku inginkan. Dan kotak itu ada di pihak W.O. Sore nanti akan di bawa ke rumah kamu sayang," jelas Vania.
"Apa memang begitu ya? Kok aku agak sedikit ragu?"jawab Gavin agak setengah hati.
"Tapi aku sudah membeli kotak cantik sesuai keinginanku sayang. Kalau kamu ragu tidak usah saja sayang. Biar saja nanti kamu dan mami yang mengurusnya. Kalau begitu aku pulang dulu sayang, kamu mau meeting kan?" jawab Vania sedikit kecewa dan Gavin tahu akan hal itu. Saking cintanya Gavin selalu mengalah kepada Vania.
"Ambillah sayang," Gavin memberikan paperbag dengan logo toko perhiasan terkenal.
Wajah Vania langsung terlihat ceria dan bahagia melihatnya. Dengan cepat dia mengambilnya dari tangan Gavin.
"Terima kasih sayang, aku pergi dulu. Nanti jangan lupa hubungi aku kalau kamu sudah sampai rumah ya. Jangan nakal, jauh-jauh dari wanita itu, karena aku cemburu!" celoteh Vania segera pergi setelah mendapatkan yang dia inginkan.
"Iya sayang. Mana mungkin aku tertarik kepada wanita seperti dia. Hanya kamu wanita yang aku cintai dan ingin ku nikahi," jawab Gavin sedikit berteriak karena Vania susah berada di pintu.
"Awas jangan mencuri kesempatan untuk mendekati calon suamiku!" Ancam Vania kepada Ayana.
"Ya elah Bu, katanya tadi mau mecat saya? Padahal saya sudah siap-siap untuk keluar dari sini. Saya bahkan sudah menyiapkan kotak untuk membawa barang-barang. Tapi ternyata anda bohong dan tidak mempunyai pengaruh di keluarga ini. hah, percuma saya tadi percaya kepada anda yang mampu memecat saya!" Jawab Ayana santai sambil membereskan berkas di mejanya.
"Kau!" Emosi Vania.
"Ayo kita pergi jangan ganggu calon istriku Ayana!" Gavin juga keluar dari ruangannya.
"Ish, aku cuma nagih janji calon istri anda tadi yang katanya akan mecat saya. Bahkan saya sudah mengemas sebagian barang pribadi saya!" Jawab Ayana jujur.
"Berisik! Ayo kita pergi!" Gavin menarik ujung baju Ayana untuk segera pergi dan tak menganggu Vania.
Gavin dan Ayana akhirnya pergi ke ruang meeting, sedangakan Vania pergi entah kemana. Meeting berjalan lebih dari dua jam karena Gavin sepertinya sedang tidak fokus dan melakukan kesalahan. Beruntung ada Ayana di sana yang membantu menghandle meeting kali ini.
"Lain kali lebih fokus lagi, Pak! Jangan main-main saat bekerja. Lupakan masalah pribadi, bukannya itu yang selalu anda katakan kepada saya!" Omel Ayana saat mereka keluar dari ruang meeting
"Kamu bawel sekali, kepalaku malam makin pusing. Aku mau pulang. Ayo cepat!" Ajak Gavin.
"Lah aku juga harus ikut pulang? Masih banyak kerjaan saya Pak! Anda saja yang pulang sendiri!" tolak Ayana.
"Bukannya kamu adalah asisten pribadiku?" Gavin menatap tajam saat Ayana menolaknya.
"Iya, baiklah saya ambil tas dan kunci mobil dulu. Apa kita mau ke rumah sakit dulu sebelum pulang?" Ayana mengalah.
"Nggak perlu. Aku hanya perlu istirahat! Kepalaku sakit sekali!" jawab Gavin.
Ayana akhirnya membawa Gavin pulang. Selama dalam perjalanan, Gavin selalu kompalin dengan cara Ayana menyetir. Karena wanita itu menyetir dengan ugal-ugalan sehingga membuat dia tak bisa hanya sekedar untuk memejamkan mata sebentar saja.
"Katanya harus cepat tiba di rumah. Makanya saya ngebut. Tapi anda masih ngomel juga! Astaga nasib jadi bawahan selalu kena omel saat atasannya sedang bad mood. Salah Mulu perasaan dari tadi," jawab Ayana saat Gavin terus mengomelinya.
"Iya aku minta cepat! Tapi nggak kek gini juga bawa mobil ugal-ugalan seperti di kejar hantu genderuwo saja!" protes Gavin.
"Mana ada hantu genderuwo siang-siang! ngarangnya kebangetan!" Ayana menimpali.
"Berisik fokus lagi dengan jalanan!" Gavin semakin kesal saja, Ayana membuat kepalanya semakin pusing.
"Kita sudah sampai rumah pak, silahkan turun," Ayana menoel bahu Gavin.
"Apa? Sudah sampai rumah?" kaget Gavin dan melihat melalui jendela mobil ternyata memang mereka sudah berada di depan rumahnya.
"Kenapa bisa secepat ini sampai di rumah?" tanya Gavin heran.
"Karena anda sambil ngomel, sehingga tidak terasa sudah tiba di depan rumah," jawab Ayana keluar dari dalam mobil.
Gavin malas meladeni omelan dari Ayana dan lebih memilih untuk masuk ke dalam rumah lebih dahulu. Ayana masuk ke dapur dan membuatkan teh jahe untuk Gavin. Setelahnya dia masuk ke dalam kamar sambil membawa obat.
"CK! Bangun dulu. Minum obatnya, Pak! Jangan sampai pernikahan anda gagal karena malah di rawat di rumah sakit. Sayang kali buang uang ratusan juta buat pesta. Belum lagi mahar perhiasan miliaran, uangpun dua miliar!" omel Ayana membangunkan Gavin.
"Bisa berhenti ngomel kan? Aku semakin pusing jadinya!" jawab Gavin terpaksa bangun.
"Eh tunggu sebentar! Ganti dulu bajunya, Pak. Masa iya mau tidur pake jas sama celana bahan?" Ayana menahan tangan Gavin kembali saat atasannya akan merebahkan badan kembali ke atas tempat tidur.
"Astaga kenapa hidupku setelah di urus oleh kamu banyak sekali aturannya!" Kesal Gavin sambil membuka jas dan kemejanya.
"Harus biar setelah nanti anda menikah terbiasa. Saya tak sabar menunggu anda menikah. Agar tugas saya bisa selesai menjadi asisten pribadi anda. Saya juga ingin mengurus diri sendiri setelah ini!" Jawab Ayana sambil memberikan pakaian ganti untuk Gavin.
"Seneng banget kamu sepertinya keluar dari pekerjaan ini? Bukannya mami memberikan kamu gaji besar? Perusahaan mana lagi yang akan menggaji kamu sebesar itu?" Gavin memang penasaran dengan keinginan Ayana yang selalu ingin segera di pecat.
"Bukan masalah gaji, Pak. Tapi masalah hati dan kenyamanan. Silahkan ganti baju dulu, Pak. Setelah itu istirahat, saya ada di ruang keluarga. Jika anda perlu sesuatu panggil saja," pamit Ayana.
"Astaga? Apa katanya barusan? Kenyamanan? Dia fikir aku nyaman dia menjadi asisten pribadiku? Yang ada juga hidupku tak bisa bebas seperti dulu. Nongkrong dengan teman-temanku! Ah sial-an kenapa kepalaku makin sakit. Gara-gara si Ayana!" Gavin akhirnya bisa tertidur setelah minum obat yang di berikan Ayana.