Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Begitu mobil yang ditumpangi Darrel berhenti di depan rumah, anak itu langsung turun dan berjalan santai masuk ke dalam. Sikapnya seolah tidak terjadi apa-apa di sekolah hari ini.
Namun saat langkahnya berhenti di depan pintu, ia dikejutkan oleh sosok Nathan yang sudah berdiri di sana dengan wajah tegas dan tatapan penuh tekanan.
“Kenapa kamu membuat onar lagi?” tanya Nathan dengan suara rendah namun tajam.
Darrel mengernyit. Ia benar-benar tidak mengerti.
“Maksud Daddy apa?”
“Jangan pura-pura tidak tahu! Barusan Daddy mendapat telepon dari gurumu. Katanya hari ini kamu membuat masalah lagi!” cetus Nathan.
Darrel mengepalkan tangannya kuat. Ia tidak terima dituduh begitu saja.
“Aku tidak pernah melakukan apa yang Daddy tuduhkan,” sahutnya tegas.
Nathan menggeleng dengan wajah kesal.
“Kalau kamu tidak melakukannya, kenapa gurumu menelepon? Dari dulu kamu selalu mempermalukan Daddy. Yang membuat Daddy semakin kecewa, kamu tidak pernah mau mengaku!”
“Karena aku memang tidak melakukannya!” bentak Darrel. “Semua yang mereka tuduhkan itu salah!”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Darrel langsung berlari menuju kamarnya. Hatinya terasa begitu sakit. Lagi-lagi ia dituduh sebagai pembuat masalah, padahal ia sendiri tidak tahu kejadian apa yang dimaksud.
Di dalam kamar, Darrel duduk di tepi tempat tidur. Ia menunduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Air matanya perlahan jatuh tanpa bisa ia tahan.
Sebagai seorang anak, ia juga tidak ingin selalu berada di posisi yang disalahkan.
“Mom… kenapa Mom harus meninggalkan Darrel sendiri?” bisiknya lirih.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
Tok… tok… tok…
Sepertinya itu suara neneknya yang mencoba membujuknya keluar. Namun Darrel sudah terlanjur sakit hati. Ia memilih diam dan tetap bersembunyi di dalam kamar.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Darrel sudah keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah yang rapi.
Ia sengaja tidak menuju meja makan. Ia tahu, jika bertemu Nathan, ayahnya pasti akan kembali menuntut jawaban tentang masalah yang bahkan tidak pernah ia lakukan.
Saat langkahnya sampai di anak tangga terakhir, tiba-tiba suara Vivian memanggilnya dengan penuh perhatian.
“Sayang, ayo sarapan dulu,” ujar wanita itu lembut. “Jangan bilang hari ini kamu sarapan di kantin lagi. Nenek sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”
Darrel berhenti sejenak.
“Nenek masukkan saja ke kotak bekalku. Nanti Darrel makan di sekolah,” jawabnya datar.
Vivian menatap cucunya dengan sedikit khawatir, tetapi tetap mengangguk.
“Baiklah. Tunggu sebentar, ya,” ucapnya.
Tidak menunggu lama, Vivian kembali dengan kotak bekal yang diminta cucunya.
“Ini, Sayang. Baik-baik di sekolah, ya. Ingat, kamu tidak boleh membuat masalah lagi,” pesan sang nenek lembut.
Darrel hanya mengangguk pelan.
Anak itu kemudian berjalan keluar rumah dengan perasaan hampa. Bahkan untuk sesaat ia sempat berpikir, mungkin memang benar dirinya anak nakal seperti yang selalu mereka katakan.
Sesampainya di sekolah, Darrel langsung dikejutkan oleh bisik-bisik teman-temannya yang terdengar jelas di telinganya.
“Eh, itu dia anak yang bikin keributan kemarin,” bisik seorang siswa.
“Katanya dia yang mengeroyok Edo,” sahut yang lain.
Bisikan-bisikan itu datang dari berbagai arah. Bukan hanya satu atau dua orang saja. Kali ini Darrel tidak mampu lagi berpura-pura tidak mendengar.
Dadanya terasa sesak.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menuju kantin Andin. Entah kenapa, tempat itu terasa seperti satu-satunya tempat yang aman baginya.
Sesampainya di kantin, Darrel berdiri di depan meja dengan napas sedikit terengah.
“Mbak Kantin…” panggilnya pelan.
Di hadapan perempuan itu, Darrel tidak mampu menyembunyikan kelemahannya.
Andin yang sedang merapikan piring langsung menoleh. Begitu melihat mata Darrel yang mulai dipenuhi air mata, ia segera menghentikan pekerjaannya.
“Adek, ada apa?” tanyanya khawatir.
Darrel menunduk sejenak sebelum akhirnya berbicara.
“Mbak… sudah dengar kabar yang menyeret namaku?”
Sebagai penjaga kantin, Andin memang sering mendengar berbagai cerita dari para siswa. Termasuk kabar yang sejak kemarin ramai dibicarakan.
Perempuan itu menghela napas pelan.
“Adek… Mbak memang sudah dengar kabar itu. Tapi kalau boleh jujur, Mbak ingin mendengarnya langsung dari kamu,” ucapnya lembut.
Darrel mengepalkan tangannya kecil.
“Aku tidak tahu apa-apa, Mbak. Kemarin pas pulang sekolah, tiba-tiba Daddy marah-marah. Sekarang semua anak di sekolah berbisik seolah aku yang melakukannya,” katanya dengan suara bergetar.
Mendengar itu, hati Andin terasa terenyuh. Ia segera menghampiri Darrel, lalu memeluk anak itu dengan lembut.
Darrel sempat terkejut, tetapi ia tidak menolak.
Bukan tanpa alasan Andin melakukan hal itu. Belasan tahun yang lalu, ia juga pernah berada di posisi yang sama—dituduh melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia lakukan.
Dan rasa sakit itu… masih ia ingat dengan jelas hingga sekarang.
"Sabar, ya Dek, Mbak percaya kamu tidak salah," ucap Andin sambil menepuk punggung anak itu pelan.
Darrel segera melepas pelukan perempuan itu. "Mbak kenapa bisa mempercayai aku, padahal semua orang mulai menuduhku?" tanya anak itu seolah tidak percaya dari sekian banyaknya orang hanya Andin lah yang masih mempercayainya.
Andin tersenyum simpul, bahkan sempat menitihkan air matanya. "Mbak, pernah berada di posisi kamu, meskipun masalahnya berbeda," jelas Andin.
Darrel menatap wajah wanita pengertiannya bagaikan seorang ibu terhadap anaknya, tangannya langsung meraih tangan Andin. "Ternyata kita sama ya Mbak," sahut Darrel.
"Iya kita sama, ya sudah kalau gitu kamu tenangkan hati, dan yakin kalau kebenaran akan terbuka dengan jalannya sendiri," nasehat Andin.
Darrel pun mengangguk dengan patuh, dan kata-kata Andin seolah menjadi pegangannya yang sekarang mulai rapuh.
☘️☘️☘️☘️☘️
Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran telah dimulai. Satu per satu murid masuk ke kelas masing-masing. Suasana di dalam kelas masih cukup riuh karena anak-anak masih membicarakan kejadian kemarin.
Darrel duduk di bangkunya dengan perasaan gelisah. Namun tak lama kemudian matanya tertuju pada Edo yang baru saja masuk ke kelas.
Anak itu tampak berbeda. Bibirnya masih terlihat memar, dan ada sedikit luka di sudut pipinya.
Darrel terkejut melihatnya.
Saat pandangan mereka sempat bertemu, Edo justru segera mengalihkan wajahnya dan memilih duduk tanpa mengatakan apa pun.
Sementara itu, di sudut kelas, Genta dan dua temannya terlihat santai. Mereka tertawa kecil seolah tidak terjadi apa-apa.
Tak lama kemudian, wali kelas mereka masuk ke dalam ruangan.
“Darrel, Edo… ikut Bapak ke kantor,” ujar Pak Irwan dengan nada serius.
Seluruh kelas langsung terdiam.
Darrel berdiri tanpa membantah. Meski hatinya kesal karena dituduh, kali ini ia justru ingin membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Mereka pun berjalan menuju kantor guru.
Namun begitu sampai di sana, langkah Darrel langsung terhenti.
Di dalam ruangan itu sudah ada Nathan, ayahnya. Wajah pria itu terlihat tegang. Di sampingnya juga berdiri seorang wanita yang tampak sangat khawatir—ibu Edo.
Begitu melihat anaknya masuk, wanita itu langsung menghampiri Edo.
“Edo, hari ini kamu katakan yang sejujurnya agar anak yang membuatmu seperti ini dapat hukuman Nak," kata ibunya dengan nada khawatir.
Sementara itu Nathan menatap Darrel dengan tatapan tajam, seolah sudah yakin siapa pelakunya.
Pak Irwan kemudian berdiri di depan mereka, ia berusaha untuk membedah desas-desus yang dikatakan oleh beberapa anak.
“Sekarang Bapak ingin mendengar penjelasan dari kalian berdua,” katanya tegas. “Apa yang sebenarnya terjadi kemarin?”
Ruangan itu mendadak sunyi, Edo menunduk. Ia terlihat ragu untuk berbicara, melihat itu, Darrel mengepalkan tangannya. Ia tidak tahan lagi diperlakukan seperti penjahat.
“Edo,” ucap Darrel tiba-tiba.
Semua orang menoleh ke arahnya.
“Tatap aku!" perintahnya dengan tegas.
Edo perlahan mengangkat wajahnya.
“Kalau memang aku yang memukulmu, bilang saja sekarang,” lanjut Darrel dengan suara bergetar menahan emosi. “Aku tidak akan lari dari tanggung jawab.”
Nathan terlihat terkejut mendengar keberanian anaknya.
“Tapi kalau bukan aku…” suara Darrel mulai meninggi, “katakan yang sebenarnya!”
Edo semakin gelisah. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Ia teringat ancaman Genta kemarin. Namun saat melihat wajah Darrel yang dipenuhi kemarahan dan kekecewaan, hatinya terasa semakin berat.
“Ayo, Do,” kata Darrel lagi. “Kamu tahu siapa yang melakukannya.”
Ruangan itu terasa semakin tegang. Ibu Edo menatap anaknya penuh tanya.
“Edo… siapa yang memukulmu?” tanya wanita itu pelan.
Beberapa detik terasa begitu lama, Edo masih terngiang dengan ancaman itu, namun di dasar hatinya, terasa ada dorongan yang cukup kuat, agar dia mau mengakui dan tidak melindungi pelaku yang sesungguhnya
Akhirnya Edo menarik napas dalam-dalam.
“Bukan Darrel, Pak,” ucapnya lirih.
Semua orang langsung terkejut, tak percaya Pak Irwan mengernyit.
“Lalu siapa?”
Edo menelan ludah. “Yang memukul saya… Genta dan dua temannya.”
Ucapan itu membuat ruangan seketika hening, semua orang dibuat tercengang dengan kejadian ini, dan lagi-lagi anak itu yang membuat ulah.
Nathan menatap Darrel dengan ekspresi berubah. Sementara Pak Irwan terlihat kaget mendengar nama itu. Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, Darrel merasa napasnya sedikit lega.
"Akhirnya kebenaran terungkap juga," gumam Darrel lirih.
Bersambung ...
Semoga suka ya!