NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Ketika Para Pengungsi Datang

Dalam waktu kurang dari satu menit, semua boneka sasaran telah "ternetralisir". Ratri berhenti, napasnya bahkan tidak terengah. Dia memandangiku, seolah bertanya, "Seperti ini?"

Aku hanya bisa menggeleng, tercengang. "Ya... seperti itu. Tapi... mungkin untuk Eveline dan aku, cukup dengan versi yang lebih lambat dulu."

Latihan dilanjutkan hingga benar-benar larut. Badanku terasa berat, otot-otot berdenyut, dan kepalaku pening karena suara tembakan yang terus-menerus. Akhirnya, aku menyerah. "Cukup! Istirahat!"

 Aku duduk di atas batu di tepi pantai, memandangi bulan yang memantul di air laut. Suara debur ombak menenangkan saraf yang tegang. Eveline berdiri seperti patung beberapa meter di belakangku, berjaga. Ratri duduk di sampingku, matanya yang emas memindai cakrawala dengan sikap santai namun waspada yang sudah menjadi kebiasaan kami.

Tiba-tiba, Ratri menegakkan badannya. Tidak ada perubahan ekspresi dramatis, tapi aku bisa merasakan ketegangan halus yang mengalir darinya.

"Ada sesuatu," bisiknya, suaranya rendah dan serius, berbeda dengan nada santainya tadi.

Aku tidak langsung panik. Belajar dari pengalaman, kepanikan hanya membuat segalanya lebih buruk. "Apa? Tentara Kekaisaran?" tanyaku, mencoba menjaga suara tetap tenang.

Ratri menggeleng, matanya masih tertuju ke arah laut yang gelap, seolah bisa melihat melampaui apa yang bisa kulihat. "Bukan. Bukan seragam atau aura militer yang teratur. Ini... rombongan. Besar. Tapi berantakan. Aku merasakan... banyak aura yang berbeda bercampur aduk."

Dia memicingkan matanya, berkonsentrasi. "Ada Elven—beberapa klan, rasa hutannya berbeda-beda. Manusia, tapi bukan dari satu daerah, ada yang beraura pedagang, petualang... dan ada Iblis. Level rendah, bukan bangsawan, tapi cukup banyak. Mereka semua... ada di kapal. Beberapa kapal kecil. Menuju ke sini."

Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. Elven, manusia berbagai macam, dan Iblis, bersama-sama? Itu bukan ekspedisi resmi. Itu terdengar seperti... pengungsi? Atau orang-orang yang putus asa?

"Apakah mereka bersenjata? Apakah ada niat permusuhan yang kau tangkap?" tanyaku, berusaha objektif.

Ratri diam sejenak, merasakan lebih dalam. "Ada senjata. Tentu saja. Tapi... tidak ada konsentrasi kebencian atau niat penyerangan yang terfokus. Yang ada adalah... ketakutan. Kepanikan. Dan... harapan yang putus asa. Seperti orang-orang yang melarikan diri dari sesuatu yang mengerikan."

Informasi itu mengendap di pikiranku. Pengungsi. Dari apa? Perang? Bencana? Apapun itu, mereka menuju ke pulau yang kami tempati. Pulau yang seharusnya terpencil dan tidak berpenghuni.

Aku menarik napas dalam, memandang laut yang gelap. "Baik. Tenang dulu, Ratri. Jangan terlalu tegang."

Dia menoleh padaku, alisnya sedikit terangkat, seolah bertanya apakah aku serius.

"Lihat," lanjutku, suara tenang namun tegas. "Jika mereka datang dengan damai, tidak berniat mengancam atau merebut apa yang sudah kita bangun di sini, kita juga tidak perlu berlaku kejam. Pulau ini luas. Masih banyak tempat. Tapi," nadaku berubah lebih keras, "jika mereka mengganggu kehidupan kita, mencoba mengambil paksa, atau mengancam keselamatan kita... kita akan bertindak. Sesuai perbuatan mereka."

Ratri memandangiku lama. Lalu, sebuah senyum kecil yang aneh muncul di bibirnya—bukan senyum bahagia, tapi senyum pengakuan, hampir seperti seorang dewata yang melihat muridnya memahami pelajaran sulit. "Pragmatis, tapi tidak kejam. Bijaksana, tapi tidak naif. Kau belajar dengan cepat, Rian Saputra. Itu adalah sikap yang tepat untuk bertahan dalam dunia yang berubah-ubah ini. Tidak memburu masalah, tetapi juga tidak membiarkan diri diinjak-injak." Ucapannya penuh wibawa dewi yang lama tidak kudengar, namun kali ini tanpa kesombongan, hanya pernyataan fakta yang disetujui.

Aku mengangguk. "Eveline," panggilku tanpa menoleh.

"Dengarkan, Tuanku," jawabnya segera dari belakang.

"Ambil senjata kita. Periksa magazen dan kondisinya. Letakkan di tempat yang mudah dijangkau di dalam rumah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk."

"Segera, Tuanku." Eveline berbalik dan berjalan dengan langkah cepat menuju rumah, bayangannya yang ramping menghilang dalam kegelapan.

Aku kembali menatap laut. Ratri tetap di sampingku, diam. Kami tidak berbicara lagi. Hanya menunggu. Dalam diam itu, aku memutuskan pendekatanku. Aku tidak akan menyembunyikan diri. Itu hanya akan menimbulkan kecurigaan. Tapi aku juga tidak akan menyambut mereka dengan tangan terbuka seolah-olah pulau ini adalah hotel. Aku akan menunjukkan bahwa pulau ini tidak kosong, bahwa ada penghuni yang mampu mempertahankan diri.

Sekitar satu jam kemudian, di kejauhan, di atas gelombang laut yang hitam, titik-titik cahaya kecil mulai muncul. Bukan cahaya lampu kapal modern, tapi cahaya obor yang berayun-ayun. Banyak. Mungkin puluhan. Mereka bergerak lambat, mendekati pantai di sisi yang berlawanan dari tempat kami biasa memancing, di sebuah teluk berpasir yang lebih landai.

"Mereka akan mendarat di teluk Karang Putih," bisik Ratri. "Sekitar tiga puluh menit lagi."

"Waktunya untuk menyambut," ucapku, berdiri. Otot-otot yang pegal tadi seolah menguat kembali oleh adrenalin yang mulai mengalir perlahan. Ini bukan ketakutan, tapi kewaspadaan tinggi.

Aku dan Ratri berjalan kembali ke rumah. Di dalam, Eveline sudah berdiri di samping meja. Di atas meja, ketiga MAC-10 terbaring, magazen terpisah di sampingnya, berisi peluru penuh. Aku memeriksa senjataku dengan cepat, memastikan safety-nya on, lalu menggendongnya di punggung dengan tali kulit yang sudah kusiapkan. Ratri melakukan hal yang sama dengan gerakan yang lebih halus. Eveline hanya mengambil senjatanya dan memegangnya di tangan kanannya, sikapnya natural seperti itu adalah perpanjangan tangannya.

"Ratri, kau bisa tetap dalam wujud remajamu? Wujud dewa-mu mungkin... terlalu mengintimidasi untuk pembicaraan pertama," saranku.

Dia mengangguk, dan dalam sekejap, cahaya keperakan sesaat menyelimutinya. Ketika cahaya itu mereda, yang berdiri di depanku adalah Ratri remaja berambut perak pendek yang biasa. Hanya matanya yang masih memancarkan kewibawaan yang tidak sesuai dengan wajah mudanya.

"Eveline, kau di belakangku. Diam, amati. Jika aku memberi isyarat, bersiaplah. Tapi jangan bertindak kecuali diperintahkan atau jelas-jelas diserang."

"Mengerti, Tuanku."

Kami berjalan menuju teluk Karang Putih. Tidak terburu-buru. Aku sengaja memilih jalan yang lebih tinggi, melintasi tebing kecil yang menghadap ke teluk. Aku ingin mereka melihat kami mendatangi mereka dari atas, dengan cahaya bulan di belakang kami, memberikan kesan tertentu.

Saat kami tiba di bibir tebing, pemandangan di bawah mulai jelas. Tiga perahu kayu sederhana, lebih mirip perahu nelayan besar, telah mendarat di pasir. Orang-orang sudah turun, berkerumun di sekitar beberapa obor yang ditancapkan di pasir. Ada sekitar... empat puluh, mungkin lima puluh orang. Ratri benar.

Ada Elven, dengan telinga runcing dan postur ramping, beberapa dengan pakaian berwarna daun dan bumi, yang lain terlihat lebih compang-camping. Ada manusia berbagai bentuk dan ukuran, beberapa masih memakai sisa-sisa baju zirah kulit, yang lain berbusana seperti pedagang. Dan ada Iblis—makhluk dengan kulit kemerahan atau kehitaman, tanduk kecil, dan mata bersinar—berdiri agak terpisah, dianggap dengan tatapan was-was oleh beberapa manusia dan elf.

Mereka terlihat lelah, kotor, dan kebingungan. Beberapa anak menangis. Suara-suara yang terdengar adalah teriakan perintah yang lelah, tangisan, dan debat panik tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Mereka benar-benar tidak terorganisir.

Aku menarik napas dalam. Lalu, dengan langkah pasti, aku mulai menuruni lereng berbatu menuju pantai. Ratri di sampingku, Eveline tiga langkah di belakang.

Kaki kami menginjak pasir dengan suara berderak yang terdengar jelas di tengah keriuhan terbatas itu. Satu per satu, kepala mulai menengok ke arah kami. Percakapan berhenti. Tatapan-tatapan penuh kelelahan itu kini dipenuhi dengan kejutan, ketakutan, dan pertanyaan.

Aku berhenti sekitar lima belas meter dari kerumunan terdekat. Aku berdiri tegak, tapi tidak dengan postur menantang. Tanganku tidak di dekat senjata di punggungku, tapi juga tidak terangkat sebagai tanda penyerahan. Aku hanya berdiri di sana, membiarkan mereka melihatku, melihat Ratri, dan melihat Eveline yang berdiri kaku di belakangku dengan senjata aneh di tangannya.

Seorang pria manusia bertubuh besar, dengan wajah penuh bekas luka dan memakai sisa-sisa zirah kulit, melangkah maju. Dia memegang kapak perang pendek di pinggangnya. Matanya, yang lelah namun waspada, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu ke Ratri dan Eveline.

"Kami tidak tahu pulau ini sudah dihuni," ujarnya, suaranya serak dan kasar. "Kami hanya mencari tempat untuk beristirahat, air, mungkin makanan. Kami tidak berniat merebut apa pun."

Nadanya defensif, hampir memohon. Mereka memang dalam keadaan terjepit.

Aku mengangguk perlahan. "Pulau ini cukup luas. Ada air tawar di sungai ke arah timur dari sini." Aku menunjuk arah yang berlawanan dari lokasi rumah kami. "Dan ada buah-buahan di hutan bagian selatan, jika kalian tahu cara mencarinya."

Wajah pria itu menunjukkan kelegaan yang nyata. Tapi beberapa orang di belakangnya, terutama beberapa elf dan seorang Iblis bertanduk lebar, melihat kami dengan curiga, terutama pada senjata di tangan Eveline dan yang tergantung di punggungku dan Ratri.

"Kami... berterima kasih," kata pria itu. "Bolehkah kami menetap di sini? Sementara? Hanya sampai kami... sampai kami menemukan pilihan lain."

Aku diam sejenak, membuat mereka menunggu. Aku ingin mereka memahami bahwa ini bukan tanpa syarat.

"Kalian bisa tinggal," ucapku akhirnya. Suaraku jelas, terdengar oleh semua yang hadir. "Tapi ada peraturannya. Satu: wilayah dari tebing ini ke arah barat," aku menunjuk ke arah rumah kami, "adalah wilayah kami. Jangan masuk tanpa izin. Dua: jangan mengganggu kami. Kami tidak akan mengganggu kalian. Tiga: apa yang kalian dapatkan dari alam di wilayah kalian, itu hak kalian. Tapi apa yang kami tanam dan bangun, adalah milik kami."

Aku memandang sekeliling kerumunan, bertatapan langsung dengan beberapa orang yang terlihat paling galak. "Kami menawarkan perdamaian dan jarak yang saling menghormati. Sebagai imbalannya, kami mengharapkan hal yang sama. Jika peraturan ini dilanggar..." Aku tidak menyelesaikan kalimatku. Aku hanya membiarkan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Kami semua dewasa. Kita tahu konsekuensinya."

Suasana menjadi sangat hening. Mereka bisa merasakannya. Di balik kata-kata yang tampak masuk akal itu, ada peringatan baja. Mereka melihatku, seorang manusia dengan pakaian kulit sederhana, seorang gadis remaja aneh berambut perak, dan seorang wanita pirang cantik nan dingin dengan senjata besi aneh di tangan. Kombinasi yang tidak biasa, tapi memancarkan aura "jangan dicoba-coba".

Pria berkapak itu menelan ludah. Dia mengangguk, cepat. "Kami... menerima syarat-syarat itu. Kami hanya ingin bertahan hidup."

"Bagus," ucapku, lalu berbalik. Seolah-olah urusan sudah selesai. Tapi sebelum pergi, aku menoleh sekali lagi. "Oh, dan satu hal. Jika ada di antara kalian yang memiliki keahlian—tukang kayu, ahli logam, tabib—dan bersedia menukarnya dengan makanan atau perlindungan, mungkin kita bisa berbicara lagi besok. Di siang hari. Dengan santai."

Kali ini, aku benar-benar pergi, mendaki kembali tebing tanpa menunggu jawaban. Ratri dan Eveline mengikutiku. Kami meninggalkan mereka di pantai, tercengang, bingung, tapi mungkin sedikit lebih tenang karena mendapatkan kepastian—bahwa mereka tidak akan diserang, tapi juga tidak bisa bertindak semaunya.

Saat kami sampai di puncak tebing, aku melihat ke belakang. Mereka mulai bergerak lagi, mengatur perbekalan, memimpin anak-anak, tetapi sesekali mata mereka masih melirik ke arah kami yang sudah menjadi siluet di atas tebing.

"Bagus sekali caramu menangani itu," bisik Ratri sambil berjalan di sampingku. "Tegas, jelas, memberikan pilihan tapi juga batasan yang keras. Itu akan mencegah banyak masalah di awal."

"Kita lihat saja," jawabku. "Yang penting sekarang, mereka tahu kita ada. Dan mereka tahu kita bukan tipe yang bisa dianggap remeh."

Eveline, yang masih memegang senjatanya, berkata dengan suara datar, "Jika mereka melanggar, Tuanku, izinkan aku menangani mereka. Dengan efisiensi."

"Kita lihat dulu, Eveline," ucapku, melepas senjata dari punggungku saat kami mendekati rumah. "Tapi... tetap siap. Besok adalah hari baru. Dan pulau kita tidak lagi sendiri."

Aku memasuki rumah, meletakkan senjata di tempatnya, tapi tidak menguncinya. Hanya menaruhnya dalam jangkauan. Malam ini, kami akan berjaga bergantian. Kehidupan di pulau terpencil kami, yang selama ini tenang dan terisolasi, baru saja mendapatkan tetangga. Dan seperti kata pepatah lama di duniaku, tetangga bisa menjadi berkah atau bencana. Tugas kami adalah memastikan mereka menjadi yang pertama, atau setidaknya, tidak menjadi yang kedua.

Keesokan paginya, udara terasa berbeda. Bukan hanya embun dingin yang biasa, tapi ada ketegangan asing yang mengambang, dibawa angin dari arah teluk Karang Putih. Setelah sarapan singkat, aku memutuskan untuk mengamati. Aku tidak langsung mendatangi mereka, hanya berdiri di tebing yang sama seperti semalam, mengawasi dari kejauhan.

Pemandangan di bawah adalah kekacauan yang menyedihkan. Pengungsi itu telah membangun perkemahan primitif—beberapa tenda dari kain terpal robek, gubuk daun, dan perapian kecil yang berasap. Tapi yang lebih menyedihkan adalah suara. Bukan lagi tangisan ketakutan malam tadi, tapi teriakan marah, saling tuduh, dan cekcok yang makin memanas.

Dari kejauhan, aku bisa melihat kelompok-kelompok berdasarkan ras mulai terbentuk. Para Elf berkumpul di dekat pepohonan, memandang kelompok lain dengan mata jijik dan superioritas. Kaum Iblis berdiri di pinggir, postur tubuh defensif, sementara manusia—yang jumlahnya paling banyak—berada di tengah, suara mereka paling keras.

Aku turun dari tebing, mendekati dengan diam-diam. Aku ingin mendengar akar masalahnya sebelum intervensi.

"...dan karena kalian manusia serakah itu lah kita terusir!" teriak seorang Elf perempuan dengan rambut seperti daun kering, wajahnya contong karena kemarahan. "Kalian menebang Hutan Roh Suci Karandir untuk pertanian kalian! Kalian mengusir roh penjaga! Dan ketika Kemarahan Akar bangkit, siapa yang disalahkan? Kami! Kami para penjaga hutan yang diusir dari rumah kami sendiri!"

Seorang pria manusia bertubuh besar, yang kemarin berbicara denganku, membalas dengan muka merah. "Kami butuh lahan untuk memberi makan keluarga! Dan kalian Elf selalu menganggap diri paling suci! Tanah itu tidak hanya milik kalian! Lalu siapa yang mengundang pasukan Kekaisaran untuk 'membersihkan' daerah itu? Siapa yang melapor bahwa kami melakukan ritual gelap? Itu kalian!"

Dari sisi kaum Iblis, seorang dengan kulit kemerahan dan tanduk bengkok melangkah maju, suaranya mendesis. "Dan kalian berdua, manusia dan elf, selalu bersatu untuk menyalahkan kami untuk segala bencana! Wabah kelaparan di desa manusia? Pasti sihir iblis! Pohon yang layu di hutan elf? Pasti racun iblis! Kami dituduh mengutuk mata air hingga keracunan, padahal itu limbah peleburan logam manusia yang meresap ke tanah! Ketika kemarahan datang, kalian dengan mudahnya mengusir kami dari pemukiman bawah tanah, membakar rumah kami, dan menyebutnya 'pembersihan'!"

Cekcok itu berputar-putar seperti lingkaran setan. Manusia menyalahkan Elf karena elitisme dan memprovokasi Kekaisaran. Elf menyalahkan manusia karena keserakahan dan perusakan alam. Keduanya lalu menyalahkan Iblis sebagai kambing hitam untuk segala masalah, dan Iblis membalas dengan menyoroti hipokrisi dan ketidakpedulian kedua ras lainnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!