Bayangkan di sebuah kehidupan indah Bumi, terdapat teror yang di rahasiakan pemerintah semua umat manusia. Teror Iblis, siluman, dan Kaiju.
Umat manusia yang memiliki kekuatan khusus disebut Exorcist mampu melawan 3 musuh besar umat manusia. Tapi umat manusia tidak bisa selamanya menang atau di bilang selalu kalah.
Kekuatan Iblis jauh lebih kuat dari pada Exorcist disebabkan kasta Level, sehingga umat manusia hanya bisa menutupi kekalahan dari teror mengerikan.
Akan tetapi itu tidak selamanya, karena Reyhan seorang siswa SMA biasa di Jakarta mendapatkan sebuah Sistem Pembunuh Iblis. Tugas Sistem itu memberi Reyhan sebuah misi dan kekuatan untuk mengalahkan Iblis-iblis lawan manusia.
Akan tetapi saat Reyhan melangkah lebih jauh sebagai Exorcist, Reyhan semakin tahu bahwa kekuatannya bukan apa-apa untuk Iblis atau Exorcist lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacarealitas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Malam Sebelum Pertarungan
Sontak mata Reyhan terbelakak, Zahra juga terbangun karena adanya aura energi iblis negatif yang jauh lebih kuat di banding Iblis Rantai budak.
Reyhan menatap Zahra begitu pula sebaliknya, segera mereka berdua pergi keluar. Tapi saat membuka pintu, Reyhan keluar namun Reyhan menabrak seorang gadis di depak pintu lalu gadis itu tersungkur.
"Aduh!" Gadis itu mengusap pantatnya yang sakit.
Reyhan terkejut lalu buru-buru minta maaf. "Maaf, apakah kau baik-baik saja?" Reyhan menawarkan tangannya untuk membantu berdiri.
"Ah ya, aku baik-baik saja" gadis itu menerima uluran tangan Reyhan. Tapi Zahra memandang gadis itu dengan merinding.
"Reyhan ayo" tariknya pergi dengan langkah cepat.
Reyhan tersentak saat di tarik pergi. "Ada apa Zahra? Kenapa kau menarik ku" Reyhan menarik tangannya kembali.
Zahra berbalik badan dengan mata menyipit. "Apa kau tidak merasakan nya kalau gadis itu adalah sumber aura itu?"
"Apa?" Reyhan tercengang. "Dia iblis? Maksudmu sama seperti Exorcist atau tidak?"
Zahra mengangguk, ia bersandar di dinding. "Kelihatannya ini benar-benar rumit, jika ternyata gate itu membuat manusia aku takutnya iblis penguasa gate itu jauh lebih kuat dari ketua Divisi"
Reyhan merenung merasa familiar mengingat wajah gadis, ya Reyhan ingat jika itu adalah primadona sekolah. Lumine Elisa.
"Zahra apa kamu kenal Lumine Elisa? Dia gadis yang aku tabrak tadi dan yang kau maksud aura iblis itu"
Dahi Zahra berkerut. "Tentu saja aku tahu"
Reyhan melanjutkan kata-katanya. "Menurutku dia tidak tahu jika dia adalah sumber aura iblis"
"Hah?" Zahra tertawa geli. "Jangan berpikir seolah-olah memang bukan. Faktanya energi itu berasal darinya"
Reyhan tersenyum. "Kalau begitu bagaimana dengan relik kalung di leher Lumine?"
"Relik?" Zahra mengerutkan kening. "Maksudmu relik atau jimat yang membuat Exorcist memiliki kartu truf atau bentuk perlindungan atau serangan?"
"Ya" angguk Reyhan. "Bagaimana kalau kita cari tahu besok?"
Zahra menggeleng. "Tidak bisa, orang-orang dari organisasi akan kemari dalam jumlah banyak. Jadi aku tidak punya waktu untuk permainan mu" Zahra berbalik pergi.
Reyhan mengangkat bahunya pasrah, sikap Zahra sangat sulit untui di taklukan. "Kalau begitu besok aku dan Asuma mencari iblis saja untuk di buru" Reyhan sudah lama tidak bertarung jadi dia perlu memanaskan ototnya.
Namun sudah ada organsiasi yang datang terlebih dahulu, Flower tidak sekolah hari ini karena untuk menghadiri rapat pembahasan Gate dan pasukan Exorcist Barat Timur, Asia.
Ketua divisi 207, Michael Sonfort duduk di kursi tengah sebagai pemimpin. "Kita akan mulai" Michael duduk tegak. "Tuan Alexandra apa kau sudah dapat kan info mata-mata Exorcist musuh?"
Alexandra atau Daimen Retina Alexandra Exorcist tangguh dan Senior Exorcist Barat Selatan berdiri dengan jubah putihnya. "Ketua, saya dapat 3 orang berkekuatan dan dua sebagai anggota terdaftar, satunya tidak"
Michael mengangguk lalu matanya melirik gadis yang tak pernah dia lihat karena wajahnya di tutupi tudung jubah. "Siapa dia?".
Daimen sontak segera berbicara. "Dia putriku, namanya Flower Resia Alexandra" ucapnya agak ragu.
Michael tertawa terbahak-bahak sampai ruangan jadi terdengar suara nya saja. "Maafkan aku tapi ini begitu lucu" Michael berdiri lalu berjalan ke arah Flower.
"Gadis manis memang sekuat apa dirimu sehingga yakin ikut untuk menuntaskan Gate hm?" Menyeringai.
Daimen hendak berkata namun Michael menahannya memberi isyarat dengan tangannya agar diam. Flower menghela nafas panjang. "Apa hanya itu saja energi mu?" Flower menarik tudung nya turun.
Senyum Michael hilang saat Flower menatapnya sinis. "Serbuk hipnotis"
Michael terkejut, saat dia berkedip tiba-tiba saja dia berdiri di tempat laut darah tak berujung. "Dimana ini?" Ketika Michael berjalan, kali Michael putus karena di makan ikan besar.
Di luar, Michael tampak terhipnotis bahkan menjerit kesakitan seperti kejadian yang dia alami di tempat itu. Para senior lainnya tak berani begitu tahu Flower punya kekuatan tak terbatas.
Saat Flower sudah puas, Flower menjentikan jarinya seketika hipnotis nya hilang.
Michael langsung sadar dan berdiri dengan tubuh berkeringat deras. "Sial" tubuhnya gemetar lalu duduk.
Daimen menggeleng dengan cepat agar lamunannya hilang. "Ketua, nama mereka adalah Daniel Raymond dari Asia, Zahra, dan Lumine Elisa"
Namun saat Flower mendengar nama Zahra dia langsung terbelalak. "Ayah, apa kamu bilang? Zahra?!" Sela Flower.
Daimen mengangguk, dia penasaran kenapa Zahra bereaksi seperti itu. Tapi Flower langsung berlari keluar dengan tergesa-gesa.
Semua orang di ruangan kebingungan karena rapat ini jadi tidak seperti rapat. Tapi Michael membuat keputusan dengan cepat. "Jumlah Exorcist yang kita bawa adalah 50, jumlah musuh belum diketahui jadi kita akan tunggu informasi lebih lanjut"
"Siap!"
Puluhan Exorcist senior yang tangguh termasuk Daimen keluar dari ruangan.
...
Exorcist di bagi menjadi 3 dan ada 2 umuk, yaitu Exorcist Binatang, Exorcist Elemen.
Satu lagi yang jarang ditemui adalah Exorcist Darah Dewa salah satu Exorcist terkuat.
Tapi selain darah Dewa ada Exorcist lainnya yang mendapat kekuatan dari keahlian dan berkah.
Yaitu Exorcist Hukum Alam dan Exorcist Tak terbatas.
Kekuatan Flower mencakup Exorcist Tak terbatas karena kekuatannya tak terbatas atau tak termasuk keahlian fisik.
....
Di rumah mewah keluarga Raymond, Daniel melangkah masuk ke rumah. Tapi saat Daniel menoleh ke sofa dia melihat satu orang berpakaian jubah gelap hitam.
"Lihat siapa yang datang, ketua divisi 56" Daniel mendekatinya.
Ketua divisi 56, seorang pria agak tua bernama Paylor mendengus. "Daniel, kau sudah menjadi Exorcist seniorm apa kau akan ikut misi Gate selanjutnya?"
Daniel mengusap hidungnya dengan senyum meremehkan. "Ketua jangan salah paham, saya tahu jika ada Gate di sekolah dan anak saya terkena pengaruhnya"
Paylor menarik nafas. "Tepat sekali Daniel, jika kau ikut aku mungkin aku akan senang" berdiri.
Daniel merenung sejenak. "Lantas apa yang kau butuhkan dariku ketua?"
Paylor Mengangkat bahu nya dan mengangguk, tiba-tiba Paylod melempar pisau buah. Dengan cepat Daniel melelehkan pisau itu dengan peluru api dari pistol api di tangannya.
"Ketua, saya masih bisa memakai pistol api dengan benar. Dan kau tahu keahlian assassin mu berkurang" ejeknya dengan sinis.
Paylor mendengus. "Ayolah aku tahu itu karena umurku sudah tua, karena itulah aku mengajak mu Daniel. Juga kita akan bertemu anggota organsiasi Exorcist Eropa"
Daniel langsung terdiam, Paylor tahu karena Daniel selalu menantikan pertarungan antara Exorcist. "Jadi Daniel, apa keputusanu" Paylor tersenyum licik.
"Ketua, sekolah besok akan libur Jumat jadi murid tidak akan datang. Begitu pula guru"
Paylor tertawa senang mendengarnya. "Keputusan yang bijak Daniel" Paylor menepuk bahu Daniel. "Kita akan membuat organisasi dari Eropa itu bahwa pusat Exorcist Asia nukan tempat mereka" tegasnya.
Daniel mengangguk. "Ya tentu saja"
...
Begitu Reyhan di halaman depan rumahnya, ia membaca notifikasi dari ponselnya jika besok libur sekolah. Reyhan menaikan alisnya karena mereka tidak beres karena tiba-tiba libur.
Asuna memerhatikan keraguan Reyhan. "Tuan ada apa? Apa tuan tidak akan masuk? Disana sepertinya juga ada tamu" menatap sepatu yang berbeda.
Reyhan mengangguk lalu memasukkan ponselnya ke saku lalu masuk je dalam. "Ibu aku sudah pul-
Kata-kata Reyhan terputus saat melihat pria muda duduk di sofa sedang minum teh. "Halo" sapanya gugup.
Reyhan ber-ekspresi datar ladena dia tak kenal pria itu. "Hm, halo juga" angguk nya datar. Asuna mengintip dari luar seketika matanya berkilat dingin.
Pria itu meneguk ludahnga berat karena merasakan tatapan Reyhan dan Asuna yang sangat mengerikan. "Anu apa anda anak dari nyonya Alisa? Saya Marcer Putra. Ibu anda sedang di dapur"
Reyhan menghela nafas. "Ya, kalau begitu saya permisi paman" Reyhan bersama Asuna naik ke lantai 2 dan masuk ke kamar.
Marcel memerhatikan pelayan cantik atau Asuna itu juga dengan baik masuk ke kamar dengan helaan nafas. " Dia luar biasa"
"Tuan Marcel maaf menunggu lama ini rencana saya tentang persiapannya investasi di perusahaan tambang milik bos anda" Alisa menyerahkan kertas yang di sampul amplop dokumen coklat.
Marcel mengangguk, dia membolak-balikkan lembar lalu menutup herkas dan menyimpannya. "Baiklah nyonyaz saya akan pergi sekarang. Ngomong-ngomong anak anda sudah pulang " menunjuk kamar dengan tersenyum.
Alisa menaikan alisnya. "Oh! Maaf, apa Reyhan melakukan sesuatu yang tidak sopan?"
Marcel tertawa pelan. "Tidak juga, menurutku dia hebat sampai membuatku iri" Marcel membicarakannya saat membawa Ashma masuk mamun apapun itu Marcel sudah salah paham.
Tapi kejadian aslinya di kamar, Reyhan bertanya pada sistem tempat untuk menjalankan latihan selanjutnya. "Sistem berikanlah aku misi lagi"
[Host akan mendapatkan nya, maka dari itu sistem tidak akan memberi misi lagi]
Reyhan menggaruk kepalanya karena bingung. "Aku sama sekali tak paham sistem"
[Jika host masih mau bertarung, maka host bisa latihan dengan Asuna]
"Asuna?" Reyhan berbalik menatap Asuna, Reyhan merasa usulan sistem juga bagus.
"Asuna apa kau mau berlatih denganku di balkon seperti biasa?" Tersenyum seringai.
Asuna mengangguk, matanya terpejam sejenak sebelum terbuka. "Melayani tuan adalah kewajiban saya sebagai budak"
Reyhan menggeleng. "Tidak kamu bukan budakku, kamu juga temanku. Kita akan latihan di tengah malam saat semua orang tidur"
Ketika tengah malam tiba...
Reyhan berdiri tanpa memakai kaos, hanya memakai celana olah raga menampilkan otot perutnya yang baru terbentuk.
Reyhan mempromosikan kedua tangan ya seperti pegulat. "Asuna, aku akan maju"
Asuna menarik nafas siap, Reyhan mengumpul energi di kedua kakinya.
Wush!, Reyhan bergerak cepat, kepalan tangan petir Reyhan hendak mengenai wajah Asuna.
"Ledakan petir!" Panggil Reyhan.
Namun Asuna bukanlah iblis lemah, Asuna memegang pergelangan Reyhan lalu Asuna menendang perut Reyhan denhan lutut.
"Uhak!" Reyhan memuntahkan seteguk air liur, matanya terbelalak tak menyangka Asuna sekuat ini reflek nya.
Tapi tak cukup sampai di situ saja, Asuna melempar Reyhan ke udara lalu melakukan tendangan tornado mengenai dada Reyhan.
"Ahk!" Reyhan jatuh terkena pembatas balkon sampai retak, Reyhan memegangi dadanya dengan meringis.
Sekilas Reyhan mengingat tentang pengakuan petir, Reyhan segera bangun lalu menatap ke dua tangannya
"Aku tahu harus apa"
Dahi Asuna berkerut, dia jadi waspada karena dia merasakan lonjakan energi dari tubuh Reyhan.
Reyhan tersenyum miring lalu tangannya menerima satu petir dari langit. "Woah!" Reyhan terkejut tapi tertawa senang.
"Lihat Asuna, aku bisa mengendalikan petir!" Reyhan menerima satu petir lagi di tangan kirinya.
Asuna berkedip-kedip beberapa kali lalu menarik nafas, Asuna langsung berlari zig-zag untuk mengacaukan kan pembacaan Reyhan.
Reyhan tersenyum seringai lalu menembakan petir ke setiap Asuna pergi. Namun itu semua terkena bayangan Asuna saja.
Reyhan hendak menerima petir ke-3 tapi Reyhan merasa itu batasnya. Reyhan jatuh berlutut di lantai memegangi dadanya yang sakit.
Asuna seketika berhenti berlari dan membantu Reyhan berdiri. "Sepertinya batas tuan adalah 2x petir, jika di paksa maka tuan bisa terluka dalam"
Reyhan menggigit bibirnya, dia tak suka kekalahan. "Aku masih saja lemah, kenapa aku tidak bisa jadi seperti kalian"
Asuna tak bisa berkata-kata, dia tahu jika Reyhan sedang sedih dan marah dengan perkembangan dirinya yang lambat.
Akan tetapi Reyhan tak menyadari jika ibunya, Alisa baru saja pulang mengurusi binis bersama Marcel.
Alisa terbelakak tak percaya lalu masuk ke rumah dan membanting pintu karena fakta ini.
Alisa bersandar di pintu dengan wajah menangis dan mata memerah. "Tidak, jangan kamu juga seorang Exorcist... Reyhan" isaknya.
Reyhan mendengar suara tutup pintu dengan keras dan berpikir apakah itu ibunya.
[Host sebaiknya temui ibu host]
Reyhan terdiam, ternyata benar jika ibunya melihat pertarungan nya dengan Asuna.
Dengan cepat Reyhan melepaskan diri dari Asuna lalu memakai bajunya dan berlari ke ruang tamu.
....
Reyhan menuruni tangga dengan perlahan. "Ibu" panggil nya lembut. Namun Alisa tidak menjawab atau menoleh. Alisa hanya terus menutup wajahnya dengan kedua lututnya.
Reyhan berjalan dan berhenti di depan Alisa. "Ibu aku-
"Menurutmu apa yang kamu lakukan Reyhan?!" Bentak Alisa dengan mata berair.
Reyhan terkejut sampai mundur beberapa langkah karena pertama kali dia di bentak karena marah. "I-ibu aku salah apa? Aku hanya berlatih jadi Exorcist"
Alisa tertawa tipis lalu tawanya hilang di ganti mata yang tajam dan eskpresi marah. "Apa kamu tau Exorcist itu apa?!"
Reyhan terbelakak, dia berdiri diam dengan kaku. Alisa mendekat lalu memegang bahu Reyhan.
"Reyhan, alasan kenapa ayahmu tiada bukanlah karena kecelakaan. Mereka organsiasi Exorcist dari Asia membuat ayahmu melawan Gate Level 20!" Bentak Alisa.
Mata Reyhan melebar dan dia lebih terkejut lagi, dadanya bergetar tak karuan mendengar ayahnya mati karena Gate level 20.
"Jadi maksud ibu marah padaku karena ibu takut aku meninggal seperti ayah?"
"Ya! Tolong Reyhan berhenti lah jadi Exorcist untuk ibumu"
Asuna uang mendengarnya itu langsung terdiam dan bersuara. "Nyonya, jika tuan saya berhenti jadi Exorcist maka saya tidak ada yang perlu saja pejuangkan" tegasnya.
Alisa menoleh Asuna. "Kau pikir kau tahu apa tentang Exorcist? Asuna?" Tanya Alisa dengan nada tajam. "Apa jangan-jangan kau juga Exorcist?"
Asuna mengepalkan tangannya tapi dia tetap berusaha sopan. "Nyonya apakah anda punya masalah pada Exorcist?"
Alisa berdiri dan berjalan cepat ke arah Asuna dengan dingin. Mata Reyhan melirik ibunya dan Asuna yang mungkin akan berkelahi. Reyhan tak pernah melihat ibunya semarah ini.
"Apa kau tahu perang Exorcist melawan iblis di 10 tahun lalu?" Alisa berdiri di depan Asuna tanpa rasa takut.
Asuna mendesis. "Itu perang terbesar ke-127 Exorcist, konon rumor mengatakan Gate level 20 muncul di China dan membuat puluh ribu orang tewas."
Alisa tersenyum tipis. "Kau tahu tapi kenapa kau mau jadi Exorcist Asuna?!"
"Ibu!" Reyhan menyela dengan tegas. Alisq melihat ke belakang. "Kenapa ibu melarang kami jadi Exorcist hanya takut pada iblis?"
"Aku ini kuat dan aku tidak akan mati semudah itu" sambung Reyhan dengan serius sampai menepuk dadanya.
Alisa diam memikirkan kata-kata itu terasa familiar di kehidupan nya dulu. Ya, itu adalah kata-kata dari ayah Reyhan yang mengatakan hal sama saat pergi berperang.
"Jadi ibu, aku mohon hangan larang aku atau hentikan aku" Reyhan memasang wajah memohon.
Alisa masih tak menjawab, akan tetapi tiba-tiba pintu terbuka dan Zahra dengan jubah organsiasi nya yang kotor, sobek, dan dia terluka dimana-mana masuk.
"Reyhan!"panggilnya dengan tergesa-gesa. "Tolong bantu aku!"
Ada apa Zahra?" Alis Reyhan berkerut.
Zahra mulai menceritakan nya. "Kami sebenernya akan melakukan misi pemberantasan Gate level 8. Tapi semuanya berubah total saat Devan dan Lumine datang! Apalagi musuh setara iblis level 10!"
Reyhan, Asuna, dan Alisa terkejut mendengar iblis level 10 ada disekolah dan melindungi Gate level 8.
[Misi peringatan darurat telah di picu! Host harus membunuh ular Crystal merah level 10! Hadiah ditingkatkan tergantung misi]
[Misi kedua telah di picu! Berantas Gate level 8 dan buat kedamaian di dunia!]
Reyhan mendengar misi dari Sistem lalu menatap Asuna setelah itu mengangguk siap. " Ibu, aku harus pergi" Reyhan berlari pergi di susul Asuna bersama Zahra.
Begitu mereka bertiga pergi, Alisa menatap ke pintu dengan mata menyipit. "Gate level 8 menyimpan dan membuat iblis berevolusi bisa sampai 4-7 level dengan mudah. Jika di jaga ular Crystal merah level 10, maka itu tidak wajar"
"Iblis ular Crystal merah adalah iblis kuat yang membuat senior saja kewalahan, jika level 10 maka takutnya juga bisa membuat ketua divisi kewalahan"
Alisa menjentikan jarinya lalu roh air gadis kecil muncul di sekitar Alisa.
"Alisa, kau sudah lama tak memanggilku, kenapa sekarang kau panggil aku?"
"Elena, bantu aku seperti dulu. Ada iblis level 10 yang harus kita berantas"
Elena terbang mengelilingi Alisa dengan semangat. "Level 10? Rumornya bahkan beberapa iblsi level 10 dapat melawan ketua divisi"
Alisa mengangguk serius lalu menatap Elena. "Ayo selamatkan mereka semua" Elena mengangguk sebagai jawaban lalu keduanya bergerak menuju sekolah.
Ketika Reyhan, Zahra, dan Asuna tiba di depan gerbang sekolah. Mereka sudah mencium bau darah pekat, aliran darah juga terlihat mengalir di rumput-rumput.
Reyhan masuk bersama mereka berdua, saat berhasil masuk. Reyhan terbelakak melihat begitu banyak Exorcist berjubah merah tewas tergeletak dengan tragis.
Tidak hanya itu saja, Reyhan dapat melihat Devan berubah jadi aneh, Lumine berubah seperti medusa.
"Benar-benar kacau" zeke muncul bersamaa orang-orang yang berhasil kabur setelah Zahra.
Mereka bersama-sama menatap ular Crystal merah dengan penuh kebencian.
....