"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Happy reading<<<<<<<<
"Maaf, maaf Sayang." ujar Aryan ingin membawa Imlie ke pelukannya.
"Nggak, jangan minta maaf Kak. Aku yang seharusnya minta maaf, karena sudah mengekang Kakak untuk menyayangi gadis yang gila kasih sayang ini Kak." ujar Imlie menahan sesak yang luar biasa.
Grep
"Shuuut, udah Sayang. Lo nggak gila kasih Sayang, Lo pantas mendapatkan semua itu." ujar Aryan mengusap bahu Imlie yang bergetar.
"Aku benci sama diri Aku sendiri. Aku benci kenapa harus mencintai Pria brengsek Kaya Kakak." lirih Imlie dan Aryan kembali memeluk Imlie dengan kuat.
"Ya, Gue memang brengsek.. Tapi, Pria brengsek ini adalah orang yang Lo cinta kan, hmm?" ujar Aryan sedikit bangga. Imlie tidak menjawab hanya diam saja.
"Yasudah, kita pulang yaaa.. Sekalian isi perut, cacingnya pasti pada udah demo." ujar Aryan mengelus kecil perutnya Imlie yang di tutupi baju seragamnya.
"Nggak, Aku mau pulang sama teman teman Aku Kak." ujar Imlie.
"Nggak, Lo harus pulang sama Gue. Gue masih mau habisin waktu Gue sama Lo." ujar Aryan.
"Tapi Aku nggak mau Kak. Aku punya urusan." ujar Imlie menolak.
"Lo nolak?" tanya Aryan dingin.
"Ya.. Kak, Aku minta maaf.. Tapi, Aku punya urusan." ujar Imlie.
"Urusan apa sampe Gue nggak boleh tau, hmm?" tanya Aryan.
"Kepo."
Brak
Dengan cepat Imlie mundur dan berlari ke arah pintu dan keluar dengan cepat. Saking cepatnya Aryan sampai tak bisa menggapai tubuh kecil itu.
"IMLIEEE, SIALAN." umpat Aryan dan berlari mengikuti Imlie.
"IMLIEEE." teriak Aryan tapi kaki gadis itu sangat cepat. Aryan baru berada di tangga ke 6 Imlie sudah sampai bawah.
"Aaakkh sialan gadis ini." umpat Aryan lagi. Sedangkan Imlie dengan cepat pergi menuju gerbang.
"Ya.. Mana tutup lagi gerbangnya." gumam Imlie dan menatap ke belakang sana Aryan sudah berlari menujunya.
"Kalau seperti ini Gue bisa ketangkap nih." gumam Imlie dan menatap ke atas gerbang.
"Ini jalan satu satunya." gumam Imlie dan mulai naik melewati gerbang besi itu yang tinggi keberanian Imlie membuat Aryan melotot takut gadisnya kenapa napa.
"Imlie, stopp!! Atau Gue bakal kurung Lo di apartemen Gue. IMLIE STOP." teriak Aryan menambah kecepatannya.
Saat sampai di depan gerbang Imlie sudah berada di ujung gerbang.
"Sini Sayang!! Oke, Gue nggak bakal maksa Lo buat pulang barang Gue. Tapi, turun ya, lompat nanti Gue tangkap Lo." ujar Aryan mengangkat kedua tangannya ke atas seperti ini membujuk anak kecil yang sedang ngambek saja.
"Nggak, Lo bohong." ujar Imlie.
"Nggak Sayang!! Sini, Gue takut Lo jatuh.. Sini Imlie lompat ke Gue." bujuk Aryan frustasi karena pagar ini sangatlah tinggi.
"IMLIEEE... SIALAN LO KERAS KEPALA BANGEET.. PAKAI CARA BAIK BAIK LO NGGAK MAU, LO SUKA DI KASARIN YA." ujar Aryan dan ikut naik tapi terlambat Imlie sudah sampai luar padahal Aryan baru saja naik.
"IMLIEEE, AWAS AJA YA LO." teriak Aryan saat Imlie berlari.
"Gadis keras kepala." desis Aryan menatap punggung Imlie yang berlari kencang.
"Hah, hah, hah, capek banget Gue." ujar Imlie pas sudah sampai di depan sahabat sahabatnya yang di suruh nunggu di depan mini market.
"Gimana aman kan Li?" tanya Emina.
"Aman, tapi tadi jantung Gue rasanya mau copot. Gue di kejar Aryan apalagi tadi Gue sempat manjat gerbang lagi." ujar Imlie dan membuat ketiga sahabatnya tertawa.
"Ck, senang banget Lo bertiga lihat penderitaan Gue. Ayo!! Cepat Kita cuuus sebelum Si Aryan datang." ujar Imlie dan naik ke motormya Wardah. Dan memeluk sahabatnya itu dari belakang.
"Li, Lo mau nggak. Kerja di perusahaan Papi Gue?" tanya Wardah.
"Perusahaan? Nggak deh War. Gue nggak punya skill buat masuk ke dunia kantoran War. Itu sebabnya Gue nggak minta tolong sama kalian. Karena Gue tau pasti ujung ujungnya di tawari kerja di perusahaaan. Ck, bisa bisa Gue buat pusing satu kantoran. Hahahahah." tawa Imlie dan Wardah.
"Yeee, ketawa pada nggak ngajak ngajak Lo berdua." ujar Emina.
"Iya nih, Aku kan jadi kepoooo sayang sayang." ujar Yoyo dengan gaya gemulainya dan membuat mereka tertawa.
Sesampainya di sebuah restoran yang cukup rame mereka langsung berhenti. Imlie menyuruh teman temannya untuk menunggunya sambil mereka memesan makanan di kafe tersebut.
"Semangat bestie semoga keterima ya." ujar para sahabatnya dan Imlie memberikan senyuman cerianya pada ketiga sahabatnya itu.
Kebetulan Imlie langsung bertanya pada managernya.
"Pak, maaf Saya mau nanya.
Apakah di sini ada lowongan pekerjaan? Di bagian apa saja Saya mau kok." ujar Imlie meyakinkan.
Ting
Bunyi notifikasi dari hpnya si manager.
Bos>>>>>>>
"Beri pekerjaan pada gadis itu."
Manager>>>>>
"Baik Tuan."
Setelah membaca pesan dari Bosnya si manager langsung menatap Imlie dengan senyuman cerah.
"Sepertinya dia orang spesial, sampai Tuan sendiri langsung turun tangan." batin si manager itu.
"Kebetulan sekalih.. Restoran Kami sedang butuh seorang karyawan tapi di bagian pelayan." ujar Si Manager itu.
"Beneran Pak?" tanya Imlie tak percaya.
Manager yang usianya seusia Papanya Imlie itu tersenyum hangat melihat semangat dari wajahnya Imlie ini.
"Ya." jawab Manager itu.
"Masyaallah.. Terimakasih banyak Pak. Semoga rezeki Bapak lancar dan restorannya tambah laris. Dan Bapak juga tambah kaya, Aaamin.." ujar Imlie seakan akan sudah akrab dengan sang manager.
"Aaamin...." ujar Si manager itu menahan tawa melihat semangatnya Imlie.
"Yasudah, Kamu pulang dulu.. Besok mulai kerja ya. Karena Kamu masih sekolah nanti datangnya setelah pulang sekolah saja." ujar si Manager.
"Baik Pak, siap.... Saya tidak akan menyia nyiakan pekerjaan ini Pak. Sekalih lagi terimakasih banyak Pak." ujar Imlie.
"Sama sama." jawab si manager.
Dan kemudian Imlie langsung menuju teman temannya yang duduk di pojokan. "Guys! Alhamdulillah Gue keterima." ujar Imlie.
"Aaa.. Selamat besti." ujar para temannya.
"Makasih." jawab Imlie. Kemudian mereka makan bersama setelah pesanan mereka datang.
"Nanti kalau Gue udah terima gaji. Gue ganti uang kalian ya." ujar Imlie tidak enak karena teman temannya yang membayar pesanannya.
"Ck. Plak.. Eh, botol yakult Lo pikir kita mau gitu di ganti uangnya? Kaya sama siap aja Lo.." ujar Emina dan mereka tertawa bersama sama. Imlie bersyukur menjadi bagian dari persahabatan ini.
"Ya Allah terimakasih Ya Allah.." batin Imlie bersyukur.
Mereka pun menaiki motor dan pergi dari tempat kerja baru Imlie itu.
"Makasih ya, udah antar Aku pulang.. Dan makasih buat makananya. Hehe." ujar Imlie.
"Masama bestie.. Nanti belajar ya rajin, jaga kesehatan, tidur yang nyenyak.....
"Dan mimpiin Emak Kami ini ya Nak." Yoyo memotong perkataan Emina.
"Ck, main nyempil nyempil aja Lo Anjelin.." ujar Emina.
"Sorry Bedak Emina." jawab Anjelina. Karena mereka berdua ini layaknya tom and jerry duka adu mulut.
"Kalau ada apa kabari kita ya. Gue tau Lo kuat." ujar Wardah membuka mulut akhirnya dia menatap Imlie dengan tatapan senduh.
"Jika waktunya udah pas. Gue bakal bawah Lo pergi jauh dari kepahitan di keluarga Lo ini Li." batin Wardah.