NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: KEMBALI KE DUNIA ATAS

Udara dingin menusuk kulit.

Bukan dinginnya dunia bawah yang lembab dan berat—tapi dinginnya malam di pegunungan, dingin yang membawa aroma pinus dan tanah basah. Aldric menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan oksigen segar yang sudah lama tidak ia hirup.

Di atas, bulan purnama bersinar terang. Bukan cahaya jamur biru-hijau yang pucat, tapi cahaya perak murni yang menerangi hutan di sekeliling mereka. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi, angin berdesir lembut di antara dedaunan. Di kejauhan, samar-samar, terlihat kerlap-kerlip lampu kota.

Nivalen.

Ibukota kerajaan. Rumahnya. Dan penjaranya Elara.

"Kita... kita benar-benar di atas?" Sera berbisik, seolah takut suaranya akan menghancurkan ilusi. Ia masih memeluk Ren erat, anak itu kini menatap bulan dengan mata terbelalak penuh takjub.

"Iya." Suara Aldric serak. "Kita kembali."

Sera menangis lagi—menangis haru, menangis lega. Ia berlutut di rerumputan, menyentuh tanah, menyentuh daun-daun kering, seolah ingin memastikan semuanya nyata. Ren menirukannya, tangannya yang mungil meraba rumput.

"Bu, ini... ini rumput?" tanyanya polos.

"Iya, Nak. Rumput sungguhan."

Aldric membiarkan mereka sejenak. Ia sendiri masih sulit percaya. Labirin Echo telah mengurasnya—fisik dan mental. Tapi di sini, di dunia atas, ia merasakan sesuatu yang aneh. Kekuatan iblis di dalamnya terasa... berbeda. Lebih lemah? Atau justru lebih liar?

Mungkin karena di dunia bawah, kegelapan adalah sumber kekuatannya. Di sini, cahaya bulan dan bintang mungkin mempengaruhinya.

"Kita harus segera pergi dari sini," katanya akhirnya. "Belum tahu di mana kita berada. Bisa jadi masih dekat dengan sarang monster, atau malah dekat dengan pos penjaga."

Sera mengangguk, menyeka air matanya. "Ke mana?"

Aldric menatap kerlap-kerlip di kejauhan. "Ke sana. Kota."

Perjalanan menembus hutan malam tidak mudah. Jalannya gelap dan berbatu, angin malam makin dingin menusuk tulang. Ren menggigil meski dipeluk ibunya. Pakaian mereka—compang-camping, kotor, penuh darah kering—sama sekali tidak cocok untuk cuaca dunia atas.

Aldric berjalan di depan, membuka jalan. Matanya yang setengah iblis tetap tajam dalam gelap. Ia menghindari dahan-dahan rendah, memastikan Sera dan Ren tidak tersandung.

Dari kejauhan, terdengar lolongan serigala. Sera tersentak, tapi Aldric hanya mengangkat tangan.

"Serigala biasa. Bukan monster."

"Kau yakin?"

"Aku bisa membedakannya." Aldric menatapnya. "Aku sudah terlalu sering mendengar lolongan monster."

Mereka terus berjalan. Satu jam. Dua jam. Ren mulai merintih lelah.

"Sebentar," kata Sera, berhenti. "Ren, Nak, jangan tidur dulu. Sebentar lagi kita sampai."

"Aku capek, Bu..." rengek Ren.

Aldric menoleh. Ia melihat anak itu pucat, bibirnya agak kebiruan. Dingin malam terlalu ekstrem untuk tubuh kecil yang sudah berminggu-minggu kekurangan gizi di dunia bawah.

"Biar aku gendong," katanya.

Sera menatapnya ragu. "Kau yakin?"

Aldric tidak menjawab, langsung mengambil Ren dari gendongan Sera. Anak itu ringan—terlalu ringan. Tulang-tulang kecilnya terasa rapuh di pelukannya.

Ren membuka mata, menatap Aldric. "Om..."

"Diam. Tidur."

Ren menurut. Dalam hitungan detik, anak itu tertidur di pelukan Aldric, kelelahan.

Sera menatap mereka berdua, matanya berkaca-kaca. "Kau... kau baik, Aldric."

"Aku tidak baik. Aku hanya tidak ingin anak itu mati kedinginan."

Sera tersenyum. "Itu definisi baik."

Aldric tidak membalas. Ia terus berjalan.

Menjelang subuh, mereka sampai di pinggiran kota.

Bukan Nivalen—masih terlalu jauh untuk itu. Tapi sebuah kota kecil bernama Millbrook, yang dikenali Aldric dari letaknya di kaki Pegunungan Kabut. Kota ini terkenal dengan penginapan dan pasar petaninya. Dan yang lebih penting, kota ini tidak terlalu ketat penjagaannya.

Aldric mengamati situasi dari balik pepohonan. Gerbang kota belum dibuka—masih terlalu pagi. Tapi di luar tembok, beberapa petani sudah bersiap masuk dengan gerobak sayuran.

"Kita butuh pakaian," bisiknya. "Dan uang."

"Kita tidak punya apa-apa."

Aldric berpikir. Di dunia bawah, ia belajar satu hal: tidak ada yang gratis. Kalau tidak punya uang, ambil. Tapi di dunia atas, ada aturan—aturan yang dulu ia junjung sebagai pangeran.

Sekarang ia bukan pangeran lagi.

"Kau tunggu di sini," katanya. "Aku akan cari sesuatu."

"Aldric—"

"Jangan kemana-mana. Aku kembali."

Ia menurunkan Ren yang masih tertidur ke pangkuan Sera, lalu melesat pergi. Bayangannya menyatu dengan kegelapan sebelum fajar.

Dua jam kemudian, Aldric kembali dengan sebuah bungkusan besar. Wajahnya datar, tapi ada noda darah di lengan bajunya.

Sera terkesiap. "Kau... kau membunuh seseorang?"

"Pencuri." Aldric meletakkan bungkusan itu. "Ia mencoba merampokku. Aku balik merampoknya."

"Kau—"

"Dia hidup. Hanya pingsan." Aldric membuka bungkusan. Di dalamnya ada beberapa potong pakaian—kasar, tapi bersih—sebotol air, roti kering, dan sekantong kecil koin tembaga.

Sera menatapnya campur aduk. Takjub, takut, dan lega.

"Pakai ini," kata Aldric, melemparkan pakaian untuk Sera dan Ren. "Kita harus terlihat seperti penduduk biasa."

Mereka berganti pakaian di balik semak-semak. Aldric memakai kemeja lusuh dan celana panjang—pakaian rakyat jelata yang dulu tak pernah ia sentuh. Tapi sekarang, pakaian ini terasa... membebaskan. Tanpa identitas, tanpa beban nama.

Ren terbangun saat ibunya mengganti bajunya. Anak itu mengucek mata, lalu melihat Aldric dengan baju baru.

"Om ganti baju?"

"Iya."

"Om jadi mirip petani."

Sera hampir tersedak menahan tawa. Aldric hanya mengangkat alis.

"Aku pernah jadi pangeran. Sekarang jadi petani. Hidup memang aneh."

Ren tidak mengerti, tapi ia tertawa—tawa pertama sejak mereka jatuh ke dunia bawah.

Mereka memasuki Millbrook saat matahari mulai naik.

Kota kecil itu ramai dengan aktivitas pagi. Pedagang membuka kios, anak-anak berlarian ke pasar, wanita-wanita mencuci pakaian di sungai. Kehidupan normal yang selama ini hanya mimpi bagi Sera dan Ren.

Sera menatap sekeliling dengan mata takjub bercampur haru. "Ini... ini nyata?"

"Nyata." Aldric membeli beberapa roti hangat dari pedagang dengan koin curian tadi. "Makan. Kita butuh tenaga."

Mereka duduk di pinggir sumur kota, menyantap roti dengan lahap. Ren makan seperti tidak pernah makan sebelumnya—mungkin memang begitu.

Saat mereka makan, suara ramai dari arah pasar menarik perhatian. Seorang pria naik ke atas peti kayu, membentangkan selebaran.

"Pengumuman! Pengumuman dari Istana Kerajaan!"

Orang-orang berkerumun. Aldric menajamkan pendengaran.

Pria itu berteriak, "Pernikahan Agung Pangeran Darius Veynheart dengan Janda Pangeran Elara Veynheart akan dilaksanakan enam hari lagi! Seluruh rakyat diundang menyaksikan prosesi di Alun-alun Nivalen!"

Sorak-sorai bergemuruh. Beberapa orang bersorak gembira, beberapa bertepuk tangan. Tapi Aldric melihat beberapa wajah yang diam—mungkin yang masih ingat pada kudeta sepuluh hari lalu, pada kematian keluarga kerajaan yang sebenarnya.

"Enam hari," gumam Sera. "Kita punya enam hari."

Aldric diam. Tangannya mengepal di samping tubuh.

Pria itu melanjutkan, "Raja Darius—maaf, Pangeran Darius—juga mengumumkan sayembara! Siapa pun yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan Pangeran Aldric Veynheart—hidup atau mati—akan mendapat hadiah seribu koin emas!"

Dunia Aldric berhenti.

Seribu koin emas untuk kepalanya.

Darius tahu ia mungkin masih hidup.

Atau hanya berjaga-jaga.

"Aldric..." bisik Sera panik. "Kita harus pergi dari sini."

Aldric mengangkat tangan, menyuruhnya diam. Ia terus mendengarkan.

"Pangeran Aldric diduga terlibat dalam kudeta yang menewaskan keluarga kerajaan!" lanjut pria itu. "Ia buronan kerajaan! Siapa pun yang melihatnya wajib melapor!"

Bohong. Kebohongan besar. Darius memutarbalikkan fakta, menjadikannya kambing hitam.

Sekarang Aldric bukan hanya orang mati—tapi buronan.

"Om jahat?" tanya Ren polos, mendengar semua itu.

Aldric menatap anak itu. "Tidak. Tapi orang lain mau membuatku terlihat jahat."

"Oh." Ren mengangguk-angguk, meskipun tidak mengerti. "Om baik. Om gendong Ren. Om beli roti."

Sera memeluk anaknya erat. Aldric hanya diam, memproses informasi.

Enam hari menuju pernikahan.

Hadiah untuk kepalanya.

Status buronan.

Ini rumit. Jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

Mereka menghabiskan sisa hari itu bersembunyi di gudang kosong dekat pasar. Aldric melarang Sera dan Ren keluar—terlalu berisiko. Ia sendiri pergi menyamar, mencari informasi lebih lanjut.

Ia belajar banyak:

Istana dijaga ketat. Penjaga bertambah dua kali lipat sejak kudeta.

Darius populer di kalangan rakyat. Ia dipuja sebagai penyelamat.

Elara tidak pernah terlihat keluar istana. Katanya sedang berkabung.

Paman Edric sekarang menjadi Penasihat Utama, tangan kanan Darius.

Banyak bangsawan yang mendukung kudeta diberi posisi penting.

The Shadow Council tidak pernah disebut—mereka bekerja di balik layar.

Sore harinya, Aldric kembali ke gudang dengan wajah tegang.

"Sulit," katanya pada Sera. "Masuk istana saja sudah mustahil. Apalagi menemui Elara."

Sera duduk di sampingnya. "Lalu?"

"Aku harus cari cara lain." Aldric berpikir keras. "Mungkin... menyusup sebagai pelayan. Atau ikut rombongan pengantar pernikahan."

"Tapi kau buronan. Wajahmu mungkin sudah dikenal."

Aldric diam. Itu masalahnya. Wajahnya—meski lebih kurus, lebih tajam—masih bisa dikenali oleh mereka yang pernah melihatnya.

"Kita butuh sekutu," katanya akhirnya. "Seseorang di dalam istana yang bisa membantu."

"Siapa?"

Aldric memikirkan semua orang yang mungkin masih setia padanya. Sir Kaelan—gurunya—tewas? Atau selamat? Ia tidak tahu. Para pelayan lama mungkin sudah diganti. Keluarga ibunya tinggal jauh di provinsi selatan, mungkin tidak tahu apa-apa.

Lalu ia ingat seseorang.

Mira.

Mira adalah pelayan pribadi ibunya. Wanita paruh baya yang setia, yang sering memberinya kue saat kecil, yang menangis di pemakaman ayahnya. Jika ia masih hidup, jika ia masih bekerja di istana...

"Mira," gumam Aldric. "Pelayan ibuku."

Sera mengerutkan dahi. "Kau yakin dia bisa dipercaya?"

"Dia lebih dari sekadar pelayan. Ibunya pernah menyelamatkan nyawanya." Aldric menatap Sera. "Aku harus menemuinya. Tapi untuk itu, aku harus masuk ke Nivalen."

"Kau bisa ditangkap."

"Risiko."

Sera diam. Lalu, "Aku ikut."

"Tidak. Kau jaga Ren di sini."

"Tapi—"

"Ini bukan tawar-menawar." Aldric menatapnya tegas. "Kau sudah cukup berkorban. Aku tidak mau Ren kehilangan ibunya."

Sera ingin membantah, tapi dilihatnya ekspresi Aldric—keras, tak bisa digoyahkan—dan ia hanya bisa mengangguk pasrah.

Malam itu, saat Ren tidur, Aldric bersiap pergi.

"Kau akan kembali?" tanya Sera cemas.

"Iya."

"Janji?"

Aldric menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ia tersenyum—senyum kecil, nyaris tak terlihat.

"Aku janji."

Ia melesat pergi, meninggalkan Sera yang menatap bayangnya menghilang di kegelapan.

Perjalanan ke Nivalen memakan waktu dua hari dengan berjalan kaki. Aldric mempersingkatnya dengan berlari—kekuatan setengah iblis membuatnya bisa bergerak lebih cepat dari manusia biasa. Ia melewati hutan, bukit, dan ladang, menghindari jalan utama yang banyak dilalui patroli.

Sesekali ia berhenti untuk minum di sungai, memakan buah liar, lalu melanjutkan perjalanan.

Di malam kedua, ia tiba di pinggiran Nivalen.

Kota itu terbentang di hadapannya—megah, ramai, dengan istana menjulang di tengahnya. Lampu-lampu minyak menerangi jalan-jalan utama. Dari kejauhan, ia bisa melihat persiapan pernikahan: tenda-tenda didirikan di alun-alun, umbul-umbul warna emas dan merah terpasang di sepanjang jalan.

Pernikahan untuk Darius dan Elara.

Pernikahan untuk pengkhianat dan korbannya.

Aldric mengepalkan tangan. Urat hitam di tangannya berdenyut kencang.

Sebentar lagi, Elara. Aku datang.

Ia menyusup ke kota melalui lorong-lorong belakang yang dikenalnya sejak kecil. Dulu, sebagai pangeran, ia sering kabur ke pasar bersama pengawal. Sekarang, ingatan itu berguna.

Istana tampak di depannya—gerbang besar, para penjaga berjaga. Tak mungkin masuk lewat sana.

Tapi ada pintu belakang. Pintu pelayan, dekat dapur. Dulu Mira sering mengajaknya masuk lewat situ saat ia pulang telat.

Ia harus menunggu waktu yang tepat.

Aldric bersembunyi di bayang-bayang sebuah gudang di seberang tembok istana. Dari sini, ia bisa melihat pintu pelayan. Menjelang subuh, saat penjaga paling lelah, pintu itu mungkin terbuka untuk pengiriman roti.

Ia menunggu. Satu jam. Dua jam.

Lalu, seperti dugaan, pintu itu terbuka. Seorang pria tua dengan gerobak roti masuk. Para penjaga hanya melirik sekilas—mereka sudah hafal.

Aldric bergerak. Ia melesat cepat, menyelinap di belakang gerobak saat pintu mulai menutup.

Masuk.

Ia di dalam.

Dinding-dinding batu istana menyambutnya—dingin, akrab, tapi asing. Di sini ia lahir, di sini keluarganya mati. Aroma dapur bercampur dengan aroma bunga dari taman. Suara pelayan sibuk di kejauhan.

Aldric merayap di lorong-lorong belakang, menghindari area ramai. Kamar Mira berada di sayap barat, dekat tempat penyimpanan linen.

Tiba-tiba, langkah kaki mendekat.

Aldric menyelinap ke balik tirai beludru. Seorang pelayan lewat dengan seprai bersih, tanpa melihat ke kiri-kanan.

Setelah aman, ia melanjutkan.

Akhirnya, ia tiba di depan pintu kayu sederhana—kamar Mira.

Ia mengetuk pelan. Tiga kali cepat, dua kali lambat. Kode yang dulu mereka gunakan saat kecil.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

Pintu terbuka sedikit. Sepasang mata wanita paruh baya mengintip.

Mata itu membelalak.

"Al—" Suara itu tercekik.

Aldric menempelkan jari ke bibir. "Diam. Bisa masuk?"

Pintu terbuka lebar. Mira menariknya masuk, lalu menutup pintu rapat.

Wanita itu menatapnya dengan mata basah, mulut terbuka, tidak percaya.

"Kau... kau hidup? Mereka bilang kau mati, mereka bilang kau—" Ia terisak, memeluk Aldric erat. "Pangeran kecilku... kau hidup..."

Aldric diam, membiarkan wanita itu menangis di dadanya.

Setelah beberapa saat, Mira melepaskan pelukan, menyeka air mata.

"Kau harus pergi! Ini tempat berbahaya! Darius—"

"Aku tahu." Aldric menatapnya serius. "Aku butuh bantuanmu, Mira."

"Apa pun. Apa pun untukmu, Pangeran."

Aldric menarik napas. "Aku harus bertemu Elara."

Mira terdiam. Wajahnya berubah.

"Elara?"

"Iya. Aku tahu semuanya. Suratnya, ancaman Darius. Dia korban, bukan pengkhianat."

Mira menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia menggeleng.

"Kau terlambat, Pangeran."

Apa?

"Mereka mempercepat pernikahan. Besok malam."

Dunia Aldric runtuh.

"Besok? Tapi pengumuman tadi bilang enam hari—"

"Bohong." Mira menggenggam tangannya. "Itu untuk mengelabui rakyat. Pernikahan sebenarnya besok malam, di kapel pribadi istana. Hanya keluarga dan bangsawan terdekat."

Aldric terpaku.

Besok malam.

Ia hanya punya waktu sehari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!