Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
***
Alana masuk ke dalam kamar usai memberikan seragam sekolah pada Kevin. Bertepatan Rayan yang keluar dari walk in closet. Suaminya itu sudah menggunakan kemeja berwarna navi dengan bawahan celana hitam. Alana bahkan belum menyiapkan pakaian suaminya itu.
"Sudah?" Alana mengangguk kepala.
"Maaf mas aku nggak sempat siapin baju kamu." Ucap Alana
"Its okay. Nggak masalah. Kevin biar saya yang antar ke sekolah." Alana mengangguk. Rayan mendekat ke arah meja rias , lantas merapikan rambutnya di sana. Sementara Alana memilih merapikan tempat tidur.
Hening
Suasana di kamar itu begitu sunyi.
Alana masih merasa sangat canggung dengan aksi sebelumnya.
Wanita itu tersentak kala ia mundur ternyata Rayan ada di belakang tubuhnya.
Sejak kapan?
Sungguh jantung nya kian berdebar tak menentu . Di tambah Rayan yang kembali sedekat ini bahkan lengannya sudah berada di kedua sisi pinggangnya.
Pria itu memeluk nya.
Rayan dengan santai meletakkan dagu nya di pundak Alana.
Aroma segar Rayan masuk ke dalam indra penciumannya. Alana jadi minder. Dia belum mandi.
"Mas..."
"Heum..." Sahut Rayan bergumam saja, pria menghirup aroma tubuh Alans yang membuat candu.
Bagaimana saat tidur, Alana tanpa sengaja memeluknya . Awalnya Rayan tentu terkejut , bahkan ia sempat terbangun. Namun kembali tidur dengan membalas pelukan Alana.
Sudah sangat lama dirinya tidak menyentuh wanita, dan lagi halal baginya Alana untuk dia sentuh.
"Aku belum mandi. " Cicit nya pelan dengan malu. Rayan mengulum bibirnya ke dalam.
"Masih wangi. " Kata Rayan kian mengendus ceruk leher Alana , sampai wanita itu menggigit bibirnya guna menahan suara nya. Untungnya tadi dia sudah membasu wajahnya. Namun dia belom sikat gigi. Seketika ia mengatupkan bibirnya dengan rapat..
Nada dering dari ponsel Rayan terdengar dari atas nakas.
Pria itu perlahan melepas dekapannya membuat Alana bernafas lega. Dia langsung kabur ke arah kamar mandi membuat Rayan melongo.
"Aku belom sikat gigi mas, pasti bau kan." Kata Alana berhenti di depan pintu kamar mandi sebentar. Dia takut sang suami salah paham.
Usai itu dia segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu jawaban sang suami.
Rayan mengulum senyum nya mendengar itu. Sambil geleng kepala singkat.
Dia mendekat ke arah nakas di mana ponselnya berada. Ajril memanggil, meminta nya untuk bertemu karena ada yang ingin di bahas.
Rayan lantas pamit lebih dulu pada Alana.
***
Alana memenyiapkan brownis yang ia buat. Malam ini dia mengundang kedua sahabat nya dan rekan sang suami.
Tadi pagi Alana sudah membahas dengan sang suami. Kebetulan malam ini malam minggu, untuk itu Rayan mengusulkan untuk malam ini saja mengundang teman mereka.
Dengan cekatan Alana meletakan brownis itu pada wadahnya, usai memotong beberapa bagian yang sama rata. Suara derap langkah membuat Alana mendongak.
Rayan melangkah ke arahnya.
"Sudah jadi?" Tanya nya. Aroma wangi dari brownis yang di buat Alana tercium jelas.
"Sudah mas, coba ini." Alana menyuapi sepotong kecil brownis pada sang suami dengan spontan. Tentu saja Rayan tak menyia nyiakan kesempatan. Dia langsung membuka mulutnya dan menikmati brownis buatan Alana.
Alana sedikit mendongak sambil menatap Rayan yang mengunyah. Dia harap harap cemas, takut tidak enak.
"Enak sekali."
"Serius? Beneran? " Cecar Alana. Yang jujur loh mereview nya." Tutur Alana.
"Loh jujur sayang."
Blush
Semburat warna merah muda lantas tercetak jelas pada wajah Alana saat ini.
Mendengar kata 'sayang' dengan suara Rayan yang melantun begitu sangat lembut membuat Alana salah tingkah sendiri.
Haisssh
Kenapa lah Rayan beberapa hari ini sering sekali berbuat manis bahkan sering melakukan skinship, yang membuat tubuh Alana selalu gugup.
Alana langsung kembali melanjutkan aktivitas nya, untuk mengurangi rasa gugup yang menyerang.
"Sahabat kamu sama pasangannya?" Tanya Rayan sambil memasukan satu tangan nya di saku celana.
"Iya mas, tapi hanya Lauren yang nggak. Dia masih sendiri." Rayan mengangguk kepala. "Rekan mas siapa aja?." Tanya balik Alana, melirik sekilas.
"Dio, Ajril, Bobi sama Tomi. " Alana mangut mangut.
"Dad, mom. " Alana dan Rayan sama sama mendongak bersama dan menoleh ke arah Kevin yang mendekat.
"Kenapa boy?" Tanya Rayan langsung.
"Di depan sudah ada orang catering " Beritahu nya.
"Oh sudah datang. " Alana langsung melepas sarung tangan plastik. Lalu melangkah ke arah luar. "Kalau mau cicip brownis, situ sama daddy. " Kata Alana yang di balas anggukan kepala oleh Kevin.
Masih ada dua jam dari undangan makan malam bersama. Makanan sudah siap.
Rayan memang meminta Alana untuk memesan catering saja. Dari pada sang istri harus kerepotan untuk memasak.
Alana keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri. Bersamaan Rayan yang masuk ke dalam kamar.
"Mas kamu mau mandi sekarang ?" Tanya Alana.
Rayan yang sedang menatap Alana dalam balutan bathrobe itu menggeleng kepala.
"Nanti aja. " Alana mengangguk lantas dia cepat cepat masuk ke dalam walk in closet. Sebelum Rayan berulah kembali dengan tiba tiba.
Beberapa saat kemudian Alana keluar dengan menggunakan dress dengan motif bunga berwarna peach. Sangat cantik, meskipun kepala Alana masih terdapat handuk yang meliliti rambutnya.
Wanita itu memilih ke arah meja rias. Rayan yang saat ini posisi baring di sofa langsung mengubah posisi menjadi duduk.
Lantas ia berdiri untuk melangkah mendekati sang istri di sana.
"Biar saya bantu keringkan rambutmu." Kata nya, seraya merebut hair dryer di tangan Alana.
Alana mengangguk saja. Rayan lantas membuka handuk di kepala Alana, membuat rambut basah Alana terurai.
Rayan menyalakan hair dryer nya, dan mulai dengan aktivitasnya. Hening tak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya suara dari hair dryer yang terdengar nyaring.
Alana menatap wajah Rayan yang lihai mengeringkan rambut nya. Seketika Alana berpikir jika hal itu pernah di lakukan Rayan juga pada mantan istrinya dulu.
Terlebih mantan istrinya orang yang di cintai Rayan dulu. Pasti wanita itu beruntung saat berumah tangga dengan Rayan . Karena perlakuan manis suaminya itu.
Karena bersama nya saja Rayan memperlakukan nya semanis ini. Jarang loh pria mau turun tangan membantu wanita nya seperti ini. Kebanyakan pria abai dengan hal itu. Dan lagi belum ada rasa di antara mereka.
Bagaimana mana jika mereka saling mencintai, apa Rayan lebih ugal ugalan mengekspresikan perasaannya.
"Mas." Panggil Alana.
"Hmm." Sahut nya bergumam saja.
Wajah serius Rayan benar benar terlihat sangat tampan di mata Alana.
"Dulu sama mantan istri mas, sering melakukan ini? " Gerakan tangan Rayan terhenti. Pria itu lantas menatap Alana dari pantulan cermin kaca.
Alana gugup, sekaligus takut suaminya itu marah lantara membahas mantan istrinya. Salah nya juga tak bisa menahan rasa penasaran nya. Ia mengikuti kata otak nya.
Wanita itu mengigit bibir bawahnya, untuk menetralisir kan perasaan nya saat ini
"Maaf mas, nggak usah di jawab. Aku hanya penasaran. Soalnya mas begitu telaten." Sahut Alana dengan jujur.
Rayan kembali melanjutkan aktivitas nya.
Alana mendesah kecewa. Sebab Rayan tak mau menjawab nya.
Huuffhhhh....
"Kamu yang pertama. " Kata Rayan membuat Alana langsung menatap kembali ke arah Rayan melalui pantulan kaca. Dan sialnya pria itu sedang menatap nya. Pandangan mereka bertemu sesaat.
Alana masih mencerna, namun dahi nya nampak jelas tercetak berkerut. Rayan mematikan hair dryer nya sejenak dan kembali bersuara.
"Kamu orang yang pertama, saya perlakukan seperti ini Alana."
Deg