Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sinar matahari pagi menembus celah gorden apartemenku, namun kehangatannya tidak sedikit pun menyentuh hatiku yang masih membeku. Aku berdiri di depan cermin, mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu gelap. Riasan wajahku hari ini sengaja dibuat lebih tegas—lipstik merah marun yang memberikan kesan berwibawa sekaligus menjaga jarak.
Sebelum melangkah keluar, aku meraih ponsel di meja makan. Ada satu hal yang harus kuselesaikan sebelum aku menginjakkan kaki di kantor.
Aku menekan kontak "Ayah". Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara berat yang familier menyahut di seberang sana.
"Halo, Rania? Sudah baca dokumen yang diantar Rendra semalam? Ayah pikir itu sangat penting untuk—"
"Yah," potongku cepat, suaraku datar namun penuh penekanan. "Tolong berhenti."
Hening sejenak di seberang sana. "Maksudmu apa, Ran? Ayah hanya ingin membantumu. Rendra itu anak yang baik, dia sangat peduli padamu."
"Rania menghargai niat Ayah, tapi Rania minta dengan sangat: jangan pernah lagi menyerahkan dokumen apa pun lewat Rendra. Dan berhenti memberinya jalan untuk masuk ke kehidupan pribadi Rania, apalagi sampai memberitahu alamat apartemen ini," ucapku, jemariku mencengkeram pinggiran meja.
"Rania, sampai kapan kamu mau menutup diri? Kamu sudah sukses, tapi kamu sendirian. Rendra bisa menjagamu—"
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Yah. Aku pindah ke apartemen ini karena ingin punya ruang privasi yang aman. Kalau Ayah terus membiarkan orang asing—siapa pun itu—mengetuk pintuku malam-malam, maka apartemen ini bukan lagi tempat yang aman buatku."
Suaraku sedikit bergetar, bukan karena sedih, tapi karena rasa lelah yang memuncak. "Rania kerja keras agar tidak perlu bergantung pada laki-laki mana pun. Jadi, tolong hargai itu. Kalau ada dokumen kantor, kirim lewat kurir atau asisten Ayah. Bukan Rendra."
"Ran, kamu masih trauma karena anak itu? Arlan sudah masa lalu—"
"Ini bukan soal Arlan, Yah. Ini soal aku yang ingin tenang," dustaku. Aku langsung mematikan sambungan telepon sebelum Ayah sempat mendebat lagi. Aku tahu Ayah kecewa, tapi aku lebih kecewa pada diriku sendiri jika aku membiarkan celah sekecil apa pun untuk disakiti lagi.
Aku tiba di kantor dengan kepala tegak. Saat pintu lift terbuka di lantai 15, suasana mendadak senyap. Beberapa staf yang sedang mengobrol langsung kembali ke meja mereka. Gelar "Ratu Es" memang efektif untuk menjaga wibawa.
Langkahku terhenti tepat di depan meja Arlan. Dia sudah duduk di sana, tampak rapi namun matanya terlihat kuyu, seolah dia juga tidak bisa tidur semalam.
"Rania, selamat pagi," sapanya, mencoba tersenyum tipis.
Aku tidak membalas sapaannya. Aku meletakkan dokumen yang diantar Rendra semalam di atas mejanya dengan bunyi brak yang cukup keras hingga membuat beberapa orang menoleh.
"Periksa lagi data di halaman empat. Ada kesalahan input dari tim Jogja. Saya mau revisinya ada di meja saya sebelum jam makan siang," ucapku tanpa ekspresi.
Arlan menatap dokumen itu, lalu menatapku. "Ran, soal semalam di lobi... Siska cuma—"
"Saya tidak menggajimu untuk menjelaskan kehidupan pribadimu, Arlan," potongku tajam, mataku menatapnya lurus. "Di sini, kamu adalah bawahanku. Fokus pada pekerjaan atau silakan angkat kaki dari tim saya. Paham?"
Arlan terdiam, tenggorokannya tampak naik turun saat dia menelan ludah. Dia hanya bisa mengangguk pelan. "Paham, Bu Rania."
Aku berbalik menuju ruanganku, namun langkahku kembali tertahan saat melihat sebuah buket bunga mawar putih besar tergeletak di atas meja sekretarisku dengan kartu ucapan bertuliskan nama Rendra.
Rasa mual itu kembali menyerang. Rasanya seperti dikepung dari dua sisi; masa lalu yang busuk dan masa depan yang dipaksakan.
Aku meraih buket bunga itu, berjalan menuju tempat sampah besar di sudut ruangan, dan membuangnya tanpa ragu di depan mata rekan-rekan kantorku—termasuk Arlan yang memperhatikanku dengan tatapan nanar.
Tembok ini tidak boleh retak. Tidak oleh mawar, tidak juga oleh permintaan maaf.