NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TRAGEDI DI TIKUNGAN MAUT

"Ger, lo punya nomor Arini?" tanya Rian tiba-tiba. Matanya masih locked ke arah rumah di seberang, memantau setiap pergerakan di teras Siska dengan intensitas yang bisa bikin orang salah paham.

Gery menggeleng santai sambil ngunyah cemilan. "Enggak, gue nggak punya. Gue kan nggak se-circle itu sama dia. Coba lo minta Siska deh, dia kan bestie-nya, pasti punya."

"Ya sudah, nanti gue minta sama Siska kalau kerja kelompok mereka sudah selesai," gumam Rian, mencoba meredam gejolak di dadanya.

Namun, belum sempat Rian narik napas lega, pintu rumah Siska terbuka. Arini keluar, tapi dia nggak sendiri.

Di sampingnya ada Yusa yang masang tampang heroic. Dengan santainya, Yusa naik ke motornya, dan Arini—bidadari yang baru aja Rian kasih buah-buahan—duduk di jok belakang, ngebonceng cowok itu.

Mereka melesat pergi, ninggalin sisa-sisa tawa yang kedengeran kayak ejekan di telinga Rian.

Rian terdiam kaku. Dunianya mendadak abu-abu. Gery yang liat perubahan drastis di muka sahabatnya langsung nepuk bahu Rian. "Yan, liatnya biasa aja kali, jangan sampai segitunya. Cemburu ya lo? Fix sih ini cemburu!"

"Nggak, biasa aja. Lagian Arini nggak bakal menyukai dia. Gue tau itu," jawab Rian datar, berusaha tetep cool meskipun hatinya lagi kebakaran.

Gery ketawa ngakak, ngeremehin insting peramal Rian. "Darimana lo tahu kalau Arini nggak bakal suka? Kalau ternyata Arini nyaman gimana? Nanti cinta lo bertepuk sebelah tangan dong! Mampus lo, haha!"

"Ah, sudah! Bacot lo, Ger! Gue mau samperin Siska!" potong Rian kesal. Dia nggak butuh asupan kata-kata negatif sekarang.

"Heh, Yan! Belum juga kita mabar malah mau cabut! Yan! Woi!" seru Gery, tapi Rian udah lari nyeberang jalan nuju rumah Siska kayak orang kesetanan.

Tepat saat Siska mau masuk rumah, Rian manggil dengan napas yang rada ngos-ngosan. "Siska! Tunggu dulu!"

Siska menoleh, mukanya bener-bener heran. "Rian? Ngapain lo ke sini? Bukannya lo lagi setelan di-skors ya?"

"Gue mau minta nomor Arini. Lo ada, kan? Kasih ke gue sekarang," paksa Rian nggak sabar.

Siska mencibir, matanya menyelidik. "Ye... bau-bau modus nih. Ya ada sih, tapi buat apa? Lo mau ngeramal dia lewat WA?"

"Sudah, jangan banyak tanya! Cepet, gue minta nomor Arini!" Rian nyodorin ponselnya dengan wajah yang nggak bisa diajak bercanda.

Siska akhirnya luluh. "Ya sudah. Tapi jangan bilang-bilang kalau dapet dari gue ya, males gue jadi kompor. Nih, udah gue ketik."

"Makasih ya!" Rian langsung balik kanan, lari balik ke rumah Gery tanpa nunggu balasan Siska.

"Gimana, dapet Yan? Gercep juga lo," tanya Gery pas Rian sampai.

"Dapet dong," jawab Rian singkat, nyoba nornalin ekspresinya yang tadinya berantakan.

"Haha! Mantap! Terus lo mau ngapain sekarang?" Gery nepuk punggung Rian.

"Gue cabut dulu. Besok gue ke sekolah pas jam istirahat. Gue tunggu di lapangan," ujar Rian sambil masang helm.

Gery melongo. "Lho, lo kan lagi di-skors, Yan? Entar ketauan Kepsek bisa berabe!"

"Gue di-skors nggak boleh ikut pelajaran, bukan nggak boleh ke sekolah. Lagian ada sesuatu yang mau gue omongin langsung sama Arini," balas Rian.

"Telepon lah, kan sudah ada nomornya? Apa gunanya teknologi?" goda Gery lagi.

"Enggak, kegampangan. Gue mau sat-set langsung ketemu," jawab Rian yang langsung disambut sorakan "Ciaelah, sat-set!" dari Gery.

Rian nyalain mesin motornya dan narik gas dalam-dalam. Kecepatan itu seolah mewakili rasa amarah dan cemburu yang campur aduk di dadanya setelah liat Arini dibonceng Yusa tadi. Dia ngerasa butuh pelampiasan.

Rian ngerem motornya mendadak di pinggir jalan yang sepi. Napasnya masih buru-buru. Tanpa buang waktu, dia cari nomor Arini dan nekan tombol panggil.

Di tempat lain, Arini yang baru aja turun dari motor Yusa ngerasa ponselnya bergetar. Dia liat deretan angka asing. "Nomor siapa nih? Enggak ada namanya," gumam Arini. Dia ragu, tapi akhirnya geser tombol hijau. "Halo?"

"Halo, Rin. Ini aku, Rian." Suara berat di seberang sana bikin jantung Arini drop seketika.

"Rian?" Arini terkejut. "Dapat nomor aku dari mana?"

"Kamu enggak perlu tahu aku dapat nomor kamu dari mana," jawab Rian pendek, suaranya kedengeran nahan emosi.

Arini terkekeh kecil, nyoba nyairin suasana yang kerasa kaku. "Dari penerawangan kamu lagi?"

"Anggap saja begitu."

"Rian, Rian... kamu itu aneh, tapi lucu," ucap Arini sambil senyum tanpa sadar, ngerasa surprise dapet telepon dari cowok itu.

Suara Rian mendadak berubah jadi serius banget. "Rin, aku mau kasih tahu satu hal sama kamu."

"Apa?"

"Penerawanganku bilang... kalau Yusa itu suka sama kamu."

Arini tertegun sebentar, terus tawa kecilnya balik lagi. "Hah? Yusa suka sama aku? Enggak mungkinlah, aku sama dia cuma teman sekelas."

"Seperti aku suka sama kamu juga... apa itu hal yang enggak mungkin?"

Deg. Pertanyaan Rian telak banget. Arini diem, suaranya mendadak hilang. "Kamu... beneran suka aku?"

"Aku berkali-kali mengatakan hal itu, bukan? Dan aku sudah pernah meramal tentang masa depan kita berdua. Kamu ingat? Aku bilang kamu akan naik di atas motorku, dan itu semua benar, kan? Penerawanganku nggak pernah meleset, Rin."

Arini nggigit bibir bawahnya, bingung mau respon apa. "Aku... aku masih belum yakin."

"Oh ya, aku tadi melihatmu berboncengan dengan Yusa. Kamu kerja kelompok di rumah Siska, kan?" tanya Rian, nada suaranya makin tajam.

"Yusa memang ajak bareng, tapi... dari mana kamu tahu?" Arini ngerasa kayak lagi diawasi.

Rian menghela napas panjang. "Jujur Rin, aku bener-bener nggak stabil melihat itu tadi."

"Maksud kamu apa, Rian?" tanya Arini bingung. "Apa?"

Tapi, belum sempat Arini dapet jawaban, terdengar suara tiiit... tiiit... Telepon diputus sepihak.

Arini matung di depan rumahnya. "Maksud Rian apa ya tadi? Nggak stabil?" Dia natap layar ponselnya dengan wajah kesel sekaligus cemas. Ada rasa nggak enak yang mulai ngerayap di hatinya.

Sementara itu, setelah matiin telepon, Rian kembali pacu motornya. Emosi dan rasa cemburu ngebakar dadanya, bikin dia nggak sadar terus narik gas sedalam-dalamnya. Suara deru mesin Ninja-nya ngebela kesunyian sore, seolah jadi teriakan amarah di kepalanya.

Pandangan Rian sedikit kabur karena emosi yang meluap. Di sebuah tikungan tajam, sebuah truk besar mendadak muncul dari arah berlawanan. Lampu depannya menyilaukan mata Rian.

BRAKKKK!

Suara benturan logam dan aspal yang mengerikan terdengar. Motor Rian hancur berantakan, dan tubuhnya terpental beberapa meter ke aspal panas. Kegelapan perlahan mulai menyelimuti pandangannya. Di detik terakhir sebelum hilang kesadaran, wajah Arini adalah hal terakhir yang dia lihat di pikirannya.

Di teras rumahnya, Arini mendadak gelisah parah. Dia megang dadanya yang kerasa berdebar nggak karuan. "Kenapa ya perasaan aku tiba-tiba nggak enak gini?" gumam Arini cemas. Bayangan Rian yang tadi telepon terus menghantui. "Apa aku telepon balik saja? Ah, tapi jangan deh... gengsi."

Arini nggak tahu kalau di tempat lain, suara sirine ambulans lagi meraung-raung. Di dalem ambulans, petugas medis berjuang nahan pendarahan hebat di tubuh Rian. Dalam keadaan setengah sadar, Rian ngerang kesakitan.

"Dik, tahan ya! Tulis nomor orang tua kamu di sini, kami harus segera menghubungi mereka," pinta petugas.

Dengan sisa tenaga, Rian ngerakin tangannya yang gemeteran buat nulis nomor ibunya di secarik kertas sebelum akhirnya dia bener-bener blackout.

Beberapa menit kemudian, telepon di rumah Rian bunyi. Ibu Rian, yang emang udah punya firasat nggak enak sejak tadi, langsung angkat.

"Halo? Permisi, apa benar ini dengan orang tua dari Rian Wijaya? Anak Ibu saat ini mengalami kecelakaan dan pendarahan hebat. Mohon Ibu segera ke Rumah Sakit Medika Karya."

Wajah Ibu Rian mendadak pucat pasi. Ponsel di tangannya hampir jatuh. "Apa?! Anak saya kecelakaan?!" Dia langsung lemas dan menangis histeris, dunianya seolah runtuh denger kabar putra tunggalnya dalam kondisi kritis.

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!