“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 4 - CH 20 : Cuma Parno
Pukul 22.45 WIB. Dapur Bara's Kitchen terasa lebih dingin dari biasanya.
Di atas meja stainless yang memantulkan cahaya lampu neon, teronggok sebuah mahakarya yang tidak wajar. Sebuah kue Black Forest tiga tingkat berdiameter tiga puluh sentimeter, berdiri kokoh layaknya tugu peringatan. Tidak ada ceri merah menyala. Tidak ada serutan cokelat susu yang estetik. Tidak ada krim putih.
Seluruh permukaan kue itu dilapisi ganache hitam legam yang mengkilap. Bara sengaja menggunakan black cocoa powder kualitas premium yang biasa dipakai untuk membuat biskuit Oreo, dicampur dengan beberapa tetes pewarna makanan hitam pekat kelas industri. Hasilnya? Kue itu menyerap cahaya di sekitarnya. Terlihat seperti sebuah lubang hitam beraroma vanila dan rhum yang siap menelan jiwa siapa saja yang melihatnya.
"Sumpah, Mas. Seumur hidup gue megang spatula, baru kali ini gue bikin kue yang vibes-nya kayak sesajen pesugihan," Lintang bergidik ngeri sambil melipat kotak kardus raksasa setinggi setengah meter. Dia sengaja memilih kardus bagian luar yang berwarna cokelat gelap polos, tanpa menempelkan stiker logo ruko.
"Jangan banyak komentar. Yang penting estetikanya dapet sesuai briefing klien. Hitam. Kelam. Monokrom kematian," balas Bara datar. Dia sedang sibuk mengikat pita satin warna hitam di sekeliling kotak kardus tersebut. Tangannya bergerak mekanis, namun jika dilihat lebih dekat, ujung jemarinya sedikit gemetar.
Mang Ojak masuk ke dapur dari arah bawah, membawa kunci mobil Espass tua mereka. Wajah pria paruh baya itu tampak tegang, pecinya sedikit miring. "Den, Si Putih udah Abah panasin. Bensin full tank. Ban udah Abah tendang-tendang, tekanannya pas. Doa tolak bala juga udah Abah baca tiga kali muterin mobil."
"Bagus," Bara mengangguk pelan. Dia mengangkat kardus berat berisi Black Forest kegelapan itu. "Inget SOP kita malam ini. Mang Ojak nyetir. Lintang standby di jok tengah pegang senter sama pepper spray kalau tiba-tiba ada begal atau kuntilanak yang mau collab TikTok. Gue duduk di depan pegang kuenya. Kita ke Perumahan Asri Indah, taruh kuenya di meja batu Blok C Nomor 4, foto resi pengiriman, ambil sisa duit dua juta, terus gas pol balik ke ruko tanpa nengok ke belakang. Paham?"
"Paham, Bos!" jawab Lintang dan Mang Ojak serempak, meski suara mereka bergetar menahan panik.
Pukul 23.15 WIB. Ketiganya masuk ke dalam kabin Si Putih. Mang Ojak memasukkan gigi, menginjak pedal gas, dan mobil van tua itu pun membelah jalanan Kota X yang mulai sepi.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil tegang luar biasa. Lintang di kursi belakang terus memeluk tasnya, sementara Bara duduk kaku memangku kardus kue Black Forest legam yang harganya lima juta rupiah. Bayangan rumah kosong berhantu dari Street View tadi siang terus menghantui pikiran mereka.
"Den, kalau nanti pas kita nyampe, pagarnya nutup sendiri atau ada yang ketawa dari atas pohon beringin, Abah langsung puter balik ya. Bodo amat sama sisa duitnya," Mang Ojak berkeringat dingin, matanya melotot menatap aspal.
"Iya, Mang. Santai. Kalo ada apa-apa, gue yang lempar nih kue ke muka setannya," jawab Bara, meski suaranya ikut bergetar.
Pukul 23.45 WIB. Mereka akhirnya mendekati gapura Perumahan Asri Indah. Bara, Lintang, dan Mang Ojak menahan napas bersamaan. Mereka bersiap menghadapi gapura berkarat, pos satpam kosong, dan jalanan gelap gulita seperti yang mereka bayangkan.
Namun, begitu Si Putih berbelok masuk... pemandangannya seratus delapan puluh derajat berbeda.
Gapura perumahan itu tampak bersih dan terang benderang disorot lampu sorot taman. Pos satpam di depannya menyala terang, bahkan ada dua orang satpam berseragam rapi yang sedang ngopi sambil menonton TV tabung. Salah satu satpam melongok, lalu tersenyum ramah dan mengangguk, membuka portal besi otomatis agar Si Putih bisa lewat.
"Loh?" Lintang mengerjapkan matanya. "Kok... normal, Mas? Nggak kumuh kayak di Street View."
Bara menghela napas panjang, separuh lega, separuh kesal. "Itu artinya Google Maps lu yang belom di-update dari zaman purba, Tang! Makanya jangan gampang parno duluan."
Si Putih melaju pelan menyusuri jalanan komplek. Aspalnya mulus. Pohon-pohon perindang di pinggir jalan dipangkas rapi. Lampu jalan PJU menyala terang berwarna kuning hangat. Beberapa mobil keluarga jenis MPV keluaran terbaru tampak terparkir rapi di garasi rumah-rumah warga.
"Belok kiri, Blok C," instruksi Bara sambil melihat petunjuk jalan yang terpasang rapi di tiang listrik.
Mobil berbelok. Di ujung jalan Blok C, tepat di depan Nomor 4, tampak beberapa mobil terparkir di pinggir jalan.
Rumah Nomor 4 itu ternyata tidak kosong sama sekali. Pagarnya terbuka lebar. Lampu teras, lampu taman, sampai lampu lantai dua menyala terang benderang. Terdengar sayup-sayup suara orang mengobrol, tawa renyah, dan alunan musik keroncong pelan dari arah dalam rumah. Jelas sekali sedang ada acara kumpul keluarga besar di sana.
"Ya elah, beneran acara perpisahan keluarga ini mah. Rame bener," Mang Ojak mengusap dadanya lega, memarkirkan mobil tepat di belakang sebuah sedan hitam.
"Tuh kan, gue bilang juga apa," Bara tersenyum lebar, insting pahlawan kesiangannya langsung muncul. Semua ketakutannya tadi menguap tanpa sisa. "Udah, kalian tunggu di sini. Gue anterin kuenya ke dalem. Orang lagi hajatan begini masa gue taruh meja terus kabur, nggak sopan. Sekalian nagih sisa duitnya."
Bara turun dari mobil, mengangkat kardus kuenya dengan ringan, dan melangkah masuk melewati pagar.
Suasana di halaman rumah itu sangat hangat. Ada beberapa bapak-bapak berkemeja batik yang sedang merokok di teras sambil tertawa. Di meja marmer depan pintu, duduk seorang ibu paruh baya yang sangat anggun mengenakan kebaya hitam rapi, rambutnya disanggul, dan senyumnya sangat ramah.
"Permisi, Ibu," sapa Bara sopan. "Pesanan kue dari Bara's Kitchen."
Ibu itu menoleh, wajahnya berseri-seri. "Ya ampun, Mas Bara. Tepat waktu sekali. Terima kasih ya, kuenya pasti enak. Kebetulan keluarga besar kami dari luar kota baru saja kumpul semua malam ini."
"Sama-sama, Bu. Senang bisa melayani," Bara membalas senyum ibu itu.
Ibu berkebaya hitam itu membuka tas tangannya yang elegan, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih bersih yang tebal dan menyerahkannya pada Bara. "Ini pelunasannya ya, Mas. Dua juta rupiah. Pas. Sekali lagi, terima kasih banyak sudah mau repot-repot mengantar jam segini."
"Siap, Bu. Permisi," Bara membungkuk sedikit, lalu berbalik dan berjalan keluar menuju mobilnya dengan langkah ringan.
Begitu Bara masuk ke dalam kabin Si Putih dan membanting pintu, dia langsung mengipas-ngipaskan amplop tebal itu ke wajah Lintang dan Mang Ojak.
"Nih! Liat nih!" Bara tertawa puas. "Duit halal! Rumahnya terang benderang, satpamnya ramah, ibunya baik banget pake kebaya. Dan lu berdua tadi parno mikir kita bakal dijemput kuntilanak? Hahaha!"
Lintang ikut tertawa malu, menutupi wajahnya dengan tangan. "Ya maaf, Mas! Abisnya foto di maps-nya nge-blur, mana request-nya aneh banget suruh anter jam dua belas teng."
"Ah, itu mah karena ibunya perfeksionis aja pengen kuenya dihidangin pas pergantian hari," Bara membuka amplopnya, menghitung tumpukan uang pecahan seratus ribu yang masih kaku. "Pas dua juta. Gas, Mang. Kita pulang. Besok kita libur beneran, ruko tutup, kita healing ke mall!"
Si Putih melaju meninggalkan Perumahan Asri Indah dengan diiringi gelak tawa ketiga penumpangnya. Mereka menertawakan kebodohan dan keparnoan mereka sendiri. Ketakutan soal hantu, demit pelabuhan, dan pesanan gaib terlupakan malam itu.
Bara Mahendra tertidur nyenyak sambil memeluk brankasnya.
Semuanya tampak normal. Sangat normal.