Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Wajah Marina terlihat sedikit murung, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Lalu ia berbicara dengan nada pelan.
" Tetap saja... sangat menyebalkan. "
Ia mengepalkan tangannya pelan.
" Soal sihir... aku tidak mau kalah dari siapapun. " " Setidaknya... dalam hal sihir. "
Marina menundukkan sedikit kepalanya.
" Setidaknya... " " Cuma ini yang ku punya. "
Kai yang mendengar itu sejenak merasa bersalah.
Meski hanya beberapa detik.
Namun tak lama kemudian wajah Marina kembali seperti biasanya.
" Aku mau makan kue. " " Aku mau beli sebentar ya. "
Kai langsung menanggapi dengan sedikit berteriak.
" Oi! Masih mau makan lagi?! " " Dompetku bisa kempes tau! "
Marina hanya tersenyum ringan sebelum berjalan pergi.
Kai akhirnya duduk sendirian sambil menunggu.
"...Sudah hampir 20 menit sejak saat itu."
Ia melirik ke arah jalan.
" Nggak mungkin kan dia beli dalam jumlah banyak lagi... "
Saat ia sedang menunggu itulah dua orang petualang yang sebelumnya mengejeknya di guild datang menghampiri.
Salah satu dari mereka menyeringai.
" Sepertinya tadi kau bersama Marina-san ya. " " Kalian habis melakukan apa? "
Nada suaranya penuh ejekan.
Temannya yang berdiri di sebelahnya menambahkan.
" Mungkin dia mengemis minta tolong supaya dibantu menaikkan rank. "
Kai hanya menatap mereka sekilas, berusaha bersikap cuek.
Salah satu dari mereka menyilangkan tangan di belakang kepala.
" Kalau sudah tidak tahu malu sampai tingkat dewa begitu... " " Aku malah jadi respek loh. "
Yang satunya lagi bertolak pinggang.
" Aku nggak bisa nebak jalan pikiran orang aneh yang jadi petualang seperti mu. "
Tanpa mereka sadari, Marina sudah berdiri tidak jauh di belakang mereka.
" ...? "
Ia memiringkan kepalanya.
" Orang-orang itu... " " Seingat ku mereka sering ada di guild. "
Mulut Marina penuh dengan kue, membuat pipinya sedikit mengembung.
" Mereka lagi bicarain apa ya... "
Salah satu petualang kembali berkata dengan nada merendahkan.
" Tapi aku juga kecewa sama Marina-san. " " Padahal aku respek banget sama dia. "
Ia tertawa mengejek.
" Tapi dia malah berbaik hati sama orang kayak gini. "
Ia melanjutkan sambil menyeringai.
" Yah... tapi mau gimana lagi. " " Dia itu cuma orang aneh. "
" Yang tahunya cuma sihir doang. "
Mata Marina langsung membesar.
"...!"
Tubuhnya seperti membeku.
Lalu perlahan ia menundukkan kepalanya.
Teman si A sedikit menyenggolnya.
" Oi... bukannya ucapanmu barusan agak berlebihan? "
Meski begitu, nadanya tetap terdengar mengejek.
Si A hanya tertawa.
" Kan itu fakta, jadi nggak masalah dong. " " Lagian kita juga nggak ngomong langsung ke dianya. "
Kai yang sejak tadi menahan diri akhirnya berdiri.
"...Oi."
Suaranya rendah.
" Cukup sampai di situ. "
" Hah? Apa katamu? " " Beraninya orang sepertimu ngomong begitu ke kami. "
Tatapan Kai berubah serius.
" Aku tidak peduli apapun yang kalian katakan tentangku. "
Ia menatap mereka tajam.
" Tapi... "
" Orang yang sudah berusaha sungguh-sungguh— "
" Jangan pernah kau hina dengan mulut kotor mu. "
Dari kejauhan, Marina yang mendengar itu merasa dadanya seperti mendapat tenaga baru.
Si A berteriak marah.
" A-apa apaan kau ini?! " " Mau kami kasih tahu akibatnya kalau melawan kami?! "
Kai malah tersenyum lebar.
"Ha hahaha hahahahaha Omoshiroi... "
Perlahan ia mengeluarkan kedua katananya.
" Kalau begitu... " " Aku tidak akan menahan diri. "
Petir mulai menyelimuti kedua katananya.
Kilatan cahaya menyambar di sekitarnya.
Guntur bergema.
Tubuh Kai perlahan dipenuhi aura petir yang semakin tebal.
Langit di atas mereka bahkan mulai menggelap.
Dua petualang yang tadi sombong kini mulai berkeringat dingin.
" A-apa ini... "
Mereka mundur beberapa langkah.
Marina menatap langit yang tiba-tiba menjadi gelap.
"...Gawat."
Ia langsung berlari.
" Aku harus menghentikannya! "
" Hentikan!! "
Teriakan Marina menggema.
"...!"
Aura petir perlahan menghilang.
Awan kembali cerah.
Dua petualang itu kini benar-benar pucat.
Apalagi setelah melihat Marina berdiri di sana.
Marina menatap mereka dengan wajah serius.
" Memangnya akan ada akibat apa? "
Mereka berdua langsung gemetar.
" Ji-jika kalian punya sesuatu yang ingin kalian ajarkan padaku... "
" Aku sangat ingin kalian mengajarkannya. "
" Ti-tidak mungkin! Orang rendahan seperti kami... " " Bisa mengajari Marina-san sesuatu! "
Setelah mengatakan itu mereka langsung kabur.
Kini justru Kai yang berkeringat dingin.
" Ka-kau dengar yang tadi ya... "
Ia bergumam pelan.
" Gawat... aku tidak sadar dia ada di sana. " " Kira-kira apa yang akan terjadi sekarang... "
Namun Marina hanya berdiri dengan ekspresi biasa.
Sepertinya ia tidak berniat membahas hal tadi.
" Maaf... kebetulan aku baru kembali. "
Ia sedikit menunduk.
" Umm... terima kasih. "
Kai berkedip.
" Eh? "
" Dia tidak bertanya soal yang tadi...? " Gumam kai.
Ia menggaruk pipinya.
" Aku cuma mengatakan apa yang kupikirkan kok. "
" Soalnya Marina-san itu kan orang yang hebat. "
" Syukurlah dia tidak membahas hal barusan " gumam kai lega.
Marina menatapnya.
" Kenapa kau berpikir kalau aku hebat? "
" Eh? "
Kai terlihat bingung sesaat.
" Maksudku... " " Kalau kamu bisa merasa sekesal itu... "
" Itu berarti kamu memang seserius itu dalam berusaha. "
" Terutama dalam hal sihir. "
Kai tersenyum.
" Soalnya aku tidak punya hal seperti itu. "
"...Iya."
" Aku tidak punya sesuatu seperti itu. "
Ia menatap Marina dengan senyuman tulus.
" Kamu itu orang yang sangat istimewa. "
"...dan juga cantik. "
Marina membeku.
" Aku... "
Wajahnya memerah.
" Cantik...? "
Kai yang mendengar itu langsung panik.
" Ah! Maksudku barusan itu! " " Aku memujimu secara umum loh! "
Ia mengibaskan kedua tangannya dengan gugup.
" Bu-bukan dalam arti yang aneh! "
Marina membelakangi Kai.
"...Tetap saja. "
Ia berbicara dengan nada datar.
" Dipuji oleh orang yang lebih hebat dariku... " " Tidak membuatku senang. "
" Ah... maafkan aku. "
Namun kata-kata Marina terasa sedikit bertolak belakang dengan ekspresinya.
Ia terdiam sejenak.
" Entah kenapa... "
"...mendengarnya tidak terasa buruk juga. "
Gumam Marina pelan, masih membelakangi Kai.
Kai mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Y-yaah pokoknya... "
" Sihirku itu levelnya rendah. " " Jadi mustahil aku bisa jadi penyihir. "
Marina berbalik.
Wajahnya datar, seperti sedang mengejek.
" Memang benar. "
" Dengan yang seperti itu... " " Mustahil jadi penyihir. "
Kai langsung menghela napas panjang.
"...Dibilang terus terang begitu kok rasanya jadi kesal ya. "
Marina lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah kalung.
Kalung yang sama seperti sebelumnya.
Ia mengulurkannya pada Kai.
" Ini... untukmu. "
Kai tertegun.
" Eh...? "
Ia menatap benda itu dengan mata membesar.
" Orichalcum...? "
Marina tidak menjawab.
Ia justru mulai melangkah pergi.
" Oi! Tunggu! "
Marina berhenti.
Namun ia tidak langsung berbalik.
Lalu ia berkata seolah baru teringat sesuatu.
" Ah benar juga. "
" Siapa namamu? "
Ia menoleh sedikit.
" Katakan siapa namamu. "
Kai menggaruk kepalanya.
" Kan sudah ku kasih tahu dari awal. "
" Namaku Kai. "
" Petualang baru Rank D. "
Marina terdiam sejenak.
" Aku payah dalam mengingat nama. "
Ia lalu menatap Kai.
" Tapi aku tidak akan melupakan namamu lagi. "
Kai tertawa kecil.
" Haha... semoga saja begitu. "
Marina memalingkan wajahnya sedikit.
" Tenang saja. "
Lalu ia berbalik menatap Kai.
Tatapannya lurus.
" Karena kamu itu... "
Ia berhenti sebentar.
"...menarik perhatianku. "
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin