Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 - Accidentally in Love
Aku, Henry, dan Ana masih terperangah mendengar ucapan Mama.
“Lia, kenapa kamu ikut terkejut?” tanya Mama tiba-tiba.
Deg! Jantungku berdegup kencang.
“Ehm… soalnya Mama bilangnya satu bulan lagi, Ma. Itu… apa nggak terlalu cepat? Belum tentu juga saat itu Kak Ana dan Kak Henry nggak sibuk.” ucapku gugup, berusaha mencari alasan.
“Mama rasa nggak. Lagian, lebih cepat lebih baik.” jawab Mama mantap.
“Aku nggak bisa janji bisa, Ma. Keadaan rumah sakit nggak bisa ditebak.” timpal Ana.
“Aku juga, Tan. Perusahaan lagi produksi produk baru.” tambah Henry.
“Ya sudah, kita rencanakan satu bulan lagi. Kalau keadaan tidak memungkinkan, kita undur.” ucap Mama.
“Nah, iya. Gitu aja.” sahut Tante Cyntia.
Setelah itu, kami melanjutkan makan malam tanpa banyak kata. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar, menambah rasa sesak di dadaku.
“Ana, Henry, ngobrollah berdua di taman belakang. Kalian harus lebih akrab.” ucap Mama saat makan selesai.
Aku refleks menoleh ke arah Henry, tapi ia justru menghindari tatapanku.
“Iya benar.” sahut Tante Cyntia menyetujui.
“Ayo, Na. Bawa Henry ke taman belakang.” tambah Mama.
Dengan wajah malas, Ana dan Henry pun berjalan ke taman belakang. Aku hanya bisa terdiam, memandang punggung mereka yang perlahan menghilang.
“Ayo kita ke ruang tamu,” kata Mama kemudian. “Lia, tolong bereskan piring-piringnya, ya.”
“Ya, Ma.” jawabku pelan.
Mama, Papa, dan kedua orang tua Henry menuju ruang tamu. Sementara aku membawa piring-piring ke belakang.
“Eh, Mbak Lia? Aduh, biar saya aja, Mbak.” ucap Mbak Ningsih buru-buru.
“Nggak apa-apa. Mama yang suruh saya. Mbak tinggal cuci piring aja.” sahutku memaksakan senyum.
“Baik, Mbak.”
Aku bolak-balik ke ruang makan sampai semua piring kotor terkumpul.
“Saya ke kamar dulu, Mbak.” ucapku.
“Iya, Mbak.” jawabnya.
Aku naik ke kamar dengan langkah lemas. Begitu pintu tertutup, aku langsung merebahkan tubuh di ranjang. Kuambil ponsel dan memutar lagu ballad Korea. Alunan melodi mengalir pelan, seolah menyingkap semua kesedihanku. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Bayangan Henry dan Ana bertunangan sebulan lagi terus menghantui pikiranku. Aku tidak sanggup membayangkannya.
Tidak! Aku tidak bisa menerimanya!
Tapi apa yang bisa kulakukan?
Aku terus terhanyut dalam lagu sedih itu, sampai terdengar ketukan pelan di pintu kamarku.
Tok tok.
Aku buru-buru menghapus air mata dan bangun.
“Siapa?” tanyaku dengan suara yang bergetar.
“Ini aku, Henry.” sahut suara dari luar.
Deg! Aku langsung berdiri dan membuka pintu perlahan. Benar saja, Henry berdiri di sana.
“Kak Henry? Kenapa di sini? Bukannya tadi sama Kak Ana di taman belakang?” tanyaku.
“Udah tadi… sekarang aku mau pulang. Aku mau pamit sama kamu.” jawabnya tenang.
Aku menghela napas, mencoba menahan nada sinis. “Pulang tinggal pulang aja. Kenapa harus pamit segala?”
“Aku cuma pengen pamit sama kamu.” Ia menatapku lekat-lekat. “Eh, Lili… kamu habis nangis, ya?”
Deg! Panik langsung menyergapku. Aku cepat-cepat mengusap mataku, berharap tidak ada jejak air mata yang tersisa.
“Iya, tapi karena habis nonton drama Korea yang sedih.” bohongku.
“Oh… kirain…” Henry menggantungkan kalimatnya.
“Kirain apa?” desakku.
“Nggak apa-apa.” jawabnya singkat.
Aku mengeraskan nada bicara. “Ya udah, sana pulang.”
Kupaksa menutup pintu, tapi Henry menahan dengan tangannya.
“Lili… satu bulan lagi aku dan Ana bakal tunangan.”
Aku terdiam sejenak, menahan sesak di dada.
“Iya. Terus?” tanyaku dingin.
“Apa… kamu nggak ada perasaan sedikit pun sama aku?”
Deg! Kata-katanya menusuk hatiku. Aku ingin berteriak iya, aku ingin jujur… tapi aku tidak boleh. Tidak seharusnya.
“Nggak.” jawabku singkat.
Henry menunduk, wajahnya jelas menyiratkan kekecewaan. “Baiklah. Aku pulang, ya.”
Ia berbalik, melangkah turun. Aku menutup pintu pelan-pelan, lalu bersandar di sana. Air mataku kembali tumpah deras. Rasanya berat sekali harus mengatakan tidak… padahal seluruh hatiku menjerit iya.
Tapi mungkin memang begini seharusnya.
Tidak ada yang berubah keesokan harinya, kecuali caraku menahan perasaan. Aku memilih diam, berpura-pura baik-baik saja, meski hatiku masih penuh luka.
Sekitar pukul setengah satu kurang, aku sudah duduk di depan meja rias. Kuusap tipis bedak di wajahku, lalu merapikan eyeliner dengan hati-hati. Hari ini aku berencana pergi bersama Caca ke bioskop, menonton film Korea yang sudah lama kami nantikan.
Setelah selesai berdandan, kuambil ponsel dan segera mengetik pesan.
\[Ca, aku otw ke rumah kamu. 20 menit lagi aku sampai.\]
Kukirim pesan itu, lalu kuambil tasku. Sambil berdiri, kubuka aplikasi taksi online. Namun sebelum sempat menekan tombol pesan, ponselku bergetar. Ada panggilan masuk.
Henry.
Aku mengerutkan kening. “Kenapa Kak Henry nelpon?” gumamku.
Ragu sejenak, akhirnya kuangkat.
“Halo. Ada apa, Kak?” tanyaku.
–Kamu mau ke mana?
Aku sontak terdiam. “Eh? Kok Kakak tahu?”
– Dari pesan kamu.
“Pesan? Memangnya aku kirim pesan ke Kakak?” tanyaku heran.
– Iya. Tapi kayaknya kamu salah kirim deh.
Dengan buru-buru kubuka aplikasi pesan. Mataku langsung membelalak. Benar saja, pesan yang tadinya kukira terkirim ke Caca malah terkirim ke Henry.
“Ya ampun… maaf, Kak. Aku salah kirim. Seharusnya ke Caca, malah nyasar ke Kakak.” ucapku kikuk.
– Jadi kamu mau ke mana?
“Ke bioskop. Mau nonton film Korea.” jawabku jujur.
– Kamu nonton sama Caca aja?
“Iyalah. Siapa lagi? Apalagi film ini dibintangi aktor favoritnya Caca. Dia udah ribut pengen nonton sejak trailer keluar.” kataku, berusaha menutup pembicaraan.
– Oh…
“Udah ya, Kak. Aku mau berangkat.”
– Eh, tunggu!
Aku menghela napas. “Kenapa lagi?”
– Aku ikut.
Aku hampir menjatuhkan ponselku. “Apa? Kakak mau ikut nonton film Korea? Aku nggak yakin Kakak bakal suka.”
– Nggak apa-apa. Yang penting aku bisa sama kamu.
Aku terdiam. Jantungku mendadak berdetak lebih cepat.
– Lili?
“Ha?” suaraku terdengar kaget.
– Kenapa kamu diam?
“Nggak… nggak apa-apa.”
– Ya udah. Aku berangkat sekarang. Aku jemput kamu.
“Eh, jangan!” seruku buru-buru.
– Kenapa?
“Takut Mama atau tetangga lihat. Bisa panjang urusannya nanti. Kita ketemu langsung di bioskop aja. Di Star Mall. Aku dan Caca memang mau nonton di sana.”
– Oke, aku ke sana sekarang.
Aku langsung menutup telepon dan menyelesaikan pemesanan taksi online. Setelah mengirim pesan ke Caca, aku keluar kamar. Sempat berpamitan sebentar dengan Mama, aku berjalan menuju gerbang perumahan.
Tak lama, taksi online yang kupesan datang. Taksi itu segera membawaku ke rumah Caca. Dua puluh menit kemudian aku sudah sampai, dan Caca langsung masuk ke taksi dengan wajah ceria.
Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara. Aku pun memilih diam saja, tidak menceritakan soal Henry yang tiba-tiba ingin ikut.
Tiga puluh menit kemudian kami tiba di Star Mall. Kami turun dari taksi, masuk ke dalam mall, lalu naik lift menuju lantai bioskop. Begitu sampai, langkahku langsung terhenti.
Di salah satu kursi tunggu, duduk seseorang yang sangat familiar. Henry.
“Eh? Bukannya itu Pak Henry? Ngapain dia di sini?” ucap Caca kaget.
Aku menelan ludah. “Ehm… itu… dia…” jawabku terbata.
Tiba-tiba Henry berdiri dan melangkah ke arah kami.
“Dia kenapa?” bisik Caca.
“Dia… minta ikut nonton.” jelasku lirih.
“뭐?! (Apa?!)” seru Caca dengan suara setengah menjerit. “Pak Henry mau ikut nonton? Kok bisa?!”
“Kalian sudah sampai?” Henry menyapa datar.
Caca langsung menatapnya curiga. “Pak, kenapa Bapak ikut nonton?”
Henry tersenyum tipis. “Saya bosan di rumah. Tadi tiba-tiba Lili kirim pesan ke saya…”
“Salah kirim itu.” potongku cepat.
“Iya, salah kirim. Dia mau kirim ke kamu, eh malah nyasar ke saya. Ya sudah, saya ikut saja sekalian.” ucap Henry tenang.
Caca menoleh ke arahku dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Apa?” kataku defensif.
Caca mendekat lalu berbisik, “Kamu sengaja, kan? Salah kirim biar dia ikut?”
“Apa sih? Nggak!” seruku cepat.
“Ada apa?” tanya Henry heran.
“Nggak ada apa-apa. Ya udah, ayo beli tiketnya.” ucapku buru-buru.
“Biar aku aja. Filmnya yang judulnya Fading Light, kan?” kata Henry.
“Bapak mau traktir tiket bioskop kami?” tanya Caca dengan mata berbinar.
“Iya.”
“Wah, lumayan nih.” ucap Caca girang.
“Caca…” tegurku pelan.
“Kenapa sih? Itung-itung hemat uang.” katanya enteng. Lalu menoleh ke Henry. “Makasih banyak ya, Pak.”
Henry hanya mengangguk, lalu pergi ke loket membeli tiket.
Caca segera menarik lenganku. “Aduh, Li… boleh nggak sih aku suka sama Pak Henry?”
Aku langsung melotot padanya.
“Eh, santai… 농담, 농담 (bercanda, bercanda)” ucapnya sambil mengangkat kedua tangan.
“Bercandaanmu nggak lucu.” balasku ketus.
“미안, 미안 (maaf, maaf)… habisnya Pak Henry sweet banget sih. Ganteng pula.” ucapnya sambil terkikik.
Aku hanya bisa menghela napas panjang, lalu menatap poster Fading Light yang terpampang besar di dinding. “Ya ampun… Kim Hyun Woo kehilangan salah satu fansnya.”
“Siapa?” tanya Caca polos.
“Kamu, lah. Tadi kamu bilang mau suka sama Pak Henry, kan?” sindirku.
“Ya ampun, Li… itu bercanda!” Caca mendorong bahuku pelan.
Tak lama, Henry kembali dengan tiga tiket di tangannya.
“Kita duduk di kursi C1, C2, dan C3?” ucapku kaget.
“Iya. Biar lebih nyaman, nggak diganggu orang lewat.”
“Bapak duduk di kursi mana?” tanya Caca.
“C1 saja, di pojok dekat dinding.”
“Kalau gitu saya C3.” timpal Caca cepat.
Aku menatap tiket di tanganku. “Eh? Jadi aku C2? Pas di tengah kalian?”
Keduanya mengangguk bersamaan.
Aku mendesah. “Ya ampun…”
“Aku mau beli popcorn dulu.” kataku, berusaha mengalihkan rasa kikuk.
“Biar aku aja.” ucap Henry cepat menghentikanku.
“Eh?” Aku menoleh kaget.
Caca tiba-tiba nyeletuk, “Wah, Pak Henry baik banget. Tapi Pak… jangan-jangan Bapak suka sama Lia, ya?”
Aku langsung tercekat, sementara Henry membeku. Kami berdua saling menatap tanpa kata.