NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Seorang lelaki berdiri di depan rumah kayu yang sudah lama tidak ditinggali. Masih terlihat kokoh, hanya beberapa genteng yang pecah. Tanaman liar tumbuh subur di halaman rumah, cukup rimbun sehingga menghalangi jalan.

Lelaki itu menyibak tumbuhan liar, melewati halaman sampai mencapai teras rumah limasan itu. Lalu berusaha masuk dengan cara mencongkel pintu.

Debu dan bau apak menyergap hidung saat pintu terbuka lebar. Sarang laba-laba terlihat di langit-langit.

Abra menutup hidungnya menggunakan sapu tangan. Rumah yang dia masuki adalah kediaman neneknya Marniasih. Sebelumnya dia ke sekolah yang rupanya sudah tutup dan tidak berfungsi lagi sebagai tempat pendidikan.

Mengetahui rumah itu dari seorang kakek-kakek yang ingat. Abra sempat menghubungi Santi tapi nomor ponsel yang diberikan perempuan itu tidak aktif.

Tampak hanya ada dua kursi dan meja. Lemari makan, juga dipan kecil. Ada tiga kamar tidur kecil. Abra mengecek satu per satu kamar itu. Tidak bisa menemukan apapun.

Bertanya pada warga pun, informasinya simpang siur. Karena sudah lama berlalu, mungkin hampir tujuh belas tahunan. Saat memperlihatkan foto Bianca pun tidak ada yang ingat apakah mirip dengan Marniasih.

Tangan Abra meraba-raba di bagian atas lemari. Merasakan ada kertas tebal di ujung kanan. Abra pun berpindah ke samping lemari. Dia menemukan foto lama yang sedikit buram. Foto dua orang dewasa, lelaki dan perempuan. Satu anak perempuan usia sekitar tujuh tahunan.

Sementara itu, tidak jauh dari rumah yang digeledah Abra seorang lelaki di dalam mobil sedang menelepon.

"Sudah saya amankan foto-foto yang tersisa, Pak. Dibakar? Baik, Pak. Sebagai buktinya saya akan rekam." Lelaki yang memakai anting itu memandangi dua bingkai foto dan satu album yang berisikan foto-foto rusak.

Kembali ke dalam rumah, Abra melihat jejak sepatu yang tidak terhapus dengan sempurna. Ternyata sudah ada yang mendahuluinya.

"Sial," desis Abra.

Akan tetapi, itu membuktikan salah satu keluarga Sekar ada yang terlibat. Entah siapa orangnya.

Abra merogoh ponsel, memotret jejak sepatu itu. Kemudian dia keluar rumah sembari mengantongi foto. Dia berhenti di teras, melihat sekitar rumah, pohon-pohon jati yang mulai meranggas.

...****************...

"Kamu belum mengatakan bagaimana bisa jatuh, Dit." ucap Sekar yang menemani Radit makan malam di kamar.

"Bukankah mama sudah tahu? Karena tali terputus. Untung saja belum mencapai ketinggian di atas lima meter," jawab Radit.

Sekar mengesah. Dan beruntung sekali Radit bisa lolos dari cedera yang fatal.

"Kenapa bisa putus?"

"Biasa hal seperti itu. Human error," sahut Radit melahap bihun sampai habis. Malam itu dia minta sop bakso ikan yang dicampur bihun dan sawi putih.

Sekar menganggukkan kepalanya dan menghela napas.

"Mama mencurigai sesuatu?" Radit meraih segelas air putih yang di teguknya sampai habis.

"Iya. Kamu nggak sendirian waktu itu. Kamu bersama Seno dan Theo," jawab Sekar.

Sekar kemudian berdiri dari kursi, menaruh mangkok dan gelas di nampan. Sekar keluar kamar, menyuruh Nina yang menunggu di luar masuk kembali ke kamar.

Nina yang memakai kaus olahraga bertuliskan nama sekolah, masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

"Aku mau gosok gigi," kata Radit.

Nina mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar mandi. Wastafelnya dibuat rendah. Bahkan di samping toilet duduk ada pegangan untuk orang disabilitas. Sekar telah merombak kamar mandi demi kenyamanan Radit.

"Apakah besok ada jadwal terapi?" tanya Radit.

"Ada, Pak. Jam sepuluh," jawab Nina, yang dengan sigap meraih sikat gigi Radit. Yang dibersihkan terlebih dahulu sebelum diletakkan di tempat penyimpanan.

Jadwal terapi sudah ditulis Nina di buku catatan milik Radit. Walaupun sudah dibaca Radit akan lupa lagi.

Nina mendorong kursi roda ke luar kamar mandi. Bertanya, apakah Radit ingin jalan-jalan di luar atau tetap di kamar.

"Aku ingin berbaring saja."

"Baik, Pak."

"Aku bisa pindah sendiri," kata Radit kedua telapak tangannya bertumpu di lengan kursi roda. Kedua kakinya menapak kuat di ubin. Tenyata tidak mudah.

Nina merengkuh pinggang Radit hampir seperti orang berpelukan. Walaupun badannya tidak besar, Nina mampu membantu Radit.

Radit menghirup wangi dari fresh care saat Nina merengkuh tubuhnya. Apa perempuan itu sedang tidak enak badan?

Duduk di sisi tempat tidur, Radit mampu menggeser tubuhnya sendiri. Berbaring telentang setelah usaha yang cukup melelahkan. Nina mendorong kursi roda ke sisi kiri tempat tidur. Lalu membantu menyelimuti tubuh Radit.

"Kamu istirahat saja."

"Baik, Pak."

Tempat istirahat Nina juga di dalam kamar tersebut hanya tertutup partisi. Jika membutuhkan sesuatu, Radit akan memanggilnya.

Nina baru saja meraih tas ranselnya saat Bianca memasuki kamar.

"Eh, Nina. Kamu tidur di luar," suruh Bianca.

"Ti... tidur di luar, Nyonya?"

"Iya, terserah kamu mau tidur di mana," sahut Bianca.

"Nina, kamu boleh masuk satu jam lagi," tegas Radit.

"Iya, Pak." Nina mengangguk

Bianca berdecak pelan. Melirik sinis Nina yang berjalan keluar kamar. Setelah pintu tertutup, Bianca ikutan berbaring. Kepalanya di bahu Radit.

"Tadi mama bicara tentang apa?" Bianca meraih buku catatan di meja lampu. Balik lagi rebah di bahu Radit.

"Aku lupa...."

Bianca membuka catatan paling akhir, tidak ada tulisan baru. Terakhir hanya berisi kedatangan Hanum dan Handoko.

"Bukankah kamu disarankan mencatat tiap lima belas menit." Bianca melempar buku catatan itu. Yang diambilnya kembali.

"Catat di sini, Mas. Apakah kamu tahu kalau ibumu ingin Rama pulang. Kamu tahu itu?"

"Iya kah?" Radit memejamkan mata.

"Kamu saja yang mencatat. Nanti aku bicara dengan mama."

"Masih ingat, kan, adikmu itu hampir..."

"Aku ingat, jangan khawatir," sela Radit.

"Syukurlah."

"Aku ngantuk," ucap Radit mengusir halus.

"Mas, aku kangen ...."

"Aku butuh waktu untuk pemulihan." Radit memejamkan matanya. Membuat Bianca merasa diabaikan.

Bianca turun dari pembaringan, melirik sebal suaminya yang tidak peduli.

...****************...

Nara sedang masak untuk sarapan, nasi goreng tanpa kecap sesuai permintaan suaminya, ketika suaminya bertanya mencari kotak yang berisi peralatan-peralatan untuk memperbaiki motor atau bisa digunakan untuk yang lain.

"Aku pindah, Mas." Nara mematikan kompor gas. Menunjuk kotak kontainer di dekat mesin cuci.

"Aku simpan di sini."

Rama mendengus pelan.

"Jangan dipindah sesukamu, Nara.....

Walaupun ucapan itu bernada biasa, sedikit terasa nyeri.

"Lain kali bilang kalau memindah barang," imbuh Rama.

"Aku lupa. Maaf," cicit Nara. Memperhatikan Rama yang mengambil kotak berwarna hitam itu. Wajah Rama terlihat agak dingin, lewat begitu saja di depannya.

Nara mengembuskan napas, mengambil dua piring yang diletakkan di meja. Nasi goreng di wajan berpindah ke piring. Nara lanjut mencuci talenan, pisau, cobek, sutil dan wajan.

Waktu mencuci perkakas masak, Rama menyimpan kembali kotak peralatan. Lantas masuk ke kamar mandi. Terdengar gemericik air.

Nara menunggu suaminya selesai mandi, duduk di kursi meja makan. Memandangi uap nasi goreng yang mulai hilang.

Rama keluar kamar, melewati Nara yang sedang duduk. Wangi sabun dan sampo tercium. Rama memakai pakaian dan sedikit menyemprotkan minyak wangi.

"Sarapan, Mas

"Iya." Rama menyahut singkat.

Nara yang menyusul ke ruang tengah, mengambil handuk di atas tempat tidur. Kemudian dijemur di luar, sinar matahari pagi sangat berlimpah. Setelah itu Nara bergabung di meja makan. Tidak seperti biasanya, Rama makan cepat sekali dan langsung pergi.

Nara yang duduk di kursi meja makan, hanya mampu menghela napas lagi. Gara-gara kotak peralatan bengkel, pagi hari menjadi agak dingin.

Kehidupan rumah tangga memang penuh dinamika. Dua manusia yang berbeda harus saling mengenal dan beradaptasi dengan sikap perilaku pasangan.

Nara beranjak dari kursi, menutup pintu depan dan menguncinya. Malas mandi, Nara rebahan di sofa. Menonton televisi.

Tepaksa ia duduk lagi menggapai ponsel yang berdering di atas meja.

"Lah, mati...." Nara bergumam sendiri. Menelepon balik ibunya. Baru dering pertama langsung diangkat.

"Nara, mama mertuamu akan datang lusa. Eh, salah. Lusanya lusa... hari Kamis sore. Barusan telpon. Ya, Allah, suaranya bening banget.....

"Iya, Buk."

'Kok kamu lemes?"

"Ah, enggak. Hanya malas gerak."

'Oohhhh."

"Jam berapa datangnya, Buk?"

"Jam empat. Kira-kira makanan apa yang disajikan ya. Ibu bingung. Orang kaya biasa makan apa, Nara?'

"Jajanan pasar, Buk. Memang yang datang berapa orang?"

'Hanya Bu Sekar dan asistennya ....

"Orang kaya juga manusia, Buk."

"Ya kali kuyang, Nara.' Terdengar Risna tertawa.

...****************...

Rama yang merasa bersalah hendak pulang ketika ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal menelepon. Rama mengabaikannya. Ada notifikasi pesan masuk, Rama juga tidak peduli. Motor itu melaju cukup kencang menuju rumah kontrakan. Ingin rasanya segera sampai.

Tadi pagi memang agak marah, karena Rama mencari keberadaan kotak peralatan yang biasa diletakkan di dekat pintu belakang. Tetapi tidak ada.

Rama terkejut karena Nara tidak berada di rumah. Biasanya memberitahu jika pergi ke suatu tempat. Tidak mungkin Nara minggat. Rama yang masih memakai sarung tangan motor, menelepon istrinya.

Ponsel Nara ternyata di atas bantal. Rama mulai kelimpungan, seperti anak bebek kehilangan induk.

"Mas, udah pulang? Tumben...."

Rama menoleh ke belakang, melihat Nara memasuki rumah.

"Dari mana?" tanya Rama.

"Beli rujak. Katanya mbak Tika enak," jelas Nara, menunjukkan kantong plastik bening.

"Itu di gang dekat toko bangunan."

"Lain kali dibawa hapenya."

"Oiya, saking buru-burunya. Ada yang ketinggalan kah?" Nara berjalan melewati Rama yang berdiri di antara ruang depan dan tengah.

"Kamu yang ketinggalan. Kalau bisa, aku kantongi," sahut Rama.

"Maaf, tadi aku marah nggak jelas."

"Nggak apa-apa, Mas." Nara menatap suaminya.

"Walaupun tadi agak keder juga...."

Rama mendekap Nara dari belakang.

"Maaf, aku kayak bocah kecil."

"Iya, dimaafkan."

1
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
sepanjang jalan kenangan kak😂
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜: Nah itu masalah nya😭😭😭😭🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
꧁ռǟռǟ꧂
panggilan pak rete Kayak nama korea "suho eh suha" 😄😄😄
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Pingsan dong Bu😂😂😂

Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Hmmmmm kecelakaan Radit di sengaja,

Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨

Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Iri bilang bos 😂

Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,

Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
Tri Wahyuni: si gita minta di tampol 😭🤭
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulai kebongkar nih siapa Bianca...
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Yg banyak atuh kak,
nanggung kelanjutan nya 😬😬
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Bu Risna Shok ternyata memiliki menantu orang kaya😂😂
Tri Wahyuni: shik shak shock 🤭🤣
total 1 replies
꧁ռǟռǟ꧂
suka sama ceritanya tentang kehidupan sehari hari,, baca sambil bayangin, Kalo gk masuk di bayangan brati ceritanya kurang masuk di Hati......
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
syirik bgt sih nih orang.. 😂😂
Tri Wahyuni: minta di tampol kayanya 😭🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
Nara maklumi saja suami mu ya dia kan polos...😂😂
Tri Wahyuni: pura² polos 🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor..
Tri Wahyuni: baik. di tunggu updatenya kak 😍
total 1 replies
Poni Jem
sampai saat ini belum ada typo. masih baik untuk dibaca. semangat trs 👌
Tri Wahyuni
bagus 🥰
Tri Ayu
semangat berkarya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!