Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 rencana yang kacau
# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
## BAB 4: Rencana yang Kacau
Keesokan harinya, Alek bangun dengan mata panda. Semalam dia hampir tidak tidur. Pikirannya penuh dengan rencana-rencana yang sebagian besar tidak masuk akal.
"Gue mau ngapain sih sebenernya?" tanyanya pada bayangannya sendiri di cermin.
Tapi dia sudah terlanjur penasaran. Terlanjur ingin tahu. Dan yang paling penting—dia sudah bertekad semalam untuk cari cara ketemu gadis itu lagi.
Di sekolah, Alek lebih pendiam dari biasanya. Riki yang duduk di sebelahnya menyadari keanehan itu.
"Lo sakit, Lex? Mukanya pucat banget."
"Nggak tidur."
"Kenapa?"
"Banyak pikiran."
Riki mengernyit. "Pikiran apaan? Masalah sama geng? Atau sama bokap lo lagi?"
"Bukan."
"Terus?"
Alek tidak menjawab. Dia menatap keluar jendela—ke arah pesantren di seberang. Dari sini, dia hanya bisa melihat tembok putih tinggi itu. Tidak ada yang spesial. Tapi entah kenapa, matanya terus tertuju ke sana.
"Lo aneh, Lex," gumam Riki sambil kembali fokus ke buku catatannya.
***
Saat jam istirahat, Alek berjalan sendirian ke kantin. Tapi bukannya beli makan, dia malah berdiri di dekat pagar sekolah—yang kebetulan menghadap langsung ke pesantren.
Dari sini, dia bisa melihat beberapa santriwati sedang berjalan di halaman pesantren. Semuanya bercadar. Tidak ada yang bisa dibedakan.
"Gimana sih cara gue bisa ketemu dia lagi?" pikirnya frustasi.
Tiba-tiba, ada ide gila yang muncul di kepalanya.
"Bagaimana kalau gue pura-pura jadi tukang parkir di depan pesantren?"
Dia langsung menggeleng keras. "Bodoh. Ketauan banget."
"Atau... gue bisa jadi pengantar paket?"
Menggeleng lagi. "Gue nggak punya paket buat diantar."
"Atau gue pura-pura nyasar lagi, tanya jalan ke satpam?"
Dia teringat pengalaman gagalnya kemarin. "Nggak. Satpamnya udah curiga."
Alek menghela napas panjang. Semua rencana yang muncul di kepalanya terdengar konyol. Dia bukan cowok yang biasa mikirin beginian. Biasanya kalau dia tertarik sama cewek, dia tinggal dekati aja. Tapi ini beda. Ini pesantren. Ini santriwati. Ada aturan. Ada batasan.
"Anjir, gue beneran gila," umpatnya sambil berjalan kembali ke kelas.
***
Sepulang sekolah, bukannya langsung ke markas geng seperti biasa, Alek malah nongkrong di warung kopi depan pesantren. Dia pesan kopi item, duduk di pojok, matanya terus menatap gerbang pesantren.
Satu jam berlalu. Tidak ada yang keluar.
Dua jam. Tetap tidak ada.
Tukang warung mulai menatap Alek dengan tatapan aneh. "Mas, nunggu siapa? Dari tadi kok nggak pulang-pulang?"
"Eh, nggak, Pak. Cuma... nunggu temen."
"Temennya santriwati ya?" tanya pemilik warung dengan senyum jahil.
Alek langsung gelagapan. "Nggak, Pak. Bukan."
"Nggak usah malu, Mas. Banyak kok yang kayak kamu. Sering nongkrong di sini, padahal cuma buat lihat santriwati lewat."
Alek mau mati rasanya. Ternyata dia bukan satu-satunya orang gila yang melakukan ini.
"Tapi percuma, Mas," lanjut pemilik warung. "Mereka jarang keluar. Paling seminggu sekali, itupun cuma ke warung deket itu buat beli jajan."
"Oh, gitu ya, Pak," jawab Alek sambil mencatat mental. "Seminggu sekali ke warung. Hari apa?"
"Biasanya Sabtu sore."
"Oke, Pak. Makasih infonya."
Alek langsung pulang. Setidaknya sekarang dia punya informasi. Sabtu sore. Tinggal tiga hari lagi.
***
Malam itu, di markas Venom Crew, Dimas mengadakan rapat darurat.
"Anak-anak, gue dapet info. Scorpions mau nyerang wilayah kita Jumat malam. Kita harus siap."
Semua anggota mengangguk serius. Tapi Alek hanya diam, pikirannya melayang.
"Lex!" bentak Dimas.
Alek tersentak. "Iya, Bang?"
"Lo dengerin gue nggak? Gue bilang Jumat malam kita harus stand by di wilayah."
"Oh, iya. Siap, Bang."
Dimas menatap Alek tajam. "Lo kenapa akhir-akhir ini? Kok kayak nggak fokus?"
"Nggak apa-apa, Bang. Cuma lagi banyak pikiran."
"Pikiran apaan? Keluarga?"
"Iya, masalah sama bokap."
Dimas mengangguk. "Ya udah, selesaikan dulu masalah keluarga lo. Tapi pas Jumat, lo harus fokus. Gue butuh lo."
"Siap, Bang."
Tapi dalam hati, Alek malah mikir: Jumat malam dia harus jaga wilayah. Sabtu sorenya dia harus ke warung depan pesantren. Bagaimana caranya?
"Gue harus cari alasan," pikirnya.
***
Kamis sore, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Alek sedang pulang sekolah, melewati jalan yang biasa dia lewati—yang kebetulan melewati pesantren. Tiba-tiba, di depan gerbang pesantren, dia melihat beberapa santriwati sedang turun dari angkot.
Salah satunya... dia yakin itu dia. Tas punggung cokelat yang sama.
Jantung Alek berdegup kencang. Ini kesempatan.
Tanpa pikir panjang, dia mematikan mesin motornya, berpura-pura ada masalah dengan motornya. Dia turun, berjongkok, pura-pura benerin mesin.
Para santriwati berjalan melewatinya. Alek mendengar suara mereka ngobrol.
"Alhamdulillah, buku-bukunya lengkap ya," kata salah satu suara yang lembut—suara yang Alek kenali.
"Iya, Khansa. Semoga bermanfaat buat kajian minggu depan," jawab suara lain.
Khansa. Jadi itu namanya. KHANSA.
Alek mengulangi nama itu dalam hati. "Khansa..."
Para santriwati masuk ke dalam pesantren. Gerbang tertutup. Alek masih berjongkok di depan motornya, menatap kosong.
"Gue dapet namanya," gumamnya sambil tersenyum tipis.
Tapi kemudian dia sadar—dia sudah berjongkok lima menit di pinggir jalan tanpa ngapa-ngapain. Beberapa orang yang lewat menatapnya aneh.
"Anjir," umpatnya sambil cepat-cepat berdiri dan menyalakan motor.
***
Jumat malam, seperti yang sudah direncanakan, geng Venom Crew berkumpul di wilayah mereka untuk antisipasi serangan Scorpions.
Alek datang, tapi hatinya tidak di sana. Pikirannya terus melayang ke besok sore. Sabtu. Warung depan pesantren.
"Lex, lo jaga di sebelah kanan. Kalau ada yang mencurigakan, langsung kabarin," kata Dimas.
"Siap, Bang."
Malam itu lewat dengan tegang. Tapi untungnya, Scorpions tidak jadi menyerang. Mungkin cuma gertakan.
Sekitar jam dua belas malam, Dimas membubarkan pasukan. "Oke, kayaknya aman. Besok kita kumpul lagi sore buat evaluasi."
Alek langsung panik dalam hati. "Besok sore? Gue harus ke warung!"
"Eh, Bang, gue besok sore nggak bisa," kata Alek cepat.
Dimas menoleh. "Kenapa?"
"Gue... gue harus ke gereja. Acara keluarga."
Dimas menatap curiga. "Keluarga? Lo kan biasanya nggak pernah mau ikut acara gereja."
"Ini dipaksa sama bokap, Bang. Kalau gue nggak dateng, gue bisa diusir dari rumah."
Bohong. Tapi Alek harus cari alasan yang masuk akal.
Dimas menghela napas. "Ya udah. Tapi minggu depan lo harus komitmen penuh ya."
"Siap, Bang. Makasih."
***
Sabtu sore, Alek sudah siap. Dia datang ke warung depan pesantren jam empat sore. Pesan kopi, duduk di pojok yang sama.
Pemilik warung langsung nyengir. "Eh, Mas yang kemarin! Balik lagi?"
"Iya, Pak," jawab Alek malu.
"Mau nunggu santriwati lagi ya? Sabar ya, Mas. Belum tentu juga mereka keluar hari ini."
Alek cuma tersenyum kecut.
Dia menunggu. Lima belas menit. Tiga puluh menit. Satu jam.
Lalu, gerbang pesantren terbuka.
Lima santriwati keluar, berjalan menuju warung. Alek langsung menegakkan tubuhnya. Jantungnya berdebar.
Salah satunya—tas punggung cokelat—itu dia!
Mereka masuk ke warung, duduk tidak jauh dari Alek. Alek pura-pura fokus sama hapenya, tapi telinganya mendengarkan.
"Khansa, kamu mau pesen apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Es teh aja, Salma."
Suara itu. Suara yang lembut. Alek langsung merinding.
Dia ingin sekali menoleh, ingin melihat lebih dekat, tapi dia takut ketahuan. Jadi dia cuma diam, mendengarkan percakapan mereka dari jauh.
Mereka ngobrol tentang kajian, tentang hafalan Al-Qur'an, tentang kegiatan pesantren. Suara-suara yang hangat, tawa yang lembut.
Lalu tiba-tiba, salah satu dari mereka berkata, "Eh, cowok di pojok itu kayaknya dari kemarin nongkrong di sini deh. Gue pernah lihat."
Alek langsung kaku.
"Mungkin dia emang langganan di sini," jawab suara lain—suara Khansa.
"Atau mungkin dia nunggu seseorang?" kata yang lain lagi, diikuti tawa-tawa kecil.
Alek ingin menghilang dari muka bumi.
Tidak lama kemudian, para santriwati selesai makan. Mereka membayar, lalu keluar dari warung. Alek mendengar suara langkah kaki mereka menjauh.
Dia menghela napas lega.
"Gue beneran gila," umpatnya sambil memegang kepalanya.
Pemilik warung menghampiri dengan senyum simpul. "Gimana, Mas? Berhasil ketemu?"
"Ketemu sih... tapi nggak ngomong apa-apa."
"Ya namanya juga santriwati, Mas. Nggak gampang dideketin. Harus pake cara yang bener."
"Cara yang bener gimana, Pak?"
Pemilik warung terdiam sebentar, lalu berkata, "Ya harus resmi, Mas. Lewat ustadzah, lewat keluarga. Atau... masuk Islam dulu."
Alek tersentak. Masuk Islam?
Dia belum pernah mikir sampai ke sana. Dia cuma... penasaran aja. Pengen kenal. Bukan sampai mikirin agama.
"Gue belum sampai situ, Pak," jawab Alek pelan.
"Ya terserah kamu, Mas. Tapi kalau niatnya cuma main-main, mending jangan dilanjutin. Kasian anak-anak itu."
Alek terdiam.
Kata-kata pemilik warung itu menohok. Main-main? Emang dia main-main? Atau... dia serius?
Dia sendiri tidak tahu jawabannya.
***
Malam itu, Alek berbaring di kasurnya. Pikiran melayang kemana-mana.
Nama itu terus terngiang. Khansa. Suara itu. Tawa itu.
"Gue ngapain sih?" tanyanya frustasi pada diri sendiri.
Tapi hatinya berkata lain. Hatinya ingin terus mencari. Ingin terus tahu.
"Gue harus cari cara lain," tekadnya.
Dan tanpa dia tahu, minggu depan akan ada pengumuman di sekolahnya—pengumuman yang akan membuka jalan baginya untuk bertemu Khansa secara resmi.
Pengumuman tentang bakti sosial bersama Pesantren Al-Hikmah.
**
*Kadang, jalan yang kita cari dengan susah payah, ternyata sudah disiapkan oleh Yang Maha Mengatur. Tinggal menunggu waktu yang tepat.*
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg