🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 | Karyawan Magang yang Beruntung
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Gedung pusat Grup Dragon berdiri angkuh di distrik Pudong, sebuah monumen kaca dan baja yang seolah menusuk langit Shanghai yang kelabu. Bagi ku, gedung ini tidak hanya sekadar kantor pusat konglomerat ekspor-impor terbesar di Asia; ini adalah papan catur raksasa di mana aku akan meletakkan bidak pertama ku.
Aku berdiri di lobi yang luas-nya hampir menyamai lapangan bola, menyesuaikan kerah kemeja baru ku yang aku beli dari pasar loak kemarin. Meskipun murah, kemeja ini bersih. Aku tidak lagi tampak seperti pengungsi yang baru turun dari kapal. Aku harus terlihat seperti orang biasa yang ambisius topeng yang sempurna untuk menutupi mata seorang cenayang.
"Tenang, Satya," bisik ku dalam hati. "Gunakan mata mu, tapi jangan tunjukkan jiwa mu. Di gedung ini, setiap dinding punya telinga dan setiap bayangan punya belati."
Aku melihat sekeliling. Lobi itu dipenuhi oleh para pelamar kerja, lulusan universitas top dari seluruh dunia, mengenakan setelan Armani dan membawa portofolio berlapis kulit. Di atas kepala mereka, aku melihat angka-angka yang menyedihkan. 10%... 5%... 2%... Itu adalah persentase peluang mereka untuk bertahan di perusahaan ini lebih dari tiga bulan.
Tiba-tiba, pintu lift khusus petinggi terbuka. Seorang wanita muda melangkah keluar dengan terburu-buru, diikuti oleh seorang pria berkacamata yang membawa tumpukan dokumen.
DEG.
Mata ku memanas. Pupil mata ku bergetar, dan dunia di sekitar ku memudar menjadi spektrum aura. Wanita itu, pasti dia Wang Meiling, pewaris tunggal Grup Dragon, memiliki aura biru safir yang dingin namun retak di bagian tengah nya. Di atas kepala nya, sebuah angka merah besar berkedip: - $ 50.000.000 (Kerugian dalam 2 jam ke depan).
Namun, yang lebih menarik adalah pria di belakang nya. Asisten nya. Di atas kepala pria itu, ada simbol belati hitam yang menancap di punggung bayangan Wang Meiling. Sebuah teks transparan muncul di samping wajah-nya: Menjual kode enkripsi pengapalan kepada sindikat saingan pukul 11.00 pagi ini.
"Sial," gumam ku. "Dua jam lagi, dan kerajaan ini akan mulai runtuh sebelum aku sempat bergabung."
Aku berjalan menuju meja pendaftaran wawancara. Seorang wanita cantik dengan seragam ketat, penerima tamu, menatap ku dengan sebelah mata.
"Nama?" tanya nya tanpa melihat ke arah ku.
"Satya Samantha. Pelamar magang divisi logistik."
Wanita itu melirik kemeja ku, lalu tertawa kecil yang menghina. "Logistik? Kamu tahu berapa banyak lulusan Harvard yang mengantre di belakang mu? Pulanglah, cari pekerjaan di dermaga saja."
Aku mencondongkan tubuh, menatap mata nya dalam-dalam. Aku melihat aura merah muda yang kusam di wajah nya. "Nona, daripada mengkhawatirkan pendidikan ku, lebih baik Anda khawatir tentang lipstik di kerah baju suami Anda yang Anda temukan pagi ini. Jika Anda membiarkan saya masuk sekarang, saya akan memberi tahu Anda di hotel mana dia berada saat jam makan siang nanti."
Wanita itu membeku. Wajah-nya yang semula angkuh berubah menjadi pucat pasi. "Bagaimana... bagaimana kau..."
"Lantai berapa Wang Meiling melakukan pertemuan?" tanya ku, suara ku kini sedingin baja.
"Lantai... lantai 48. Ruang rapat Emerald," jawab nya dengan suara gemetar. Dia tidak berani bertanya lagi. Dia segera memberikan kartu akses sementara pada ku.
Lantai 48 terasa seperti medan perang yang tenang. Aku berjalan menyusuri lorong berkarpet tebal. Di depan ruang rapat Emerald, beberapa penjaga keamanan bertubuh besar menghalangi jalan.
"Dilarang masuk. Pertemuan tertutup," bentak salah satu dari mereka.
Aku melihat Wang Meiling di balik pintu kaca yang agak terbuka. Dia sedang berdebat dengan sekelompok pria tua yang tampak agresif. Asisten nya berdiri di pojok, diam-diam menekan sesuatu di ponsel-nya di bawah meja.
"Aku hanya ingin mengantarkan kopi tambahan," kata ku sambil mengambil nampan kopi yang di tinggalkan petugas office boy di meja pantry luar.
"Kami tidak memesan—"
Sebelum penjaga itu selesai bicara, aku sudah menyelinap masuk dengan gerakan yang gesit. Di dalam ruangan, suasana sangat tegang.
"Nona Wang, jika dokumen pengapalan ini tidak segera ditanda-tangani, kontrak dengan Jerman akan hangus!" bentak salah satu pria tua.
Wang Meiling tampak frustrasi. "Ada yang salah dengan sistem enkripsi nya! Aku tidak bisa membuka akses terminal nya!"
"Nona Wang," aku berbicara dengan suara yang cukup keras hingga semua orang menoleh. Aku meletakkan nampan kopi di meja besar itu, tepat di depan Meiling. "Mungkin masalah nya bukan pada sistem-nya, tapi pada tangan yang memegang kunci nya."
Meiling menatap ku tajam. Mata-nya yang indah namun dingin menusuk ku. "Siapa kau? Berani nya kau masuk ke sini!"
"Hanya seorang pelamar magang yang tidak ingin melihat perusahaan tempat nya bekerja bangkrut di hari pertama," jawab ku tenang. Aku melirik ke arah asisten-nya yang kini mulai berkeringat dingin. "Tuan Asisten, bukankah ponsel di saku kiri Anda sedang mengirimkan data log transmisi ke alamat IP di Macau saat ini?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Si asisten terperanjat, tangan nya secara naluriah menyentuh saku celana nya. "Apa yang kau bicarakan, dasar gembel! Nona Wang, usir dia!"
Aku menatap Meiling. "Nona, minta dia mengeluarkan ponsel nya. Jika saya salah, Anda boleh menyerahkan saya ke polisi. Tapi jika saya benar, Anda baru saja menyelamatkan lima puluh juta dollar."
Meiling bukan wanita bodoh. Dia merasa aneh saat melihat ketakutan di mata asisten kepercayaan nya. "Lin, keluarkan ponsel mu. Sekarang."
"Nona... ini penghinaan! Saya sudah mengabdi selama lima tahun!" teriak si asisten.
"SEKARANG!" Meiling menggebrak meja.
Penjaga keamanan masuk dan segera meringkus si asisten. Saat ponsel nya diperiksa, wajah Meiling berubah menjadi putih bersih. Semua kode enkripsi pengapalan global sedang di unggah ke server pesaing. Jika unggahan itu selesai, seluruh kargo mereka di tengah laut akan dibajak secara legal oleh klaim asuransi palsu.
"Batalkan unggahan nya! Blokir akses-nya sekarang!" perintah Meiling pada tim teknis nya.
Sepuluh menit yang kritis berlalu. Suasana di ruangan itu seperti di ruang operasi. Hingga akhir nya, kepala teknisi berteriak, "Berhasil! Sistem kembali aman. Pengkhianatan di hentikan."
Meiling menghela napas panjang. Dia duduk kembali di kursi nya, lalu menatap ku seolah-olah aku adalah alien yang baru jatuh dari langit. Dia berdiri, berjalan mendekat hingga aroma parfum melati yang mahal memenuhi indra penciuman ku.
"Siapa nama mu?" tanya nya. Suaranya tidak lagi membentak, tapi penuh dengan rasa ingin tahu yang berbahaya.
"Satya Samantha."
"Bagaimana kau tahu dia berkhianat? Kau bahkan baru masuk ke ruangan ini sepuluh detik," Meiling menyipitkan mata nya. Dia mencoba mencari tanda-tanda alat penyadap atau peralatan canggih pada tubuh ku, tapi dia hanya menemukan kemeja murah dan aura misterius yang tak bisa dia jelaskan.
"Aku hanya punya insting yang sangat bagus soal angka dan kebohongan, Nona Wang," jawab ku sambil tersenyum tipis. "Dan insting ku bilang, Anda sedang membutuhkan asisten baru yang tidak akan menusuk Anda dari belakang."
Meiling terdiam. Dia melihat ke sekeliling ruangan, ke arah para direktur tua yang tadi nya meragukan nya, dan kini mereka semua tertunduk malu. Dia kembali menatap ku.
"Magang?" dia bertanya dengan nada meremehkan yang dibuat-buat. "Pria yang menyelamatkan lima puluh juta dollar dalam sepuluh detik tidak akan menjadi anak magang di perusahaan ku."
"Lalu?"
"Kau akan menjadi konsultan strategis pribadi ku. Mulai detik ini. Kau akan duduk di kantor sebelah ku," ucap Meiling tegas. "Tapi ingat satu hal, Satya. Jika kau berbohong pada ku sekali saja, aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari Shanghai lagi."
Aku membungkuk hormat. "Sebuah kesepakatan yang adil, Nona."
Sore hari nya, aku berdiri di jendela kantor ku yang baru di lantai 48. Pemandangan Shanghai terbentang luas di bawah ku. Di samping ku, sepucuk surat kontrak kerja dengan gaji yang tak pernah kubayangkan sebelum-nya terletak di meja jati yang mewah.
"Clarissa, lihatlah ini," pikir ku dalam hati. "Di Jakarta, aku harus memohon pada mu hanya untuk uang belanja mingguan. Di sini, di jantung ekonomi Asia, aku baru saja membeli masa depan ku dengan satu rahasia."
Tiba-tiba, pintu kantor ku diketuk. Seorang wanita masuk. Dia mengenakan pakaian kasual namun rapi.
"Lin Xia?" aku sedikit terkejut.
Pramugari yang ku selamatkan di pesawat itu berdiri di sana, mata nya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Aku sudah mencari alamat mu sejak pagi tadi. Apartemen ku benar-benar diserang, Satya. Jika bukan karena kau, aku sudah mati."
Aku duduk di kursi kebesaran ku, menatap nya. Di atas kepala Lin Xia, aura kesetiaan nya kini berwarna emas murni. 100%.
"Duduklah, Xia," kata ku sambil menunjuk kursi di depan ku. "Aku butuh seseorang yang bisa di percaya untuk mengurus hal-hal di luar gedung ini. Shanghai adalah kota yang besar, dan aku butuh mata di mana-mana."
"Apa pun, Satya. Aku akan melakukan apa pun untuk mu," jawab nya tanpa ragu. Dia menatap ku dengan cara yang berbeda sekarang, bukan lagi sebagai penumpang yang aneh, tapi sebagai tuan yang mutlak.
Aku tersenyum. Satu pion di dalam perusahaan (Wang Meiling) dan satu pion di jalanan (Lin Xia). Permainan baru saja dimulai.
Krisis 1997 akan segera menghantam dengan kekuatan penuh dalam beberapa minggu. Orang-orang akan menangis karena kehilangan harta mereka, tapi aku... aku akan mengumpulkan reruntuhan itu dan membangun tempat ku sendiri.
"Xia," panggil ku.
"Ya, Satya?"
"Siapkan diri mu. Besok kita akan mulai berbelanja beberapa perusahaan yang akan bangkrut. Dunia mungkin sedang kiamat, tapi bagi kita, ini adalah hari perayaan."
Aku menatap langit Shanghai yang mulai gelap. Di kejauhan, lampu-lampu mulai menyala, namun bagi ku, cahaya yang paling terang adalah angka-angka masa depan yang terus menari di depan mata ku.
Menantu sampah itu telah mati. Yang ada sekarang adalah arsitek dari kekacauan yang akan datang. Dan Shanghai hanya lah langkah pertama.
...----------------🍁----------------🍁----------------...