Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
More Than Just a Canvas
Fraya menatap pantulan dirinya di depan cermin besar itu, sedikit mengernyit. Ada perasaan ganjil yang merayap saat ia melihat sosok di sana.
Seorang gadis yang tampak... kelewat berdandan.
Baginya, definisi cantik biasanya cukup dengan kuncir kuda praktis dan sapuan bedak tipis, namun sosok di cermin ini seolah baru saja keluar dari sampul majalah mode yang tidak sengaja terdampar di kamar Damian.
Ia menggigit bibir bawahnya, memutar badan perlahan untuk memastikan setiap sudut penampilannya yang kini terasa asing. Rambut yang biasanya ia ikat rapi kini dibiarkan terurai bebas, jatuh membingkai wajahnya dalam gelombang yang lembut.
Matanya berpendar lagi ke arah jajaran kosmetik mahal dan ber merk terkenal di atas meja kamar mandi, alat-alat make up yang disiapkan pelayan Damian setelah ia selesai mandi tadi.
Fraya tidak tahu sudah berapa jam ia menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Sebenarnya bukan untuk merias diri, melainkan karena ia belum siap menampakkan wajah di depan pria yang menunggunya di balik pintu kamar mandi sialan ini.
Ciuman itu. Sentuhan itu. Ya Tuhan.
Fraya menatap wajahnya sendiri yang kini merona hebat. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, seolah ingin bersembunyi dari kenyataan di depan cermin.
"Malu-maluin banget sih lo! Ih!"
Umpatan itu lolos begitu saja dalam bahasa Indonesia, refleks yang selalu muncul setiap kali ia merasa terdesak atau kesal setengah mati. Sebuah mekanisme pertahanan diri yang biasanya cukup ampuh, namun kali ini terasa hambar.
Sebab, hati Fraya tidak bisa memungkiri sensasi yang tertinggal. Jemari Damian yang seolah membakar habis raganya, memberikan letupan hebat yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Sebuah reaksi tubuh yang tidak pernah ia duga bisa sedahsyat itu, seolah setiap jengkal kulitnya baru saja dibangunkan oleh sentuhan yang tepat.
Berkali-kali ia memastikan gaun musim panas bermotif bunga biru putih itu jatuh dengan pas. Panjangnya hanya setengah paha, cukup berani untuk mengekspos sepasang kakinya yang jenjang. Elegan, namun mematikan. Setelah menghela napas panjang untuk memompa sisa-sisa keberaniannya, ia akhirnya melangkah keluar.
Kamar itu sudah sunyi. Damian sudah tidak ada di sana.
Fraya mengembuskan napas lega, namun kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Di atas kasur, ponselnya mendenting kan pesan dari pria itu: ia menunggu di meja makan untuk sarapan.
Sarapan?
Fraya mendengus. Memangnya Damian pikir ia masih sanggup menelan apa pun setelah pria itu dengan lancang menggerayangi seluruh sistem sarafnya tadi?
Ia memasukkan ponsel ke saku gaun, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu di rak meja sudut kamar.
Dahinya mengernyit. Ia berbelok menuju sebuah bingkai foto yang diletakkan di nakas meja panjang tersebut.
Bingkai itu tidak berisi foto, melainkan secarik kertas yang sudah dilipat-lipat, menunjukkan bekas garis usang yang menjadi saksi bisu berapa kali kertas itu telah dibuka.
Senyum Fraya praktis mengembang tanpa bisa dicegah saat membaca tulisan di sana. Itu adalah kertas penyemangat yang pernah ia tulis untuk Damian saat pertandingan Lacrosse beberapa waktu yang lalu.
JERMAN FRAYA: 60
LACROSSE HARDING: 1
WINNING IT FOR ME!
Fraya terkekeh sendiri. Ia ingat momen ini. Momen yang membuat Fraya menatap Damian dengan cara yang berbeda untuk pertama kalinya. Dan melihat cowok menyebalkan itu masih menyimpan secarik kertas ini, adalah bentuk gestur paling manis dari seorang cowok seperti Damian ketimbang ia harus memberi lusinan bunga dan cokelat.
Kekesalan yang membara di kepalanya seolah menguap begitu saja, sampai sebuah pesan kembali masuk dari orang yang sama.
"You're not dead, aren't you?"
Secepat kekesalannya sempat menguap, secepat kilat itu juga kekesalannya untuk cowok brengsek itu muncul lagi ke permukaan.
...°°°°°...
Damian tidak pernah merasa se-gelisah ini karena seorang perempuan. Apalagi sampai harus menunggunya turun.
Namun, pertemuannya dengan Fraya membuatnya menyadari bahwa sepanjang hidupny, Damian ternyata belum pernah benar-benar punya pengalaman naksir dengan satu orang gadis pun. Baru dengan Fraya, gadis itu berhasil membuat ritme jantungnya jadi berantakan.
Ia jatuh cinta, mengejarnya tanpa malu, hingga sampai pada tahap yang mungkin sudah melampaui batas kewajaran, yaitu obsesi.
Damian berjalan mondar-mandir di aula ruang tengah sambil memainkan ponsel.
Ayahnya baru saja menghubungi, memintanya menghadiri sebuah jamuan besar salah satu kolega utama keluarganya di Leicester.
Ayahnya tidak tahu bahwa saat ini, Damian rela menukar seluruh koleksi kolega penting Harding Global hanya untuk satu jam tambahan bersama Fraya Alexandrea.
"Ini Madame Moitessier, kan?"
Seperti disetrum listrik, Damian menoleh cepat ke suara dibelakang punggungnya.
Dan seketika, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Fraya berdiri di tengah undakan tangga, memandang salah satu dari barisan lukisan di dinding liukan tangga itu.
"Maksudku, Jean-Auguste-Dominique Ingres? Aku mengenali presisi garisnya yang luar biasa... lihat bagaimana dia menangkap pantulan cahaya pada sutra itu. Begitu elegan, hampir terasa seperti sebuah foto namun dengan jiwa yang jauh lebih dalam."
Damian masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap sosok Fraya ditengah tangga yang tidak sadar ada seseorang yang sejak tadi menunggunya, kink begitu terpana sampai tidak mampu berkata apa-apa.
Fraya tampak luar biasa memukau.
Rambut hitamnya terurai panjang dengan sedikit ikal di bagian bawah, terlihat begitu lembut, tampak seperti tirai berwarna hitam yang menyebar di bahunya.
Riasan tipis di wajahnya terlihat begitu segar, dengan polesan lipstik berwarna nude yang tidak berlebihan.
Dan gaun itu—terkutuklah Damian dan gairahnya yang bajingan—gaun pendek itu memperlihatkan kaki panjang Fraya yang indah. Membuat sosoknya seperti cahaya dalam kegelapan.
Fraya masih tenggelam dalam keterpanaan nya pada lukisan karya Jean-Auguste-Dominique di depannya.
Gadis itu menoleh ke arah Damian yang masih sibuk mencari satu patah kata untuk menutupi kebisuannya.
"Detail perhiasannya, jemari yang menyentuh pelipis... ini puncak Neoklasikisme. Aku tidak menyangka kamu menyimpan harta karun setingkat Louvre di rumahmu sendiri."
Karena tidak mendapat jawaban sama sekali, Fraya mengerutkan kening sambil menaikkan satu oktaf suaranya, "Damian? Earth to Damian!"
Akhirnya setelah mengerjap beberapa kali, Damian menemukan suaranya, walaupun terdengar serak dan agak terbata-bata. "Dari mana kamu tahu karyanya? Tidak semua orang tahu mahakarya dengan nilai tinggi seperti ini, Ace. Apalagi mengenali sapuan kuasnya dalam sekali lirik."
Fraya memberikan senyum tipis. Ia melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dengan tenang.
"Dari Ayahku. Dulu aku sering ikut Ayah untuk lihat beberapa pameran lukisan taraf dunia ini di berbagai kesempatan. Ayahku selalu bilang, untuk memahami masa depan, kita harus belajar bagaimana orang-orang di masa lalu mengabadikan kesempurnaan," jawab Fraya santai.
Ia kemudian melanjutkan penjelasannya dengan binar mata yang cerdas, "Aku menghabiskan waktu luang ku bukan hanya belajar dari buku saja, Damian. Sejak itu aku jadi tertarik belajar sedikit soal sejarah seni karena menulis deskripsi karakter yang hidup membutuhkan referensi visual yang nyata. Ingres bukan sekadar pelukis, dia itu seperti seorang perfeksionis yang menghabiskan dua belas tahun hanya untuk menyelesaikan lukisan ini. Dedikasi semacam itu harus dapat apresiasi tinggi."
Damian tahu bahwa gadis di sebelahnya ini memang jenius, walaupun kelemahannya ini menurut Damian sangat sepele—hanya tidak bisa bahasa Jerman.
Tiba-tiba saja, sisi jahil Damian muncul lagi.
"Dedikasi yang luar biasa, memang," Damian menyandarkan bahunya di pilar tangga, menatap Fraya dengan binar jahil. "Tapi sejujurnya, Fraya, Ingres ini terlalu... sopan untukku. Aku sebenarnya sudah lama mengincar The Swing karya Fragonard, atau mungkin koleksi sketsa pribadi milik Gustave Courbet yang sedikit lebih... 'ekspresif' dalam mengeksplorasi lekuk tubuh manusia."
Fraya memutar bola matanya, wajahnya memerah karena sedikit kesal sekaligus malu. "Kamu memang benar-benar tidak bisa membiarkan satu momen elegan pun berlalu tanpa pikiran nista, ya? Really Damian, Fragonard dan Courbet? Seleramu ini memang se cabul pikiranmu."
Damian merendahkan wajahnya tepat di sisi wajah Fraya hingga napasnya menyapu pipi gadis itu, "Tapi kamu suka kan, versiku yang seperti di atas tadi?"
Mata Fraya membelalak sambil mendorong bahu Damian menjauh darinya, "Back off, you pervert! No more kissing or touching me unless I ask you by myself."
Damian bersedekap, pura-pura terluka, "Bagaimana maksudnya aku tidak boleh mencium kekasihku sendiri?"
Fraya mendengus sebal, "Kamu amnesia atau bagaimana, sih? Terakhir yang kuingat, aku belum memberikan jawabanku soal jadi kekasihmu."
Wajah Damian lebih mendramatisir lagi hingga mulutnya menganga,
"Fraya Alexandrea, kalau kamu tahu, semalam kamu berteriak di depan banyak orang kalau kamu itu kekasihku saat kamu menolak diajak pulang."
Fraya merasa seperti baru saja ditampar. Matanya mendelik seketika, "YOU SAID NOTHING BAD HAPPENED LAST NIGHT!"
Damian tersenyum puas sambil berjalan menuju meja makan, "Mendengar mu berteriak kalau kamu adalah kekasihku? Itu sama sekali bukan kejadian buruk untukku, Ace."
Tangan Fraya sudah ingin terkepal memberi tinju untuk Damian, namun ia pada akhirnya hanya berakhir kehilangan kata-kata.
Ia hanya bisa menyentak kakinya dengan kesal, berusaha berjalan melewati Damian, mengabaikan cowok pirang menyebalkan itu di sana.
Sebelum Fraya sempat menyelesaikan langkahnya melewati pria itu, sebuah tangan kokoh menyambar pinggangnya dengan gerakan kilat namun pasti.
Fraya tersentak saat tubuhnya ditarik hingga menempel rapat pada dada Damian yang bidang. Ia berusaha meronta, mendorong bahu tegap itu dengan sisa tenaganya, namun tangan Damian terasa seperti dinding beton—tak tergoyahkan.
Cengkeraman tangan Damian di punggungnya terasa hangat dan posesif. Saat mata mereka bertemu, Fraya mendadak kehilangan kata-kata. Mata biru Damian tidak lagi memancarkan binar jahil yang menyebalkan, melainkan sebuah tatapan tulus yang begitu dalam, seolah-olah ia sedang memuja sesuatu yang paling berharga di dunia ini.
"Sangat sulit buat aku untuk mengagumi keanggunan seorang wanita di atas kanvas yang sudah berusia ratusan tahun, Ace," bisik Damian, suaranya kini merendah, nyaris seperti gumaman rahasia. "Apalagi ketika ada keindahan yang jauh lebih nyata dan jauh lebih cerdas sedang berjalan turun dari tangga tadi. Terutama saat keindahan itu mengenakan gaun seseksi ini... yang seolah-olah memang hanya dirancang untuk memeluk tubuhmu dengan sempurna."
Fraya merasakan seluruh sarafnya menegang. Ia bisa merasakan detak jantung Damian yang beradu dengan miliknya. Pupil matanya membesar, dan ia tahu rona merah di pipinya sudah tidak bisa lagi disembunyikan.
Karena tak sanggup menahan intensitas tatapan itu, Fraya membuang muka, sebuah reaksi defensif yang justru membuat Damian kembali terkekeh kecil.
Dengan gerakan lembut yang tak terduga, Damian mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala Fraya—sebuah kecupan yang terasa lebih intim daripada sekadar godaan.
"Tenang saja, aku tidak akan lagi sembarangan menciummu," ujar Damian sambil perlahan melepaskan dekapannya, "kecuali kamu sendiri yang meminta."
Pria itu kemudian melangkah lebih dulu menuju meja makan dengan santai, meninggalkan Fraya yang masih terpaku di tempatnya. Seharusnya Fraya merasa menang. Seharusnya ia lega karena Damian akhirnya memberinya batasan.
Namun, entah kenapa, ada bagian kecil di sudut hatinya yang merasa... salah? Reaksi yang langsung Fraya tepis jauh-jauh sambil mengumpat tajam untuk dirinya sendiri dalam hati.
...°°°°°...
"Kamu tunggu di sini, ya."
Kalimat itu memecah keheningan di dalam mobil saat mereka melewati persimpangan jalanan Gormsey yang tenang.
Sebelum Fraya sempat bertanya, Damian sudah mematikan mesin, meluncur turun dari balik kemudi, dan berlari kecil menuju padang rumput luas di sisi jalan.
Fraya hanya bisa memperhatikan dari kaca jendela, mengamati sosok Damian yang tampak sibuk di antara ilalang dan tanaman liar di bawah siraman cahaya matahari.
Tak lama kemudian, pria itu kembali dengan napas yang sedikit memburu, membawa beberapa tangkai bunga Iris biru yang masih segar.
"I know, that you don't like roses because it's too cliche. But you can never resist when it comes to iris, right?"
Damian menyodorkan bunga-bunga itu ke Fraya. Dan seketika, dirinya tertegun lagi.
Iris biru, bunga yang selalu menjadi favorit Fraya, namun ia tak pernah menyangka Damian akan memperhatikannya sedetail itu.
"Untuk melengkapi kecantikanmu hari ini," tambah Damian singkat, sebuah pujian yang terasa jauh lebih tulus daripada semua gombalannya tadi pagi.
Fraya menerima bunga itu dengan jemari sedikit gemetar, lidahnya mendadak kelu.
Tanpa menunggu balasan, Damian menghidupkan kembali mesin Lexus-nya. Mobil itu membelah jalanan Gormsey yang cerah, diiringi aroma bunga Iris yang memenuhi kabin, menambah berat suasana yang kini dipenuhi oleh sesuatu yang tak kasatmata namun terasa sangat kuat di antara mereka.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan pelataran rumah Fraya. Damian mematikan kunci kontak, namun ia tidak langsung turun. Ia justru mengamati Fraya yang sejak tadi hanya menundukkan kepala, sibuk memilin tangkai bunga di tangannya.
"Ace, what's wrong?"
Fraya memberanikan diri menatap Damian. Saat itu juga, jemari pria itu terangkat, menyelipkan beberapa helai rambut Fraya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat personal. Anehnya, kali ini Fraya tidak menghindar. Ia justru membiarkan sentuhan itu menetap sejenak.
"Damian, sebenarnya apa yang kita lakukan sekarang ini?" suara Fraya terdengar lirih.
Ia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, "Aku tidak pernah merasa se meledak-ledak begini selama hidupku. Tapi semenjak bertemu kamu, semuanya rasanya aneh. Dan aku tidak tahu... apa sebenarnya tujuanmu melakukan semua ini ke aku."
Damian tertegun, sorot matanya yang tajam mendadak melunak.
"Kalau kamu bilang kamu tertarik denganku, rasanya sangat salah. Karena menurutku, tidak ada bagian dari diriku yang seimbang dengan duniamu," lanjut Fraya, suaranya mulai goyah. "Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu dariku, kan?"
Pertanyaan itu seperti hantaman telak bagi Damian. Tangannya yang tadi menyentuh rambut Fraya perlahan turun.
Ia menatap gadis di depannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Kamu punya Alana Highmore, yang dari segi fisik saja, aku sudah kalah jauh," Fraya terus bicara, menumpahkan segala kegelisahan yang ia simpan sejak pesta semalam. "Di pesta Robby kemarin, dia bilang kalian ditakdirkan bersama. Kalian serasi, dari keluarga berada, dari dunia yang sama. Kenapa kamu tidak bersama dia saja daripada memilih aku yang... seperti ini?"
Damian memejamkan mata sesaat, seolah sedang menahan sesuatu yang menyesakkan di dadanya. Namun saat ia membuka mata, yang ada hanyalah kejujuran yang telanjang. Ia terkekeh pelan, namun suaranya kali ini terdengar sangat menenangkan.
"Jangan sekalipun kamu membandingkan dirimu dengan Alana, Ace."
Damian kembali menatapnya, kali ini dengan intensitas yang lebih serius.
"Aku dan Alana memang berasal dari dunia yang sama. Tapi Alana menyukaiku seperti sebuah ambisi. Sejak kecil, aku hanya menganggapnya teman masa kecil, tapi dia selalu memandangku seperti misi. Misi menaklukkan hati seorang Damian Harding demi investasi kekayaan dan koneksi keluarganya dengan keluargaku. Itu bukan cinta, itu transaksi."
Ia menghela napas, mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat ke arah Fraya. "Sedangkan kamu... kamu memandangku secara rasional. Kamu membuatku merasa seperti manusia normal, bukan sekadar pewaris harta. Wanita cantik di luar sana itu banyak, Ace, tapi yang bisa memberi rasa aman dan membuatku merasa berharga sebagai manusia biasa... cuma kamu. Cuma kamu yang bisa begitu."
Fraya membeku, merasa jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Namun, Damian tidak berhenti di situ. Ia mengusap puncak kepala Fraya lagi, binar jahilnya kembali sedikit menyala.
"Dan kamu itu kombinasi dari dasar obsesi ku. Kamu bukan hanya kelewat cantik dan pintar. Kamu itu perempuan paling seksi yang pernah aku temui, yang bisa membuatku tidak berhenti berfantasi akan kamu—"
"Okay, that's it!" potong Fraya cepat, wajahnya kini merah padam karena malu. "Terima kasih sudah mengantarku pulang. Semoga orang sepertimu tidak ditabrak truk muatan dalam perjalanan pulang mu nanti!"
Damian meledak dalam tawa yang lepas, suara tawanya menggema bahkan saat Fraya sudah melompat turun dari mobil dengan terburu-buru.
"Ace, don't go!" teriak Damian sambil ikut turun, masih terpingkal-pingkal.
Fraya berbalik dengan wajah sudah kepalang gondok, "Kamu itu benar-benar senang merusak suasana dengan ucapan sembarangan mu itu, ya!"
"Ace, jangan marah padaku, tolong..." Damian berusaha meredam tawanya, meski gagal total saat melihat wajah Fraya yang bersungut-sungut.
Tepat saat Fraya hendak melancarkan umpatan paling tajam dalam bahasa Indonesia, pintu rumahnya terbuka.
Sosok Mamanya muncul di ambang pintu, membuat suasana mendadak canggung.
"Fraya, kamu habis dari mana?" tanya Mamanya sambil berjalan mendekat dengan bahasa Indonesia
Fraya mengerjapkan mata, dengan terbata-bata melempar tanya, "Mama bukannya masih harus di rumah sakit, ya?"
Mama Fraya berdeham sebelum menjawab, "Ooh, itu, jadwal pengobatannya dimajukan, jadi selesai lebih cepat." Mama menjelaskan dalam bahasa Indonesia, kemudian saat mata Mama turun mengamati tampilan Fraya yang menurut Mama sangat tidak seperti Fraya yang biasanya ini, Mama bertanya, kali ini dalam bahasa Inggris, "That dress looks lovely, Sweetheart."
Mata Mamanya yang mulai menyelidik, berpindah dari wajah Fraya yang merah padam ke sosok Damian yang masih berdiri dibelakang Fray.
Senyumnya langsung melebar. "Oh, bareng Damian juga? Kalian baru dari mana?"
Seketika Damian langsung memasang gestur tersopan yang mampu membuat ibu manapun di dunia ini jadi ingin menjodohkan anak mereka dengan Damian.
"Good afternoon, Mrs. Moore. Saya dan Fraya baru saja pulang dari kencan," jawab Damian tanpa ragu, dengan nada se sopan mungkin.
Fraya dan Mamanya membelalak bersamaan. Mamanya tampak sangat bahagia, sementara Fraya merasa dunianya baru saja runtuh. Ia ingin sekali memukul pria pirang di depannya itu.
"Kencan? Pantas Fraya dandan secantik ini. Tapi kalian kencan dari pagi? Biasanya kan kencan itu malam," tanya Mamanya penuh minat.
Fraya melirik Damian dengan tatapan mengancam. Jika Damian salah bicara sedikit saja soal kejadian semalam, Fraya tamat. Namun, Damian dengan cerdik memutar balik keadaan.
"Semalam Fraya menginap di rumah Florence, Ma'am. Dan kami merasa kencan di pagi hari dengan sarapan bersama adalah cara paling manis untuk menikmati waktu. Kami ingin sedikit berbeda dari pasangan lain," ujar Damian dengan wajah sangat meyakinkan.
Mamanya langsung menyenggol bahu Fraya sambil tersenyum penuh arti ketika mendengar kata "Pasangan".
Fraya hanya bisa menghela napas lega sekaligus kesal karena kebohongan Damian terdengar begitu mulus yang kini jadi bikin Fraya ingin muntah.
"Kalau begitu, masuk dulu? Papa Fraya baru beli scone, enak buat teman minum teh," tawar Mama Fraya sopan.
Damian menggeleng sopan, "Terima kasih banyak, Ma'am. Tapi saya harus segera pulang karena ada urusan yang harus diselesaikan."
Setelah berpamitan, Fraya dan Mamanya hendak masuk.
Namun, tiba-tiba Mamanya berhenti dan berbalik lagi ke arah Damian.
"Oh iya, Damian, minggu depan kamu ke sini, kan?"
Mata Fraya kembali membelalak lebar. Ia berbalik badan dengan panik. Fraya menarik tangan Mamanya sekuat tenaga, mencoba memberi kode agar Mamanya diam.
Tapi tentu saja, kode itu diabaikan sang Mama saat ia berseru,
"Minggu depan Fraya ulang tahun. Kamu datang ya ke rumah, kita rayakan bersama," seru Mamanya riang.
Fraya menutup wajahnya dengan sebelah tangan, luar biasa lelah.
Sementara Damian, di seberang sana, tersenyum lebar dengan kilat kepuasan di matanya.
"Saya pastikan saya akan datang, Mrs. Moore. Bahkan saya akan datang paling awal nanti."
Mamanya memberikan dua jempol tinggi di udara, yang langsung dibalas oleh Damian dengan gestur yang sama.
Damian kemudian mengedipkan sebelah mata ke arah Fraya, sebuah gerakan provokatif yang membuat Fraya semakin ingin mengumpat.
Fraya berbalik masuk ke rumah dengan langkah menyentak, sementara di belakangnya, ia masih bisa merasakan tatapan intens Damian yang menemaninya hingga pintu tertutup rapat.
part yg bikin bad mood wkwkwk
tim Damian in action
terima kasihhhhh bagus ceritanya🥰
kalo udah dapat jgn disia2in
semangat nunggu ceritamu kak🥰
tapi lama2 mirip film horor euy serem bacanya🥰
bacanya sambil berharap terus nyambung g berhenti 😂 keren ceritanya
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍