Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31 pohon pelindung
Dini hari di pesisir selatan tidak pernah sesunyi ini. Bahkan suara serangga malam seolah tertelan oleh ketegangan yang merambat di udara.
Di dalam bunker bawah tanah klinik, cahaya dari layar laptop Alvin adalah satu-satunya mercusuar yang tersisa. Enkripsi data itu hampir selesai, namun waktu seolah-olah menjadi musuh yang paling kejam.
Arini tidak lagi tertidur. Anak itu duduk tegak, kedua telapak tangannya menempel pada dinding beton bunker yang dingin. Matanya terpejam rapat, keningnya berkerut seolah ia sedang memproses ribuan data yang masuk ke kepalanya melalui getaran tanah dan udara.
"Mereka sudah di sini," bisik Arini. Suaranya datar, tanpa nada ketakutan, namun memiliki otoritas yang membuat Sekar dan Alvin seketika waspada.
"Di mana, Arini? Di dermaga?" tanya Alvin, tangannya berhenti di atas keyboard.
"Bukan. Mereka tidak lewat laut lagi. Mereka datang dari balik bukit," Arini menunjuk ke arah utara, ke arah hutan bakau dan perbukitan kapur yang mengelilingi desa. "Ada delapan... tidak, dua belas orang. Langkah kaki mereka berat. Mereka membawa barang-barang yang mengeluarkan suara nging yang tajam."
Alvin melirik radarnya. Kosong. "Sensor gerak di bukit tidak menangkap apa pun, Arini."
"Karena mereka memakai baju yang membuat mereka tidak terlihat oleh mesinmu, Om Alvin," sahut Arini, membuka matanya yang kini nampak lebih gelap dan tajam. "Tapi aku bisa mendengar detak jantung mereka. Sangat cepat. Seperti suara drum di kejauhan."
Sekar menatap Arini dengan rasa ngeri yang bercampur takjub. Serum residu itu tidak hanya memperbaiki sel tubuh Arini, tapi nampaknya telah mempertajam sistem saraf sensoriknya hingga ke level yang tidak masuk akal secara medis. Arini telah menjadi radar manusia.
"Alvin, kita harus percaya padanya," ujar Sekar tegas.
Alvin mengangguk, ia segera mengambil radio panggilnya. "Pak Wayan, ubah posisi. Mereka lewat jalur bukit. Aktifkan jebakan jaring di hutan bakau sektor empat. Jangan gunakan lampu, gunakan insting kalian sebagai pemburu hutan."
Di luar, di bawah naungan kegelapan hutan bakau, warga desa bergerak seperti bayangan.
Mereka bukan tentara terlatih, tapi mereka adalah penguasa medan ini. Mereka tahu pohon mana yang rapuh, lubang mana yang dalam, dan di mana ular berbisa biasanya bersarang.
Alvin berdiri, mengambil rompi taktisnya. "Sekar, tetap di sini bersama Arini. Kunci pintu dari dalam. Jika dalam tiga puluh menit aku tidak kembali atau mengirim sinyal hijau, tekan tombol Enter terakhir di laptop ini. Itu akan mengirim sisa data secara paksa ke server publik, meski risikonya data itu bisa terhapus sebagian."
"Alvin, jangan bicara seolah kau tidak akan kembali," Sekar memegang lengan Alvin, matanya berkaca-kaca.
Alvin tersenyum, kali ini sebuah senyum yang tulus tanpa beban sarkasme. "Aku adalah pohon, kan? Pohon tidak akan lari. Dan aku berjanji, aku akan tetap berdiri saat matahari terbit nanti."
Tim elit Von Hess yang mendarat di balik bukit adalah para profesional yang terbiasa dengan medan perang teknologi tinggi.
Mereka mengenakan setelan kamuflase termal yang membuat mereka tidak terdeteksi oleh radar panas. Namun, mereka melakukan satu kesalahan fatal. Msreka tidak memperhitungkan alam dan kemarahan orang-orang yang melindungi tanahnya.
Saat mereka memasuki area hutan bakau yang berlumpur, Arini terus memberikan instruksi lewat radio yang dipegang Alvin.
"Tiga orang di sisi kiri, mereka sedang memanjat akar besar," bisik Arini di bunker, yang diteruskan Alvin ke tim Pak Wayan.
SRAK!
Sebuah jaring nelayan yang dipasangi pemberat batu jatuh dari dahan pohon, menjerat dua orang pengejar sekaligus. Sebelum mereka sempat meraih pisau taktis untuk memotong jaring, para pemuda desa sudah menyergap dari balik lumpur, melumpuhkan mereka dengan pukulan-pukulan telak yang tidak terduga.
Alvin bergerak di antara pepohonan bakau seperti hantu. Ia menggunakan kegelapan sebagai sekutunya. Saat pemimpin tim pengejar—seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata sonar—mencoba membidik ke arah klinik, Alvin muncul dari balik bayangan.
"Kau mencari sesuatu, Kawan?" suara Alvin terdengar dingin tepat di belakang telinga pria itu.
Pertarungan jarak pendek pecah. Dentuman pukulan dan gesekan logam terdengar di antara akar-akar bakau. Alvin, meski rusuknya masih nyeri, bertarung dengan keganasan yang murni.
Ia tidak lagi bertarung untuk uang atau reputasi; ia bertarung untuk masa depan seorang anak yang telah menganggapnya sebagai pelindung.
Di dalam bunker, Arini tiba-tiba berdiri. Ia berjalan menuju pojok ruangan, ke sebuah lemari besi tua tempat Sekar menyimpan obat-obatan darurat.
"Ibu, Ayah bilang ada sesuatu di balik dinding ini," kata Arini.
Sekar mengerutkan kening. "Arini, itu hanya dinding beton."
"Bukan, Bu. Ayah bilang... 'Kunci di bawah pasir Alpen'. Dia menunjuk ke kalung Ibu."
Sekar teringat sesuatu. Ia melepas kalungnya, membuka liontin yang berisi pasir Alpen, dan mengeluarkan micro-SD yang tadi ia berikan pada Alvin. Namun, ia menyadari ada sebuah lempengan kecil magnetik di dasar liontin itu yang selama ini ia kira hanya hiasan.
Ia menempelkan lempengan magnetik itu ke permukaan dinding beton di balik lemari.
KLIK.
Sebuah panel kecil terbuka, memperlihatkan sebuah brankas kuno yang tertanam di dalam beton. Ini adalah bangunan lama yang dulu disewa Rahman sebelum ia ditangkap.
PTernyata, Rahman sudah menyiapkan rencana cadangan di Indonesia sejak bertahun-tahun yang lalu.
Sekar membuka brankas itu. Di dalamnya terdapat sebuah map tebal berwarna cokelat dan sebuah botol kaca kecil berisi cairan berwarna emas pucat. Ada sebuah surat singkat dengan tulisan tangan Rahman yang sudah memudar:
"Sekar, jika kau membaca ini, artinya dunia sudah mengkhianatimu. Cairan ini adalah hasil murni dari serum yang belum tercemar ambisi Von Hess. Ini adalah 'stabilisator'. Gunakan untuk Arini jika mutasinya tidak terkendali. Dan map ini... ini adalah bukti transfer ilegal Von Hess kepada para politisi di Eropa. Hancurkan mereka."
Sekar memeluk map itu, air matanya tumpah. Rahman, dengan segala dosanya, ternyata telah menyiapkan jaring pengaman terakhir untuk putri mereka di tanah kelahirannya sendiri.
Di luar, pertempuran mulai mencapai puncaknya. Tim Von Hess yang tersisa mulai terdesak. Namun, sang pemimpin tim berhasil melepaskan diri dari Alvin dan melempar sebuah granat cahaya ke arah klinik.
BLARRR!
Cahaya putih menyilaukan meledak, melumpuhkan pandangan Alvin dan warga desa sesaat. Sang pemimpin tim berlari menuju pintu bunker, memegang sebuah alat pemotong laser untuk menjebol pintu baja tersebut.
"Sekar! Keluar sekarang!" teriak Alvin, berusaha bangkit dari tanah sambil menahan pandangannya yang masih berkunang-kunang.
Di dalam bunker, Sekar melihat pintu mulai memanas karena laser. Ia menatap Arini. Arini nampak sangat tenang. Anak itu melangkah maju, tangannya menyentuh pintu baja yang mulai membara.
"Arini, jangan!" teriak Sekar.
Namun, Arini tidak merasa panas. Ia seolah menyerap energi tersebut. Matanya berkilat dengan warna biru pucat yang tipis—sisa residu serum yang bereaksi dengan adrenalinnya.
"Mereka tidak boleh masuk, Bu," suara Arini terdengar bergema, bukan seperti suara anak kecil, melainkan seperti suara dua jiwa yang berbicara bersamaan.
Saat pintu itu akhirnya jebol dan sang pemimpin tim merangsek masuk, ia tidak menemukan seorang anak yang ketakutan. Ia menemukan Arini yang berdiri tegak, memancarkan aura tekanan yang begitu kuat hingga pria itu terhenti di tempat.
"Pergi," ujar Arini.
Seketika, frekuensi suara yang sangat tinggi keluar dari mulut Arini—sebuah jeritan ultrasonik yang hanya bisa didengar oleh telinga sensitif dan mesin-mesin elektronik.
Kacamata sonar sang pemimpin tim pecah berkeping-keping. Peralatan komunikasinya meledak. Pria itu jatuh berlutut, memegangi telinganya yang mulai mengeluarkan darah.
Alvin sampai di depan pintu tepat saat pria itu tumbang. Ia tertegun melihat Arini yang perlahan kembali normal, matanya yang biru memudar menjadi cokelat kembali.
Alvin segera melumpuhkan pemimpin tim itu dengan sisa tenaganya. Ia menatap Sekar yang masih terpaku, lalu menatap Arini yang kini nampak lemas dan jatuh ke pelukan ibunya.
"Semuanya sudah berakhir," bisik Alvin.
Ia berjalan menuju laptopnya yang masih menyala. Progres pengiriman data: 100% Complete.
"Data sudah terkirim, Sekar. Ke setiap kantor berita, setiap bursa saham, dan setiap otoritas kepolisian di dunia. Besok pagi, nama Von Hess Pharma tidak akan lebih berharga daripada sampah di laut."
Fajar mulai menyingsing di horison Lombok. Cahaya merah muda dan emas menyapu pantai, menyinari warga desa yang sedang berkumpul di dermaga, merayakan kemenangan mereka. Pak Wayan menghampiri Alvin dan Sekar, mengangguk dengan rasa hormat yang mendalam.
Sekar keluar dari bunker, menggendong Arini yang tertidur pulas. Ia menatap ke arah laut lepas. Kali ini, aroma cendana dan tembakau itu datang lagi, namun tidak lagi membawa peringatan. Aroma itu terasa seperti belaian lembut di pipi, sebuah ucapan selamat tinggal yang damai dari Rahman.
"Kita melakukannya, Alvin," ujar Sekar pelan.
Alvin berdiri di sampingnya, meski pakaiannya sudah compang-camping dan tubuhnya dipenuhi memar. Ia menatap matahari yang terbit. "Bukan 'kita', Sekar. Arini yang melakukannya. Dia bukan lagi mahakarya mereka. Dia adalah dirinya sendiri."
Sekar mengeluarkan botol cairan emas dari brankas Rahman. "Dan sekarang, kita punya cara untuk memastikan dia tetap menjadi dirinya sendiri. Tanpa rasa sakit, tanpa mutasi."
Alvin tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Sekar. "Jadi, Dokter... apa agenda kita setelah menghancurkan perusahaan farmasi dunia? Aku masih punya utang sewa papan selancar yang belum dibayar, kau tahu?"
Sekar tertawa kecil, air matanya jatuh—kali ini karena rasa lega yang murni. "Agenda kita adalah sarapan ikan bakar, Alvin. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, tidur tanpa takut akan hari esok."
Di bawah langit Lombok yang luas, sisa-sisa dendam dan tragedi masa lalu menguap bersama kabut pagi.