Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Malam itu, Sunset Boulevard tidak seramah biasanya. Udara lembap Los Angeles membawa aroma aspal panas yang bertemu dengan angin laut yang asin. Ketegangan yang sejak sore tadi dibicarakan di markas akhirnya mencapai titik didihnya di sebuah pelataran parkir minimarket yang remang-remang.
Alistair baru saja keluar dari toko dengan sekantong es batu untuk markas, ditemani oleh Ethan yang masih sibuk merapikan jaket kulitnya. Namun, langkah mereka terhenti oleh deru mesin yang kasar—suara knalpot yang tidak sinkron dan berisik. Lima motor dari The Iron Vultures mengepung motor Alistair.
Seorang pria bertubuh gempal dengan tato di lehernya turun dari motor paling depan. Namanya Jax, salah satu anggota senior rival yang paling vokal membenci The High-Liners.
"Lihat ini, anak mami dari Beverly Hills sedang berbelanja," ejek Jax, tawanya parau diikuti oleh teman-temannya yang mulai turun dari motor. "Kudengar markas kalian punya pembantu untuk membersihkan lantai? Apa mereka juga yang menyuapi kalian makan?"
Ethan sudah bersiap maju, namun Alistair menahan dada sahabatnya itu dengan satu tangan. Alistair berdiri tenang.
Postur tubuhnya yang jakung mencapai 185 cm membuatnya menjulang di antara kerumunan itu. Meski usianya baru 16 tahun, garis rahangnya yang tegas dan bahunya yang lebar memberikan impresi seorang pria dewasa yang berbahaya.
"Minggir, Jax. Kami tidak punya waktu untuk drama sampah," ucap Alistair, suaranya rendah dan sangat tenang, ciri khas yang ia warisi dari Lucky Caleb saat sedang berada di puncak amarah.
"Oh, si Pangeran kecil bisa bicara?" Jax melangkah maju, memprovokasi dengan mendorong bahu Alistair. "Bagaimana kalau kau tunjukkan padaku, apa kau bisa bertarung semudah kau menggesek kartu kredit ayahmu?"
Alistair tidak bergeming. Ia hanya menatap Jax dengan mata cokelatnya yang dingin. Ketidakpedulian Alistair justru membuat Jax semakin murka. Tanpa peringatan, Jax melayangkan pukulan hook kanan yang kasar.
BUK!
Pukulan itu mendarat telak di sudut bibir Alistair. Kepala Alistair terhentak ke samping.
"Al!" Ethan berteriak, hendak menyerbu, namun Alistair mengangkat tangannya perlahan.
Alistair menyentuh sudut bibirnya dengan ibu jari. Darah merah segar merembes keluar, membasahi ujung jarinya. Ia menatap darah itu sejenak, lalu kembali menatap Jax. Rasa perih itu justru membangkitkan sesuatu yang selama ini ia tekan di balik etiket keluarga Montgomery.
"Hanya itu?" tanya Alistair pelan.
Jax yang merasa di atas angin kembali merangsek maju, hendak melayangkan pukulan kedua. Namun, kali ini Alistair tidak tinggal diam. Kecepatan refleksnya—hasil dari latihan fisik keras yang ia jalani secara privat sejak kecil, bekerja dalam hitungan milidetik.
Alistair menghindar dengan gerakan geser yang sangat efisien, lalu ia membalas. Ia tidak memukul seperti anak remaja yang sedang tawuran; ia memukul dengan presisi seorang petinju. Satu pukulan straight kanan yang lurus dan bertenaga meledak tepat di rahang Jax.
KRAK!
Suara itu terdengar mengerikan di keheningan malam. Jax tidak hanya jatuh; ia terlempar ke belakang, menghantam motornya sendiri hingga roboh. Pria itu pingsan seketika sebelum tubuhnya menyentuh aspal.
Empat anggota The Iron Vultures lainnya terpaku. Mereka tidak menyangka bahwa remaja yang mereka anggap "anak mami" itu memiliki kekuatan yang begitu merusak.
Pukulan Alistair bukan pukulan sembarangan; itu adalah pukulan yang didukung oleh berat tubuh 185 cm dan koordinasi otot yang sempurna.
Alistair menatap sisa anggota rival itu dengan pandangan yang membuat nyali mereka ciut. "Bawa pemimpin kalian pergi dari sini. Dan beri tahu yang lain, jangan pernah menyentuh wilayah kami lagi."
Tanpa banyak bicara, mereka segera memapah Jax yang lemas ke atas motor dan memacu kendaraan mereka menjauh, meninggalkan kepulan asap dan keheningan yang mencekam.
"Gila, Al! Kau menghancurkan rahangnya!" Ethan berseru, matanya membelalak tak percaya. "Aku tidak tahu kau bisa memukul sekeras itu!"
Alistair tidak menjawab. Ia hanya mengambil kembali kantong es yang sempat terjatuh, lalu naik ke atas motornya. "Jangan beri tahu Mommy ku soal ini. Dia akan panik."
Sesampainya di markas, suasana langsung heboh. James dan Thomas yang sedang bermain bilyar langsung meletakkan stik mereka saat melihat sudut bibir Alistair yang pecah dan sedikit membiru.
"Siapa yang melakukannya?!" James berteriak, wajahnya merah padam karena marah.
"Jax. Tapi dia jauh lebih parah sekarang," Ethan menjawab dengan bangga, menceritakan kejadian itu dengan bumbu-bumbu dramatis.
Daniels turun dari lantai atas. Ia mendekati Alistair, memegang dagu remaja itu untuk memeriksa lukanya. Alistair sedikit meringis saat luka itu ditekan.
"Kau membela diri?" tanya Daniels singkat.
"Mereka yang mulai," jawab Alistair jujur.
Daniels menghela napas, lalu menepuk bahu Alistair. "Pukulan yang bagus, tapi kau tahu ini berarti perang dingin akan semakin panas. Obati lukamu. Thomas, ambilkan kotak P3K."
Alistair duduk di kursi bar markas, membiarkan Thomas membersihkan darah di sudut bibirnya dengan alkohol. Rasa perihnya menusuk, namun ada perasaan aneh yang menyelimuti dadanya—perasaan bahwa ia baru saja membasuh keraguan orang-orang terhadap dirinya.
Tiba-tiba, ponsel Alistair di atas meja bergetar. Sebuah pesan dari Berry Klatten.
"Kau sedang apa, Al? Aku baru saja melihat video motor-motor Vultures melintas kencang di Sunset. Kau tidak apa-apa, kan? Tolong balas."
Alistair menatap pesan itu. Ia menatap bayangan dirinya di cermin markas, sudut bibir pecah, mata yang tajam, dan tangan yang masih sedikit gemetar karena adrenalin. Ia menyadari satu hal: dunianya semakin rumit. Ia bukan lagi Alistair yang hanya duduk di perpustakaan.
Ia mengetik balasan singkat dengan satu tangan: "Aku baik-baik saja, Ber. Jangan khawatir. Tidurlah."
Malam itu, Alistair tidak pulang ke rumah. Ia memilih tidur di salah satu kamar di markas, ditemani suara deru motor sahabat-sahabatnya di lantai bawah.
Di balik luka di bibirnya, Alistair Caleb menyadari bahwa jati diri yang ia cari bukan ditemukan di dalam buku-buku Oxford atau harta Montgomery, melainkan dalam keberanian untuk melindungi apa yang menjadi miliknya.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt