NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 9

Gedung Nusantara Group pagi itu terasa seperti medan perang yang membeku. Mira melangkah melewati lobi, dan kali ini, para staf tidak hanya menatapnya dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan ketakutan. Berita tentang denda administratif raksasa yang dijatuhkan pada perusahaan telah bocor. Di lantai eksekutif, ruangan rapat besar sudah dipenuhi oleh kepulan asap cerutu dan suara bentakan yang teredam dinding kedap suara.

Mira membuka pintu tanpa mengetuk.

Sepuluh pasang mata direksi menatapnya seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. Direktur tertua, pria bernama Wijaya, membanting tumpukan kertas ke meja. "Dua ratus miliar, Mira! Kau melaporkan perusahaanmu sendiri ke otoritas pertanahan? Kau sudah gila atau memang berniat menghancurkan kami dari dalam?"

Mira menarik kursi di tengah meja, tepat di hadapan Romano yang duduk diam, memperhatikan segalanya dengan wajah yang sulit dibaca.

"Dua ratus miliar adalah harga yang murah untuk legalitas yang permanen, Tuan Wijaya," suara Mira tenang, memotong kebisingan. "Jika kasus ini meledak di tangan KPK melalui laporan pihak ketiga—seperti Arkan—Nusantara Group bukan hanya kehilangan uang, tapi seluruh izin operasional kita akan dicabut. Saham kalian akan terjun bebas ke titik nol. Saya baru saja menyelamatkan sisa kekayaan kalian."

"Kau mencuri aset kami!" teriak direktur lain. "Tanah Sektor Tujuh itu sekarang berstatus milik kolektif warga. Kita tidak lagi punya kuasa mutlak!"

"Kita punya loyalitas mereka," balas Mira tajam. "Pasar yang sedang dibangun kembali akan menjadi pusat ekonomi baru. Nusantara Group memegang kontrak eksklusif untuk distribusi dan manajemen selama tiga puluh tahun ke depan. Kita kehilangan tanah, tapi kita memenangkan pasar."

Wijaya menoleh pada Romano. "Romano! Kenapa kau diam saja? Gadis ini sudah merampok kita di siang bolong!"

Romano menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkirnya dengan denting yang halus namun sanggup membungkam ruangan. "Dia benar. Arkan adalah bom waktu. Mira hanya menjinakkannya dengan cara yang... sedikit ekstrem."

Romano berdiri, berjalan memutari meja hingga ia berhenti tepat di belakang kursi Mira. Ia meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi, seolah mengklaim wilayahnya. "Namun, Mira harus menanggung konsekuensinya. Jika profit dari proyek Berdikari tidak mencapai target tiga puluh persen dalam kuartal pertama untuk menutupi denda itu, maka seluruh saham pribadi Mira akan disita oleh perusahaan. Dan dia akan meninggalkan gedung ini tanpa membawa sepeser pun."

Mira merasakan beban tangan Romano di kursinya, namun ia tidak bergeming. "Setuju. Tapi jika saya berhasil melampaui target itu, saya ingin posisi Dewan Komisaris diberikan kepada perwakilan warga Sektor Tujuh. Satu kursi untuk suara mereka."

Ruangan itu kembali gaduh, namun Romano membungkuk, wajahnya sejajar dengan Mira. "Kau sangat suka bertaruh dengan nyawamu sendiri, bukan?" bisiknya.

"Hanya karena aku tahu cara untuk menang," balas Mira tanpa menoleh.

"Rapat selesai," suara Romano menggelegar. "Biarkan dia bekerja. Kita lihat apakah pahlawan rakyat ini bisa menjadi mesin uang atau hanya menjadi sejarah singkat di perusahaan ini."

Satu per satu direktur keluar dengan gerutu kemarahan. Saat ruangan menyepi, hanya menyisakan mereka berdua, Romano menarik kursi di sebelah Mira. Ia tidak lagi bersikap formal. Ia melonggarkan dasinya, tampak sedikit lelah namun matanya masih berkilat obsesif.

"Kau tahu mereka akan mencoba menyabotase pengiriman material ke pasar itu, kan?" tanya Romano.

"Aku sudah menduganya. Itulah sebabnya aku sudah mengontrak perusahaan logistik independen milik paman salah satu warga di sana. Mereka tidak bisa menyuap orang yang rumahnya sedang aku perjuangkan."

Romano terkekeh, suara rendah yang kali ini terdengar hampir tulus. "Kau benar-benar tidak menyisakan ruang bagiku untuk membantumu, Mira. Kau membuatku merasa... tidak dibutuhkan."

Mira berdiri, mengambil tasnya. "Itu tujuanku, Romano. Aku ingin kau menyadari bahwa hubungan kita bukan tentang kebutuhan atau ketergantungan. Jika suatu saat aku memilih untuk berdiri di sampingmu, itu karena aku menginginkannya, bukan karena aku tidak punya pilihan lain."

Mira berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti saat Romano berkata, "Mira, ayahmu... dia datang ke kantor pagi ini. Sebelum kau tiba."

Mira berbalik cepat. "Apa? Kenapa?"

"Dia hanya ingin memastikan apakah kau baik-baik saja," Romano mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi bekal makanan yang dibungkus kain usang. "Dia menitipkan ini padaku karena dia tidak ingin menggangumu di depan para direktur. Dia bilang, 'jangan lupa makan, meski kau sedang berperang'."

Mira merasakan tenggorokannya tercekat. Ia mengambil bungkusan itu dari tangan Romano. Untuk sekejap, tembok pertahanan di matanya runtuh, menampakkan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan dengan blazer hitamnya.

Romano memperhatikan perubahan itu dengan lembut. "Pergilah. Bangun kerajaannmu. Tapi jangan lupa untuk pulang ke rumah yang asli sesekali."

Mira mengangguk pelan, lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah yang lebih ringan namun penuh tekad. Di bawah, di Sektor Tujuh, suara palu dan gergaji sudah menunggu. Dan di sana, di tengah debu pembangunan, Mira tahu dia sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar gedung: dia sedang membangun harga diri.

Tiga bulan kemudian, Sektor Tujuh bukan lagi labirin gang yang suram. Aroma semen basah dan cat baru bercampur dengan wangi rempah dari dapur-dapur warga yang kini telah bersertifikasi standar kesehatan. Pasar "Berdikari" berdiri dengan arsitektur terbuka yang modern namun tetap membumi, menjadi oase hijau di tengah kepungan beton Jakarta.

Mira berdiri di lantai dua pasar, memperhatikan kerumunan orang yang mulai memadati peresmian hari itu. Ia tidak memakai blazer hitam lagi; ia mengenakan kemeja batik tulis yang elegan namun praktis. Di sampingnya, ayahnya berdiri dengan mata berkaca-kaca, mengenakan kemeja terbaiknya.

"Kau melakukannya, Mira," bisik sang ayah. "Kau tidak hanya menjaga rumah kita, kau memberikan nyawa baru pada seluruh kampung ini."

Mira menggenggam tangan ayahnya. "Ini baru permulaan, Yah."

Tiba-tiba, kerumunan di bawah terbelah. Sebuah sedan mewah hitam berhenti di depan gerbang pasar. Romano Kusuma turun, namun kali ini ia tidak datang dengan pasukan pengawal atau aura yang mengancam. Ia berjalan sendirian, membawa sebuah kotak kayu kecil di tangannya.

Ia menaiki tangga manual, langkah sepatunya beradu dengan lantai kayu sisa konstruksi. Saat sampai di depan Mira, ia berhenti dan menatap sekeliling dengan pandangan yang tidak lagi merendahkan.

"Target kuartal pertama tercapai," ucap Romano tanpa basa-basi. "Laporan pagi ini menunjukkan pertumbuhan organik sebesar empat puluh persen. Kau melampaui ekspektasi direksi, Mira. Dan kau resmi memiliki kursi komisaris untuk warga."

"Aku tahu," balas Mira tenang. "Aku sudah menyiapkan namanya. Pak RT akan mewakili kami di dewan."

Romano menyerahkan kotak kayu yang dibawanya. Mira membukanya dan menemukan sebuah kunci kuningan tua yang sudah dibersihkan hingga mengilap.

"Itu kunci gudang arsip lama di bawah gedung Nusantara," kata Romano, suaranya merendah. "Di sana ada dokumen-dokumen yang tidak sempat dihancurkan ayahku. Dokumen yang menjelaskan mengapa Sektor Tujuh sangat diincar sejak tiga puluh tahun lalu. Ternyata bukan hanya soal lahan, tapi soal sejarah keluarga yang sengaja dikubur."

Mira mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Ada nama ibumu di sana, Mira. Sebagai salah satu pemilik awal sebagian lahan ini sebelum semuanya 'dimanipulasi' oleh perusahaan keluarga Kusuma di masa lalu," Romano menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca—ada rasa bersalah yang asing di sana. "Aku memberikan kunci itu padamu. Gunakan itu untuk menghancurkanku jika kau mau, atau gunakan untuk membangun fondasi yang lebih jujur di antara kita."

Mira tertegun. Ia menyadari bahwa selama ini Romano mungkin telah mengetahui hal ini, dan segala tantangan serta kekejaman yang pria itu berikan adalah caranya untuk melihat apakah Mira cukup kuat untuk menerima kebenaran ini.

"Kenapa sekarang, Romano?"

"Karena kau sudah membuktikan bahwa kau bukan lagi sekadar gadis yang butuh diselamatkan," Romano melangkah lebih dekat, mengabaikan kerumunan di bawah. "Kau adalah lawan yang sepadan. Dan aku menyadari, memiliki musuh sepertimu jauh lebih menarik daripada memiliki pasangan yang hanya bisa patuh."

Mira mengambil kunci kuningan itu, merasakannya dingin di telapak tangannya. Ia menatap ke bawah, ke arah warga yang bersorak merayakan kemenangan mereka, lalu kembali menatap pria di hadapannya.

"Aku akan membuka gudang itu besok," ucap Mira tegas. "Dan jika isinya memang seburuk yang aku bayangkan, aku tidak akan ragu untuk membuatmu membayar setiap jengkal ketidakadilan masa lalu."

Romano tersenyum miring, senyum khasnya yang menantang namun kini terasa lebih tulus. "Aku tidak mengharapkan hal lain darimu, Sayang."

Di bawah sinar matahari sore yang mulai menguning, keduanya berdiri di balkon pasar itu—dua kekuatan yang saling bertolak belakang namun kini terikat oleh sejarah dan ambisi yang sama. Perang mereka belum berakhir; ia hanya berganti bentuk menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih berbahaya, dan jauh lebih nyata.

Mira tahu, jalan di depannya mungkin akan meruntuhkan Nusantara Group atau justru membangun kerajaan baru yang lebih adil. Namun satu hal yang pasti: sang ratu tidak lagi menunggu di dalam sangkar, dan sang raja akhirnya menemukan alasan untuk tetap terjaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!