NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Setelah beberapa minggu lalu pemeriksaan alya, Malam ini, badai salju di pegunungan Alpen sedang berada di puncaknya. Suara angin menderu-deru menghantam dinding kayu pondok yang kokoh, seolah-olah alam sedang ikut bergemuruh menyambut sebuah peristiwa besar. Di dalam kamar utama yang hangat, suasana yang biasanya tenang berubah menjadi medan tempur penuh ketegangan.

​Alya terbangun pada pukul tiga pagi dengan keringat dingin membasahi keningnya. Rasa sakit yang luar biasa menusuk dari pinggang bawah hingga ke perutnya—sebuah rasa sakit yang berbeda dari sekadar kontraksi palsu yang sering ia rasakan beberapa hari terakhir.

​"Mas... Mas Rangga..." Alya merintih, tangannya mencengkeram sprei dengan sangat kuat.

​Hanya dalam hitungan detik, Rangga yang tidurnya selalu waspada langsung terjaga. Ia tidak butuh waktu untuk mengumpulkan nyawa. Melihat wajah Alya yang pucat dan deru napasnya yang pendek-pendek, Rangga tahu: saatnya telah tiba.

​"Jangan bergerak, Alya. Tetap bernapas," ucap Rangga dengan suara yang sangat dalam, mencoba menekan kepanikan di dalam dirinya.

​Sisi protektif Rangga langsung meledak ke level yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia segera menekan tombol darurat di ponselnya, menghubungkan langsung ke unit helikopter medis dan Dokter Hans.

​"Dokter! Air ketubannya pecah! Aku butuh tim di sini sekarang juga! Badai tidak boleh jadi alasan!" Rangga berteriak di telepon dengan nada mengancam. "Jika terjadi sesuatu pada istriku karena kalian terlambat, aku akan memastikan rumah sakit kalian rata dengan tanah!"

​Rangga kemudian berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan Alya. "Mas, sakit sekali..." isak Alya.

​"Aku tahu, Sayang. Aku di sini. Sakitnya bagi padaku, berikan semuanya padaku," bisik Rangga, menciumi tangan Alya berkali-kali. Namun, setiap kali Alya merintih, Rangga seolah kehilangan akal sehatnya. Ia berteriak pada para pelayan dan tim keamanannya untuk menyiapkan segala hal steril yang pernah ia pelajari dari buku-buku medisnya.

​Ia bahkan melarang pelayan wanita mendekat untuk membantu mengganti pakaian Alya. "Pergi! Biar aku yang melakukannya! Jangan ada tangan kotor yang menyentuhnya!" Rangga membersihkan tubuh Alya sendiri dengan air hangat dan kain sutra, memastikan istrinya tetap bersih dan nyaman meski di tengah rasa sakit yang hebat.

​Karena badai salju terlalu ekstrem untuk helikopter mendarat tepat di depan pondok, Rangga memutuskan untuk membawa Alya menggunakan SUV lapis baja yang sudah dimodifikasi dengan peralatan medis di dalamnya. Rangga menggendong Alya seperti menggendong sebuah porselen paling berharga di semesta.

​Di dalam mobil, Rangga terus memeluk Alya. Setiap kali mobil terguncang karena medan bersalju, Rangga akan menatap supirnya dengan tatapan membunuh. "Jika kau tidak bisa mengemudi dengan halus, aku akan menembak kepalamu dan menyetir sendiri!

​Alya, di tengah rasa sakitnya, mencoba menenangkan suaminya. "Mas... tenanglah. Jangan marah-marah terus..."

​"Aku tidak bisa tenang, Alya! Kau kesakitan dan aku tidak bisa membunuh rasa sakit itu!" geram Rangga, matanya merah karena frustrasi dan cinta yang terlalu besar.

​Setibanya di rumah sakit di Zurich—yang sudah ia sewa seluruh lantai persalinannya—Rangga tetap tidak membiarkan satu orang pun mengambil alih kendali sepenuhnya. Saat Alya dipindahkan ke kursi roda, Rangga tetap memegangi tangannya.

​Di dalam ruang persalinan, Dokter Hans dan tim suster sudah bersiap. Namun, Rangga menolak untuk keluar.

​"Tuan Rangga, Anda bisa menunggu di luar—" ucap seorang suster.

​Rangga menoleh dengan kilatan mata yang membuat suster itu membeku. "Aku tidak akan meninggalkan istriku satu detik pun. Jika kalian ingin bekerja, lakukan tanpa menyuruhku pergi. Dan ingat, jika istriku berteriak kesakitan karena kelalaian kalian, kalian akan tahu apa arti neraka yang sesungguhnya."

​Rangga berdiri tepat di kepala Alya. Ia membiarkan Alya mencengkeram lengannya, membiarkan kuku Alya menancap di kulitnya hingga berdarah. Rangga sama sekali tidak meringis; baginya, luka di lengannya tidak sebanding dengan perjuangan Alya.

​"Tarik napas, Alya. Ikuti instruksi dokter. Aku di sini, aku memilikimu, kau milikku. Kita akan melewati ini," Rangga terus membisikkan kata-kata posesif namun menguatkan di telinga Alya.

​Persalinan berlangsung dramatis. Alya sudah kehabisan tenaga setelah berjam-jam berjuang.

"Aku tidak kuat, Mas... aku tidak bisa..."

​Melihat istrinya hampir menyerah, Rangga mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke mata Alya dengan intensitas yang luar biasa.

"Kau bisa, Alya! Kau adalah wanita paling kuat yang pernah kukenal. Kau berhasil menaklukkan monster sepertiku, melahirkan anak kita adalah hal kecil bagimu. Lakukan demi aku, Alya! Dorong!"

​Kata-kata Rangga seolah memberi kekuatan gaib bagi Alya. Dengan satu dorongan terakhir yang menguras seluruh tenaganya, suara tangis bayi memecah ketegangan di ruangan itu.

​Oeee... oeee...

​Seorang bayi laki-laki, dengan kulit kemerahan dan suara yang lantang, lahir ke dunia.

​Seketika, aura gelap dan tegang yang menyelimuti Rangga luruh total. Ia melihat bayi itu diletakkan di dada Alya. Rangga terpaku, air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar, kini jatuh membasahi pipinya.

​Ia mencium kening Alya yang penuh keringat dengan sangat lama. "Terima kasih, Alya. Terima kasih telah memberiku kehidupan yang tidak pantas kudapatkan."

​Dokter Hans hendak mengambil bayi itu untuk dibersihkan, namun Rangga langsung waspada.

"Berikan padaku. Aku yang akan memandikannya untuk pertama kali."

​Di bawah pengawasan dokter, Rangga memandikan bayinya sendiri dengan tangan yang biasanya digunakan untuk menghancurkan hidup orang. Kini, tangan itu bergerak dengan sangat lembut, sangat hati-hati, seolah-olah bayi itu terbuat dari cahaya.

​Rangga menatap putranya, melihat kemiripan struktur wajah yang sama dengannya, namun dengan mata yang lembut seperti Alya. "Selamat datang, Jagoan Kecil. Namamu adalah Arkan Dirgantara. Dan kau harus tahu, Ayahmu akan menjadi pelindung sekaligus penjara bagimu dari segala kejahatan dunia."

​Beberapa hari kemudian, mereka kembali ke pondok di Alpen. Suasana kini jauh lebih ramai dengan suara tangis bayi. Keposesifan Rangga tidak berkurang, justru berlipat ganda. Ia memasang sistem keamanan tingkat militer di kamar bayi, dan ia tidak membiarkan suster pengasuh mana pun menggendong bayinya lebih dari lima menit.

​"Mas, biarkan suster membawanya agar kau bisa tidur," ucap Alya yang sedang beristirahat.

​"Tidak. Tidak ada yang bisa menjaganya sepertiku," jawab Rangga sambil menimang Arkan dengan canggung namun penuh kasih sayang.

Bersambung.....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!