Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24 — KEJUTAN DALAM TANAH
Kenzo menghirup rokoknya, lalu menghembuskannya perlahan.
“Acara apa ini?” tanyanya, matanya menatap jauh ke luar jendela.
“Kak Ken, biasanya di awal bulan mereka selalu mengadakan perjamuan,” jawab Daniel.
"Di ruang bawah tanah klub mereka.
Semua petinggi kelompok diundang, termasuk pejabat tinggi dan pejabat militer.”
Kenzo diam, matanya tetap menatap Kota Bai Ma sebuah kota mati yang hidup dari darah dan uang.("Jika semua kegiatan ilegal Hong Feng punya backup penting… maka aku harus lebih hati-hati.") pikirnya.
“Daniel, kumpulkan semua orang. Aku akan memperkenalkan diri,” perintah Kenzo.
“Baik, Kak Ken,” jawab Daniel.
Udara di ruangan tiba-tiba menjadi tegang. Tiga ratus orang berdiri rapat, sesak, tercium bau keringat dan rokok.
Lampu neon yang berkedip merah dan biru memantulkan kesan darah dan luka di sekeliling.
Kenzo melangkah maju, perlahan.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan, dari kiri ke kanan, dari depan ke belakang, menatap setiap wajah dan mata yang ada.
“Nama saya Kenzo Huang,” suaranya tegas, jelas, tanpa keraguan. “Mulai hari ini, saya adalah pemimpin Wangguan yang baru.”
Ruangan hening, seperti sebelum badai datang.
“Mulai sekarang, saya tidak ingin ada perdagangan manusia lagi. Semua hal yang membuat masyarakat resah, dihentikan!”
Beberapa orang berbisik pelan, cukup terdengar oleh yang di dekatnya.“Siapa dia?” gumam seorang pria.
“(Pemimpin baru?)” bisik yang lain.
“Dasar anak muda,” komentar seorang lagi.
Kenzo merasakan kemarahan mengalir dari dalam. Matanya perlahan berubah dari coklat menjadi merah, bukan metafora, tapi kemarahan yang nyata.
Suasana menjadi mencekam. Angin dingin tiba-tiba berhembus, menusuk tulang, tanpa diketahui dari mana asalnya, tapi semua orang merasakannya.
“YANG TIDAK INGIN MENGIKUTI ATURAN SAYA…” bentak Kenzo, suaranya menggema seperti di gua, seperti dari neraka.“SILAHKAN KELUAR! DAN JANGAN HARAP MELIHAT MATAHARI ESOK HARI!”
Beberapa orang terguncang, ragu-ragu, tapi tak seorang pun berani angkat kaki. Suara bisik hilang, seolah ditelan kegelapan.
Tiba-tiba, seorang pria tinggi berdiri, wajahnya memerah dan tangan gemetar.“K-Ketua… bagaimana kita bisa cari uang kalau tidak melakukan bisnis itu?”
Kenzo melangkah cepat, matanya kini merah pekat, menembus jiwa orang itu.
“Asal kalian tetap ikut saya dan setia, aku tidak akan biarkan kalian kehilangan sepeser pun.”
Dia menatap seluruh kelompok, dari ujung ke ujung ruangan.
“Tapi jika aku tahu ada yang berkhianat, maka Shadow akan membuat hidupmu dipenuhi ketakutan. Dalam bayang-bayang kegelapan.”
“A-Apa Shadow… pembunuh berhati dingin?!” gumam seorang.
“(B-Benarkah? Apa dia benar-benar di sini?)” bisik yang lain.
Rasa takut menyebar, bayangan hitam, pisau, darah, kematian tanpa suara memenuhi imajinasi mereka.
Semua menunduk, menerima aturan Kenzo.
Kenzo menarik napas panjang, warna matanya kembali normal, seperti tidak ada yang terjadi.“Baik. Kita mulai mempersiapkan diri malam ini. Jika tidak ada keluhan lagi, aku akan bagi kalian menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok dipimpin satu orang.”
“Daniel, tunjukkan tiga orang yang memiliki kemampuan terbaik.”
“Baik, Kak Ken,” jawab Daniel cepat, paham maksudnya.
Kenzo mendekat, mencondongkan kepala ke telinga Daniel, suaranya hampir tak terdengar.
“Persiapkan satu kelompok untuk malam ini. Pilih yang bisa bertarung.”
Daniel mengangguk.
Kenzo kembali ke ruangannya sendiri, duduk, memikirkan rencana berikutnya. Tak lama kemudian, Daniel masuk bersama tiga orang yang sudah dipilih. Semua berdiri tegak, tetapi jelas ketakutan terpancar dari wajah mereka.
“Kak Ken, aku sudah pilih tiga orang,” kata Daniel.
“Siang, Kak Ken!” serentak ketiganya menyapa, suara lantang tapi gemetar.
“Perkenalkan diri kalian,” perintah Kenzo, duduk bersila, tangan disilangkan, seperti raja yang menunggu mangsa.
“Nama saya Zhao Bowen.”
“Aku Lu Tong.”
“Dan aku Tong Feng.”
Kenzo mengangguk perlahan, menilai mereka dengan seksama.
“Zhao Bowen, malam ini kumpulkan anggotamu dan ikut aku bersama Daniel.”
“Baik, Ketua.”
“Lu Tong, pergi ke Xiu Qin. Amankan wilayah kita di sana.”
“Siap, Ketua.”
“Tong Feng, kau dan kelompokmu amankan Qiu Shao.”
“Siap, Ketua.”
“Baiklah, kalian semua keluar.”
“Baik, Ketua!” mereka pergi cepat, seolah dikejar sesuatu.
Daniel tetap di dalam, duduk dua meter dari Kenzo, tapi jarak itu terasa jauh dan berbahaya.
“Daniel, menurutmu apa tujuan Cao Xiu?” tanya Kenzo.
“Kak Ken… apakah dengan menjadikanmu pemimpin Wangguan, semua orang akan setuju?”
“Aku pikir tidak,” jawab Kenzo.“Benar. Dan Cao Xiu adalah salah satunya. Jadi… dia ingin menjebak ku?”
Daniel mengangguk.
“Kalau begitu, malam ini tetap jalankan rencana semula. Katakan kepada Zhao Bowen untuk menunggu di wilayah Cao Xiu dan bagi kelompok mereka sesuai arahan.”
Sore menjelang, matahari mulai turun. Kota Bai Ma berubah dari abu menjadi merah, dari mati menjadi tampak hidup tapi hidup yang salah.
Kenzo dan Daniel menaiki Ferrari merah milik Xiu Zhu, yang masih hilang.
“Aku heran kemana gadis itu pergi,” gumam Kenzo, lebih untuk dirinya sendiri.
Daniel menyentuh bahu Kenzo. “Kau baik-baik saja?”
“Oh… iya. Aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan adikku. Semalam aku bertengkar dengannya.”
“Kalau begitu, mungkin dia sedang menenangkan diri. Ayo kita masuk,” kata Daniel.
Mereka turun dari mobil, masuk ke club malam Cao Xiu—“Black Dragon”.
Dunia bawah, tempat pertarungan, tempat kematian.
Pintu terbuka.
Lampu neon hijau memantul di dinding yang dihiasi naga raksasa, mulut menganga seolah siap menelan siapa pun yang masuk.
“Kak Ken Ikuti aku,” kata Daniel, menuntun Kenzo ke pintu di belakang bar.
Dua penjaga besar bertato berdiri di sana, mata mereka dingin.
“Kami diundang,” kata Daniel sambil menunjukkan kartu undangan hitam berlogo naga emas.
Penjaga mengangguk, pintu besi terbuka, mengarah ke tangga spiral yang menurun ke bawah tanah.
Kenzo menuruni tangga dengan langkah perlahan, mengamati setiap sudut, menghitung setiap kemungkinan untuk melawan atau melarikan diri.
Ruang bawah tanah besar, gelap, dengan lampu merah yang redup.
Bau tanah basah, keringat, dan ketakutan menyebar di udara.
Di tengah ruangan, ada panggung tinggi yang dikelilingi pagar besi, seperti arena gladiator.
Di sekeliling, kursi tingkat penuh dengan orang-orang berpakaian mahal.
Semua wajah serakah, pejabat, militer, gangster—semua haus darah.
“Silahkan, Tuan Kenzo,” kata seorang pelayan berpakaian putih, menunjuk kursi baris depan dekat panggung.
Kenzo duduk, Daniel di sampingnya, tangan Kenzo memegang gelas kristal anggur merah tapi tak diminum. Ia menunggu, menghitung, mengamati.
Tiba-tiba lampu padam. Gelap total. Hanya suara napas dan detak jantung yang terdengar. Lalu satu lampu sorot putih menyala di panggung, menyilaukan mata.
Langkah terdengar dari belakang panggung, berirama seperti raja datang, seperti kematian tiba. Cao Xiu muncul, mengenakan jas putih dengan dasi merah seperti darah dan kemenangan.
“Selamat malam, para tuan. Malam ini kita akan menyaksikan pertarungan hebat. Tapi sebelumnya, ada acara pembukaan,” suaranya menggema di ruangan.
Pintu di belakang panggung terbuka. Dua pria keluar membawa kotak kayu besar, tua, berukiran naga, seperti kotak harta karun atau peti mati.
Dibuka. Cahaya memancar dari dalam. Emas, permata, batu antik, berlian dan semua berkilau, hasil darah dan keringat.
“Barang antik dari Dinasti Ming, nilainya lima puluh juta yuan. Yang berminat silahkan,” kata Cao Xiu.
Lelang dimulai.
Suara beradu cepat dan panas.
Akhirnya, barang itu terjual tujuh puluh juta kepada seorang pria gemuk berkeringat, tersenyum puas.
Selanjutnya, peta besar digelar di layar di belakang panggung. Peta Hei Nan, dengan titik-titik merah menandai kota, desa, jalur narkoba, jalur perdagangan, jalur kematian.
“Wilayah bisnis, tiga rute baru. Yang berminat menjadi pemilik silahkan.”
Lelang lagi.
Tiga orang berhasil membeli: dua gangster dan seorang pejabat militer, tersenyum puas tiket ke surga yang sebenarnya adalah tiket ke neraka.
Musik berubah, lambat dan sensual.
Lima gadis keluar, pakaian tipis, tubuh atletis, kulit putih, mata besar, rambut panjang cantik, seksi, tapi dijual.
“Para tuan, malam ini kita punya barang spesial. Barang yang tak ternilai harganya,”
kata Cao Xiu, suaranya lebih pelan tapi licik.
Lampu padam lagi, hanya satu sorot menyinari tengah panggung.
Pintu terbuka, seorang gadis muncul, terhuyung karena didorong dari belakang, rambut panjang acak-acakan, pakaian compang-camping, tapi tubuhnya tetap atletis dan kuat.
Wajahnya terangkat, dan Kenzo terkejut. Matanya melotot, hampir terjatuh dari kursi.
“Xiu Zhu…!!!” teriaknya dalam hati.
...$ BERSAMBUNG $...