NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Tamparan di Halte

Fajar belum benar-benar pecah ketika Bela mulai memasukkan kemeja-kemeja longgarnya ke dalam ransel lusuh dengan gerakan terburu-buru. Suara gesekan kain dan ritsleting yang ditarik paksa memecah kesunyian rumah, memancing langkah kaki Tante Lastri yang langsung masuk dengan wajah pucat pasi.

"Bela! Mau ke mana kamu, Nak?" Tante Lastri panik, tangannya menahan beban tas yang hendak disampirkan Bela ke bahu. "Jangan pergi dulu. Bayu cuma lagi emosi, dia nggak bermaksud..."

"Bela nggak bisa di sini, Tante. Kehadiran Bela cuma bikin luka lama Tante dan Mas Bayu berdarah lagi," potong Bela dengan suara serak. Matanya merah, namun ada kilat ketetapan hati yang dingin di sana.

Tante Lastri menggeleng kuat, air matanya luruh. Pandangannya jatuh ke arah perut Bela yang masih datar. Ada ketakutan besar yang membayang di mata wanita tua itu. Sebelum masa pensiunnya, puluhan tahun ia habiskan sebagai perawat. Ingatannya mendadak terlempar ke lorong rumah sakit yang dingin, tempat ia menyaksikan anaknya sendiri mengembuskan napas terakhir karena ketidakbecusannya memberikan penanganan saat itu. Tragedi yang membuatnya berhenti dari profesinya karena rasa bersalah yang tak habis-habis.

Ia tak sanggup jika harus kehilangan lagi. Ia takut Bela bertindak nekat melakukan aborsi ilegal yang taruhannya adalah nyawa. Baginya, satu kematian di tangannya sudah cukup menghancurkan hidupnya; ia tak mau keponakannya berakhir menjadi nisan berikutnya hanya karena keputusasaan.

"Tolong pikirkan lagi, Sayang. Jangan nekat sendirian di luar sana. Tante takut kamu kenapa-napa," mohon Tante Lastri, suaranya parau menahan kecemasan yang mendalam.

Bela terdiam sejenak, ulu hatinya terasa perih. Ia memegang tangan tantenya yang gemetar, mencoba memberikan senyum paling tawar yang pernah ia miliki. "Bela nggak akan mati sia-sia, Tante. Bela janji akan tetap berkabar. Ini nomor baru Bela, tolong jangan kasih tahu siapa pun, termasuk Ibu."

Dengan sisa harga diri yang nyaris habis dan kewarasan yang retak, Bela melangkah keluar menembus kabut pagi. Ia berakhir di kursi bus kota yang mulai padat oleh kaum pekerja. Sambil bersandar pada dinginnya besi pegangan bus, ia menatap jalanan yang buram oleh air mata.

Ia menyalakan ponsel sebentar, hanya untuk disambut ratusan notifikasi. Panggilan tak terjawab dari Dimas, grup kantor, hingga rekan-rekan ibunya. Bela mematikan layar itu dengan muak. Ia tahu, kariernya di kampus sudah tamat. Pekerjaan itu lekat sekali dengan pengaruh ibunya yang merupakan sosok terpandang. Jika berita ini sampai ke telinga sang ibu, Bela yakin bukan pelukan yang ia dapat, melainkan pintu rumah yang tertutup selamanya. Seorang ibu yang gila hormat tidak akan sudi menampung aib berjalan.

Bela mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menyisir setiap sudut trotoar dengan mata yang merah meradang. Ia hapal betul jalanan ini. Setiap ruko, setiap belokan, hingga deretan pohon mahoni yang menjulang—ini adalah arah menuju kawasan kos Cika. Dendam di kepalanya membuat ingatannya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. Ia seperti predator yang sedang melacak bau bangkai.

Dan benar saja. Begitu bus melambat mendekati sebuah halte di depan sekolah dasar, pandangan Bela terkunci pada satu titik. Sosok perempuan berambut pendek dengan pakaian trendi sedang berjalan santai, jemarinya lincah menari di atas layar ponsel seolah dunianya begitu damai dan tanpa cela.

"Halte SD Katolik, Pak! Turun!" teriak Bela dengan suara lantang yang memecah kebisingan bus. Suaranya bergetar antara amarah dan desakan napas yang memburu.

Tanpa menunggu bus berhenti sempurna, Bela melompat turun. Kakinya menghantam aspal dengan keras, namun ia tidak merasakan sakit. Ia berlari sekuat tenaga, menembus kerumunan orang tua murid yang sedang mengantar anak mereka. Fokusnya hanya satu: mangsa yang selama ini menghilang setelah menjerumuskannya ke dalam neraka.

*Greeeppp!*

Bela menyambar lengan Cika dan memutarnya paksa hingga tubuh perempuan itu terhuyung. Cika yang sedang asyik membalas pesan kekasihnya terkejut bukan main. Ponselnya nyaris terpelanting ke aspal. Begitu matanya menangkap wajah Bela yang sembap namun penuh kilat kebencian, wajah Cika berubah pucat pasi. Ia tampak seperti maling yang tertangkap basah di tengah pasar.

"Bel, lo—"

*PLAAAKKK! PLAAAKKK!*

Dua tamparan bolak-balik mendarat sangat keras di pipi Cika hingga kepalanya tersentak ke samping. Suara hantaman itu cukup nyaring untuk membuat orang-orang di sekitar berhenti berjalan.

"Teman sialan! Iblis berkedok manusia!" Bela berteriak histeris, suaranya melengking menyayat udara pagi. "Puas lo? Puas lo dapet duit dari ngejual gue malam itu?! Berapa harga harga diri gue di mata lo, hah?!"

Bela mengamuk sejadi-jadinya. Ia mencengkeram kerah baju Cika, mengguncangnya dengan tenaga yang seolah muncul dari kerak bumi. Air mata membanjiri wajah Bela, tapi bibirnya tak henti meludahkan makian.

"Gue hamil, Cika! Gue hamil gara-gara kebiadaban lo!" teriak Bela tanpa peduli lagi pada puluhan pasang mata yang menonton dengan ngeri. "Gue bahkan nggak tahu siapa ayah dari anak ini! Gue nggak tahu siapa laki-laki brengsek yang lo kasih ke gue malam itu! Lo bayangin, Cika! Lo hancurin masa depan gue cuma demi segepok uang!"

"Hidup gue hancur total! Gue berhenti kerja, gue kabur dari rumah karena malu! Gue kehilangan segalanya!" Bela terus meraung, tangisnya bercampur dengan jeritan yang menyayat hati.

"Dan lo... lo yang hancurin hidup gue malah masih bisa asyik menikmati hidup?! Masih bisa jalan santai main HP seolah nggak terjadi apa-apa?! Lo jahat, Cika! Lo lebih rendah dari binatang!"

Suara Bela pecah, ia tetap berdiri dengan kaki gemetar, menumpahkan segala kehancurannya di trotoar itu. Pengakuannya tentang hamil di pinggir jalan itu membuat suasana mendadak mencekam dan sunyi.

Cika gemetar hebat. Ia tidak menyangka skenario "jual-beli" yang ia lakukan atas bujukan kekasihnya akan berakhir dengan bencana sebesar ini. Panik melihat massa mulai berkumpul dan takut ada yang merekam kejadian itu, Cika langsung berusaha meredam Bela dengan memegang kedua bahunya.

"Bel, Bel, jangan di sini! Gue mohon, ikut gue ke kosan dulu," bisik Cika memelas dengan suara bergetar ketakutan. "Gue bakal jelasin semuanya. Sumpah! Gue bakal kasih tahu siapa orangnya. Gue punya solusi, gue janji. Kita bicara di dalam, jangan begini di jalanan donggg! Banyak yang lihat," bisik Cika sembari menggertakkan giginya menahan emosi.

Bela menatap Cika dengan tatapan benci yang murni, seolah ingin mencungkil mata perempuan itu. Namun ia sadar, hanya Cika yang tahu siapa identitas pria di kamar hotel itu. Dengan napas tersengal dan tubuh yang nyaris ambruk, ia mengikuti langkah Cika menuju gang sempit tempat persembunyian wanita pengkhianat itu.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!