NovelToon NovelToon
Cinta Salah Sasaran

Cinta Salah Sasaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia X

Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membujuk bayi besar

Ana membuka pintu kamar Dewa pelan.

“Mas sekalian makan ya.” ucap Ana yang melihat Dewa sedang asik bermain ponsel.

“Aku gak lapar.” jawab Dewa singkat.

“Emang gak ada jawaban lain to mas, setiap disuruh makan kok selalu bilang gak lapar, jangan-jangan cacing diperut mas Dewa itu penyakitan jadi gak doyan makan.” balas Ana ngeledek, ia tidak habis pikir kok ada orang yang tidak doyan makan, padahal makan itu adalah hal yang paling menyenangkan baginya.

“Heh pendek, kalau ngomong ya. Mana ada cacing malah cacingan.” jawab Dewa ketus.

“Ada, buktinya mas Dewa, gak mau makan, apa gak cacingan tuh cacingnya namanya, sudah mangap saja ini nasi goreng enak loh.” ucap Ana tidak mau kalah, Dewa hanya melirik sekilas, namun mangap juga saat sendok berisi nasi goreng itu mendekat.

“Nah gitu kan pinter.” ucap Ana juga menyuap nasi goreng kedalam mulutnya, mereka pun makan bergantian dengan Ana yang berceloteh dan Dewa hanya menangapi dengan Ham Hem aja, hingga dua piring nasi goreng itu habis tidak tersisa, dan nasi goreng itu lebih banyak masuk kedalam perut Ana dari pada Dewa, karena Dewa baru menghabiskan satu sendok tapi Ana sudah dua sendok, Dewa yang melihat itu tidak protes hanya menahan senyum geli.

“Kenyang nya.” ucap Ana mengelus perutnya.

“Kalau gak kenyang ya terlalu hampir dua piring loe makan” sindir Dewa, sedang yang disindir hanya cengengesan.

“Habis mas Dewa makannya lama, gak sabar aku, tenang aja mas, nanti aku beliin vitamin, biar mas Dewa doyan makan, biar gak cungkring lagi,” ucap Ana tanpa dosa.

Dewa yang mendengar itu langsung menatap Ana tajam.

“Heh pendek, yang perlu vitamin tuh kamu, lihat badanmu gak tinggi-tinggi, kenapa jadi aku yang sudah tampan ini.” balas Dewa dengan percaya diri.

“Tampan buat apa mas, kalau diputusin, udah gitu masih bela mantan lagi.” Dewa langsung tersedak minumannya.

“Semua gara-gara loe ya gue diputusin, pake ngeledek lagi, kalau loe gak nabrak gue, dan tuh kunci gak masuk tas loe, gue gak akan diputusin sama Oliv.” balas Dewa kesal bila mengingat kejadian itu.

“Yang naruh kunci di tas aku siapa?” tanya Ana santai.

“Ya aku.” jawab Dewa cepat.

“Trus kenapa nyalahin aku, tahu gak mas, aku dari rumah dimarahin emak, dan gara-gara itu aku gak boleh bawa motor, takut anaknya yang cantik dan manis ini kenapa-kenapa, terus sekarang kalau kekampus aku susah, rumah mas Dewa ini jauh dari jalan raya, gak ada angkot masuk, mas Dewa juga gak mau kasih tumpangan kedepan, jadi majikan itu mbok Yo punya hati sedikit, jangan nyusahin orang, nanti di alam kubur juga susah.” cerocos Ana panjang lebar membuat Dewa ngang gong, otaknya jadi buntu mendengar Omelan Ana, niat hati ingin membully kenapa jadi dia yang lagi-lagi dikatain, Dewa mencomot bibir Ana kesal.

“Issh diem, nyerocos aja bawa-bawa alam kubur segala, loe kira gue perduli, itu derita loe, sudah sana keluar sakit telingaku mendengar ocehan mu.” usir Dewa yang kembali bermain game, sedangkan Ana memegang bibirnya dengan kesal, ia pun membawa kembali nampan dan keluar dari kamar Dewa, sembari mengomel.

“Main comot aja, emangnya bibirku bakwan apa, udah tangannya besar, bikin kesel aja, pengen tak hih.” gerutu Ana hendak turun.

“Sudah biar aku yang bawa non, non Ana lanjut istirahat aja.” ucap mba Wati yang kebetulan mau keatas dan melihat wajah Ana yang sedang kesal.

“Makasih mba, tahu aja kalau aku lagi capek.” ucap Ana tersenyum sungkan dan memberikan nampan ditangannya.

“Tahulah, dah sana.” ucap mba Wati penuh perhatian, Ana mengangguk dan masuk kedalam kamarnya, Ana merasa beruntung bertemu orang-orang baik dirumah ini, setidaknya hanya majikan laknat nya saja yang bikin kesel, Ana pun langsung bergegas mandi, setelah wangi ia langsung merebahkan diri.

“Gak nyangka bisa tidur dikamar sebesar ini, jadi babu empat tahun pun kayaknya gak terasa kalau gini, serasa malah jadi putri, nikmati aja lah walau punya majikan kelakuan rada gesrek hihihi..” gumam Ana sembari memeluk guling dan tidak lama terlelap.

Hari mulai malam Dewa melihat kearah pintu, ia melirik jam didinding yang sudah menunjukkan pukul delapan, biasanya gadis pendek itu sudah heboh membawa makanan kedalam kamarnya ini sudah jam nya bahkan lebih kok tuh mahluk pendek belum datang, perut Dewa sudah bunyi, tapi malas untuk turun buat makan, lebih enak disuapin tinggal mangap doang. Ia penasaran kemana perginya si ikan buntal hingga belum datang ke kamarnya, baru saja ia berdiri pintu terbuka membuat Dewa terkejut. Terlebih wajah Ana berlabur bedak dingin berwarna putih.

“Astaga, bisa ketuk pintu dulu gak, bikin kaget aja, mau cosplay jadi tuyul kau.” tegur Dewa kesal karena jantung nya hampir saja copot melihat wajah Ana yang putih kayak setan.

“Maaf mas, tangan penuh, susah ketuk pintu, orang cantik gini dibilang tuyul, ngadi-ngadi aja.” balas Ana meletakkan makanan diatas meja, Dewa pun kembali duduk melihat meja yang sudah ada dua mangkok soto dan juga jajanan yang tidak ia tahu namanya di atas meja.

“Makan mas, mumpung masih hangat.” ucap Ana mendekatkan mangkok itu kehadapan Dewa.

“Suapi,” perintah Dewa datar. Ana langsung cemberut.

“Mas, makan soto itu enaknya masih panas, kalau aku nyuapin mas Dewa duluan, soto ku bagaimana?, gak enak lagi nanti.” jelas Ana merengek.

“Gak mau tahu, itu kan pekerjaanmu mau aku tambah hukumannya.” ucap Dewa galak.

“Mas Dewa ih.” rajuk Ana tapi mengangkat mangkok dihadapan Dewa dan mulai menyuapi bayi besarnya, Dewa mesem melihat wajah kesal Ana.

“Mas Dewa itu dikasih tangan sama Tuhan buat makan, bukan Cuma buat main game, masa sudah besar makan masih disuapin.” Omel Ana tapi masih terus menyuapi Dewa dan dirinya sendiri, mulutnya ngomel tapi sambil mengunyah.

“Makan gak boleh sambil ngomel.” tegur Dewa sembari menatap Ana datar, babunya itu galak tapi lucu, apa lagi kalau sambil ngomel, kadang bikin gemes, Dewa langsung menggelengkan kepalanya, tidak boleh memuji si pendek, nanti ngelunjak.

“Mas buka mulutnya,” ucap Ana mengejutkan Dewa, reflek ia memicingkan matanya melihat sendok yang bukan berisi makanan, namun cairan berwarna oranye dihadapannya.

“Udah mangap aja, gak pahit kok, manis rasa jeruk.” ucap Ana dengan wajah polos.

“Apaan tuh?” tanya Dewa curiga.

“Vitamin, biar mas Dewa sehat.” jawab Ana meyakinkan.

“Aku gak sakit ya pendek, ngapain aku dikasih kayak gitu, gak tahu kamu aku sehat gini, gak sakit.” jawab Dewa gak terima dengan ucapan Ana.

Jangan lupa like & coment kalau suka baca cerita ini, terimakasih yang sudah baca.

1
Ria Ningsih
up nya 2 x sehari kak klau bsa
Sabia X: Waduuh, keriting nanti otak sama jariku kak Ria, 🤣 diusahakan.
total 1 replies
Heni Mulyani
lanjut
Heni Mulyani
lanjut.tetap semangat up nya
Heni Mulyani: tetap semangat
total 2 replies
Ria Ningsih
ceritanya seru
Sabia X: terimakasih..👍
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!