Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16 Rindu
Happy reading
Satu minggu berlalu, Hawa merasa beban yang menghimpit rongga dadanya kini benar-benar terasa ringan.
Lara terobati, benci perlahan pergi, berganti rasa tenang dan hati yang lapang.
Hawa meyakini itu berkat sujudnya di sepertiga malam yang tak pernah ia tinggalkan selama beberapa hari ini. Karena itu pula, ia merasa harus berterima kasih 'ratusan kali' pada Rama--lelaki yang telah menuntunnya pada jalan cahaya.
Hawa termenung sambil mengaduk jus jeruk. Meski raganya berada di kantin kampus, tapi pikirannya tertuju pada Rama yang sudah sepekan tidak muncul di hadapan. Tepatnya, setelah mengutarakan pengakuan.
Sepi dan sunyi, seolah ada satu kepingan yang mendadak hilang.
Rama muncul ketika Hawa butuh sandaran dan penguat. Namun setelah itu, dia seakan menghilang. Tak ada pertemuan, tak ada pesan singkat, bahkan panggilan telepon pun 'tidak'.
"Di mana kamu, Ram?" bisiknya lirih, berharap sang bayu menyampaikan pertanyaan itu pada sosok yang dituju.
Meski 'cinta' belum hadir di relung rasa, nyatanya Hawa merasa hampa. Ia rindu kata-kata menyejukkan yang terucap dari bibir Rama serta perhatian sederhana yang selalu meneduhkan.
"Wa, aku boleh duduk di sini?" Suara khas Damar memecah kaca lamun, membuat Hawa terhenyak.
Sejenak ia termangu--menatap sosok yang kini berdiri di hadapannya.
"Wa--"
Hawa mengangguk--mengizinkan Damar untuk duduk satu meja dengannya.
"Gimana kabarmu?" tanya Damar. Ada nada ragu yang terselip dalam suaranya yang berat.
"Alhamdulillah, baik," jawab Hawa singkat tanpa menatap lawan bicara. Ia sedikit menunduk, menghindari kontak mata dengan Damar.
"Rasanya baru kemarin kita memakai seragam putih--abu-abu, sekarang kita bersiap mengenakan baju wisuda," Damar menjeda sejenak ucapannya, memaksa bibirnya mengulas senyum meski hatinya bagai diiris sembilu ketika melihat Hawa tak sehangat dulu. "Seandainya waktu bisa berputar kembali... aku ingin mengulang masa-masa SMA."
Hawa menarik napas panjang. Mendongak perlahan, lalu menatap mata Damar yang mulai mengembun.
"Dulu, hanya ada kata persahabatan. Nggak ada hati yang patah dan status yang membuat kita berjarak," lanjut Damar. Ia mengembangkan senyum. Berusaha tegar membalas tatapan Hawa.
"Sebelum statusku berubah menjadi kakak ipar ... boleh aku bertanya satu hal?" Damar berbisik, suaranya nyaris hilang ditelan angin.
Hawa kembali mengangguk. "Tentu," jawabnya.
Hening merayap turun, memberi jeda bagi Damar untuk meraup udara dan menormalkan degup jantung yang bertalu tak beraturan.
"Apa dulu... aku pernah singgah di hatimu?" Suara Damar bergetar, namun tak sedikit pun mengubah mimik wajah Hawa.
Sesaat Hawa bergeming, lalu membuang napas pelan. Ia memaksa bibirnya untuk menuturkan kejujuran.
"Dulu, kamu memang sempat singgah di hati. Tapi sekarang... namamu udah nggak ada lagi di sana."
Damar tersenyum getir. Ia mati-matian menahan sesak yang menghimpit dada.
"Apa karena ruang di hatimu udah terisi olehnya?"
Kerutan samar tercetak di dahi Hawa, bersamaan dengan gelengan pelan. "Aku rasa bukan karena itu."
"Lantas, karena apa?" desak Damar. Jawaban yang diberikan Hawa jelas belum memadamkan rasa penasarannya.
Hawa hanya mengendikkan bahu.
Ia enggan menuturkan penjelasan yang ia sendiri pun belum paham.
Untuk sesaat, tak ada lagi obrolan. Damar membisu. Sementara Hawa menyesap jus jeruknya, mencoba mendinginkan tenggorokan yang terasa kering.
Ia lantas menggeser dua bungkus stik bawang ke tengah meja--pemberian kecil yang ia beli dari seorang anak perempuan di lampu merah tadi.
"Coba cicipi! Rasanya gurih, renyah, dan bikin nagih," ujarnya, mencoba membangun tembok normalitas di antara mereka.
Lengkung senyum terbit di bibir Damar. Ia mengulurkan tangan, mengambil stik bawang dari bungkus yang sudah terbuka.
"Makasih," ucapnya tanpa memudar senyum, lalu memasukkan stik bawang ke dalam mulut.
"Sama-sama, Kakak ipar," balas Hawa, kali ini diiringi senyum tipis yang tulus.
Damar mendengus geli mendengar panggilan itu. Terlihat jelas, tak ada lagi gurat dingin yang beberapa hari lalu menghiasi wajah Hawa--sosok yang kini harus ia terima sebagai calon adik iparnya.
"Dam, ratukan Kak Hanum ya. Jangan sakiti dia. Kalau memang belum ada cinta, belajarlah perlahan. Insya Allah, rasa itu akan hadir seiring waktu," pinta Hawa. Ia menghentikan kunyahannya sejenak, menatap Damar dengan binar yang menyiratkan kesungguhan.
Damar tertegun. Ada beban ribuan ton yang seolah jatuh di pundaknya ketika mendengar permintaan itu. Namun sekian detik kemudian ia mengangguk.
"Aku janji, Wa. Aku akan menjaganya, seperti aku selalu ingin menjagamu... dulu."
Hawa menarik kedua sudut bibirnya, memperlihatkan senyum merekah.
"Makasih, Dam. Semoga pernikahanmu dan Kak Hanum nanti diberkahi kebahagiaan. Sakinah, mawaddah, warahmah," doanya tulus.
Damar mengamini doa itu dalam hati.
Tiba-tiba, ia menyambar sisa jus jeruk Hawa dan meneguknya hingga tandas.
Mata Hawa membulat sempurna. Refleks, tangannya menjitak pelan kepala calon kakak iparnya itu.
"Itu jus jerukku, Kakak Ipar! Kenapa dihabiskan, sih?" protesnya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
Damar terkekeh geli. Beban yang tadi menggunung di pundaknya perlahan terkikis oleh kehangatan yang selama ini ia rindukan.
"Adek Ipar!" panggil Damar setelah tawanya perlahan mereda.
"Hmm?" Hawa menanggapi, mengalihkan seluruh atensinya pada sang calon kakak ipar.
"Aku perhatikan, udah beberapa hari ini kamu nggak ketemuan sama anak fakultas humaniora itu." Damar tak lagi menyebut Rama 'pelayan'. Ia memperhalus ucapannya mengenai lelaki bermata teduh itu.
Hawa meraup udara dalam-dalam. Ia sedikit menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan sendu yang tiba-tiba kembali membingkai parasnya.
"Dia sibuk. Dan mungkin... sedang fokus mengumpulkan uang untuk menikahiku," sahutnya asal--menyisipkan canda.
"Oh. Semoga cepat terkumpul, ya. Biar kita bisa menikah bareng," seloroh Damar. Ia tertawa kecil, meski ada nada hambar yang terselip di sana.
Hawa hanya tersenyum samar. Sebuah harapan yang manis, namun ia sendiri tak tahu apakah Sang Maha Cinta akan mengijabahi doa itu. Pun perasaannya yang masih samar pada Rama; ia tak pernah tahu, apakah kelak akan bermuara pada nyata, atau sekadar singgah sebagai ujian rasa.
"Pulang bareng?" Damar memecah sunyi yang sempat menyelimuti selama beberapa detik.
Hawa menggeleng pelan. "Kamu duluan aja. Aku mau mampir ke Toko Buku Nadia."
"Aku temani?" tawar Damar, masih ada sisa-sisa naluri protektif di suaranya.
"Enggak usah. Besok aja kalau kita jalan sama Kak Hanum."
Damar membuang napas pelan, menghargai penolakan halus yang diberikan Hawa.
Siang ini, hubungan mereka kembali membaik.
Meski tak sehangat dulu, namun Damar bisa bernapas lega. Langkah kakinya terasa lebih ringan untuk menyongsong kehidupan baru; sebagai seorang suami, sekaligus kakak ipar bagi Hawa.
.
.
Di antara deretan rak buku, Hawa membiarkan jemarinya menyusuri setiap punggung buku--mencari jawaban yang tak ia temukan di meja tadi.
Ia telah melepaskan Damar pada takdirnya. Dan kini, ia membiarkan dirinya sendiri terhanyut dalam tanya; tentang satu nama dan rasa yang masih samar, namun diam-diam selalu ia titipkan dalam doa.
Setelah membayar buku-buku pilihannya, Hawa melangkah keluar.
Begitu kakinya menginjak area parkir, kumandang azan terdengar bersahutan. Ia segera mencari masjid terdekat, ingin segera menunaikan kewajibannya sebagai hamba.
Sejak sering berinteraksi dengan Rama, Hawa lebih menjaga ibadahnya. Hanya satu hal yang belum siap ia lakukan: menutup aurat dengan hijab.
Setibanya di masjid, Hawa bergegas mengambil wudu. Senyumnya mengembang ketika melihat anak-anak perempuan berlarian di serambi, saling berebut saf paling belakang.
Namun, lengkung senyum itu seketika beku saat indra dengarnya menangkap suara yang tak asing--suara imam yang meminta makmum merapikan barisan.
"Rama..." gumamnya lirih.
Saat takbiratulihram terlafaz, ada desiran halus yang terasa.
Hawa yakin suara itu milik Rama. Sosok yang sepekan ini menghilang, seolah raib terbawa angin.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen