NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRIDGE - CH 19 : Realita atau Mistis

Dua hari kemudian. Pukul 07.30 WIB.

Sinar matahari pagi Kota X menyorot cerah menyinari rolling door ruko Bara's Kitchen. Lintang berdiri di depan pintu dengan outfit kasual yang sangat fashionable, wajah glowing berkat skincare hasil checkout foya-foya dua hari lalu, dan segelas es matcha latte di tangannya. Di sebelahnya, Mang Ojak tampak lebih segar, menenteng rantang berisi sayur lodeh buatan istrinya.

"Tumben Mas Bara belom buka ruko, Mang?" Lintang melirik jam di smartwatch-nya. "Biasanya jam segini dia udah ribut ngadonin tepung."

"Mungkin masih molor, Neng. Namanya juga bos, mentang-mentang lagi banyak duit liburnya dipanjangin," kekeh Mang Ojak.

Lintang menggedor rolling door besi itu dengan keras. "MAS BARAAA! BUKA PINTUNYA! CINDERELLA DAN KURCACI SUDAH KEMBALI BEKERJA!"

Tidak ada jawaban. Lintang merogoh tasnya, mengeluarkan kunci serep yang memang selalu dia bawa, lalu membuka gembok raksasa itu. Begitu rolling door ditarik ke atas, aroma khas ruko—campuran vanila, ragi, dan butter—langsung menyambut mereka. Semuanya tampak normal. Bersih. Meja stainless mengkilap.

Tapi pemandangan di balik meja kasir sama sekali tidak normal.

Bara Mahendra duduk di lantai dengan posisi memeluk lutut. Rambutnya awut-awutan seperti sarang burung puyuh. Kantung matanya hitam pekat dan turun sampai ke pipi, mengalahkan panda kurang tidur. Tatapannya kosong menatap lantai keramik. Di sekelilingnya, terdapat taburan garam kasar yang membentuk lingkaran sempurna, melingkari tubuhnya dan brankas baja miliknya. Di tangan kanannya, dia menggenggam erat botol sirup Marjan kosong, sementara tangan kirinya memegang botol Kratingdaeng yang sudah tandas.

"Astaghfirullahaladzim, Den Bara!" Mang Ojak nyaris menjatuhkan rantangnya. "Ini kenapa jadi begini bentukannya?!"

Lintang melongo. "Mas? Lo... lo kesurupan roh gembel pasar induk?"

Bara perlahan mendongak. Matanya merah dan berair. "Kalian... kalian manusia, kan? Bukan jelmaan demit laut yang mau nyuri KitchenAid gue, kan?" suaranya serak dan parau, nyaris tidak terdengar.

"Demit laut apaan sih, Mas?" Lintang melangkah masuk, namun terhenti karena kakinya hampir menginjak garis garam. "Ini ngapain lo bikin magic circle pake garam dapur? Lo mau summoning apaan? Dan ngapain selama libur lo nggak mandi?!"

Bara mengusap wajahnya dengan kasar. Selama dua malam terakhir, hidupnya adalah neraka. Setelah kejadian malam pertama yang absurd, Bara menghabiskan malam keduanya dengan tidak tidur sedetik pun. Dia membuat lingkaran pelindung dari garam, membaca semua doa yang dia temukan di Google, dan berjaga membawa botol kaca. Dia tidak berani menyalakan mixer, tidak berani mengecek chiller, bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.

Anehnya, pada malam kedua itu tidak terjadi apa-apa. Tidak ada bau amis, tidak ada langkah kaki basah. Tapi ketegangan menunggu sesuatu yang mungkin datang justru membuat mental Bara lebih hancur daripada benar-benar dicekik setan.

"Gue mau pindah agama ke agama kapitalis aja rasanya," racau Bara sambil perlahan bangkit berdiri. Tulang-tulangnya berbunyi krek-krek protes. Dia menendang sisa garam itu dengan kesal. "Ruko kita ada isinya, Tang. Ada yang nempel dari pelabuhan."

"Mas, lo kebanyakan nonton podcast horor kali," Lintang memutar bola matanya, meletakkan tasnya di atas kursi. "Kita abis dapet rezeki nomplok puluhan juta, Mas. Sugesti lo aja itu karena culture shock mendadak kaya. Lagian nih ya, demit mana yang mau masuk ruko yang isinya cowok bau belom mandi tiga hari?"

"Bener, Den. Mending Aden mandi dulu pake air anget. Abah buatin teh manis biar tenangan," Mang Ojak menimpali, mencoba menenangkan bosnya meski dia sendiri mulai merinding melihat lingkaran garam itu.

Bara mendengus. Percuma berdebat dengan dua orang yang tidur nyenyak di atas kasur empuk sementara dia berjuang menjaga aset ruko dari gangguan beda dimensi. "Beresin dapur. Nyalain oven. Hari ini kita buka normal. Gue mau mandi."

Satu jam kemudian, Bara's Kitchen kembali beroperasi. Bara sudah terlihat lebih seperti manusia, mengenakan apron cokelat andalannya, meski matanya masih memancarkan aura dead inside. Lintang sibuk mengecek stok bahan baku, sementara Mang Ojak menyapu sisa-sisa garam di lantai.

Ting!

Suara notifikasi WhatsApp Business dari tablet ruko di atas meja kasir memecah keheningan.

Lintang yang paling dekat dengan kasir langsung meraih tablet tersebut. Sejak status mereka berubah jadi ruko "Sultan" setelah project Roti Buaya Trojan, Lintang selalu bersemangat menyambut orderan.

"Mas, ada pesenan masuk nih!" seru Lintang. Matanya membaca layar dengan cepat. Alisnya perlahan bertaut. "Eh, tapi... agak random deh permintaannya."

Bara yang sedang menimbang tepung menoleh dengan malas. "Random gimana? Minta kue bentuk traktor? Atau minta brownies tapi nggak pake cokelat? Tinggal tolak kalo ribet."

"Bukan, Mas. Coba lo baca sendiri deh." Lintang menyodorkan tablet itu ke Bara.

Bara mengelap tangannya dengan serbet, lalu mengambil tablet itu. Matanya menyapu deretan pesan teks dari nomor yang tidak menggunakan foto profil tersebut.

[Customer Tak Dikenal]: Selamat pagi\, Bara's Kitchen. Saya mau pesan satu custom cake.Tema: Black Forest Klasik\, 3 tingkat. Full icing warna hitam legam. Tidak boleh ada warna lain selain hitam. Desain: Elegan\, untuk acara perpisahan keluarga.Budget: 5 Juta Rupiah. Uang bukan masalah\, asal desainnya sesuai.

Mata Bara langsung tertuju pada angka 5 Juta. Jiwa materialistisnya yang tadinya pingsan kini langsung bangkit berdiri melakukan standing ovation.

"Lima juta buat satu Black Forest? Gila, ini orang tajir gabut dari mana? Harga modal kita bikin tiga tingkat full cokelat paling mentok tujuh ratus ribu," gumam Bara, matanya berbinar.

"Mas, baca bawahnya," tunjuk Lintang.

Bara menggulir layar ke bawah.

**[Customer Tak Dikenal]:**Tapi ada syaratnya.Kue harus dikirimkan malam ini juga.Waktu pengiriman: Tepat pukul 00:00 WIB.Alamat: Perumahan Asri Indah\, Blok C\, No. 4.Tidak perlu ketuk pintu atau pencet bel. Taruh saja kuenya di meja teras depan\, lalu langsung pergi. DP 3 Juta saya transfer sekarang. Sisanya setelah kue diletakkan di meja.

Bara terdiam. Angka lima juta yang tadinya terlihat sangat seksi di matanya kini mendadak terasa dingin. Ada sesuatu yang sangat mengganjal dari pesanan ini.

Black Forest full hitam legam untuk acara perpisahan keluarga? Dikirim jam 12 malam teng? Ditaruh di depan pintu tanpa boleh mengetuk?

"Den," Mang Ojak yang sedari tadi ikut mengintip dari balik bahu Bara menelan ludah. "Perumahan Asri Indah... itu kan komplek elit lama yang ada di deket perbatasan kota, Den. Abah denger-denger, banyak rumah kosong di sana karena sengketa tanah tahun sembilan puluhan."

"Ih, beneran Mang?" Lintang buru-buru merampas tablet itu dan membuka aplikasi Google Maps. Jari-jarinya yang lentik mengetik alamat tersebut dengan cepat. "Perumahan Asri Indah... Blok C... nah ini dapet!"

Lintang menekan mode Street View. Layar menampilkan sebuah jalan perumahan dengan deretan pohon beringin tua yang besar-besar di sepanjang trotoar. Rumah-rumah di sana berdesain megah ala tahun 80-an, namun banyak yang catnya sudah mengelupas dan pagarnya berkarat.

Lintang mengarahkan kamera Street View ke rumah Nomor 4. Rumah itu memiliki pagar besi tinggi warna hitam. Halamannya luas, namun rumputnya setinggi lutut. Terdapat sebuah meja batu di teras depannya yang remang-remang karena tertutup bayangan pohon mangga raksasa.

Anehnya, bagian wajah rumah itu di Google Maps terlihat buram atau nge-blur, seperti disensor oleh sistem.

"Mas... rumahnya blur, Mas. Kayak ada glitch-nya," cicit Lintang, bulu kuduknya mulai meremang. "Sumpah Mas, mending tolak aja deh. Ini vibes-nya udah nggak bener. Red flag banget! Masa nganter kue duka cita jam dua belas malem ke rumah yang kelihatannya kosong begini?"

Mang Ojak mengangguk setuju dengan cepat. "Iya, Den. Jangan tergiur duit. Nyawa sama bensin kita lebih berharga. Lagian Den Bara kan baru aja cerita ruko ini ada yang ngikutin dari pelabuhan. Masa sekarang mau nambah masalah dari rumah hantu?"

Bara menatap layar tablet itu lama. Pikirannya berperang sengit. Di satu sisi, insting survival-nya setelah dicekik demit laut kemarin berteriak kencang menyuruhnya untuk menekan tombol block pada nomor customer tersebut. Logikanya mengatakan ini adalah jebakan Batman jalur gaib.

Namun di sisi lain, otak bisnis kapitalisnya tidak bisa mengabaikan cuan lima juta rupiah. Dengan uang lima juta itu, dia bisa memanggil ustaz atau orang pintar paling paten di Kota X untuk meruqyah rukonya agar terbebas dari demit laut selamanya.

Ting! Sebuah notifikasi baru muncul dari aplikasi mobile banking di ponsel Bara.

Transfer Masuk: Rp 3.000.000 dari rekening a.n. NN.

Melihat notifikasi transfer yang sudah masuk duluan tanpa persetujuan itu, iman Bara langsung runtuh seutuhnya. Kalau duit sudah masuk ke rekeningnya, haram hukumnya bagi seorang Bara Mahendra untuk melakukan refund. Pantang mundur sebelum cuan adalah moto hidupnya, bahkan jika dia harus mengantarkan kue itu ke gerbang neraka sekalipun.

Bara menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Wajahnya berubah serius, matanya menyorot tajam memancarkan aura diktator dapur.

"Kita ambil," putus Bara final.

"MAS!" protes Lintang histeris. "Lo beneran gila ya?! Lo mau nganterin nyawa?!"

"Tang, dengerin gue," Bara menunjuk layar tablet itu dengan tegas. "Pertama, duitnya udah masuk tiga juta. Kalau kita tolak, kita harus balikin, dan proses refund antar bank beda itu kena admin dua ribu lima ratus. Gue nggak sudi rugi."

Lintang dan Mang Ojak melongo mendengar alasan paling tidak masuk akal abad ini.

"Kedua," lanjut Bara, kali ini nadanya lebih rasional. "Ruko kita butuh pembersihan spiritual. Setelah kejadian kemarin, gue sadar gue nggak bisa ngadepin demit modal nekat doang. Kita butuh jasa orang pintar. Dan orang pintar itu nggak dibayar pake thank you. Kita pake duit lima juta ini buat bayar dukun yang paling sakti buat fogging ruko kita."

Mang Ojak menghela napas pasrah, tahu bahwa berdebat dengan bosnya yang sedang mode kapitalis adalah hal yang sia-sia. "Terus... siapa yang nganter ntar malem, Den? Abah mah jujur aja, ayam Abah di rumah belom dikasih makan."

Bara tersenyum miring. "Kita bertiga. Lo berdua kemaren udah libur dua hari tidur nyenyak. Sekarang giliran kalian nemenin gue lembur. Lagian request-nya cuma ditaruh di meja teras terus cabut. Kita nggak perlu masuk, nggak perlu salaman, nggak perlu nanya basa-basi. Taruh, foto buat bukti resi, kabur. Selesai."

Lintang merengek sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Sialaaaan! Gue nyesel checkout skincare mahal-mahal kalau ujung-ujungnya muka gue pucat ketemu dedemit di Blok C!"

"Udah, jangan banyak ngeluh. Panasin oven deck utama! Bikin adonan sponge cake cokelat dobel! Tang, lo timbang dark chocolate murni, lelehin buat bahan ganache luarnya. Mang Ojak, siapin dus packaging yang paling gede, lapisin lakban item biar vibes-nya dapet," instruksi Bara bertubi-tubi, kembali ke wujud aslinya sebagai koki tiran.

Dapur Bara's Kitchen mendadak sibuk kembali. Di bawah terik matahari Kota X yang menyengat, mereka membuat kue yang paling gelap dan paling misterius yang pernah mereka kerjakan.

Namun jauh di lubuk hatinya, sambil mengocok telur dan gula di dalam mixer, tangan Bara bergetar. Dia terus melirik ke arah jam dinding yang detaknya seolah menjadi hitung mundur menuju malapetaka baru.

Dia tahu, alamat di Blok C itu bukan sekadar rumah kosong biasa. Dan malam ini, Bara akan mengantar pesanan langsung ke pintu gerbang dunia lain.

Gerbang Arc 4 telah resmi terbuka.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!